
Jika pusing dengan ceritanya, kalian bisa baca ulang dari bab trouble sebelumnya, dari Bab 183 yang sudah Zhao perbaiki. Terima kasih. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu.😊
__________________________________________
"Gak usah di minum lagi, Sayang!"
"Lho, kenapa?" Viona memandang heran. Satu pil rutin sudah dia pegang dan segelas air putih telah disiapkan.
Marshal yang sudah bersiap di ranjang, kini beranjak mendekati Viona yang duduk di tepi. Dia merengkuh pinggang istrinya, menempatkan dagu di pundak Viona. "Aku mau punya anak, segera," bisiknya mesra mengecup telinga Viona.
Seketika tubuh Viona merinding mendengarnya. Dia melotot kaget, segera melepaskan diri dari Marshal. "Gak bisa gitu, dong, Chal. Kita udah sepakat buat nunda punya anak." Tatapannya tidak terima. Dengan cepat Viona menelan pil yang dia pegang dan mengambil air minum.
Melihat hal itu Marshal menatap tajam. Dia ingin Viona tidak meminumnya lagi, tapi keinginan itu tidak sejalan dengan apa yang Viona mau.
***
"Tuan kenapa?" Rio setengah berbisik di samping Viona. Melihat Marshal uring-uringan dia merasa ada yang janggal. Terlebih Marshal tidak berniat bicara dengan istrinya. Jika Viona mendekat, dia cenderung menghindar. Tidak mau dekat dengan Viona. Entah ada masalah apa dengan mereka, Rio hanya bisa mengira-ngira penyebabnya apa.
"Mungkin tuan sedang pusing, Yo," elak Viona. Dia tahu betul kenapa Marshal bisa seperti itu. Sejak semalam, Marshal memang terlihat kesal padanya. Biarkan saja dia marah. Viona tidak ingin punya anak segera. Lagian sejak awal mereka sudah sepakat untuk menunda. Kenapa juga Marshal jadi menginginkan kehadiran anak sekarang? Bukankah dia sudah setuju untuk menunggu Viona siap?
"Rio, cepat! Kenapa lambat sekali? Nanti kita kesiangan sampai kantor!"
Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, Rio mengernyit heran mendengar teriakan Marshal dari pintu utama. Masih ada lebih dari setengah jam lagi waktu untuk mereka berangkat seperti biasanya. Kenapa Marshal terburu-buru?
"Rio ...!" teriakan sang majikan terdengar lagi.
Viona menyenggol lengan Rio sebelum melewatinya masuk ke dapur, menyimpan piring-piring kotor bekas mereka sarapan. "Cepat samperin! Nanti tuan mengaum seperti singa lapar." Dia terkekeh geli membayangkannya.
Rio melihat kepergian Viona dalam diam. Teriakan Marshal kembali terdengar, buru-buru dia berlari menghampiri. Majikannya sedang dalam mode menakutkan. Entah ada masalah apa. Kali ini Rio tidak mengetahui faktor pendorongnya, tidak seperti biasa Marshal akan memberitahu masalah apa saja yang terjadi terhadapnya. Rio bisa menebak masalah kali ini muncul antara dia dan istrinya. Makanya Marshal tidak mau berbagi.
__ADS_1
***
Ringisan pelan keluar dari mulut Rio melihat sekretaris asisten sedang diomeli oleh Marshal hanya karena perkara salah menambahkan koma dalam sebuah laporan.
Ada masalah apa antara Marshal dan Viona? Rio menebak masalahnya begitu serius sampai Marshal memarahi stafnya seperti itu. Selama ini Marshal jarang sekali mengamuk di kantor, bahkan bisa dibilang tidak pernah. Dia baik. Kesalahan apapun, selagi masih ada solusinya, dia pasti memaafkan karyawan. Tidak seperti sekarang. Marshal tidak henti-hentinya berkicau, padahal perkara salah menambahkan koma bisa diperbaiki kurang dari satu menit saja.
Rio menggeleng pelan saat sekretaris asitsten itu berbalik badan hendak keluar, menatap padanya dengan pandangan bertanya. Mungkin dia juga merasa heran dengan perubahan sikap Marshal yang berubah menakutkan.
"Mau ke mana, Tuan?" Rio heran melihat Marshal yang beranjak, mengambil jas dan memakainya rapi.
"Antar aku keluar! Aku bosan berada di sini."
Hanya helaan napas kasar yang terdengar dari Rio. Dia mengikuti Marshal dalam diam. Mereka pergi keluar kantor dan masuk ke dalam mobil. "Kita akan ke mana, Tuan?"
"Kediaman Atma."
Selama perjalanan, Marshal juga hanya terdiam. Tatapannya lurus memandang ke depan, tidak mengeluarkan kata yang tidak perlu. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri dan Rio juga melakukan hal yang sama. Terlebih dia masih penasaran, ada masalah apa antara Marshal dan Viona, sehingga majikannya uring-uringan seperti itu.
Sampai di kediaman Atamadinata, Marshal turun lebih dulu, sebelum Rio membukakan pintu untuknya. Tergesa dia masuk ke dalam rumah, menghampiri Rahma yang langsung menyambutnya girang dari ruang tengah. Ibu dan anak itu berpelukan sejenak, Marshal mencium tangan ibunya penuh hormat.
"Viona mana?" Rahma melihat ke belakang Marshal, hanya ada Rio di sana yang membungkuk hormat padanya. "Kamu datang sendiri?" Dilihatnya Marshal yang mendudukan diri di sofa, Rahma mengikutinya.
"Aku dari kantor langsung ke sini. Jadi sendiri."
"Oh." Rahma mengangguk paham. "Tumben ke sini?"
Marshal meliriknya sejenak. Embusan napas terdengar kasar. Selalu saja ditanyai seperti itu, jika dia berkunjung. Apa seorang anak tidak boleh mengunjungi rumah orangtuanya? Seketika Marshal akan merasa menjadi orang asing.
"Michelle ke mana, Ma?"
__ADS_1
"Dia sekolah, belum pulang."
Marshal kembali terdiam. Dilihatnya Rahma yang acuh dengan kehadiran sang putra, Marshal sudah biasa melihatnya. Berbeda dengan jika dia mengajak Viona, Rahma pasti heboh dan memberikan sambutan yang berlebihan. Jadi, anak keluarga Atma itu sebenarnya siapa?
"Ma?"
Rahma melirik cepat pada putranya. "Kenapa? Mau makan? Kamu udah makan belum?"
Marshal menggeleng pelan. "Bukan itu. Aku mau bicara sesuatu."
"Bicara apa?"
"Emm ... Mama mau punya cucu dariku, bukan?"
Rahma tertawa, raut wajahnya terlihat begitu girang. "Tentu saja. Apa ada kabar bahagia dari Viona? Dia sudah mengandung? Berapa bulan?" Bahkan ibu tiga anak itu terlihat antusias.
"Bukan. Belum, Ma." Marshal mendekat pada Rahma. Tatapannya sulit diartikan. "Sepertinya aku akan sedikit lama punya anak. Kita menundanya, Mama tahu itu, kan?" Melihat Rahma yang mengangguk, Marshal menghela napas. Entah cara ini akan berhasil atau tidak, dia hanya sedang berusaha. "Apa Mama mau cucu secepatnya?"
Rahma memandangi Marshal tidak mengerti. Entah ke mana arah pembicaraan putranya ini. Tiba-tiba saja Marshal membahas masalah cucu. Padahal biasanya dia akan mengelak dan seakan tidak mau ditanya masalah anak oleh siapa pun. Selalu saja beralasan masih lama, belum siap dan apalah itu banyak alasannya. Sejak awal Marshal menikah, Rahma sudah sering mengatakan hal ini. Dia ingin cucu segera dari Marshal. Tapi, anaknya tidak pernah mengindahkan keinginan itu. Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba Marshal membahasnya?
"Mama mau punya cucu lagi, kan?" Jelas Rahma akan mengangguk, meskipun masih terlihat bingung. Marshal tersenyum lebar melihatnya. "Bagaimana jika aku mengabulkannya?"
"Maksudnya?"
"Ya ...," Marshal memutar dulu bola mata, memilah kalimat apa yang bagus untuk diungkapkan sekarang. "Viona dan aku masih menunda untuk punya anak. Jika Mama ingin mendapatkan cucu lagi, berarti kami harus berhenti menunda, bukan?"
Rahma semakin tidak mengerti, ke mana arah pembicaraan putranya ini. Dia hanya mendengarkan. "Jadi?"
Marshal semakin mendekat. Senyuman misterius terbit di bibirnya. "Mama bisa 'kan membujuk Viona untuk berhenti menunda, dan mulai program?" Marshal meraih tangan Rahma, meremasnya pelan. "Demi mewujudkan cucu yang mama inginkan."
__ADS_1