Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Nyonya Kesal, Kesal, KESAL!


__ADS_3

"Dengarkan ini, ya, Tuan,"-Viona menekan-nekan dada Marshal dengan ujung telunjuknya-"pertama aku kesal, kedua aku kesal, ketiga aku kesal, kesal kesal, kesal, KESAL!" Pandangannya nanar menatap pada Marshal yang hanya terdiam.


Marshal baru saja kembali ke ruangannya sudah disuguhi dengan kekesalan Viona. Dia sudah meminta maaf, tapi mood Viona hari ini memang sedang tidak baik. Seharusnya, Viona bisa dibujuk jika keinginannya yang tadi bisa Marshal penuhi. Tapi, apa masih berlaku untuk saat ini? Karena Viona terlihat malah semakin kesal padanya.


"Ke mana?" Viona terkejut saat Marshal menarik tangannya.


"Kita ke rumah mama." Marshal mengambil tas milik Viona yang tergeletak di sofa. Tidak lupa dia juga menjinjing kantong lunch box yang belum dia sentuh sama sekali.


Viona diam, mengikuti langkah Marshal keluar dari ruangan.


"Tolong handle, ya! Aku antar nyonya dulu," ucap Marshal pada Rio yang berada di ruangan depan.


"Baik, Tuan."


***


"Apa memandang suami sendiri hukumnya haram?" Marshal menghela napas karena Viona masih saja terlihat kesal. Mereka sudah berada di dalam mobil, Marshal siap untuk menyetir, tetapi istrinya enggan untuk bicara, bahkan memandangnya saja tidak mau. "Sayang?"


Viona melirik sinis. Dengusan kasar terdengar begitu jelas. Sekali lagi Marshal menghela napas. Viona jika sudah marah memang sulit untuk dibujuk. Entah harus dengan cara apalagi dia bisa mengembalikan mood istrinya.


Selama perjalanan, Viona hanya terdiam. Masih enggan menanggapi suaminya, bahkan pandangan Viona tetap melihat ke arah luar jendela. Tidak peduli dengan Marshal yang terlihat sudah frustrasi membujuk. Viona tidak akan luluh semudah itu.


"Apa yang akan aku katakan pada mama, jika kamu masih seperti ini?"


Mobil telah berhenti di depan rumah megah kediaman Pratama. Marshal mematikan mesin dan berhadapan miring ke arah Viona yang masih saja terdiam.


"Sayang?"


"Aku baik-baik saja." Viona bergerak cepat untuk menghindari sentuhan tangan Marshal yang sudah terulur ingin meraih wajahnya. Dia membuka pintu dan turun dari mobil dengan cepat.

__ADS_1


Marshal menyusul dan langsung disambut oleh ibu mertuanya. Lina tersenyum hangat, merentangkan tangan untuk memeluk Viona. Marshal menyalaminya bergantian, setelah istrinya usai berpelukan. Mereka masuk ke dalam rumah, Viona terlihat baik-baik saja, bahkan tidak terlihat terpaksa saat dia tertawa bersama Lina.


Perasaannya mulai ringan. Setidaknya Viona tidak uring-uringan dalam waktu lama. Dia sudah lebih baik, setelah bertemu ibunya. Kadang Marshal heran, Viona telah usai datang bulan, tapi bad mood-nya malah terjadi belakangan. Atau ada masalah lain, selain masalah makan siang tadi yang membuat Viona seperti itu?


Entahlah ...


***


"Mau menginap di sini?"


Viona memandang Marshal dengan tatapan jengkel. Sejak siang suaminya mengajak bicara dan dia harus menahan emosi saat ada Lina. Tidak baik jika Lina melihatnya yang sedang dalam perasaan buruk. Lina akan mengontrogasi dan berakhir memberikan petuah yang memang bagus, namun saat ini Viona sedang tidak ingin mendengarkannya.


"Aku tidak masalah, jika kamu ingin menginap. Tapi, izinkan aku untuk kembali ke kantor sebentar. Masih ada pekerjaan yang harus aku urusi di sana. Kasihan Rio jika harus meng-handle semuanya."


Viona masih diam. Hanya memandang Marshal sambil mengunyal puding cokelat kesukaannya. Hasil tangan Lina, tentu saja. Viona merindukan makanan itu dan tadi sempat Lina buatkan, sebelum ibu mertuanya pamit sebentar untuk keluar menemui temannya di teras belakang. Ada tamu datang, sehingga Marshal dan Viona ditinggal duduk berdua di ruang keluarga.


"Sayang, apalagi yang kamu inginkan? Kenapa masih begini?" Marshal bingung sendiri menghadapinya. Isi dari lunch box yang tadi sempat Viona bawakan, telah dia makan tadi bersama dengan Lina yang hanya mencicipi. Meskipun kenyang, Marshal tetap memaksakan mulutnya untuk tetap terbuka, memakan masakan Viona hingga habis. Berharap istrinya tidak akan marah lagi. Tapi, ternyata tetap saja.


"Bukannya nanti malam kita diundang datang ke rumah nona Garmita? Tadi, dia menelepon, menanyakan kita akan datang atau tidak."


Marshal tertegun sejenak. Dia tahu sekarang akar permasalahannya.


Mengusap wajah kasar, Marshal memandang Viona dengan perasaan tidak menentu. "Jika kamu tidak suka aku berhubungan dengannya, aku tidak akan datang ke sana."


Seketika pandangan Viona berkilat tajam. "Hubungan apa?"


Oh, tidak ... Marshal salah bicara. "Sayang, bukan itu maksudku." Dia meraih tangan Viona, mengusapnya pelan. "Kamu gak suka aku sama Garmita bertemu, kan? Lebih baik kita tolak saja undangannya daripada kamu seperti itu."


"Bukannya semalam kamu yang bilang, tidak enak jika menolak. Itu undangan kehormatan sebagai formalitas, bukan?"

__ADS_1


Menggaruk kepala yang tidak gatal. Memang benar, tapi jika melihat istrinya seperti ini, memang lebih baik ditolak saja daripada membawa masalah semakin rumit.


"Sedekat apa kamu sama dia?"


Jakun Marshal terlihat bergerak, menelan ludah. Tatapan Viona sangat tajam. Ternyata istrinya jika sedang cemburu sangat menakutkan dan menyulitkan. Harusnya Marshal senang, tapi tidak seperti itu perasaannya saat ini. Dia malah bingung dan frustrasi sendiri menghadapinya. Tidak tahu harus bicara apa, takut salah merangkat kata seperti barusan lagi.


"Tidak mau menjawab?"


"Em ... Sayang ...."


Viona terdiam memperhatikan wajah Marshal yang gusar. Dia semakin yakin jika ada apa-apa di antara mereka berdua. Mulut Marshal membuka ingin berucap, kemudian terkatup kembali, tidak jadi mengeluarkan kalimatnya.


Tidak bicara lagi, Viona menggeser duduknya untuk lebih jauh dari Marshal. Dia menghabiskan puding di wadah kecil yang sedang dia pegang tanpa menghiraukan lagi keberadaan suaminya.


Melihat hal itu Marshal malah semakin bingung. Dia mendekati Viona, berusaha untuk tidak mendapat penolakan supaya dia bisa menjelaskan semuanya dengan baik dan tidak salah mengucapkan kata demi kata dari mulutnya.


"Garmita hanya rekan kerja, Sayang. Kinerjanya bagus dan dia sangat cerdas. Aku menetapkannya menjadi direktur kantor cabang. Dia bisa diandalkan. Tidak lebih dari hanya sebagai rekan kerja."


Viona mengangguk-anggukan kepala malas, tidak memandang Marshal sama sekali. Terlihat sekali tidak percaya dengan ucapan suaminya dan malah asyik dengan suapan puding menggunakan sendok kecil.


"Lagian, Garmita sudah menikah. Sudah mempunyai anak dua."


Terkejut. Viona melirik cepat pada Marshal yang tengah memandangnya. Marshal terlihat sangat serius. Kerutan halus terlihat di dahi, melihat Viona yang nampak terlihat ragu.


"Mana mungkin aku berhubungan dengan rekan kerjaku sendiri, kan?"


"Banyak kok di luar sana yang begitu. Tidak ada yang tidak mungkin, bukan?"


"Tapi, dia sudah berumah tangga, Sayang. Anaknya sudah besar. Dan dia juga-"

__ADS_1


"Apa status bisa menjamin seseorang tidak melakukan perselingkuhan?"


Shit! Kenapa sulit sekali membuat Viona percaya?


__ADS_2