
Rio hanya menggelengkan kepala melihat majikannya murka. Marshal terus saja memaki ponselnya yang sedang menghubungi perempuan berstatus istrinya. Beberapa kali Marshal mencoba menghubunginya, namun panggilan tidak kunjung mendapat jawaban, hanya suara operator yang menyahuti.
"Istriku benar-benar ...," geram Marshal mencoba menghubungi istrinya kembali.
Rio masih diam. Dia ingin melihat sejauh mana kegilaan Marshal bereaksi dengan lupa ingatannya itu. Gambar yang dikirimkan oleh Amanda padanya, memang sangat pantas membuat seorang suami marah, tapi Marshal benar-benar tidak menggunakan otaknya. Amanda sudah berhasil membuatnya emosi saat ini.
Apa Marshal menghindariku karena dia?
Sampaikan pada Marshal, wanita yang sudah menggeser posisiku, ternyata tidak lebih dari seorang wanita murahan.
Begitu pesan susulan yang Rio terima setelah gambar yang Amanda kirimkan. Rio menertawakan pesan dari Amanda karena dia merasa pesan itu sangat gokil. Amanda mencoba merecoki rumah tangga Marshal, supaya dia bisa merebut Marshal kembali. Tanpa dia tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam gambar tersebut.
"Kita pulang!" Marshal meraih jas dan memakainya dengan terburu-buru. "Istriku benar-benar ingin dihukum."
"Tunggu, Tuan!" Cepat Rio menahan Marshal untuk pergi. Dia menyerahkan ponselnya. "Jangan memarahi nyonya! Coba Tuan lihat dulu gambarnya dengan baik!"
"Apanya yang harus dilihat?! Sudah jelas istriku salah!"
Rio menarik ponselnya. Melihat layarnya dan memperbesar gambar yang ditampilkan. "Ini siapa?" Dia membuang napas kasar karena Marshal malah menatapnya tajam. "Ini teman nyonya!" bentaknya tepat di wajah Marshal. Tidak peduli kesopanan, dia hanya ingin membuat Marshal sadar dengan apa yang dilihatnya. "Tuan lupa? Ini teman nyonya yang katanya, akan menjemput nyonya pergi ke kampus. Tuan salah jika marah padanya. Bukankah dia sepupunya?"
Sekali sentakan, Marshal merebut ponsel Rio. Memperhatikan gambar yang dikirim Amanda dengan teliti. Perempuan yang ada di gambar itu memang Viona dan satu laki-laki ... mereka berpelukan. Marshal marah karena wajah Viona terbenam begitu nyaman di dada laki-laki itu, bahkan pelukannya terlihat sangat erat. Emosinya langsung tersulut, tanpa dia sadari jika ... "Frans maksudmu?"
Rio mengangguk cepat, merebut ponsel dari tangan Marshal. "Sudah saya bilang, nona Amanda mencoba merecoki kalian," dengus Rio dengan kesal.
Marshal kembali duduk di kursi kerjanya. Nampak berpikir begitu keras serta menatap Rio intens. Berarti dia sudah salah sangka pada istrinya.
"Nona Amanda tidak akan tinggal diam karena Tuan menghindarinya. Keadaan seperti ini pasti tidak dia sia-siakan untuk merebut perhatian Tuan," Rio terkekeh. "namun sialnya, dia salah memilih kejadian."
Marshal hanya diam, sesekali menghela napas untuk meredakan semuanya. Emosi dan juga pemikirannya yang mulai berkecamuk.
"Saya hanya ingin mengingatkan," Rio bicara serius, memasukkan tangan yang memegang ponsel ke saku celana. "jika Tuan memilih nyonya, maka berusaha lebih kuat lagi supaya tidak terpengaruh dengan nona Amanda! Kekasih Tuan itu akan terus berusaha merusak rumah tangga kalian dan berbagai ujian yang sesungguhnya pasti datang kapan saja. Saya harap Tuan tidak goyah! Kalau memilih nyonya ... ya, nyonya saja! Jangan melirik yang sudah menjadi masa lalu! Ingat, Tuan, ikatan tertinggi adalah pernikahan!"
Marshal menghela napas dalam. "Dan kekasih tidak lebih dari segalanya." Dia sudah tahu, Rio pasti mengatakan kalimat itu. Selalu itu, setiap saat.
Asisten yang sedang menjadi penasihatnya itu kini tersenyum. "Utamakan yang lebih tinggi, karena itu penting! Lupakan hal kecil dibawahnya, karena itu hanya sia-sia!"
"Bukankah aku juga memilih hal itu ...?" Marshal duduk bersandar. Memandang ke arah jendela besar di samping meja kerjanya.
Rio membebaskan tangannya dari saku celana. "Tapi, saya cemas sekarang." Dia melihat Marshal dengan lekat dan sedikit berbisik, "kenapa nona Amanda bisa melihat nyonya? Itu berarti mereka berada di tempat yang sama, kan?" Marshal baru menyadarinya. "Apa yang akan terjadi dengan nyonya, jika mereka bertemu?"
__ADS_1
***
"Ekhem!"
Viona masih menangis dalam pelukan Frans. Mereka menoleh saat suara deheman yang terdengar keras menyapa. Cepat-cepat Viona melepas pelukan, menarik bagian depan baju Frans untuk mengusut ingusnya.
"Nona?" Viona begitu terkejut melihat wanita cantik itu bersidekap dada di depannya. Dengan cepat Viona menarik tubuh Frans yang sempat menjauh untuk dekat dengannya lagi. Ditariknya lagi baju bagian depan milik laki-laki itu dan menyusut sisa air mata dan ingusnya hingga bersih menggunakan kain yang menempel ditubuh sahabatnya. Frans hanya memandangnya sebal dan beralih pada wanita yang terus memandangi mereka.
"Wah, senang sekali bisa bertemu denganmu di sini." Senyuman yang terlihat mengejek itu tertuju untuk Viona yang memasang senyuman semanis mungkin.
"Lo kenal dia?" bisik Frans. Viona meliriknya sejenak untuk mengangguk.
"Apa kabar dengan Marshal? Dia pasti baik-baik saja, ya. Istrinya begitu cantik dan begitu memukau sampai banyak laki-laki yang terpesona dan dekat dengannya." Wanita itu tersenyum miring. Melipat tangan di depan dada dengan angkuh.
Viona tetap tersenyum, meskipun dia menangkap sinyal tidak enak dari wanita itu. "Alhamdulillah kabarnya memang baik, Nona. Bagaimana kabar Anda?"
"Aku tidak baik-baik saja," sahutnya dengan ketus. Menggertakan gigi dengan geram melihat Viona yang terus saja tersenyum tanpa rasa bersalah. "Beberapa hari, kekasihku menghindar. Tentu saja aku tidak dalam keadaan baik."
Mendengar ucapan wanita itu, Viona jadi tahu, ternyata Marshal benar-benar memutus hubungannya dengan Amanda. Dia tidak menyangka Marshal akan melakukan hal itu. Bukankah Marshal sangat mencintai wanita itu? Lantas, kenapa mudah sekali dia memutuskannya? Viona tidak mengira ... dia kira Marshal tidak serius dengan ucapannya.
"Apa Marshal tahu kamu di sini sedang menangis dalam pelukan laki-laki?" ucap Amanda penuh penekanan.
Tawa Amanda pecah penuh ejekan. "Bagaimana jika dia mengetahui?"
"Dia pasti senang, Nona." Baiklah, Viona akan meladeni ejekan itu. "Bahkan dia yang mengizinkan saya. Iya, 'kan, Frans?"
Dengan bingung Frans mengangguk. Dia tidak tahu wanita itu siapa dan punya urusan apa dengan Viona. Tapi, dari nada bicara dan cara pandangnya, wanita itu tidak menyukai Viona. Dia harus berjaga-jaga. Viona memang kuat, namun tetap saja, Frans harus menjaganya juga. Menjadi tameng pertama untuknya.
Amanda melotot tajam. Tidak percaya dengan kata-kata yang barusan diucapkan oleh istri kekasihnya. "Marshal pasti tidak tahu apa yang terjadi."
Viona mengangguk seperti anak kecil. Amanda terlihat tidak bersahabat. Sebisa mungkin, dia harus terlihat ramah. Viona tidak mau Amanda menganggapnya sebagai musuh. Mereka memang terikat dengan satu laki-laki yang sama, namun bukan berarti mereka harus menjadi musuh dalam kehidupan luar. Dan lagi, Viona sebenarnya tidak peduli dengan wanita itu. Toh, wanita itu hanya punya urusan dengan suaminya, tidak dengannya.
"Bagus sekali. Aku pikir, wanita yang dibanggakan oleh keluarga Atma itu orang baik. Cih, ternyata ...."
Frans mengepalkan tangan tidak suka melihat Amanda yang semakin menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Viona. Meskipun tidak tahu apa masalah di antara mereka, tapi dia tidak suka jika Viona dipandang dengan tatapan merendahkan seperti itu.
"Pulang, Vi." Frans langsung menarik tangan Viona untuk mengitari mobil. Membukakan pintu dan mendorong pelan tubuh Viona supaya masuk ke dalam. "Kami permisi, Nona." Frans melewati Amanda disertai tatapan tidak suka. Segera dia masuk ke dalam mobil, masih sempat-sempatnya melirik Amanda dengan sinis sebelum melajukan mobilnya.
"Frans, gak enak, ih," omel Viona merasa sikap Frans terlalu berlebihan. "Gak harus gitu juga, kan?"
__ADS_1
"Dia siapa? Kayaknya tuh orang gak baik." Frans masih kesal, mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Viona tidak protes, namun kesal dengan sikap Frans yang selalu saja seperti itu jika Viona berhadapan dengan orang yang tidak menyukainya. "Gue gak tahu kalian punya urusan apa, cuma gue gak suka, sinisnya dia lihatin lo ...."
Viona hanya menghela napas, membiarkan Frans mengoceh sendiri. Dia tidak mungkin menjelaskan siapa Amanda yang sebenarnya. Frans bisa saja mengatakan hal itu pada Heru, jika tahu Amanda kekasih suaminya.
"Eh, tumben .... ada apa dia nelepon?"
Ocehan Frans berhenti, melirik sebentar pada Viona yang terlihat aneh menatap layar ponselnya. "Kenapa?"
"Puluhan panggilan tak terjawab ...," Viona menunjukkan layar ponselnya pada Frans sejenak karena laki-laki itu fokus kembali melihat jalanan. Kecepatan mobil mulai berkurang, karena mungkin kekesalan Frans juga sudah menipis. "dari tadi handphone aku tinggal di sini, jadi gak tahu dia nelepon berkali-kali."
"Suami lo?" Viona mengangguk dan memperhatikan layar ponselnya kembali.
Heran rasanya melihat banyak panggilan tak terjawab dari Marshal. Viona tidak tahu jika suaminya menghubungi beberapa kali, karena dari tadi, dia diam di luar bersama Frans. Tidak ingat dengan ponsel yang ada di tas, dalam mobil.
"Telepon balik! Siapa tahu penting."
Viona ragu untuk melakukan itu. Namun, dia juga penasaran dengan alasan suaminya menelepon sebegitu banyaknya. Ditekannya nomor dial milik suaminya, Viona menempelkan ponsel di samping telinga.
"Kamu di mana? Kenapa belum pulang? Jam berapa ini? Kamu baik-baik saja, kan? Sayang? Halo, Sayang?"
Viona segera menjauhkan ponselnya. Kenapa dengan Marshal? Panggilan tersambung, suara ocehan suaminya langsung menyapa membuat sakit telinga.
"Zahra, Sayang? Kamu di mana?"
Hela napas sebelum menempelkan kembali ponsel ke telinga. "Aku di jalan, sama Frans. Sebentar lagi pulang." Terdengar embusan napas lega dari seberang sana. "Tapi, jalan-jalan sebentar boleh, kan? Aku pulang telat."
"Tidak boleh. Langsung pulang!"
"Aku mau pergi sebentar aja sama Frans. Paling telat satu jam. Oke?" Tidak ada sahutan. Viona mulai kesal, suaminya pasti tidak mengizinkan. "Chal, cuma sebentar ...."
"Hm ...." Hanya itu sahutan yang terdengar setelah lama Viona menunggu.
"Emang lo mau ke mana lagi?" tanya Frans melirik sejenak pada Viona yang baru saja memutus panggilan dan memasukan ponsel ke dalam tasnya.
"Ajak aku jalan-jalan, dong, Frans," pinta Viona dengan nada manja.
Frans kembali melirik sebentar disertai senyuman geli dan gelengan kepala. "Butuh pengalihan nih, ceritanya?"
Viona tertawa renyah, menepuk pundak Frans dengan gemas. Sepupu sekaligus sahabatnya itu selalu tahu apa yang dia mau. Frans memang partner terbaik untuknya menjalani kehidupan yang cukup rumit ini.
__ADS_1