Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Tidak Menyangka


__ADS_3

"Asli, ya, itu wanita gila!" Aness sedari tadi tidak berhenti mengata-ngatai Amanda.


Viona hanya terdiam, tidak menimpalinya karena juga baru tahu jika Amanda suka kekerasan. Luka di dahi Viona sudah diobati oleh dokter. Dia diantar pulang oleh sahabatnya.


"Gue baru inget, dia model yang digosipkan pacaran sama suami lo, kan?"


Viona hanya terdiam. Mobil Aness sudah parkir di depan rumah Marshal. Berita tersebut memang menyebar sangat luas, pantas jika Aness juga mengetahuinya.


"Mau masuk dulu?" tawar Viona, sahabatnya itu malah menggeleng. "Mampir sebentar, lah, Ness!"


"Gak usah, Vi. Gue pulang aja, deh."


"Ya, sudah ... makasih banyak lho, Ness, udah mau bantuin aku."


"Iya. Istirahat, gih! Biar gak pusing lagi."


Setelah Aness berpamitan pulang, Viona masuk ke dalam rumahnya. Dia terkejut melihat Marshal yang sudah berada ruang makan saat dia ingin mengambil air minum. Hari masih siang, namun suaminya sudah berada di rumah.


"Tumben makan siang di rumah?" Viona menghampiri suaminya, mengulurkan tangan untuk mencium punggung telapak tangan Marshal. Belum dia menggapai tangan suaminya, Marshal sudah berdiri dengan seribu pertanyaan melihat dahi Viona yang terdapat luka.


"Sayang, kening kamu kenapa?"


Viona meringis pelan saat Marshal mengusap bagian pipinya. Tangan Marshal langsung menghindar karena lebam di pipi istrinya begitu kentara.


"Ini juga kenapa? Kamu kenapa bisa seperti ini? Siapa yang membuat kamu terluka seperti ini? Kamu jatuh? Atau ada orang yang mencelakaimu?"


"Ssh ... jangan disentuh, sakit!" Viona menjauhkan tangan Marshal dari wajahnya. Suaminya terlihat begitu panik dan khawatir. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit luka. Tadi sudah ke dokter, nanti juga sembuh sendiri."

__ADS_1


"Tapi, kamu kenapa bisa seperti ini?"


Viona memilih diam, menghindari suaminya. "Aku ingin istirahat, jangan mengganggu, ya!"


"Jelaskan dulu ini kenapa!" Marshal menahan tangan Viona cukup keras. Dia membentak karena terlalu khawatir dengan keadaan istrinya. "Katakan, kenapa kamu bisa seperti ini!"


Pandangan Viona berpaling dan menghela napas dalam. Dia menghindari suaminya yang terus saja mendesak dengan berbagai pertanyaan sampai Viona menyerah dan menyimpan gelas bekas air minumnya di atas meja makan.


"Jika aku mengatakan ini karena sepatu heels, apa kamu akan percaya?"


Alis Marshal terangkat tidak mengerti. "Sepatu heels? Bagaimana bisa? Tapi, itu lukanya parah, Sayang. Ada lebamnya juga. Katakan, itu sebenarnya kenapa?"


Viona menepis tangan Marshal yang kembali memeriksa lukanya dengan penuh khawatir. Kini kesal menjalar menghadapi suaminya yang terus mendesak minta penjelasan.


"Zahra!"


Viona berbalik badan setelah dia berhasil menghindari suaminya menaiki tangga. Marshal menggeram tidak suka menggantikan rasa cemasnya. Viona hanya melihatnya sejenak dan kembali beranjak menaiki tangga dengan langkah yang lebih cepat. Dia tahu, Marshal kini terlihat marah padanya karena Viona tidak kunjung memberi penjelasan. Kemarahan Marshal dia ketahui begitu besar jika sudah menyebut nama tengahnya dengan bentakkan. Viona tidak menghiraukannya dan terus melangkah semakin jauh. Dia mempercepat langkahnya saat menyadari jika Marshal mengikuti langkahnya dengan sedikit berlari.


Viona memandangnya datar, tidak mengeluarkan suara sedikit pun membuat Marshal semakin marah melihatnya yang tetap bungkam. Kecemasan Marshal semakin hilang tergantikan rasa kesal. Dia tidak tahu ada apa dengan Viona sampai sikapnya terlihat berbeda seperti itu.


"Tanyakan sama Nona Amanda, kenapa aku terluka. Dia tahu semuanya." Viona menghempaskan tangannya kasar, terlepas dari cengkraman suaminya. Dia segera masuk ke dalam kamar meninggalkan Marshal yang terdiam tidak mengerti mencerna kembali ucapan yang barusan istrinya katakan.


***


Tangan Marshal mengepal kuat menahan Amarah yang kian memuncak. Dia melemparkan ponsel Rio dengan keras membentur lantai sampai berhambur menjadi kepingan. Marshal tidak menyangka jika wanita yang dia pertahankan selama tiga tahun belakangan ini berani berbuat kasar. Bahkan terhadap istri seorang Marshal yang begitu dia cintai. Kenapa Amanda begitu tega melakukan semua itu pada Viona? Marshal sangat tidak menyangka dengan apa yang telah terjadi antara kekasih dengan istrinya.


"Di mana dia sekarang?" tanya Marshal pada Rio yang sedang menatap miris pada ponselnya yang sudah hancur lebur.

__ADS_1


Rio hanya menggeleng penuh rasa sedih. Dengan kejam, Marshal menghancurkan ponselnya setelah berhasil menghubungi teman Viona hanya untuk mencari penjelasan yang melatarbelakangi luka di wajah istrinya.


"Argh ... aku lengah! Aku bilang juga apa, istriku tetap harus dikawal. Jika aku tidak menuruti keinginannya, dia pasti tidak akan seperti sekarang." Marshal menggeram, menjambak rambutnya penuh emosi. Apa yang dia takutkan malah terjadi. Kepala Marshal ingin pecah rasanya mengetahui sikap kejam Amanda terhadap istrinya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, Rio?"


Rio masih meratapi nasib ponselnya. Dia melirik pada Marshal sejenak dan menetralkan raut wajahnya. "Jika Tuan bertindak cepat dan mengikuti saran saya untuk tegas mengakhiri semuanya. Sekarang, semua ini pasti tidak akan terjadi."


Asisten Marshal menelan ludah susah payah melihat tatapan Marshal yang menghunus tajam. Dia tidak bermaksud menyalahkan majikannya. "Memang benar, kan? Jika Tuan bertindak cepat, nona Amanda tidak akan berbuat seperti itu pada nyonya," ucap Rio dengan hati-hati.


Marshal mendesah lelah, memasukkan kedua tangan dalam kantong celana. Dia beralih melihat pada luar jendela yang ada di ruangan kerjanya. Pantas saja Viona tidak mau menjelaskan apapun tentang luka itu, ternyata semua ini karena ulah Amanda.


Pikiran Marshal semakin tidak karuan memikirkan semuanya yang begitu rumit dan sulit. Dia tidak tahu sekarang dia harus melakukan apa untuk menangani semuanya.


"Awasi dia dari jauh! Aku tidak ingin dia mencelakai istriku lagi."


Rio hanya terdiam dengan jengah. Dia bingung, apakah Marshal masih mau mengamankan kekasihnya setelah apa yang Amanda lakukan terhadap nyonya besarnya? Rio merasa itu tidak pantas Marshal lakukan.


"Tuan," panggil Rio menghentikkan langkah Marshal yang akan keluar dari ruangan tersebut. "pikirkan nyonya dengan baik! Saya tidak mau masalah ini berlanjut."


Marshal terdiam di ambang pintu melihat pada Rio. Asistennya itu malah terdengar mengembuskan napasnya kasar dan raut wajahnya mulai semakin terlihat jengah.


"Untuk apa masih mempertahankannya, jika Tuan lebih peduli pada nyonya? Sampai di tahap ini, saya rasa Tuan telah salah menyikapi perasaan."


Marshal hanya diam mencerna kembali ucapan Rio berulangkali sampai dia mengerti dan menemukan jawaban yang pasti. Pikirannya terasa begitu mumet sampai dia tersadar mendengar ringisan pelan yang keluar dari mulut istrinya.


Dia kini berada di kamar Viona, mengompres luka lebam yang masih tercetak jelas di pipinya.


"Aku minta maaf atas nama Amanda!" Marshal terlihat begitu bersalah. Dia tidak henti meminta maaf pada Viona yang sama sekali belum mau bicara lagi dengannya. Viona mau dia bantu obati lukanya, itu pun setelah Marshal memaksa. "Tadi kata dokter bagaimana? Apa kita sebaiknya periksa ke dokter yang sangat handal, supaya lukanya terobati dengan baik."

__ADS_1


Viona mendengus, sesekali meringis saat perih di pipinya terasa. Marshal terlalu berlebihan dengan rasa khawatirnya. Viona tidak merasa jika luka itu parah, namun dia kesal karena jejaknya yang begitu terlihat di pipi dan keningnya. Dua tamparan tangan dan satu hantaman keras sepatu heels. Melayang begitu saja pada wajahnya yang cantik sampai terlihat penuh luka saat ini.


"Aku pikir kita sama-sama memperbaikinya, namun ternyata aku salah. Hanya aku yang berusaha memperbaiki hubungan kita."


__ADS_2