
"Dedek Sayang, mama kamu itu aneh, Nak. Masa papa beliin makanan banyak gak mau, giliran papa tidurin malah bahagia sampai minta nambah ronde," bisik Marshal di depan perut Viona yang mulai membuncit. Marshal bicara sangat dekat dengan pusar perut istrinya yang dia anggap sebagai interkom penguhubung antara ayah dan si Dedek.
Viona mencebikkan bibir mendengar ocehan Marshal barusan. Dia bersandar di kepala ranjang, hanya terbalut selimut sehabis pertempuran dahsyat dengan suaminya. Setelah lama berpuasa, akhirnya mereka melakukan hal itu lagi, sehingga kini tubuhnya terasa sangat lemas.
"Kamu gak terganggu 'kan di dalam? Papa barusan gak nyakitin kamu, Junior?"
Viona diam saja memperhatikan Marshal yang tetap berinteraksi dengan janinnya. Marshal menundukkan kepala, mengecup perut Viona berkali-kali. Viona ingin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, tapi Marshal hanya membiarkan selimut sampai bawah perut, karena dia masih asyik melihat bagian buncit yang kini terdapat tonjolan kecil bergerak halus, membuat Viona meringis menahan ngilu.
"Dia selalu merespon papanya, Sayang." Marshal bertatapan dengan Viona, wajahnya terlihat sangat ceria mengetahui anak mereka bergerak aktif di dalam sana. "Dedek, kamu kalau gerak jangan terlalu cepat supaya mama gak kaget. Kasihan mama lagi kelelahan habis ngizinin papa jenguk kamu barusan." Cengiran Marshal muncul mengusap perut Viona lagi.
Marshal sangat senang berbicara dengan anaknya, meskipun masih berada dalam kandungan. Dia selalu melakukan interaksi itu setiap hari karena rasa bangga dan bahagia yang tidak tahu lagi harus diekspresikan seperti apa.
"Barusan papa jenguk kamu, Nak. Gimana, papa ganteng, kan?"
"Ganteng palamu, Chal! Si Dedek cuma lihat benda tumpul nyundul-nyundul ke dalam," cibir Viona, terlihat datar namun sukses membuat Marshal tergelak.
Marshal tidak bisa berhenti untuk tertawa. Istrinya sama sekali tidak terusik dan malah tetap terlihat datar sambil memejamkan mata. Sepertinya Viona sangat kelelahan saat ini. Marshal membantunya untuk berbaring dan membiarkan Viona mencari posisi yang nyaman, padahal dia sangat sulit untuk menutup mulutnya.
"Chal, usapin lagi!" Viona malah merengek supaya Marshal tidak berhenti menyentuh perutnya.
Alih-alih menyentuh perut, Marshal justru mengeksplor daerah laIn yang lebih sensitif membuat Viona mendesah lirih. Marshal terkekeh geli, kembali menundukkan kepala dan berbicara pada perut Viona, "Dedek mau lihat papa nyundul-nyundul lagi, gak? Si botak dan tumpul itu mam-"
"Chal!"
__ADS_1
Ternyata cepat sekali Viona tersadar. Marshal hanya memberikan cengiran lebar sambil mengerling jahil.
"Cukup ...." Viona menggeleng, tidak mampu melanjutkan aktivitas panas mereka. Dia ingin tidur dan beristirahat, bukan membuat gempa lokal di atas ranjang.
Marshal pun menurutinya. Membiarkan Viona beristirahat dengan nyaman dan elusan tangannya di perut. Kali ini tidak merambat. Sudah hampir dini hari, kasihan Viona jika harus begadang bersamanya.
Bukannya tidur nyenyak, Viona malah menggeliat dan menarik tangan Marshal untuk naik di atas dada. "Dedek bilang, biar papa testimoni rasa ASI. Tolong wakilin Dedek buat kenyot, ya?"
Tidak kuasa menahan tawa, Marshal sampai tersedak ludahnya sendiri. Viona dengan segala pemikiran aneh semenjak hamil malah mampu membuatnya seperti orang gila benaran. Sudah tentu Marshal tidak akan bisa menolaknya. Testimoni ASI untuk si Dedek, meskipun belum ada apa-apa yang keluar.
"Hanya ini, gak boleh berlanjut!" tegas Viona, membatasi aksi Marshal supaya tidak membuatnya kelelahan lagi.
***
"Uh ... seksi."
Marshal berdehem, mengembalikan raut datar karena mata Viona yang melihatnya dengan sebal. Dia melirik sekitar, tidak menemukan siapa pun lagi, selain istrinya. "Siapa yang mengizinkan kamu berkutat di dapur, Sayang?"
Sepertinya sang nyonya tidak berniat untuk menjawabnya. Viona hanya tetap fokus dengan masakan yang tengah dia buat saat ini. Dia lapar, sedangkan hari masih sore. Semua pegawai sudah Viona suruh istirahat, karena dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun di dekatnya. Bisa dikatakan, selama hamil Viona memang agak sensitif berdekatan dengan orang lain. Dia ingin melakukan apa pun sendiri saja susah, karena Marshal dan para pegawai lain selalu mengawasinya untuk tidak melakukan apa pun di rumah.
"Apaan, sih, Chal!" Viona melempar tatapan tidak suka, ketika tangannya tiba-tiba ditarik dan dibawa untuk duduk di kursi depan meja bar. "Aku lagi masak. Kamu-"
"Diam di sini!"
__ADS_1
Meskipun jengkel, Viona tetap saja menurutinya. Bibir mencebik dan batin mengomel sendiri, Viona memperhatikan Marshal yang cekatan mengambil alih masakannya. Marshal tidak pernah membiarkan dia melakukan apa pun sendiri. Selalu saja semua dibatasi. Padahal Viona sangat ingin melakukannya. Dia tidak bisa selalu dilayani. Dia bosan, jika lama-lama dia terus diam, ongkang-ongkang kaki seperti ratu kerajaan.
"Lain kali, aku akan bilang kepada semua pegawai untuk tidak menurut sama ucapanmu. Biar mereka tidak diistirahatkan seenaknya seperti ini lagi. Kamu sedang hamil, Sayang. Aku sudah bilang, jangan bla ... bla ... bla ...."
Viona menutup telinga dengan tangan, jengah mendengar omelan Marshal yang isinya hanya itu-itu saja setiap hari. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Lalu apa yang boleh Viona lakukan, selain melayani kebutuhan biologis suaminya?
"Aku berkata seperti itu, karena aku sayang sama kamu. Aku peduli sama kalian. Bisa tidak, kamu menurut, hm?"
Dengusan pelan keluar. Sambil membuang wajah, Viona malah mengacuhkan Marshal, pura-pura tidak peduli dengan kehadirannya yang kini berdiri di hadapannya. Marshal telah selesai dengan masakan untuk Viona makan, tidak menghidangkannya dan malah sibuk mengusap wajah Viona, membuatnya semakin muak dan ingin muntah saat itu juga.
"Jangan biarkan si Dedek keras kepala sama seperti kamu, Sayang! Aku hanya ingin kamu baik-baik saja."
Memangnya jika dia melakukan aktivitas seperti tadi, Viona akan kenapa-kenapa? Tidak juga, kan. Viona tetap baik-baik saja, tidak terluka sedikit pun. Marshal selalu saja berlebihan.
"Papa tadi telepon," Marshal beralih lagi untuk menyiapkan masakan tadi dan menghidangkannya di depan Viona. "acara empat bulanan anak kita akan diadakan di kediaman Atmadinata. Papa Heru sudah setuju. Acaranya akan digelar besok."
Viona menoleh kaget. Tentu saja informasi barusan mengejutkan baginya. Dia saja tidak terpikirkan untuk mengadakan acara tersebut, karena lupa. Tapi, para orangtua malah sudah menyusun acaranya tanpa memberitahu Viona terlebih dahulu.
"Kamu kalau kesal kenapa malah imut, hm? Cepat makan! Nanti aku kelonin sampai kamu tidur nyenyak."
Viona memutar bola mata. Baru juga dia ingin mencicipi makanannya, tapi Marshal sudah merusak selera untuk menyantapnya.
"Kenapa, Sayang? Aku tampan, ya?" Marshal meraba-raba wajahnya, karena Viona mendelik, terlihat sangat muak melihat padanya. "Aku baru saja selesai mandi. Pantas jika tampan. Maaf, ya." Dia malah merasa takut sekarang. Buru-buru Marshal mengacak rambutnya supaya terlihat berantakan dan mengurangi nilai ketampanannya di wajah Viona.
__ADS_1
"Rrrr ... hentikan!" Viona malah menggeram, tidak jadi menyuap. "Kamu malah makin ganteng dengan rambut seperti itu!"
"Eh?"