
Kecanggungan begitu terasa setelah Marshal tidak lagi mengganggu mereka. Viona duduk di kursi, samping ranjang Sendi. Dia tersenyum dengan hangat pada Sendi yang masih dibebat oleh peralatan medis, kondisinya masih belum benar-benar pulih.
"Kenapa kamu bisa seperti ini, Sen?" Viona memandang Sendi iba. Laki-laki yang selalu berbagi kasih dengannya, kini bahkan tidak bisa bangun dengan tegak. Tubuhnya begitu lemah dan penuh luka.
Sendi tersenyum tipis. Menatap langit-langit kamar dengan sedih, di saat memorinya berputar menampilkan kejadian waktu itu. "Jika aku bilang, semua ini karena kamu ... apa kamu akan percaya?" Diliriknya Viona yang nampak membulatkan mata, Sendi kembali tersenyum. Pahit sekali rasanya. Dia menahan sakit penuh luka tanpa ada yang bisa mengobatinya selain Viona. "Aku pikir, semua yang aku lihat hanyalah mimpi," Sendi menjeda ucapannya lagi, membuat Viona tidak mengerti dengan maksudnya. "tapi, setelah melihatnya barusan, hatiku malah semakin sakit, Vi."
Viona memandang Sendi tidak mengerti. Memangnya apa yang sudah dia perbuat pada Sendi sampai laki-laki itu merasa sakit hati? Viona tidak melakukan apapun, bahkan baru bisa bertemu lagi dengannya hari ini.
"Kamu emang udah berubah, Vi," Pandangan Sendi mulai kabur. Luka akibat kecelakaan tidak seberapa sakit, jika dibandingkan dengan goresan perasaan yang sudah menyayat hatinya sampai yang terdalam. "aku tidak menyangka, kamu akan dengan mudah melupakan aku dan sekarang sudah menerima suami kamu."
Viona menggeleng tegas setelah paham dengan apa yang Sendi utarakan. "Itu tidak benar, Sen. Jika boleh jujur, aku sama sekali belum menerima pernikahan ini."
Sendi memandang Viona penuh. Melihat kebenaran atas apa yang telah diucapkannya. Dia tidak percaya dengan ucapan Viona, karena tidak sejalan dengan apa yang dilihatnya. "Jangan memberikan aku harapan lagi, Vi! Jika kamu sudah bahagia dengannya, tidak usah ditutupi! Kenyataan tidak akan pernah merubah rasa sakit yang sudah terlanjur berbekas."
Embusan napas lemah terdengar dari pernapasan istri Marshal. Dilihatnya mata Sendi dalam-dalam, Viona sudah siap mengutarakan semuanya pada Sendi. Dia mungkin bisa menjadikan Sendi tenpatnya mencurahkan segalanya, seperti dulu. "Aku sama sekali tidak bahagia dengan dia, Sen. Aku ...," Viona menundukkan wajah, penuh kesedihan yang sudah tertahan lama. Matanya mulai memburam, memainkan jemari di pangkuan. "aku tetap saja terpaksa menjalaninya. Apa yang kamu lihat tadi, sama sekali tidak aku terima. Dia yang-"
"Tapi, kamu diam saja," sanggah Sendi dengan cepat, "dia meluk kamu, bahkan mencium kamu, Vi. Kalian relationship."
Viona menggeleng tegas, mengusap setetes air mata yang meluruh di pipinya. Sendi tidak tahu bagaimana perasaannya saat diperlakukan seperti itu oleh Marshal. Viona terpaksa, Viona tersiksa. Dia tidak mau, namun sulit untuk melawan, karena status Marshal sebagai suaminya. Marah selalu berkobar di saat Marshal berbuat seenaknya, tapi Viona tidak bisa berbuat banyak. Dia terpaksa karena ucapan ibunya selalu terngiang dalam telinga. Marshal memang suaminya, namun Viona tetap tidak bisa menerimanya sepenuh hati. Jika hanya menyatakan status, dia bisa memahami. Namun, untuk hubungan yang lebih seperti itu ... dia tidak bisa dan tidak mau hal itu terjadi.
"Di pesta tuan Atma," Sendi tersenyum pahit, membuang muka dari Viona yang masih menunduk. "kamu bahkan membalas pelukannya. Apa itu yang kamu sebut terpaksa?"
Viona mendongak, terkejut mendengar ucapan Sendi. "Kamu melihatnya?"
Anggukan kecil dari pasien laki-laki tersebut membuat Viona menelan ludah susah payah. Dia langsung menerka, apakah karena hal itu Sendi sampai seperti ini? Viona harap, bukan. Tapi, perasaannya mengatakan, iya.
Segera digenggamnya tangan Sendi yang masih terpasang selang infusan, diusapnya pelan, dia memandang Sendi dengan penuh keyakinan. "Aku tidak bisa menerimanya, Sen. Dia masih asing bagiku dan juga aku memang sebenarnya tidak mau terlalu dekat dengannya. Untuk waktu itu ... dia yang memaksa aku untuk memeluknya. Hanya demi pandangan orang lain dan juga ... dia mengancamku. Hanya sandiwara, Sen."
"Apa itu artinya kamu masih mencintaiku?"
__ADS_1
Viona hanya terdiam memandangi wajah Sendi yang terdapat banyak memar sisa kecelakaan, bahkan kepalanya masih diperban. Apa dia harus mengatakan semuanya pada Sendi? Apa ini saatnya untuk Viona mengutarakan semua yang ada di pikirannya? Dia ragu, takut Sendi tidak mau atau bahkan tidak akan bisa menerima dengan apa yang akan keluar dari mulut sesuai dengan pemikirannya.
"Vi?"
"Iya," sahut Viona dengan lirih. Dia kembali menunduk, memandangi tangan yang juga dibalas genggaman oleh Sendi dengan lemah.
Viona memang masih mencintai Sendi, sangat. Dia tidak bisa berpaling, karena hal itu sangat sulit untuk dia lakukan. Perasaannya terhadap Sendi sudah lama berkembang sejak masa putih abu-abu, dan sampai saat ini rasa itu tetap sama, meskipun mereka tidak pernah mengikatnya dengan hubungan yang resmi.
"Suami kamu ...?"
Memejamkan mata, sebelum dia kembali berpandangan dengan Sendi. Viona melepaskan tangan Sendi yang terus meenggenggam tangannya. "Sudah aku bilang, dia masih terasa asing bagiku. Kita hanya menjalani pernikahan, tidak mengikutsertakan perasaan."
Viona tidak peduli dengan ungkapan suaminya kemarin malam yang bilang, jika dia mencintainya. Mungkin Marshal hanya membual dan bicara omong kosong saja untuk membujuk Viona. Tapi sayangnya, Viona sama sekali tidak peduli dan tidak mengharapkan cinta dari Marshal. Karena dia pun tidak akan memberikan hal yang serupa padanya. Hatinya masih terpatri pada laki-laki lain, Viona bukanlah perempuan yang mudah berpaling. Komitmen selalu dia pegang, namun nahasnya, dia malah mematahkan komitmen yang dia bangun bersama Sendi, sehingga sekarang mereka jadi seperti ini.
Keheningan terasa menyapa di ruangan tempat Sendi berbaring lemah, kini pikirannya melayang dan menerka ke mana-mana. Viona hanya bisa menunduk seraya memainkan jemarinya di pangkuan. Entah perasaan apa yang saat ini dia rasakan, semuanya terasa begitu ruyam. Dia ingin mengutarakan suatu hal pada Sendi, tetapi dia ragu untuk memulainya.
"Sen," Laki-laki yang masih terbaring tersebut kembali pada kesadarannya, mendengar panggilan Viona. Dia melirik Viona dengan intens, menunggu hal apa yang akan Viona utarakan. "Apa aku boleh mengatakan sesuatu?"
Alis Sendi bertaut, masih diam mendengarkan. Tidak mengizinkan, tidak pula melarang. Pikirannya sendiri masih berkecamuk entah singgah di mana, Sendi hanya bisa menyimak apa yang akan Viona katakan padanya. Dia memang masih berharap Viona bisa menjadi miliknya.
Namun, setelah melihat kejadian tadi, yang malah mengingatkannya kembali pada kejadian di pesta waktu itu ... semuanya kembali berputar, menambah rasa sakit di dalam rongga dada yang semakin lama, semakin dirasakan, maka semakin nyeri menyayat hati yang sangat mudah terbakar. Api cemburu dan tidak rela selalu berkobar dalam dada, membuatnya hilang akal dan merasa tidak berguna menjadi seorang manusia. Tidak ada tujuan hidup untuk bertahan, hingga menyebabkannya mengalami kecelakaan yang sangat memilukan bagi banyak orang.
Sendi menyesal, kenapa dia tidak mati saja? Jika sudah seperti ini, apalagi melihat kemesraan Viona dan suaminya tadi, hatinya mencelos. Dia terbangun dari koma dengan harapan Viona masih bisa menjadi miliknya, namun keyakinan dan harapan itu malah sirna. Melihat tatapan Marshal pada Viona yang mengandung banyak arti. Sendi tahu, jika Marshal sangat menyayangi Viona dan tidak mungkin mau melepaskannya.
"Pernikahanku sedang kurang baik, Sen. Selalu kurang baik setiap saat. Bahkan kemarin, aku seharusnya mengajukan gugatan cerai, kami hampir berpisah."
Sendi membulatkan mata cepat setelah sadar dari lamunannya. Dia sangat kaget. Meskipun Viona bilang, jika dia begitu terpaksa menjalani pernikahannya dengan Marshal, tapi Sendi tidak percaya jika kata perpisahan itu ada di antara mereka.
"Terlalu rumit, Sen ... dan aku tidak kuat menahan semuanya sendiri." Viona terlihat sangat muram.
__ADS_1
Sendi memandangnya kasihan. Jika benar Viona begitu tersiksa, kenapa dia masih bertahan dengan suaminya, bukan kembali padanya saja? Ya, harapan tetaplah harapan. Hati siapa yang akan berpaling dengan mudah, jika harus merelakan pujaan hatinya bersama orang lain? Semua hati pasti merasa gundah dan tidak terima. Sama halnya dengan Sendi, dia tidak bisa menerima dan masih berharap Viona kembali padanya, meskipun hal itu mustahil. Karena Sendi dan Viona tidak memiliki ikatan resmi yang mengharuskannya bersama, seperti apa yang sudah Marshal ikatkan pada Viona.
Istri Marshal tersebut kembali memegang tangan Sendi, mengusapnya pelan penuh perhatian. Tatapannya kian ragu untuk mengungkapkan semua yang ingin dia utarakan. Genggaman tangannya semakin erat saat Sendi juga membalasnya dengan genggaman. Dihelanya napas dalam memenuhi rongga dada. Setelah sedikit tenang penuh keberanian, dia pun kembali mengeluarkan suaranya, "Kamu pernah bilang, kamu sangat mencintai aku dan ingin aku kembali sama kamu."
Sendi terdiam menyimak dengan penasaran, ke mana arah pembicaraan Viona. Jarang sekali Viona membiacarakan perasaan, bahkan diajak membicarakannya pun Viona kadang tidak mau. Tapi, kali ini dia malah membahasnya pada Sendi. Apa ada hal serius yang ingin diutarakannya saat ini? Sendi harap suatu kalimat yang membuatnya bahagia atau berkaitan dengan mimpi yang membawa kesadarannya pada kehidupan dunia, saat dia koma.
"Tadinya, aku memilih bercerai dari suami aku, karena aku ingat dengan ucapan kamu waktu itu ...," Viona memandang Sendi penuh harap. Pancaran serius begitu terlihat dari sorot matanya yang bulat nan indah. "Kamu pernah bilang, bersedia menunggu status jandaku, bukan?"
Sendi tercengang, memandang Viona dengan tatapan tidak percaya. Apa itu artinya Viona ... Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menenangkan pikiran yang malah kembali menyimpan sebuah harapan. Viona belum selesai bicara, tidak seharusnya dia menyimpulkannya sendiri.
"Jika aku bercerai dengan tuan Marshal, apa ucapan kamu itu masih berlaku?"
Sendi ingin mengatakan 'iya', namun entah mengapa mulutnya terasa kelu. Dia hanya mampu mengeratkan genggaman tangannya dia tangan Viona dan tersenyum hangat penuh bahagia pada perempuan yang selalu dicintainya.
Alis Viona terangkat menanti jawaban, namun Sendi tidak kunjung buka suara. "Sen, kamu masih mau menikahi aku, kan?"
Ditatapnya mata Sendi dalam-dalam, Viona mulai cemas karena Sendi tidak kunjung menyahutinya. Apa Sendi tidak mau menerimanya lagi? Atau Sendi sudah tidak mencintainya? Harapan Viona tidak banyak, dia hanya berharap masih ada laki-laki yang mau padanya setelah bercerai nanti, dan yang Viona mau, laki-laki itu hanya Sendi. Tapi, Sendi hanya terdiam serta memasang senyuman manis padanya. Viona tidak mau menyimpulkan apapun, karena takut jika kenyataan tidak sama dengan harapannya.
Dia berani mengatakan cerai pada Marshal, karena dia masih punya harapan pada Sendi. Tidak ada salahnya jika Viona berpikir demikian, bukan? Karena dia dan Sendi saling mencintai, besar kemungkinan, jika mereka bersama, maka kehidupan rumah tangga mereka pasti akan bahagia. Tidak seperti rumah tangganya yang saat ini.
"Kamu mau menerima aku, walaupun sudah berstatus janda, kan? Sen, iya, kan?"
Sendi hanya memandanginya lekat. Mengangkat tangan yang masih lemah untuk mengusap wajah Viona yang sudah tidak sabaran menanti jawaban. Seharusnya Viona tidak bertanya lagi, karena waktu itu, Sendi mengatakannya dengan sangat-sangat serius.
"Akan kutunggu jandamu!"
Kalimat tersebut diucapkan dengan lantang dan penuh keseriusan oleh Sendi saat itu. Apa Viona masih perlu menanyakan jawaban lagi padanya? Apa itu perlu? Atau harus Sendi mengatakannya kembali sampai Viona paham dengan maksud dari ucapannya tersebut?
"Sen?" Viona menahan tangan Sendi yang ingin mengusap wajahnya. Senyuman di wajah Sendi tidak memudar, namun tidak kunjung membuka mulut untuk bersuara. Viona butuh jawaban yang pasti, sehingga dia bisa mengambil langkah yang benar untuk selanjutnya. "Kamu mau nikahin seorang janda, kan?"
__ADS_1