Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
di Belakang Marshal


__ADS_3

Apa Viona cemburu? Dia sendiri tidak yakin. Tapi, sepertinya bukan cemburu. Untuk apa dia cemburu? Sejak pertama melihat Marshal berpenampilan berantakan, pun dia tidak merasa kenapa-napa. Tidak kesal, tidak marah maupun curiga. Dia hanya bersikap memahami apa yang terjadi. Tidak masalah, kalau pun Marshal dan Amanda melakukannya saat itu. Meskipun Marshal sudah menjelaskan, jika mereka tidak mekakukannya, tapi Viona tetap acuh, jika pun hal itu memang benar-benar mereka lakukan.


Sejak tadi sore, Marshal terus saja menanyakan hal itu padanya. Apakah dia cemburu? Viona jadi memikirkannya. Dia tidak cemburu! Hanya saja, dia kesal dengan Marshal yang tidak mau mengerti dengan ketidakmauannya terlihat tanda merah di leher oleh orang lain.


"Tapi, kenapa kamu malah membahas masalahku dengan Amanda, jika tidak cemburu dan mempermasalahkan hal itu?" ujar Marshal saat Viona menyangkalnya tadi.


Benar juga. Kenapa Viona jadi membawa masalah itu? Ah, sudahlah! Dia benar-benar tidak mau memikirkan apapun lagi. Yang jelas dia tidak cemburu. Tidak sama sekali!


"Rio!" panggil Viona mendekat pada orang yang dipanggil. Dia duduk di kursi taman, di samping Rio yang terlihat sedang membaca sebuah artikel di ponselnya. Viona sedikit menggeser tubuhnya untuk mengintip apa yang sedang dibaca oleh Rio. Seketika matanya membulat dan merebut ponsel itu dari tangan Rio. "Berita apa ini? Nama tuan disebut-sebut."


Rio hanya diam, tidak merebut ponselmya kembali, meskipun dia terkejut. "Ada berita yang mengabarkan, tuan menuntut tuan Suryo, yang melakukan penyalipan dana proyek. Nah, di berita itu, malah tuan yang jadi tercemar. Karena sudah menuduh orang tanpa bukti, katanya. Padahal sudah jelas, tuan Suryo dan anak buahnya yang korupsi."


"Kenapa bisa begini?" Viona membaca artikel itu dengan serius.


"Itulah, Nyonya. Makanya saya juga bingung, kenapa ada berita seperti itu."


"Kamu sudah menyelidikinya? Aku yakin, tuan tidak mungkin menuduh orang tanpa bukti, kan?"


Rio mengangguk setuju. Dia menerima kembali ponsel yang sudah selesai Viona baca. "Semua bukti sudah jelas, dana proyek itu masuk ke dalam rekening pribadi tuan Suryo, sejak satu bulan terakhir. Saya sudah membuktikannya. Tapi, entah dari mana berita ini asalnya. Di berita ini malah mengatakan, seakan tuan Marshal yang salah dan menuduh yang tidak benar pada tuan Suryo."


"Mungkin berita ini berasal dari pihak tuan Suryo. Bisa saja 'kan, dia tidak terima dengan ketahuan korupsinya, makanya dia membeberkan berita ini. Ya, mungkin supaya nama tuan tercemar. Dia mungkin berniat balas dendam."

__ADS_1


"Saya sedang menyelidikinya, Nyonya. Tapi, kemungkinan besar, seperti itu."


Viona mengangguk-anggukan kepala. Dia melirik sekeliling yang nampak sepi. Suasana taman terasa begitu dingin. Dia heran, kenapa Rio betah berada di sana? Hampir setiap malam, laki-laki itu pasti menyempatkan diri untuk duduk di kursi panjang yang mereka duduki saat ini. Entah itu, hanya duduk sambil memainkan ponsel atau hanya melamun menikmati suasana sejuk angin malam. Viona sering mendapatinya duduk di sana sendirian.


"Tuan ke mana?" Viona baru ingat. Sejak sore dia terus dibuntuti oleh suaminya dan dicercar pertanyaan masalah cemburu. Tapi, sekarang dia merasa ada yang kurang, Marshal tidak merecokinya lagi setelah makan malam tadi. Dan Viona juga tidak melihatnya sampai saat ini. Biasanya Marshal akan rewel jika sudah malam. Dia pasti mengajak tidur dengan berbagai rayuan yang terlontar.


"Mungkin di ruang kerjanya. Banyak hal yang harus tuan urus akhir-akhir ini. Ditambah lagi kasus penggelapan dana ini semakin rumit. Tuan pasti sedang berpikir keras untuk meredam berita."


"Kan, ada bukti. Kenapa tidak tunjukkan saja buktinya ke publik? Jika mereka tahu kebenaran, tuduhan itu bisa disangkal, kan?"


"Masalahnya, berita ini sudah muncul ke permukaan. Dan yang membela berita itu merupakan pengacara kondang. Cukup sulit untuk melawan. Dari pengamatan saya, kalau pun tuan bisa mengalahkan mereka saat ini, setelah kasus ini mereda, mereka pasti akan membuat berita baru yang lebih menggemparkan. Lebih buruk lagi, pasti kembali mengangkat berita masalah perselingkuhan tuan dan nona Amanda. Itu mengerikan, Nyonya. Harga saham pasti semakin turun, jika hal itu terjadi."


Viona hanya manggut-manggut. Dia tidak cukup mengerti dengan masalah yang terjadi. Tapi, sepertinya sangat rumit. Pantas saja suaminya selalu mengeluh sakit kepala. "Bukankah tuan juga bisa menyewa pengacara terbaik? Uangnya banyak. Kenapa tidak menyewa pengacara dari luar negeri, mungkin?"


Alis Viona terangkat dengan bingung. Dia duduk menyamping menghadap pada Rio. "Maksud kamu?"


Rio melirik padanya dengan serius. Dia sedikit mendekat. "Saya merasa semua ini ada campur tangannya tuan besar," ucapnya terdengar seperti bisikan.


Viona mengernyit dalam. "Papa Wisnu maksud kamu?"


Laki-laki itu malah menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Suami Nyonya belum menyadarinya, mungkin. Dia terus saja memikirkan kasus penggelapan dana dan dalang di baliknya. Tidak berpikir ulang tentang siapa yang menangani kasus ini."

__ADS_1


Viona berdecak kesal. "Jadi gimana? Aku gak ngerti."


Embusan napas Rio terdengar seperti semburan. Dia harus sabar menjelaskan semuanya sampai Viona paham dengan apa yang dia pikirkan. "Yang saya tahu, pengacara kondang yang menjadi lawan tuan saat ini, dia pernah berada di bawah kekuasaan tuan besar."


Viona terdiam mencerna dan memikirkan semuanya. Setelah paham, kembali meminta penjelasan. "Kenapa tuan tidak menyadarinya?"


"Mungkin ingatan tuan sedikit terganggu. Dia kadang pelupa. Karena seingat saya, tuan Atma memakai pengacara itu empat tahun yang lalu. Tuan mungkin tidak tahu atau tidak ingat."


"Kenapa kamu tidak memberitahunya?"


Rio sedikit beranjak untuk memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Kemudian, dia duduk kembali. Dengan santainya malah menyilangkan kaki. "Saya belum tahu, kenapa tuan besar melakukannya. Dan tadi, tuan besar menghubungi saya dan meminta untuk menemuinya secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan tuan Marshal."


Viona paham sekarang dengan apa yang Rio pikirkan. "Kamu curiga papa punya rencana rahasia?"


Rio mengangguk cepat. "Sepertinya begitu."


"Jadi, kalian mau main belakang dari tuan? Wah, wah, wah, kamu ternyata bukan asisten yang baik, ya." Viona tertawa geli sambil memukul pelan lengan Rio. "Teganya kamu menutupi kebenaran dari majikanmu sendiri, Yo. Kamu mau menusuk tuan dari belakang?"


Rio mendengus. "Bukan begitu, Nyonya! Ssst ... jangan bilang ke siapa-siapa! Termasuk tuan. Jika saya sudah mengkonfirmasi masalahnya pada tuan besar, nanti saya pasti akan memberitahu tuan Marshal."


"Oh, jadi rahasia kita saja?" bisik Viona, menghentikan tawanya.

__ADS_1


Rio hanya menganggukkan kepala dan menempelkan telunjuk di depan mulut. Meminta Viona untuk tidak mengatakannya pada siapa pun.


Jemari jempol dan telunjuk Viona menyatu membentuk huruf 'O'. Dia mengangkatnya di depan Rio. "Oke. Aku akan jaga rahasia ini," ucapnya sambil terkekeh geli.


__ADS_2