Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Menginginkan perceraian?


__ADS_3

Akhirnya Michelle mau membantu mempertemukan Marshal dan Viona berkat bujukan kakaknya. Dia juga tidak tega melihat Marshal yang begitu sedih. Walaupun Marshal sudah melakukan kesalahan besar, tetap saja Michelle tidak bisa membencinya lebih lama karena dia juga sangat menyayangi kakaknya.


Mereka kini berada di ruangan VIP sebuah restoran. Menunggu kedatangan Viona. Tadi Michelle sudah menghubungi telepon rumah untuk mengajak Viona bertemu di restoran dengan alasan dia sedang ingin makan di luar ditemani kakak ipar. Awalnya Viona menolak karena dia ragu untuk pergi keluar dari rumah, karena Wisnu dan Rahma yang melarangnya. Tapi, Michelle mencoba meyakinkannya. Michelle bilang akan membantu meminta izin pada Wisnu. Setelah membujuk Wisnu, akhirnya Viona pun dibolehkan untuk pergi.


"Asal tidak bertemu dengan Marshal!" kata Wisnu memberi syarat. Tidak membuang waktu, Michelle mengiyakan supaya Viona bisa cepat keluar.


"Kakak bisa diam tidak?" bentak Michelle pada Marshal yang terus mondar-mandir di depannya dengan mulut yang tidak bisa berhenti mengoceh.


Marshal sudah tidak sabar menanti kedatangan istrinya. Melewatkan waktu semenit saja terasa terlewat satu bulan. Entah kenapa dia sangat ingin sekali bertemu dengan Viona. Terlebih ada hal yang ingin dibicarakannya.


Terdengar suara orang berbincang di luar. Suara Rio begitu jelas terdengar dan entah sedang bicara dengan siapa. Tapi, semua terjawab saat pintu terbuka. Viona masuk ke dalam sana langsung tertegun begitu melihat Marshal.


Menantu Heru tersebut langsung berhambur memeluk Viona sampai istrinya terkejut. Marshal tidak menghiraukan. Pelukan menangkan dari Viona sangat dia rindukan. Belum lagi rasa takut kehilangan membuatnya hampir gila sendirian.


"Tuan, lepaskan!" pekik Viona kehabisan napas. Marshal terlalu erat memeluknya hingga dia sangat sulit sekadar untuk bergerak.


Sebelum melepaskan pelukan, Marshal mencium keningnya lembut. Viona kembali terkejut menatap Marshal dengan tajam. Tapi, suaminya itu malah kembali memeluknya dengan erat. Tidak seerat tadi, tapi cukup membuat Viona susah untuk menghindar.


"Ekhem!" Michelle jengah melihatnya. Meskipun hal yang ada di depan matanya itu kejadian manis, tetapi dia sama sekali tidak suka. Melihat perlakuan Marshal pada Viona saat ini, ingin rasanya dia membunuh Marshal sekarang juga.


Sekarang aja terlihat sayang, kemarin-kemarin ke mana, sampai berani mengkhianati? cibirnya dalam hati.


"Keluar, Chelle! Aku ingin bicara dengannya."


Setelah mendengus, Michelle menghentakkan kakinya untuk beranjak. Dia kesal pada Marshal. Tadi saja memohon untuk dipertemukan, tapi sekarang dia malah mengacuhkannya begitu saja seolah Michelle tidak dibutuhkan lagi di sana.


"Kamu tahu, aku begitu tersiksa dua hari ini. Aku menghadapi semua masalah yang beruntun ini sendirian," adunya pada Viona dengan manja.


Michelle sudah keluar dari sana, tapi Marshal malah semakin enggan melepaskan Viona. Dia rindu dan sangat membutuhkan kehangatan dari tubuh Viona. Memeluk tubuh istrinya bisa sedikit mengurangi perasaan sesak menghadapi dunia. Kehadiran Viona mampu membuatnya tenang dan dalam sekejap kegundahan itu hilang.


Viona hanya diam saja. Tidak membalas maupun menolak pelukan Marshal. Biarkan saja Marshal melakukannya. Dia tidak bisa menolak. Melihat wajah suaminya yang berbeda Viona paham, banyak hal yang dihadapi suaminya sendirian. Meskipun semua ini kesalahan Marshal, Viona tetap manusia. Punya jiwa sosial yang tinggi. Ada rasa kasihan melihat Marshal dihakimi semua pihak. Terlebih, tidak ada satu pun yang membantunya.


"Sudah, Tuan?"


"Belum."

__ADS_1


Viona diam kembali. Menghela napas sedalam-dalamnya. Dia ingin marah sebenarnya. Tapi tidak bisa dikeluarkan sekarang.


Cup


"Sudah. Terima kasih sudah mau datang." Marshal melepaskan Viona setelah mencium bibirnya sekilas.


Dengan tangan mengepal menahan kesal. Viona menghentakkan kakinya untuk duduk. Dari awal dia sudah merasa aneh saat Michelle mengajaknya makan di luar. Apalagi pada saat Michelle mengatakan sedang menunggu di ruang VIP. Pikiran Viona mulai menerka-nerka apa yang akan terjadi. Jika Michelle hanya ingin mengajaknya makan di restoran, tidak perlu memesan ruangan privat seperti itu. Dan ternyata, Marshal dibalik semua ajakan adik iparnya.


"Tadi papa Heru datang ke kantorku."


Viona langsung membelalakan mata. Berarti ayahnya sudah tahu tentang semua masalahnya? Bagaimana ini, Viona jadi bingung sendiri.


Marshal duduk di seberang Viona. Memandangi wajah istrinya yang selalu terlihat cantik. Tidak tahu kenapa, dia sangat ingin membicarakan semua yang ada dipikirannya pada Viona. Mengatakan semua yang sedang menjadi keresahannya pada Viona. Dia tidak tahu harus memulai bicara dari mana. Semuanya terasa sulit untuk dicerna.


"Apa kamu di sana ditanyai hal itu ...?"


Viona mengangguk dengan cepat. Hal membuatnya ikut terseret tersebut sangatlah memuakkan. "Kapan ini semua berakhir, Tuan? Saya merasa ikut tertekan berhadapan dengan orang lain."


Marshal menghela napas. Menggapai tangan Viona yang ada di atas meja. Niatnya ingin menggenggam tangan lembut itu dan mengusapnya, tetapi Viona malah kembali menarik tangannya dan menyembunyikannya di atas pangkuan.


Viona hanya diam. Dia sudah mengetahui semuanya dari berita dan mertuanya. Masalah ini sudah membeber di ranah publik. Pasti sangat sulit untuk menutup masalah dalam waktu dekat. "Jadi, Tuan mau bagaimana? Saya tidak bisa membantu apa-apa. Ini semua salah Tuan. Saya yang tidak tahu apa-apa ini, sekarang malah ikut terbawa-bawa."


Bibir Marshal mengerucut lucu. Kesal karena istrinya ternyata malah ikut mengemban semua masalah padanya. "Jika orangtuaku bertanya masalah hubunganku dengan Amanda, kamu cukup bilang tidak tahu saja!"


Nah, Viona baru ingat. Hal itu yang ingin dia tanyakan pada Marshal. "Kenapa harus berbohong lagi seperti itu? Kenapa Tuan malah bilang saya tidak tahu, padahal jelas saya tahu semuanya?"


"Aku tidak mau kamu ikut disalahkan, Ra. Makanya aku tidak akan mengatakan jika kamu tahu hubunganku."


Karena jika Wisnu atau Rahma tahu, Viona bahkan mengizinkannya berpacaran dengan Amanda. Mereka juga pasti akan memarahi Viona karena dengan rela hati membagi suami. Viona salah jika mengizinkan suaminya seperti itu. Seharusnya dia menyadarkannya, bukan malah semakin menjerumuskannya untuk tetap menjalin hubungan. Itulah alasan Marshal tidak mengatakan kebenaran itu. Dia takut Viona disalahkan oleh mereka.


Viona hanya mengangguk paham. Dia tidak menyangka jika kebohongan Marshal itu demi membelanya. "Terus ... sekarang harus bagaimana? Jujur saya lelah jika terus bersandiwara. Terus-menerus berbohong pada orang lain. Saya tidak bisa, Tuan."


Marshal menghela napas dalam. Duduk menyandar. Tangannya memijit pangkah hidung, mata terpejam. Dia juga lelah menghadapi masalah yang rumit ini.


Viona diam memandangi wajah lelah suaminya. Kantung mata begitu kentara. Dia jadi tidak tega ... Tidak. Viona harus membiarkan Marshal menyelesaikan semua masalah yang sudah dia perbuat. Biarkan saja suaminya itu menderita sendirian. Dia tidak mau ikut menyelam dalam derita Marshal. Belum lama menjadi istrinya saja, Viona sudah terseret terlalu dalam. Dan itu sangat menyesakkan!

__ADS_1


"Aku akan memutuskan Amanda."


Viona menganga tidak percaya. Tercengang. Apa dia tidak salah dengar? Barusan Marshal menggumam dengan jelas tertangkap telinganya. "Kenapa?"


Marshal membuka mata. Tersenyum pahit pada istrinya. "Hanya itu satu-satunya cara supaya masalah ini selesai. Awal masalahnya karena hubunganku dengan Amanda, kan? Jadi, yah ... gitu," ucapnya dengan terpaksa. Sangat berat dia mengatakan hal itu. Tidak ada jalan lain yang bisa dia lakukan.


Keheningan begitu terasa memenuhi ruangan. Dua manusia yang berbeda jenis tersebut sama-sama terdiam menyelami pikiran masing-masing. Viona sangat terkejut dan bahkan tidak percaya jika Marshal akan mengakhiri hubungannya dengan Amanda. Bukankah Marshal sangat mencintai Amanda? Lalu kenapa dia bilang akan mengakhiri hubungannya begitu saja?


Dipandanginya dengan lekat wajah Viona. Marshal mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. Viona tidak menghindar, namun hanya terdiam membalas tatapannya. Ekspresinya datar. Entah apa yang ada di pikiran istrinya, Marshal hanya tidak tega melihatnya. "Maafkan aku telah membawamu pada masalah ini."


Jika kemarin dia berpikir, untuk apa meminta maaf pada Viona karena desakkan Wisnu. Berbeda dengan sekarang. Dia meminta maaf karena merasa kasihan pada Viona yang ikut terseret dalam kondisi ini. Viona memang tidak seharusnya terbawa karena yang salah adalah Marshal. Tapi, sekarang Viona sudah menjadi istrinya. Mau tidak mau dia harus menghadapinya juga.


"Nanti malam papa Heru akan datang menemuimu. Kamu tenang saja, aku akan mengahadapi semuanya. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Aku harap kamu bisa menurut padaku. Jangan katakan apapun jika ditanya oleh mereka! Biarkan aku yang bicara menjelaskan semuanya, oke!"


Viona masih diam. Tidak tahu maksud Marshal apa. Pikirannya malah terasa semakin rumit. Dia hanya ingin semua masalah yang ikut melibatkannya ini segera selesai dan Viona bisa hidup dengan damai.


"Jika papa Heru mengajak kamu pulang, jangan mau, ya!" mohon Marshal dengan penuh harap. Tatapannya yang memelas terlihat sendu. Dia tidak rela jika harus kehilangan Viona.


"Memangnya kenapa?"


Marshal mendecak. "Jika papa Heru membawamu pulang, itu berarti masalah semakin besar, Ra. Bisa jadi ...," Viona terdiam menanti kelanjutannya. Tapi Marshal terlihat ragu untuk berucap. Dia takut apa yang dia pikirkan akan terjadi. "pernikahan kita berakhir," lanjutnya dengan lirih.


"Beberapa kali, papa Wisnu juga menyarankan saya untuk mengugat cerai."


"Apa?" Mata Marshal membulat sempurna. Ayahnya sudah keterlaluan. Bisa-bisa dia menyarankan Viona untuk menggugat cerai. "Jangan mau!"


"Kenapa?"


Marshal menatap tajam istrinya yang terlihat datar. Apa Viona mengharapkan perceraian? Kenapa dia terlihat biasa saja dan dengan entengnya malah bertanya 'kenapa?'.


"Pokoknya tidak! Tidak akan ada perpisahan di antara kita, Ra. Aku ak-"


"Bagaimana jika saya mengikuti saran papa Wisnu?"


"Apa maksud kamu?" Marshal semakin menatapnya tajam. Marah dan sudah harap-harap cemas. Jantungnya mulai dagdigdug dengan cepat. Dan napasnya berhenti seketika saat Viona menyahutinya dengan tenang dan berkata,

__ADS_1


"Saya sudah lelah menghadapinya, Tuan," ucapnya dengan lirih. Perlahan memberanikan diri untuk menembus pandangan Marshal. Viona menghela napas pelan. Menaikkan kedua tangan di atas meja. Jemarinya saling bertautan dengan resah. "Bagaimana jika saya menginginkan perceraian?"


__ADS_2