Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Diantar Pulang


__ADS_3

"Maaf, aku tidak memberitahumu. Sebenarnya Rio harus pergi ke luar kota tadi. Dia mengirimkan file-nya kepada tuan Suryo yang sedang di Surabaya, bukan ke kantor cabang."


Viona marah mendengarnya. Jadi Marshal membohonginya? Kenapa? Selera makan Viona jadi hilang, dia menyimpan sendoknya kembali sembari memandang Marshal dengan kesal. "Lalu saya pulangnya bagaimana, Tuan? Kenapa Tuan tidak mengatakannya dari tadi. Jika tahu begini, saya lebih baik pulang sendiri saja."


Marshal malah tersenyum tipis, Viona mendengus kesal.


"Maaf. Aku tidak mau kamu pulang sendiri jadi terpaksa berkata seperti itu." Viona tidak peduli dengan alasan Marshal. Dia memilih diam.


Marshal gemas melihat Viona yang mengalihkan pandangannya terlihat kesal. Dia tersenyum melihat reaksi kesal Viona namun tidak Viona tunjukkan pada Marshal. Sebenarnya dia bisa saja menyuruh siapa pun untuk mengantarkan Viona pulang, tapi tidak dia lakukan. Dia hanya ingin bersama Viona dan membuatnya kesal seperti ini. Marshal ingin menguji Viona. Setelah menikah, Marshal tidak pernah melihat sisi keras kepala Viona. Tidak seperti sebelum mereka menikah, Viona selalu saja banyak bicara, keras kepala, dan suka menyela ucapan Marshal dengan penuh keberanian.  Tapi selama mereka menikah, hal tersebut tidak pernah terlihat lagi. Kemana perginya sifat Viona itu? Kenapa Viona berubah cepat sekali?


"Habiskan makanannya!"


Viona memandang Marshal sejenak kemudian kembali mengalihkan pandangan ke arah jendela, melihat taman yang berada di samping restoran. "Saya sudah kenyang, Tuan." sahutnya pelan, namun penuh penekanan.


Senyum tipis kembali Marshal berikan, dia benar-benar kesal padaku karena aku membohonginya? Tapi kenapa dia hanya diam, tidak mengomel?


"Habiskan makanannya! Ini perintah. Kamu masih bisa menurut padaku, kan?" Dengan terpaksa Viona kembali memakan makanannya. Apalagi yang harus dia lakukan selain menuruti perkataan Marshal.


"Aku lebih suka kamu yang selalu tersenyum padaku."


Viona melirik Marshal. "Tuan ingin saya tersenyum?" Marshal mengangguk dengan yakin. "Ya, itu lebih enak kulihat daripada kamu diam saja."


Bukannya memberikan senyuman, Viona malah diam saja memandang Marshal dengan tatapan tajamnya. Untuk apa dia tersenyum jika tidak ada hal yang membuat bibirnya tertarik untuk menyungging senyum.


Marshal menghela napas, dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan dari Viona. Bahkan hanya sekadar senyuman. "Setelah makan nanti, kamu akan diantarkan pulang."


"Ah, benarkah?" Marshal mengangguk dengan yakin membuat Viona jadi tersenyum senang.


"Jadi senyummu hanya akan muncul jika kamu mendapatkan hal yang menyenangkan?" ledek Marshal.


Viona mendelik, dia kena jebakan. Ternyata Marshal pintar mengatur kata hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sekarang dia tertawa puas melihat wajah Viona yang kesal namun tersipu malu.


"Masuk!" Marshal membukakan pintu mobil.


Viona mengernyit dengan bingung, dia tidak paham dengan Marshal. Setelah selesai makan, Viona pikir Marshal akan membawanya kembali ke ruang kerja. Namun ternyata tidak, Marshal malah membawa Viona ke area parkiran. Viona digiring menuju mobil sport mewah berwarna merah menyala yang sudah terparkir rapih di tempat khusus untuk kendaraan miliknya saja.


"Ayo masuk! Katanya mau pulang. Aku akan mengantarkan kamu pulang."


Viona menatap Marshal tidak percaya. "Tuan akan mengantar saya pulang?"


Marshal mengangguk. "Iya. Bukankah kamu ingin pulang? Rio tidak ada, jadi aku yang akan mengantarkanmu."


Jelas Viona menggeleng, dia tidak bisa jika harus diantarkan oleh Marshal. "Tidak usah, Tuan. Bukankah Tuan banyak pekerjaan? Saya biar naik taksi saja. Saya bisa pulang sendiri."


"Bukankah aku pernah bilang, jika aku tidak menerima bantahan?" Marshal menarik Viona supaya masuk ke dalam mobil dan dia menutup pintunya dengan segera setelah Viona terduduk, tidak menginzinkan Viona berucap lagi.


Marshal masuk dan duduk dibalik kemudi, dia memasang sabuk pengaman sembari melirik Viona yang masih terdiam, sangat terlihat jika Viona tidak suka dengan perlakuannya.

__ADS_1


"Pake sabuknya!"


Viona memakai sabuk dengan perlahan, tetap diam dan tidak bisa lagi berucap. Marshal mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan kantor.


"Apakah aku harus terus seperti ini? Menuruti semua perkataannya tanpa bisa membantah? Mama, Papa, aku sungguh terpenjara olehnya. Dia menyebalkan. Sangat menyebalkan," seru batin Viona sembari melihat keluar jendela. Dia teramat kesal jika harus diperlakukan seperti ini oleh Marshal.


Selama perjalanan, tidak ada percakapan di antara keduanya. Mereka sama-sama diam dan fokus pada pikirannya masing-masing hingga menciptakan keheningan dalam mobil yang mereka tumpangi. Marshal fokus menyetir dan Viona fokus pada batinnya yang terus merenungi nasib malangnya.


....


Viona keheranan melihat Marshal yang malah ikut masuk ke dalam rumah dengan menggandeng tangan Viona.


Apa dia gak balik lagi ke kantor, kenapa malah ikut masuk?


Beberapa pelayan rumah yang berpapasan menyapa mereka, namun tidak terlalu dihiraukan oleh Marshal. Dibawanya Viona masuk ke dalam kamar milik Marshal.


Viona hanya diam, melihat Marshal dengan bingung. Sepulang dari kantor, tidak banyak yang mereka katakan bahkan tidak ada percakapan di antara keduanya.


Marshal melepaskan tangan Viona. Dia kemudian melepaskan jas kantornya, dan melonggarkan dasi yang dipakainya.


Melihat Marshal melakukan hal seperti itu dengan mulut terdiam dan tatapannya melirik Viona lekat, membuat Viona jadi semakin keheranan sekaligus was-was.


Apa yang akan tuan Marshal lakukan?


Apa dia ingin mandi? Tapi jika ingin mandi, dia selalu bilang dulu supaya aku menyiapkan airnya. Lalu dia mau apa? Apa jangan-jangan... tidak... tidak mungkin. Tidak akan terjadi.


Terdengar helaan napas dari Marshal, Viona sedikit menatap Marshal yang masih berdiri didepannya.


Marshal masih menatap Viona dengan lekat. Diangkatnya dagu Viona dengan ujung telunjuk hingga mereka bisa beradu pandang.


Debar jantung Viona kian menguat, dia cemas. Apa yang Marshal akan lakukan? Biasanya jika sudah seperti itu, Marshal selalu mengambil kesempatan untuk mencium Viona.


Lama mereka saling pandang, namun Marshal maupun Viona tidak ada juga yang buka suara. Keduanya terdiam saling menatap lebih dalam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Apa kamu tidak nyaman berada didekatku?" tanya Marshal lembut, memandang Viona dengan intens.


Viona masih diam, dia bingung harus menjawab apa. Viona memang kurang nyaman jika berada dekat Marshal. Bukan karena risih, tapi lebih kepada canggung. Sebenarnya Viona ingin menjauh saja dari Marshal. Mengingat jika mereka berdekatan bahkan tidur bersama, Marshal selalu saja mengambil kesempatan pada Viona. Entah itu memeluk dan bahkan menciumnya. Viona tidak terbiasa dengan hal itu. Dia tidak ingin terlalu jauh melakukan interaksi dengan Marshal.


"Semakin hari, kulihat kamu semakin banyak diam dan bahkan kamu membatasi jarak antara kita. Kenapa? Apa kamu tidak mau dekat denganku?" Viona masih terdiam. Pandangan Marshal terlihat teduh, menyejukkan mata, membuat Viona jadi resah.


"Kamu takut padaku?" Viona menggeleng. Dia memang tidak takut pada Marshal, hanya saja kadang dia merasa segan, karena Marshal punya kekuasaan yang bahkan sudah membantu keluarganya.


"Kamu benci padaku?" Viona menggeleng lagi. Dia tidak pernah membenci Marshal, walaupun Marshal kadang memang sangat menyebalkan. Tapi hal itu tidak membuat Viona membencinya.


"Lalu kenapa kamu terlihat tidak mau berdekatan denganku? Kamu tidak nyaman saat ada aku?" Viona menggeleng pelan. Dia bingung lagi, respon seperti apa yang harus dia tampilkan?


Marshal membuang napasnya dengan kasar, tatapannya kini terlihat frustasi. "Kamu ini kenapa? Bicaralah, setidaknya jawab pertanyaanku dengan ucapan bukan gerakan! Aku sungguh tidak mengerti, apa yang terjadi denganmu?"

__ADS_1


"Saya tidak apa-apa, Tuan," ucap Viona lirih. Dia kembali menundukan kepalanya.


Marshal membawa Viona untuk duduk ditepi ranjang. Mereka duduk saling berhadapan dengan Viona yang masih menunduk.


"Aku tahu kamu menikah denganku karena terpaksa, tapi apa kamu harus seperti ini padaku? Kita suami istri, tapi kamu malah membatasi aku untuk mendekat. Aku masih ingat, saat hari pertama kita menikah pun, kamu tidak sedingin ini. Kamu masih bisa kuraih, walaupun kamu berontak. Tapi semakin hari, kamu semakin diam, kamu kenapa? Jika tidak nyaman bilang padaku! Aku akan berusaha membuatmu nyaman."


"Saya tidak apa-apa, Tuan. Sungguh."


"Tatap aku jika bicara!" Viona segera mendongak, menatap Marshal.


"Aku tidak tahu kamu kenapa, tapi aku hanya ingin supaya kamu tidak seperti ini. Dimana jiwa pemberontakmu yang aku tahu sebelum kita menikah. Bahkan aku sampai harus memakai urat untuk mengingatkanmu supaya tidak membantah. Tapi sekarang, kamu memang penurut, tapi sangking penurutnya, kamu sampai berubah seperti ini. Setidaknya bersikaplah biasa saja, seperti dirimu yang ku kenal." Viona mengangguk saja, "Baik, Tuan. Maaf jika Tian tidak menyukai sikap saya."


Marshal tersenyum, mengelus kepala Viona dengan lembut. Dibawanya kepala Viona dalam dekapan di dada. "Kita memang belum saling mengenal jauh, tapi setidaknya cobalah untuk saling terbuka. Kita pasangan, harus saling merasa nyaman satu sama lain."


Ada desiran halus terasa mendengar ucapan Marshal yang lembut. Hati Viona jadi menghangat, dia tersenyum samar dalam dekapan Marshal. Ternyata Marshal bisa bersikap lembut. Selama ini Viona takut, jika Marshal akan memperlakukannya dengan kejam. Mengingat pertemuannya sebelum menikah, Marshal selalu terlihat sangat berkuasa sampai Viona tidak berkutik. Dan lagi, saat pertama kali Viona dibawa ke rumah itu, Marshal membentaknya dan bahkan menganggapnya sebagai pelayan. Tapi selama empat hari Viona menjadi istrinya, Marshal tidak pernah lagi mengatakan jika Viona adalah pelayannya selain malam itu, malam dimana Viona dikatai hanya seorang pelayan bukan nyonya.


Marshal melepaskan pelukannya. Viona menjauh, pipinya jadi memanas. Kenapa dia jadi luluh sampai diam saja menikmati pelukan Marshal?


Cup


Viona langsung menoleh pada Marshal. Matanya membulat, sedangkan yang dilihat malah tertawa, "Kamu kaget aku cium?"


Viona jadi blushing mendengar ejekan Marshal. Dia merutuki dirinya sendiri. Harusnya dia marah bukan malah tersipu seperti ini.


"Ah... hari ini cuaca cukup panas," ucap Marshal sembari merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kaki menggelantung ke lantai.


Viona memandangi Marshal dengan aneh, "Apa Tuan tidak kembali ke kantor?"


Marshal kembali terduduk, melirik pada Viona dan tersenyum. "Malas. Nanggung udah di rumah."


Viona hanya menghela napas, jika Marshal berada dirumah, berarti dia tidak akan bebas.


Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang? Apa aku harus terdiam di sini tanpa melakukan apapun? Tidak mau. Dari pagi aku terdiam di kantor tanpa melakukan apapun dan sekarang harus melakukan hal yang sama? Apa aku masih bisa dibilang manusia hidup? Atau patung bernapas?


"Bukankah Tuan banyak pekerjaan?"


"Hmm..." Marshal kembali merebahkan tubuhnya. "Pekerjaanku selalu banyak. Aku hanya ingin istirahat dulu." Viona hanya mengangguk saja. Dia tidak mau mengurusi urusan Marshal terlalu jauh. Apapun yang Marshal lakukan bukan urusanya.


"Tuan, apa saya boleh keluar?" tanya Viona penuh ke hati-hatian. Bahkan dia tidak berani melirik pada Marshal.


"Kemana?" Marshal kini sedang mengecek ponselnya dengan tubuh masih terbaring setengah terlentang dengan kaki yang masih menggelantung ke lantai.


"Ke kamar saya, Tuan" Marshal melirik Viona sejenak, lalu kembali fokus pada ponselnya. "Mau apa?"


Viona mendengus pelan, rasa kesal mulai muncul. Sifat Marshal yang suka mengurusinya kini kembali.


Apa aku harus menjelaskan segalanya pada Tuan? Ingin ke kamar sendiri saja harus ditanyai seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2