Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Pulang


__ADS_3

"Tuan, sebenarnya apa yang sudah terjadi?"


"Amanda ternyata belum memaafkan aku, Yo. Dia ingin melihatku hancur."


Rio hanya terdiam memandangi jalanan di depannya. Perjalanan dari Bandara menuju rumah terasa sangat lama. Padahal dia sudah memasang kecepatan yang lumayan, karena Marshal ingin segera menemui istrinya. Dia bilang nyawa Viona dalan bahaya.


"Lalu nyonya ...?"


"Dia menyewa orang untuk mencelakai nyonya."


Rio ikutan panik sekarang. Tanpa menunggu persetujuan, dia menambah kembali kecepatan. Tidak peduli Marshal keberatan, karena nyatanya Marshal hanya diam dibawa ngebut olehnya. Dia ingin segera sampai ke kediaman majikannya.


***


"Chal!" Viona merentangkan tangan senang menyambut kedatangan Marshal. Dia memeluknya erat penuh kerinduan.


Marshal hanya memberikan senyuman tipis, mengecup puncak kepalanya sejenak. "Cepat masuk kamar!"


"Hm?" Viona mendongak melihat suaminya yang terlihat tegang.


"Kamu dengar aku bicara apa?" Marshal mengusap wajah Viona. Tatapannya dingin dan terlihat begitu serius. "Masuk kamar, Sayang!"


Viona malah menaikkan alisnya dengan bingung. Dia tidak menuruti perintah Marshal dan malah tetap berdiri di sana. Viona memperhatikan pelayan rumah dan Rio yang membawa masuk barang-barang Marshal. Dia tersenyum pada Rio yang menganggukkan kepala hormat. Tiba-tiba Viona tersentak kaget saat tangannya ditarik oleh Marshal. Dia menarik tangannya supaya terlepas, tapi Marshal malah semakin erat menggenggamnya.


"Chal!"


"Aku sudah bilang, masuk kamar!"


Viona terdiam mendengar nada suara Marshal yang meninggi. Akhirnya Viona hanya bisa patuh.


"Diam di sini!"

__ADS_1


Viona duduk di tepi ranjang memperhatikan suaminya yang sedang membuka pakaian. "Chal?" Viona sedikit bingung dan was-was. Marshal memaksanya masuk ke dalam kamar dan segera membuka pakaian. Tidak mungkin dia mau ... "Chal?" Viona beringsut mundur. Matanya menatap nanar pada Marshal yang dengan santainya melepas jas dan dasinya.


"Kenapa?" Marshal mendekat pada istrinya membuat Viona semakin menggeser posisi duduknya. "Sini! Mau ke mana?" Marshal meraih tangan Viona. Istrinya malah tidak mau mendekat dan malah semakin waspada.


Mendengar cerita dari wanita lain, seorang suami yang baru pulang dari luar kota biasanya menahan kerinduan yang besar. Jika mereka pulang, pasti akan melepaskan kerinduannya dengan meminta. Viona tidak bisa berpemikiran ke sana. Marshal baru saja datang. Tapi, jika suaminya bertindak seperti ini, dia jadi takut sendiri.


"Bukain!"


Viona menelan ludah kasar melihat kancing kemeja dan wajah Marshal bergantian. Dengan ragu dia membuka kancing kemeja suaminya. Perasaannya sudah tidak enak sekarang. Baru sampai, masa iya Marshal mau langsung mengeksekusinya. Apa dia tidak lelah? Tidak mau beristirahat dulu? Viona tidak siap jika seperti ini.


"Chal aku ...." Viona menepis tangan Marshal yang mengusap wajahnya. Viona langsung mendorong tubuh Marshal untuk sedikit mundur, dan dia berdiri dengan cepat. "Aku harus keluar, Chal. Ada janji sama mama."


Alis Marshal terangkat. Diam sejenak, kemudian menggeleng kuat. "Tidak boleh! Aku sudah bilang tadi ditelepon, bukan? Jangan pergi ke mana pun!"


"Tapi, aku udah janji sama mama. Aku mau-" Viona langsung terdiam melihat sorot mata Marshal yang berubah kilat.


"Dengar, di luar sana ada yang sedang mencarimu! Mereka berniat jahat. Aku hanya tidak mau kamu kenapa-napa."


"Diam di sini! Aku mau mandi."


Viona terdiam memandangi suaminya yang melangkah pergi. Baru Marshal akan masuk kamar mandi, dia bergerak cepat untuk menyusulnya.


"Ada apa? Mau ikut, hm?"


Viona menggelengkan kepala pelan. "Siapa yang kamu maksud berbahaya?"


Apakah Marshal harus menjawabnya? Bagaimana reaksi Viona jika tahu tentang semua masalahnya dengan Amanda?


"Chal?"


"Kamu harus tetap waspada! Jangan ke mana-mana!"

__ADS_1


"Chal!" Viona terlihat kesal karena suaminya tidak menjawab dan malah masuk ke dalam kamar mandi. Dia jadi bertanya-tanya sendiri, apa yang Marshal sembunyikan darinya? Siapa yang ingin mencelakainya?


***


"Aku pulang tidak mendapat sambutan spesial. Apa kamu tidak senang aku kembali?"


Viona hanya diam saja memunggungi suaminya. Sejak tadi dia bertanya pada Marshal dan Rio, tapi mereka tetap bungkam. Dia diminta untuk waspada? Waspada dari siapa, jika dia sendiri tidak tahu siapa orang yang berbahaya tersebut.


"Sayang?" Marshal bangun kembali. Melihat istrinya yang duduk memunggungi, dia jadi tidak enak. Marshal sangat peka kenapa istrinya bisa seperti itu. Dia belum siap jika harus menjelaskan semuanya sekarang. Masalah Amanda begitu serius. Dia tidak mau kalau sampai Viona ikut kepikiran tentang hal itu. "Sudah malam. Kamu gak mau tidur?" Diraih pun Viona malah menghindar.


Marshal akhirnya diam. Helaan napasnya terdengar lelah. Suasana kamar terasa hening. Viona memilih mengambil ponsel, melihat-lihat beberapa notifikasi yang masuk, sedangkan Marshal hanya diam memandangi punggungnya yang indah dibalut piyama tipis berwarna salem.


Ingin sekali dia meraih tubuh Viona, memeluknya erat sampai terlelap. Tapi, dia tidak bisa jika harus menjekaskan sekarang pada Viona. Istrinya memang harus tahu, tapi Marshal bingung bagaimana dia menjelaskannya. Terlebih ini menyangkut Amanda. Marshal takut Viona tidak suka dengan nama itu.


"Gak bisa Frans. Bilangin ke Aness, aku kena pingitan lagi. Tuan baru pulang tadi siang. Aku gak bisa ketemu kalian dulu."


Marshal mendengarkan dengan baik ucapan istrinya saat menekan tombol Voice note di gawainya. Apa Viona merasa terkekang kembali? Dia tidak bermaksud seperti itu. Marshal hanya ingin menjaga keselamatan istrinya saja. Dia takut, jika Viona tidak berada dalam pengawasannya, orang suruhan Amanda akan bertindak cepat.


Suara notifikasi dari ponsel Viona terdengar, disusul suara laki-laki yang sudah tidak asing di dengar telinga. "Padahal besok ketemuan terakhir, lho, Vi. Aness jadi pindah ke Sumatera. Kemungkinan kita gak bisa ketemu dia lagi dalam waktu dekat. Gue harap kita bisa ketemu, kumpul dulu buat perpisahan gitu."


Marshal menunggu jawaban Viona. Tapi, ternyata Viona tidak membalasnya dengan Voice Note juga untuk kali ini. Dia mengetikkan sesuatu yang tidak bisa Marshal ketahui.


Suami Viona itu jadi merasa kasihan. Beberapa hari mereka tidak bertemu. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya, apa yang dipikirkannya selama dia tidak ada. Bahkan untuk pindahnya Aness ke Sumatera, Marshal sama sekali tidak tahu akan hal itu. Viona pasti sedih. Aness sahabatnya. Apa Marshal harus tega melarang istrinya keluar rumah, walau sekadar untuk perpisahan dengan sahabat? Mungkin Viona akan berpikir itu terlalu kejam.


"Sayang?" Marshal memberanikan diri untuk meraih istrinya lagi. Viona memang menunjukkan penolakkan, tapi dia tetap kekeh untuk bicara dengan istrinya. "Aku izinin kamu pergi sama Frans. Aness mau pindah? Kalian ingin bertemu, kan? Gak apa-apa kalo kamu mau bertemu mereka. Aku izinin."


Viona membalik badan cepat. Tatapannya menelaah keseriusan Marshal. Saat suaminya mengangguk sambil tersenyum, Viona ikut tersenyum senang. Tapi, dia tidak mengatakan apapun.


"Sekarang, ayo, tidur!" Melihat Viona yang hanya diam, Marshal mengira istrinya masih kesal. Dia meraih tangan Viona, menariknya untuk ikut berbaring. Ternyata Viona tidak menolak. Dia menyimpan ponsel di laci nakas dan ikut berbaring bersama suaminya.


"Aku mengizinkan, bukan berarti kamu bebas pergi.  Tetap dalam pengawasan. Pengawalmu akan terus siap siaga memantau," ucap Marsal memeluk  Viona  erat. Dia mulai merasa sedikit lega melihat Viona mengangguk patuh. Setidaknya Viona tetap aman dalam pengawasannya.

__ADS_1


__ADS_2