
"Berapa lama Tuan di sana?" Viona menyerahkan jaket pada Marshal yang sudah siap untuk berangkat ke luar kota.
"Hanya tiga hari." Marshal menerima dan memakai jaket pemberian istrinya.
Mereka berdiri di depan pintu. Rio sibuk membawa koper yang berisi keperluan mereka selama di luar kota. Menyimpannya di bagasi mobil.
Senyuman tidak pernah surut dari wajah Viona. Dia sangat senang setelah semalam Marshal mengatakan akan pergi ke luar kota. Viona bisa bebas jika Marshal tidak ada.
"Hati-hati di jalan dan selama di sana, Tuan!" ucap Viona membenarkan kerah jaket Marshal. Dia masih terus tersenyum dengan lebar dan berharap Marshal segera pergi.
"Jangan macam-macam selama aku tidak ada! Aku akan tetap mengawasimu. Banyak orang yang sudah kuperintah untuk selalu memperhatikanmu."
Senyuman Viona surut seketika. Sama saja bohong jika begitu. Berarti dia tetap tidak bisa bebas. "Saya akan baik-baik saja. Tuan tidak perlu meminta orang lain mengawasi saya."
"Aku tidak percaya padamu. Semua hal gila bisa kamu lakukan tanpa sepengetahuanku." Viona mencibir. Memangnya dia akan berbuat apa sampai Marshal berkata seperti itu?
"Jangan coba-coba untuk menghubungi dia lagi! Jika kamu pergi ke kampus, katakan pada Egi. Aku sudah menyiapkan dua pengawal untuk menemanimu."
Viona yang baru saja akan mencium tangan Marshal, mendongak. Tertegun mendengar perkataannya. Apa harus sampai sebegitunya pengawasan Marshal pada Viona, sampai pergi ke kampus saja harus dikawal?
"Tuan, itu berlebihan. Tuan tidak perlu-"
"Menurut saja! Aku tidak mau kamu bertemu lagi dengan dia."
Viona mendengus. Memandangi Marshal dengan kesal. "Dia siapa, sih, Tuan? Tuan selalu menyebut dia-dia. Siapa dia itu? Saya tidak akan macam-macam."
Satu sentilan mendarat di kening Viona. "Tidak usah pura-pura tidak tahu! Pokoknya kamu tidak boleh lagi bertemu dengan dia! Aku tidak suka."
Viona berdecak dengan kesal. Ada atau tidak ada Marshal, hidupnya memang selalu tersekat. Dia hanya diam saja. Menimpali pun tidak mau. Takut dibilang membantah.
"Ingat, jangan macam-macam!" Telunjuk Marshal mengacung di depan wajah Viona, memperingatkan.
"Iya, Tuan. Saya tidak akan macam-macam." Viona meraih tangan Marshal. Mencium punggung tangannya dengan cepat. Dia ingin Marshal segera pergi, tetapi suaminya itu malah semakin bertele-tele.
Marshal mencium kening Viona lama dengan maja terpejam erat. Sangat sulit dia berpisah dari Viona. Perasaan takut kehilangan selalu membuatnya cemas. "Jadilah istri yang baik!" Setelah ciuman di kening usai, banyak ciuman mendarat di wajah Viona. Marshal mencium pipi kanan kiri, hidung, dagu, dan terakhir di bibir.
Viona segera mendorong tubuh Marshal saat ciuman mengenai bibirnya. Merasa risih atas perbuatan suaminya. Dia juga tidak enak jika dilihat orang lain. Apalagi dari tadi Rio sudah mesem-mesem di samping mobil sembari menunggu Marshal.
"Sudah, Tuan pergilah! Rio sudah menunggu." Dengan malu Viona menunjuk pada Rio yang langsung mengalihkan pandangan karena tertangkap sedang melihat adegan romantis.
Marshal tersenyum dan mengusap wajah Viona. Satu kecupan kembali mendarat di bibir istrinya. "Aku berangkat."
Viona mengangguk dan tersenyum. Memang seharusnya Marshal pergi dari tadi. Viona sudah lelah menunggunya untuk tiada. Bukan, untuk segera berangkat maksudnya.
__ADS_1
Dia melambaikan tangan saat mobil suaminya sudah melaju menuju gerbang. Viona menghela napas lega setelah mobil sudah keluar dari area rumah.
"Aku bebas ...." soraknya dengan girang. Mengangkat kedua tangan ke atas. "Semoga dia lama berada di luar kota. Bukan hanya tiga hari, aku harap dia setahun atau selamanya berada di sana, hahaha ...."
***
Tengah hari Marshal baru sampai di kota tujuan. Dia langsung menuju hotel miliknya yang ada di kota tersebut. Perjalanan yang cukup melelahkan. Dia ingin istirahat sebentar sebelum nanti bertemu dengan rekan bisnisnya. Rencana meninjau lahan proyek dia agendakan hari esok karena dia sudah memprediksi kelelahan saat baru sampai di sana.
"Hubungi kembali tuan Suryo! Aku akan menemuinya saat jam makan malam," titah Marshal pada Rio yang setia mengikuti langkahnya menuju suite room.
"Baik, Tuan. Nanti saya hubungi kembali." Marshal mengangguk dan menepuk pundak Rio pelan. Asistennya itu selalu bisa diandalkan.
"Honey ...?"
Langkah Marshal dan Rio terhenti saat akan masuk ke dalam lift, suara orang yang tidak asing terdengar begitu nyaring. Mereka menoleh. Betapa terkejutnya saat melihat seorang wanita berjalan mendekat dengan tergesa.
"Manda, kenapa kamu ada di sini?" Marshal sungguh sangat terkejut mendapati kehadiran Amanda di sana. Dia melirik pada Rio sejenak. Menyuruhnya untuk masuk ke dalam lift duluan. Tidak berbicara, Rio hanya mengangguk dan menuruti perintah majikannya.
"Beruntung banget kita bertemu di sini. Tuhan baik banget mempertemukan kita di saat aku sangat merindukan kamu." Amanda langsung memeluk Marshal dengan erat. Sangat bahagia bisa bertemu kekasihnya tanpa diduga.
"Kenapa kamu ada di sini?" Rasa terkejut Marshal belum sepenuhnya hilang. Dia melepaskan pelukan Amanda. Memandangi kekasihnya dengan penasaran.
"Aku ada pemotretan di kota ini." Amanda mencuri satu ciuman di pipi Marshal yang hanya tersenyum. "Kalo kamu, kenapa ada di sini?"
"Tadinya mau kasih tau kamu, cuma takut ganggu." Amanda bergelayut manja di lengan kekasihnya. Dia memperhatikan wajah Marshal yang selalu dia rindukan. Amanda mencium kembali pipi Marshal. Jarang bertemu membuatnya tidak bebas untuk menikmati kekasihnya sendiri.
"O, gitu ... bukannya kalo setiap ada pemotretan pasti udah dijadwalkan sebulan sebelumnya? Selama sebulan ini kamu gak pernah ngasih tahu aku soal di mana aja tempat kamu pemotretan." Marshal pura-pura kecewa. Dia tidak suka jika Amanda tidak berterus terang padanya. Biasanya Amanda akan bilang tentang apapun. Selalu memberitahu Marshal ke mana dan kapan dia akan pemotretan. Tapi untuk yang ini, Marshal tidak tahu sama sekali.
"Iya, sih, Honey ...," Amanda menunduk. Mengusal lengan Marshal yang masih dirangkulnya. "Maaf, aku gak bilang. Soalnya aku rasa, tidak terlalu penting untuk memberitahumu."
Marshal menghela napas panjang. Melepaskan rangkulan Amanda pada lengannya. Hanya ada satu alasan yang membuat Amanda tidak berterus terang padanya. "Kamu jadi Brand Ambassador produk apa lagi?" Amanda hanya terdiam. Menundukkan kepalanya. Marshal kembali menghela napas. Dia sudah tahu gelagat kekasihnya ini. "Jadi Brand Ambassador pakaian terbaru yang minim bahan itu lagi?"
Dengan ragu Amanda mengangguk. Meremas kedua tangan dengan takut. Marshal selalu marah jika dia menjadi brand ambassador pakaian yang menurut Marshal kurang bahan itu. Makanya dia tidak mengatakan soal pemotretan ini pada kekasihnya.
"Mau sampai kapan kamu jadi brand ambassador produk itu?"
Amanda menengadah melihat pada Marshal yang sudah nampak marah. "Ini pemotretan terakhir, babe," ucapnya dengan pelan. Memasang wajah yang sendu guna meyakinkan kekasihnya.
Marshal mandengus. Mengalihkan pandangan ke samping. Amanda selalu dia manjakan. Apapun keinginannya selalu Marshal turuti, sekalipun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Tapi, apa yang Amanda lakukan membuatnya kesal. Keinginan Marshal hanya hal remeh. Dia mau Amanda menghentikan kontraknya dengan perusahaan pakaian yang minim bahan itu. Marshal tidak suka jika gambar kekasihnya memakai pakaian minim terpangpang jelas di sana-sini.
Bukan hanya karena gambar berpakaian minimnya, tapi Marshal tidak mau jika gambar Amanda tercetak di majalah dewasa dan dipakai para lelaki untuk on*ni. Itu adalah hal yang sangat membahayakan dan menjijikan. Marshal tidak mau pandangan semua orang terlihat buruk pada Amanda. Tapi Amanda tidak pernah mengerti dengan perkataannya. Dia selalu mengambil kesempatan di belakang Marshal.
"Akhiri kontraknya! Aku tidak mau kamu jadi model perusahaan itu lagi."
__ADS_1
"Tapi, honey, baby, my lovely, ... kontraknya sudah mau berakhir, kok. Tiga bulanan lagi kontraknya selesai."
"Tadi kamu bilang ini yang terakhir, sekarang kamu bilang tiga bulan lagi kontraknya berakhir." Marshal melirik Amanda dengan jengah. Jika sedang dilarang Amanda selalu banyak alasan dengan penuh kebohongan. Marshal tidak suka hal itu.
"Tapi, kalo aku akhiri kontraknya sekarang, aku pasti dituntut ganti rugi. Perusahaan pasti gak bakal lepasin aku begitu saja."
"Berapa ganti ruginya? Biar aku yang bayar semua kerugian perusahaan itu. Aku gak mau kamu jadi model mereka lagi."
Amanda berdecak. Dia tidak rela jika harus melepaskan kontrak dengan perusahaan itu. Karena selama menjadi Brand ambassador dari perusahaan itu kariernya semakin melejit. Semakin banyak yang mau bekerja sama dengannya. Kontrak itu sangat berharga baginya. Tapi bagaimana dengan Marshal? Dia juga tidak mau Marshal marah padanya. Tapi, dia juga sangat sulit jika harus melepaskan kontrak itu.
"Akhiri kontrak itu atau kamu berhenti jadi model?"
Amanda langsung membuka matanya dengan lebar saat ucapan Marshal terdengar begitu tegas. Pilihan yang Marshal berikan terlalu berat. "Kenapa begit-"
"Akhiri atau berhenti selamanya?"
Amanda menghela napas dalam. "Baiklah, aku akan menghubungi agensiku supaya mengakhiri kontraknya. Tapi nanti setelah pemotretan kali ini selesai, ya? Kan, nanggung honey. Aku sudah berada di sini. Tidak mungkin jika dibatalkan sekarang."
Marshal menganggukkan kepala. Mengusap kepala Amanda dengan lembut. "Jangan jadi model sembarangan!" Amanda mengangguk dengan lucu. "Kamu mau ke mana sekarang?"
"Ke tempat pemotretan, mungkin. Aku juga tidak tahu. Morlyn sudah menunggu di bawah, aku hanya mengikutinya saja."
Marshal tersenyum. "Ya, sudah, hati-hati! Aku ke kamar, ya. Nanti kalo ada waktu kita bertemu lagi."
"Gak mau makan bareng aku?"
Marshal menggeleng. "Jangan sekarang! Aku lelah, baru sampai. Mau istirahat dulu. Hari besok kamu masih di sini, kan?" Amanda mengangguk. "Kalo gitu, kita bertemu lagi besok, jika aku ada waktu." Diakhiri ciuman hangat di pepilis Amanda.
***
Rio menggelengkan kepala melihat Marshal yang baru masuk ke dalam kamar. Sekarang Rio merasa jengkel dengan sikap majikannya sendiri. Apa yang dilihatnya tadi, sebelum menaiki lift, membuat Rio mengomel sepanjang jalan menuju Kamar yang sudah disiapkan untuk Marshal. Dia tidak habis pikir, kenapa Marshal malah bertemu dengan Amanda?
"Ingat istri di rumah, Tuan!"
Marshal mengacuhkan sindiran asistennya. Dengan santai berjalan mendekat pada Rio.
"Tuan mengajak nona Amanda ke sini?"
Marshal sedang membuka jaket di dekat sofa. Tepat di samping Rio yang sedang membereskan barang bawaannya. "Tidak. Kami tidak sengaja bertemu."
Rio membuang napasnya kasar. Dia tidak mau mengurusi urusan Marshal, tapi bibirnya terasa sangat gatal ingin mengomel panjang. Marshal terlalu serakah jika tetap mempertahankan kedua hubungannya. Dia tidak bisa konsisten dan sangat egois.
"Bagaimana jika nyonya Viona tahu suaminya berbohong? Bilang berangkat keluar kota untuk urusan bisnis, tapi ternyata malah bertemu dengan kekasihnya. Cih, suami laknat," gumam Rio menggelengkan kepala pelan.
__ADS_1