
Hari libur adalah waktu untuk Marshal memuaskan diri bermanja terhadap istrinya. Dia akan menghabiskan waktu bersama Viona-inginnya, sih, hanya di atas ranjang. Tapi, sepertinya tidak bisa. Lihat saja, saat ini Viona malah asyik dengan ikan-ikan yang berenang di kolam kesayangannya.
Menikmati segelas jus dingin, duduk di tepi sambil melihat sang istri tertawa lepas, Marshal sudah merasa bahagia. Viona terlihat berkali-kali lipat semakin cantik saat ini. Auranya terpancar indah, hampir menyilaukan mata yang melihatnya. Tawanya bahkan renyah membuat telinga merasa diberikan suara merdu yang menenangkan jiwa.
"Chal, kalo ikannya ditambah lagi, ikan yang lain bakalan nyaman gak, ya?"
Marshal menegakkan tubuh, menyimpan gelas jus ke atas meja. "Memangnya kamu mau ikan apa lagi?"
Viona terlihat berpikir sejenak. Dia melihat lagi ke dalam kolam, tersenyum dan kembali melirik pada Marshal. "Aku mau ikan Piranha. Tapi, yang kecil-kecil aja. Aku lihat di rumah papinya Frans, mereka ternyata bagus kalo dilihat, meskipun menakutkan."
Mata Marshal membulat sempurna mendengarnya. Dia menggelengkan kepala, tidak mengerti dengan pikiran Viona yang kadang memang absurd dan tidak bisa ditebak isinya. "Sayang, kalau mau ikan seperti itu, nanti kita harus bikin kolam baru. Atau setidaknya membuat aquarium yang besar khusus ikan-ikan predator. Tidak bisa disatukan dengan yang ini. Nanti mereka mati dimakan Piranha. Memangnya kamu mau, nanti ikan-ikan yang imut ini dimangsa penghuni lain?"
Viona malah tersenyum, menampilkan deretan gigi putih indahnya. Marshal kembali menggelengkan kepala. Kemauan Viona memang aneh. Di saat wanita lain suka fashion, shopping, dan mengoleksi barang-barang branded, Viona malah terlihat lain. Dia beda. Kesukaannya adalah melihat ikan dan tanaman. Termasuk hobi yang ringan menurut Marshal. Karena kesukaan Viona cenderung bisa dinikmati oleh semua orang.
Viona berjalan mendekat pada Marshal. Dia duduk di samping suaminya. Mengambil jus alpukat kesukaan, Viona kembali memandang kolam. Dia memperhatikannya dengan serius. Seperti ada yang kurang indah untuk dilihat. Viona merasa ingin kolam itu direnovasi lagi. Tapi, dia tidak berani bilang pada Marshal. Belum lama kolam itu dirombak dan ditambah dengan air terjun buatan yang lebih besar. Airnya lebih deras dengan sisi-sisi dihiasi tanaman indah. Tapi, Viona merasa mulai bosan dan kurang puas dengan pemandangan itu.
Diliriknya ke samping, Viona terdiam memandangi Marshal yang fokus melihat ke kolam. Betapa tampannya seorang Marshal Syahreza saat ini. Cahaya pagi menyinari tidak terlalu terik. Jika dilihat dari samping, maka hidung mancungnya terlihat sangat jelas. Bulu matanya ternyata panjang, walaupun tidak terlalu lentik. Sudut pandang dari samping seperti ini membuat Viona bisa melihat siluet wajah suaminya yang sangat menawan. Selama ini, dia jarang sekali memperhatikan Marshal seperti sekarang, jika bukan saat mereka berada di atas ranjang.
"Rio ke mana, Yang?"
"Emh?" Viona tersentak kaget. Buru-buru mengembalikan kesadarannya, tidak mau kepergok sedang memperhatikan wajah Tuan Chal yang terlihat sangat tampan pagi hari ini. Tidak. Setiap hari memang terlihat tampan. "Mungkin di dalam. Atau ... mungkin dia pulang ke rumah ibunya?"
Marshal memandang Viona dengan alis bertaut. Kemudian menggelengkan kepala, tidak tahu juga. Dia 'kan bertanya pada Viona.
__ADS_1
Kembali diperhatikannya wajah Marshal yang terlihat serius saat mengambil ponsel dari meja dan menekan layarnya beberapa kali, sebelum menempelken benda pipih tersebut ke dekat telinga.
"Di mana? Iya. Euh, tidak. Hanya ...,"-Marshal menggaruk alis dengan ujung telunjuknya-"aku ingin membuat aquarium yang besar di dekat ruang tengah atau mungkin bisa di dekat ruang kerja. Di belakang. Iya. Nah, aku inginnya yang besar. Bukan-bukan. Aku ingin buat suasananya yang sedikit gelap ala hutan-hutan tropis gitu. Atau aura Amazon sepertinya akan bagus. Hm, ya ...."
Viona memandangi Marshal yang sedang berteleponan, dalam diam. Sepertinya sang suami akan mengabulkan keinginannya untuk memelihara ikan Piranha. Padahal Viona tidak benar-benar menginginkan ikan tersebut, karena dia tahu, Piranha-si pemakan daging itu-sangat menakutkan.
"Hmm ... iya, benar. Tidak. Hanya beberapa mungkin. Tidak, nyonya ingin yang masih kecil. Iya begitu. Baik. Segera ke sini! Aku akan mendesain aquariumnya sendiri." Marshal menyimpan kembali ponselnya ke atas meja, setelah menutup sambungan. "Rio ternyata sedang di luar. Dia berkunjung ke rumah kakaknya. Nanti dia ke sini akan membawa seorang tukang yang bisa membuat aquarium di ruangan."
"Hari ini?" Viona memandanginya tidak percaya. Semudah itu Marshal memenuhi keinginannya.
Marshal mengangguk. Diambilnya gelas yang menyisakan jus tidak sampai separuh gelas. Dia meneguknya sampai tandas dan kembali melihat pada Viona. "Kamu mau aquarium di ruang tengah atau dekat ruang kerjaku?"
Viona memutar bola mata, terlihat berpikir dan menyeringai. "Emm ... bagaimana jika di kamar ... kita?"
Marshal menganga, lalu tertawa. Dia menutup wajah dengan satu tangan sambil menggelengkan kepala. "Apa aku kurang menakutkan saat di kamar, sampai kamu mau menaruh Piranha di sana?"
Tapi, meski menakutkan, permainan Marshal selalu memberikan kenikmatan tiada tara. Eh?
***
"Mau ngapain?" Viona mundur penuh antisipasi. Kepala Marshal condong padanya dengan pandangan menyeringai. Sepertinya tidak akan berakhir baik, jika dia sudah seperti itu. "Chal!" Viona tersentak kaget saat Marshal mengangkat tubuhnya, dibawa masuk ke dalam kamar.
Baru diturunkan dari gendongan, Viona ingin terlepas tapi Marshal langsung menyambar bibirnya dengan ganas. Viona kelabakan, tidak siap menerima serangan yang tiba-tiba. Tapi, Marshal memang seakan tidak peduli dengan kesiapannya. Viona mau menolak seperti apapun, tetap bisa dia luluhkan.
__ADS_1
"Chal, masih pagi. Jangan macam-macam!" Viona semakin was-was karena tangan Marshal yang melanglangbuana ke tempat yang tidak seharusnya. "Chal ...!"
Marshal tidak mempedulikan penolakan Viona. Dia ingin. Tidak mungkin menahannya di saat dia sedang berada dengan istrinya.
Bulu kuduk Viona merinding mendengar Marshal berbisik lirih, tepat di telinganya, meminta hak. Dengan tenaga yang tersisa, Viona menahan tubuh Marshal untuk berhenti menjelajahinya. "Semalam udah. Jangan-Amhh!"
"Aku mau sekarang. Lagi."
Viona tidak bisa mengelak saat Marshal kembali menyambar bibirnya. Mempermainkannya supaya terbuai dengan keinginan hasrat sang suami. "Nanti ada Rio dan tukang datang. Amhh, No, Chal! Mphh!"
"Mereka datang nanti sore. Hanya melihat tempat dan baru akan dikerjakan hari besok."
"Chal ...!" Viona tidak punya alasan lagi untuk menolak. Dia kehabisan tenaga untuk melawan suaminya yang ganas. "Mmmhhh ...."
"Aku anggap ini bayaran untuk aquarium baru." Marshal menyeringai, semakin bringas dengan serangannya.
Tidak ada yang bisa Viona lakukan selain menurut. Predator sesungguhnya bukanlah Piranha yang dia mau, tapi Marshal. Dia lebih menakutkan dari ikan predator. Sangat buas dan haus akan kenikmatan. Tapi, Viona tidak akan mengelak jika akhirnya dia juga akan terbuai dan menikmati permainan Marshal. Biarpun menakutkan, Marshal tetap nikmat baginya.
Hingga semuanya usai, Viona kelelahan, Marshal baru berhenti untuk berselancar di tubuhnya. Dia berbaring di samping Viona dengan senyum penuh kepuasan. Rasa bangga hadir karena dia bisa menaklukan istrinya yang keras kepala. Dua kali dia membuahinya, pasti kecebong itu akan segera singgah di pelabuhan. Tinggal menunggu waktu, maka kandungan Viona akan cepat jadi dan cepat diketahui.
"Semoga kamu cepat menyatu, ya, Nak. Papa menantikan kehadiranmu," bisik Marshal di depan perut polos Viona. Dia mengusap permukaan itu dengan lembut dan penuh harap. Semoga usahanya berhasil. Karena dua kali dia membuahinya tanpa penghalang pil kontrasepsi.
Melihatnya, Viona tersenyum geli. Apakah dosa baginya membiarkan Marshal penuh harap seperti itu? Marshal selalu mengharapkan kehadiran anak dan sangat yakin hasil jerih payahnya akan menjadi sebuah gumpalab daging yang nantinya bisa hidup menjadi seorang anak. Bagaimana jika dia tahu ternyata Viona tetap meminum pil yang dia sembunyikan di bawah tumpukan baju? Apakah Marshal akan marah? Atau dia kecewa?
__ADS_1
Viona tahu, semalam pilnya hilang, Marshal yang menyembunyikannya. Dan dengan tanpa Marshal ketahui, Viona masih menyimpan cadangan di tempat yang tidak pernah Marshal sangka-sangka.
Semoga suaminya tidak marah, di saat tahu kebenaran itu. Viona sungguh belum siap menjadi seorang ibu untuk saat ini.