Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Seorang Marshal Mencintai Istrinya?


__ADS_3

WARNING! Terdapat adegan ranjang yang memanaskan hati.


________________


Menyesal.


Termenung di pinggir kolam ditemani angin malam yang menyeruak menghantam badan. Marshal berdiri di sana dengan tangan yang dimasukan ke dalam saku celana. Dia menyesal telah berbuat kasar pada Viona. Rasa bersalah dan ketakutan terus saja menghantuinya. Dia takut Viona akan membencinya dan tidak mau lagi bertemu dengannya. Dan ketakutan paling terbesarnya, Viona benar-benar menggugat cerai.


Banyak alasan yang bisa dengan mudah membuat gugatan yang Viona ajukan diterima. Selain karena perbuatan kasaranya barusan dan tentang sikapnya yang suka mengekang, hubungannya dengan Amanda juga bisa menjadi alasan yang kuat untuk melayangkan gugatan cerai. Meskipun Viona tidak keberatan dengan hubungannya dengan Amanda, tapi tetap saja yang salah Marshal dan sudah tentu alasan itu bisa diterima di ranah hukum.


"Arghh ...." Marshal menyugar rambutnya dengan frustasi, mendongakan wajah ke atas. Melihat langit malam dengan sedikit awan melayang indah. Bulan sabit menghiasi tengah malam yang penuh penyesalan baginya. Marshal pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Dia selalu mengikat Viona karena tidak mau kehilangannya. Tapi, dia juga kadang tidak bisa memikirkan kenyamanan Viona saat berada di dekatnya. Dia kadang keras terhadap istrinya karena mau Viona selalu menurut padanya. Tapi, setiap dia sudah bersikap kasar, dia juga selalu merasa bersalah. Dia sebenarnya tidak mau berbuat kasar atau bahkan mengekang dan melarang istrinya banyak hal. Namun, hanya dengan cara itu dia bisa membuat Viona tetap bersamanya.


Tapi, kini, semua itu tetap tidak menjamin. Sekeras apapun usaha Marshal untuk membuat Viona menurut supaya bertahan berada di sisinya, tetap saja dia salah dan Viona mungkin malah membencinya. Yang Viona inginkan hanya kebebasan dan kenyamanan. Sekeras apapun Marshal berusaha membuatnya nyaman, Viona tetap tidak bisa merasakan hal demikian. Mungkin karena dia menikah penuh Keterpaksaan, makanya dia jadi seperti itu.


Marshal tahu, dari awal dia menginginkan Viona, semuanya memang salah. Cara dia mengikatnya sampai memperlakukan istrinya, semuanya salah. Marshal sadar jika dia memaksakan diri untuk egois, karena dia mau semuanya. Biarlah orang bilang dia serakah, tapi kehilangan Viona adalah hal paling menakutkan yang tidak mau dia hadapi. Marshal tidak mungkin bisa melepaskannya. Viona berharga dalam hidupnya. Terlalu berpengaruh besar dalam hatinya. Dia hanya ingin Viona selalu bersamanya.


   Melihat jam yang melingkar di tangan sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Marshal bimbang, apakah dia harus kembali ke kamar atau tidak. Tidak tahu istrinya sedang apa, Marshal harap Viona sudah tidak lagi menangis. Melihat air mata orang tersayang adalah hal yang paling Marshal benci. Dia marah pada dirinya sendiri yang sudah membuat air mata Viona meluruh penuh kesakitan.


Jika sebelumnya dia kesal dan tidak rela, Viona mengeluarkan air mata karena laki-laki lain, justru saat ini dia semakin tidak rela dan marah, Viona mengeluarkan air mata karenanya, bukan untuknya.


Marshal masuk kembali ke dalam rumah yang terasa sangat sepi. Semua orang pasti sedang menyelami alam mimpi, tidak seperti dirinya yang malah kalang kabut akibat ulahnya sendiri. Dengan penuh keraguan, Marshal menaiki tangga menuju kamarnya. Dia memutar kunci kamar penuh rasa tidak enak. Terpaksa Marshal tadi mengurung Viona, karena tidak mau istrinya nekat pergi dari sana.

__ADS_1


Pintu dibuka secara perlahan. Hanya cahaya temaran yang terlihat memenuhi kamar. Marshal menutup pintu, melihat ke arah ranjang. Viona berada di sana dengan tubuh berbaring memunggunginya. Sedikit bernapas lega karena Viona mungkin sudah tidur dan menghentikan tangisannya.


Marshal memilih untuk berganti pakaian dan masuk ke kamar mandi sebentar. Setelahnya, dia naik ke atas ranjang dengan perasaan yang sama sekali tidak bisa dibilang baik-baik saja. Berbaring dan menarik selimut yang sama dengan istrinya, Marshal mendekat pada tubuh Viona. Ingin memeluknya erat dan meminta maaf, namun dia ragu. Akhirnya Marshal hanya bisa melihat punggung istrinya dalam cahaya yang sangat minim. Terlihat guncangan kecil pada tubuh istrinya, menandakan napasnya yang teratur. Viona berarti sudah lama menghentikan tangisannya.


Tidak bisa menahan diri lagi, Marshal semakin merapat pada tubuh istrinya. Melingkarkan tangan di perut Viona dengan perlahan. "Maaf ...." gumamnya menyurukan wajah di leher sang istri. Menyesal pun percuma, Viona sudah pasti membencinya. Marshal hanya bisa memperbaikinya untuk saat ini. Dia semakin erat memeluk Viona seraya terus menggumamkan permintaan maaf. Merasakan hangatnya tubuh Viona serta membenamkan wajah di punggung istrinya.


Posisi tersebut tidak bertahan lama Marshal rasakan, karena tangannya yang melingkar terasa ada yang menyentuh. Marshal bangun sedikit untuk melihat wajah istrinya dan ternyata Viona tidak tertidur. Tangan halus istrinya menyingkirkan tangan Marshal dari tubuhnya. Viona tidak mengatakan apapun dan menggeser tubuhnya semakin ke tepi untuk menghindari Marshal.


Rasa bersalah semakin menyeruah. Marshal terdiam melihat punggung Viona. Dia ingin kembali menggapainya, namun suara Viona menghentikan niatnya.


"Jangan sentuh aku lagi!"


Suasana hening terasa menemani malam mereka. Sama-sama diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Marshal terus memandangi punggung Viona dengan penuh rasa sedih. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini. Perasaannya terlalu berkecamuk dia rasakan kini. Jarak antara dia dan Viona terasa jauh berkilo-kilo meter, padahal mereka masih satu ranjang. Aura yang Viona pancarkan seakan membentenginya untuk mendekat. Marshal hanya bisa diam dengan penuh penyesalan.


"Aku bukan pajangan indah yang perlu terus diawasi."


Marshal tersadar dari lamunannya saat suara Viona kembali menyapa indera pendengaran. Suaranya memang pelan, tapi bisa Marshal dengar dengan sangat jelas karena suasana malam yang sunyi. Buru-buru Marshal membalik badan untuk tidak memandang istrinya lagi. Mereka sama-sama memunggungi dan kembali terdiam. Keduanya tetap terjaga dalam kesunyian.


Sejak awal Marshal masuk kamar, Viona memang belum tidur. Dia hanya pura-pura menutup mata karena tidak mau melihat suaminya. Dia diam di awal karena ingin melihat sejauh mana Marshal menyadari kesalahannya. Diam saat Marshal terus menggumamkan kata 'maaf', namun Viona tetap tidak bisa memaafkan dan malah semakin muak padanya. Sudah tidak ada lagi rasa hormat terhadap suaminya, Viona sangat benci padanya.


"Aku minta maaf, Ra. Aku tidak bermaksud seperti tadi ...." ucap Marshal tetap dalam posisinya. Viona tidak menyahuti, Marshal pun kembali mengeluarkan suaranya, "Aku hanya tidak mau kamu menemuinya lagi. Aku tidak bisa membiarkanmu bertemu dengan dia."

__ADS_1


Hening kembali terasa. Tidak ada yang mengeluarkan suara, tidak ada yang bergerak mengubah posisinya. Udara kosong membatasi tubuh mereka di tengah-tengah ranjang. Seakan malam belum larut menjelang subuh, mereka sama sekali tidak merasakan kantuk menyerang mata. Terus berspekulasi dengan pikiran yang sama-sama berkecamuk.


"Menjenguk orang yang sakit bukan sebuah kesalahan, aku hanya ingin melihat keadaannya," suara Viona menggeser sunyi menjadi hawa panas yang mulai merambat pada hati suaminya. Apalagi di kala Viona malah berkata dengan pelan, namun masih bisa Marshal dengar, "Apapun bisa dilakukan demi orang yang kita cintai ... dan aku hanya melakukan hal itu."


Dengan hati perih, Marshal memejamkan matanya erat. Ternyata benar dugaannya, Viona masih mencintai Sendi. Selama ini mereka bersama, apa itu tidak memberi kesan terhadap Viona? Kenapa Viona belum juga memasukan Marshal dalam hidupnya dalam artian yang sebenarnya? Apa Marshal sama sekali tidak bisa menggeser posisi Sendi dari hatinya? Sungguh, perih merambat semakin dalam. Dia tetap tidak akan mau berbalik badan. Takut hatinya semakin sakit menghadapi kenyataan yang akan semakin tajam menamparnya.


"Kita bersama, tapi aku tidak pernah merasakan kebersamaan yang sesungguhnya. Aku memaksakan diri untuk bertahan karena berharap semuanya bisa dijalani dengan kata 'terlihat baik-baik saja' ...," Viona menjeda ucapannya cukup lama. Marshal hanya membisu, mendengarkan berbagai isi pikiran istrinya yang mungkin sudah terbenam lama dalam benaknya. "Hal paling berat yang aku jalani adalah pernikahan. Kita menikah, kita bersama, tapi entah kenapa ... aku justru merasa dalam penjara. Tidak ada bahagia, tidak ada kenyamanan yang aku rasakan."


"Maaf," Lagi. Marshal hanya bisa menyahuti dengan kata tersebut. Tidak ada lagi kata yang bisa diutarakan untuk menebus kesalahannya. Semua sudah terjadi dan dia tidak bisa berbuat apapun lagi. "aku hanya ingin dicintai olehmu, Ra," lanjut Marshal suara yang sangat pelan.


Dahi Viona sampai mengkerut dalam. Dia tidak jelas mendengar suara Marshal dan akhirnya dia memilih diam. Tidak peduli dengan apa yang Marshal katakan barusan, dia tidak mau berpikiran ke mana-mana dan memilih segera memejamkan mata.


Tidak mendapat sahutan setelah waktu berlalu cukup lama, Marshal membalik badan menghadap istrinya kembali. Viona masih memungunginya. Dengan gerakan cepat, Marshal memeluknya dari belakang sampai Viona tersentak kaget.


"Hanya mengharapkan dicintai, tapi ternyata caraku salah. Aku ingin mengulanginya dengan cara yang benar, apa kamu akan memberikanku jalan untuk masuk?"


Viona berusaha keras untuk melepaskan pelukan Marshal yang semakin lama semakin erat. Dia tidak mengerti, kenapa Marshal berkata seperti itu. Tidak mungkin sebuah rasa yang Marshal maksud, kan? Viona tidak percaya dan tidak akan pernah percaya.


"Jika aku melakukan semua ini karena mengharapkan balasan ... apa kamu akan tetap menutup diri untukku?"


Viona tersenyum miring mendengarnya. Membiarkan tangan Marshal memeluk dengan erat. "Seorang Marshal mencintai istrinya? ... Cih, bullshit!"

__ADS_1


__ADS_2