
Selama diperjalanan menuju rumah orangtua Marshal, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Hanya diam dan saling menyelam dalam pikiran masing-masing hingga tidak terasa mobil yang mereka tumpangi, sudah sampai di kediaman Wisnu Atmadinata.
Saat baru turun dari mobil, seperti biasa, mereka harus bersiap berperilaku seperti pasangan yang romantis, meskipun sekarang hubungan mereka tidak benar-benar dalam keadaan baik. Saat Marshal akan menggandeng tangannya, Viona justru malah menghindar dan berjalan mendahului membuat Marshal merasa Viona memang masih ingin mempermasalahkan hal tadi.
"Masih mau berdebat denganku?" Marshal berbisik di dekat telinga istrinya, "sekarang lupakan dulu masalah kita! Aku tidak mau keluargaku curiga. Bersikaplah seperti biasanya. Kamu istriku, menurut sedikit pada suami itu lebih baik."
Viona menoleh untuk bisa melihat suaminya yang berada tepat di samping tubuhnya. Tatapannya datar. Dia sama sekali tidak berniat menimpali ucapan Marshal. Melainkan langsung menggapai tangan suaminya dengan terpaksa. Dia menghela napasnya dengan pelan. Kembali dia bersandiwara untuk terlihat baik-baik saja.
Seluruh keluarga dari Wisnu sudah menunggu mereka di ruang keluarga, Viona tersenyum dan tidak lupa untuk menyapa satu per satu keluarga dari suaminya. Dia berperilaku biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Benar kata Marshal, mereka harus melupakan dulu masalahnya di depan keluarga Marshal supaya keluarganya tidak curiga jika mereka tahu Marshal dan Viona sedang bermasalah. Alasan pernikahan mereka masih harus dirahasiakan dari keluarganya, selalu itu yang Marshal peringatkan.
"Ih, aku udah lama pengen ketemu sama kamu," ucap Miranda, kakak dari Marshal saat Viona menyapanya. Mereka cepika cepiki selayaknya orang yang sudah kenal lama. "Kita baru dua kali bertemu, kan, ya?"
Viona tersenyum dengan ramah. Ini memang kali kedua dia bertemu dengan anak sulung dari Wisnu dan Rahma tersebut. Pertemuan pertama mereka saat hari pernikahannya, itupun hanya bertemu sebentar setelah ijab kabul karena suami Miranda harus pergi ke luar negeri setelah mendapat panggilan darurat yang menyatakan bahwa perusahaannya yang di luar negeri mengalami masalah besar.
Perlakuan semua keluarga Marshal memang selalu baik padanya. Dia juga selalu nyaman bersama dengan mereka. Bagaimana jika keluarga Marshal tahu alasan mereka menikah? Apa yang akan mereka katakan? Viona jadi tidak enak hati jika harus terus membohongi orang lain. Apalagi sikap mereka terhadap Viona yang terlampau baik, membuatnya merasa bersalah telah menutupi masalah yang melatarbelakangi pernikahannya tersebut.
Viona beralih memandangi seorang anak laki-laki yang sedang duduk di pangkuan Wisnu. Bisa diperkirakan usianya baru menginjak usia tiga tahunan. Anak itu melirik Viona seperti meneliti. Dari atas sampai bawah dia perhatikan. Viona melambaikan tangannya dan tersenyum pada anak kecil yang imut itu. "Halo, nama kamu siapa?" Istri Marshal tersebut mendekat.
Anak yang ditanya malah menyurukkan wajahnya pada badan Wisnu membuat semua orang yang melihatnya terkekeh dengan kelakuan si kecil yang malu-malu.
"Dia Zean, anak aku," sahut Miranda mewakili anaknya.
"Oh, Zean." Viona tersenyum kembali pada anak itu. Dia sepertinya pernah melihat anak ini di hari pernikahannya, tapi Viona pun ingat-ingat lupa. Mungkin karena melihatnya sekilas.
"Zean, salim sama Aunty!" suruh Miranda.
__ADS_1
Anak mungil yang sedang bersembunyi pada tubuh kakeknya itu menoleh. Dengan ragu dia mengulurkan tangannya pada Viona.
Viona terkekeh saat Zean menunduk tidak berani menatap padanya. Anak itu hanya mengulurkan tangan tanpa mau sedikit pun mendongak. Dengan senang hati Viona menerima uluran tersebut. Tanpa diduga, tangan Viona malah diremas dengan gemas oleh Zean.
"Dia pemalu," jelas Miranda saat Viona dan Zean selesai berkenalan.
Viona memaklumi hal itu. Nampaknya Zean memang lumayan sulit berinteraksi dengan orang baru. Tapi tak apa. Viona akan berusaha untuk mendekati anak itu. Karena putra semata wayang Miranda tersebut sangat menggemaskan. Pipinya berisi dengan tubuh yang mungil dan kulit putih bersih. Rambutnya yang hitam legam ditata dengan gaya fringe. Sangat tampan dan menggemaskan. Ingin sekali dia mencubit pipi gemas anak itu jika saja tidak ada orang lain.
Marshal hanya terdiam melihat interaksi istri dan keluarganya yang sangat akur. Istrinya itu langsung berubah hangat jika sudah berhadapan dengan orang lain. Berbeda jika sedang berhadapan dengannya, sikap Viona sama sekali tidak pernah terlihat manis. Sekalipun bersikap manis, pasti berakhir dengan teragis.
Seperti kasus beberapa hari ini saja, di saat Viona mengalungkan tangannya di leher Marshal dan mengusap wajah suaminya dengan lembut. Marshal sangat terbuai dengan sikapnya yang begitu manis. Tapi siapa sangka, Viona justru malah mengatakan syarat yang sangat mengejutkan. Dia bilang ingin menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Sialan.
Dan, kasus yang tragis terjadi lagi beberapa saat yang lalu. Marshal kira Viona terbuai dengan ciumannya sampai istrinya itu mengusap leher Marshal dengan sensual hingga Marshal tidak bisa berpikir jernih. Saat kenikmatan itu semakin memuncak, Viona justru mencekiknya. Kejam memang. Sikap manis Viona ternyata lebih membahayakan daripada sikap ketusnya.
Interaksi antara Viona dan keluarganya sangat baik. Mereka seperti sudah kenal lama. Siapa yang sangka, Viona ternyata sangat diterima oleh keluarganya padahal mereka mengenal Viona setelah hari pernikahan saja. Marshal harap kedepannya mereka memang akan baik-baik saja, meskipun Marshal tidak menjamin orangtuanya akan menerima alasan dia menikahi Viona jika suatu hari rahasia itu terbongkar.
"Jangan pernah membahas masalah keadilan lagi denganku! Apalagi jika kamu mau berhubungan dengan dia, aku tidak mau mendengarnya lagi."
Viona sedang menemani Zean di pinggir kolam ikan, menoleh pada Marshal yang sedang duduk di kursi panjang. Mereka hanya bertiga berada di sana.
"Lupakan perdebatan kita beberapa hari ini! Aku tidak mau membahasnya lagi. Dan kamu ...," Marshal terdiam sesaat, "jangan pernah lagi membahas hubunganku dengan Amanda!"
Viona menghela napas pelan. Mengangguk pada Marshal. Sekarang dia tidak akan bersikap berlebihan lagi. Dia harus menjaga sikap dengan Marshal. Bagaimana pun juga Marshal sudah membantu keluarganya. Dia tidak boleh melupakan jasa Marshal. Dia memang salah. Selama ini dia melupakan hal itu dan bersikap berani terhadap Marshal. Sekarang Viona tidak akan menuntut kebebasan lagi. Jika Marshal membebaskannya, Viona akan terima. Tapi jika Marshal tetap mejeratnya, dia juga tidak bisa berkata apa-apa. Seperti persetujuan awalnya, dia akan menerima semua konsekuensi dari pernikahannya. Baik itu suka maupun duka.
"Kemari!" Marshal menjentikkan jarinya. Setelah Viona mendekat dengan menuntun Zean, dia menepuk bagian kursi yang kosong untuk Viona duduk. "Maafkan aku jika aku terlalu melarangmu ini itu," ucapnya dengan pelan.
__ADS_1
Zean bergerak dengan tidak sabaran ingin melepaskan diri dari Viona. Dengan terpaksa Viona melepaskannya. "Mainnya di sini aja!" Viona menyerahkan bola berwarna merah yang sedari tadi dimainkan oleh Zean.
Ponakan Marshal tersebut tersenyum dengan girang. Menendang bola yang terbuat dari karet. Dia berlari kecil di depan Marshal dan Viona yang terdiam memperhatikannya.
"Apa kamu terkekang olehku?"
Viona menoleh. Mengernyit dengan dalam. Semakin hari sikap Marshal semakin tidak dia mengerti. Tapi Viona mengangguk saja. Jujur, karena dia memang merasa sangat terkekang.
"Apa aku terlalu kejam padamu?" Viona terdiam. Bingung harus menjawab apa. Marshal memang tidak kejam, hanya saja kadang egois dan semena-mena.
Marshal duduk menyamping. Menghadap pada Viona yang sedang memperhatikan Zean bermain bola. "Sekarang katakan, apa yang kamu keluhkan selama menikah denganku? Dan juga, katakan, kenapa waktu itu kamu bilang mau berhubungan dengan laki-laki lain?"
Viona melirik sekeliling. Dia takut obrolannya terdengar oleh keluarga Marshal.
"Mereka pergi ke rumah Emeli. Tidak ada siapa pun di sini. Hanya kita bertiga. Para pelayan juga tidak akan ada yang berani menguping," jelas Marshal seolah tahu dengan kecemasan istrinya.
Viona tidak tahu jika keluarga Marshal pergi. Dari tadi di berada di dekat kolam mengajak Zean bermain. Viona pikir mereka masih ada di rumah, ternyata mereka pergi. Pantas saja Marshal malah menemuinya. Mungkin Marshal merasa kesepian berada di dalam rumah sendirian.
"Apa kamu benar-benar ingin menjalin hubungan dengannya?"
Viona terdiam. Memperhatikan Zean dengan pikiran yang melayang. Dia tidak pernah berniat berhubungan dengan Sendi saat ini, karena dia tidak sebodoh Marshal. Viona memang masih mencintai Sendi dan berharap bisa bersama dengannya. Tapi dia tidak mungkin melakukan hubungan itu sekarang, di saat dia masih terikat dengan pernikahan.
Seperti perkataan Sendi, Viona mungkin bisa bahagia jika dia menggugat cerai Marshal. Jujur, Viona pernah berpikiran ke sana. Dia sering berpikir jika pernikahannya tidak akan bertahan lama. Apalagi mereka tidak saling mencintai. Viona rasa pernikahan ini hanya akan bertahan sebentar dan dia bisa kembali pada Sendi.
Viona tidak mungkin menjalin hubungan dengan Sendi sekarang. Permasalahan pernikahannya terlalu rumit karena banyak rahasia yang harus mereka jaga. Jika Viona melakukan kesalahan yang sama seperti Marshal, maka dua keluarga akan kecewa padanya. Hanya menambah masalah semakin besar. Viona tidak mau hal itu terjadi. Untuk saat ini dia hanya ingin menjalin hubungan baik dengan Sendi tanpa ada kata pacaran seperti dulu. Ya, siapa tahu Sendi akan memegang ucapannya. Menunggu Viona sampai dia menjadi janda.
__ADS_1
Viona tersenyum kecut. Dia menikah bahkan belum satu bulan, tapi pikiran menjadi janda sudah singgah dalam benaknya.
Waktu itu dia berkata ingin menjalin hubungan dengan Sendi, bukan berarti Viona ingin menjalin hubungan dengan kata lain pacaran, tapi dia hanya ingin berhubungan baik dengan Sendi, sebagai teman. Bagaimana pun juga, Sendi dan Viona sudah berteman lama. Kalau pun akhirnya mereka tidak bisa bersama, setidaknya mereka masih bisa berhubungan baik. Itulah maksud Viona. Tapi, Marshal mengartikannya lain. Makanya Viona mengikuti saja persepsi suaminya. Tapi tidak disangka, Marshal malah semakin mempermasalahkan hal itu sehingga mereka terus berdebat setiap hari.