
Dia termenung di dalam kamar yang sudah sangat dia rindukan. Menatap langit-langit dengan gusar di saat pikirannya terus mengingat petuah Lina yang panjang lebar.
Setelah selesai dengan mandat dari Lina, Viona mengatakan ingin istirahat di kamarnya yang ada di lantai atas. Dia sudah sangat merindukan suasana kamar kesayangannya itu. Kamar yang menjadi saksi bisu pertumbuhan seorang Viona dari tahun ke tahun. Kamar yang menyimpan dan mempunyai banyak cerita di balik kenyamanannya.
Baru masuk kamar, Viona langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Perasaan senang dia rasakan saat bisa kembali berbaring di kasur ternyamannya. Tempat yang selalu membuatnya tidur terlelap. Yang bisa membawanya ke alam mimpi yang kadang absurd, kadang indah, kadang juga menyeramkan. Tapi semua mimpi itu selalu dia indahkan dengan khayalan yang menurutnya ingin dia capai. Menurutnya akan bisa dia alami.
Namun malang, bukan mimpi indah yang terjadi. Tapi, mimpi buruk yang membingungkan datang dan membawanya pada titik tersulit sehingga mau tidak mau dia harus menyandang gelar 'Nyonya Marshal'.
Tidak bisa dipercaya. Dalam waktu sekejap dia sudah menjadi istri orang. Andaikan saja waktu bisa dia hentikan, dia pasti akan terbang sejauh-jauhnya dari takdir yang memilukan. Tapi tidak bisa. Semua sudah terjadi, jika Viona mundur pun tidak ada gunanya. Semuanya sudah terikat dan dia tidak bisa lepas dari sangkar begitu saja. Hanya tuannya yang bisa membebaskan dia. Dan itu entah kapan akan terjadi. Viona sudah sangat menantikannya.
***
"Assalamu'alaikum, Ma." Marshal mencium tangan Lina dengan sopan.
Meskipun masih terkejut, Lina tetap bersikap ramah pada menantunya. "Waalaikumsalam."
"Viona di sini?" tanya Marshal saat sudah dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Dia melirik sekitaran yang nampak sepi, hanya beberapa pekerja rumah yang lalu lalang.
"Iya, tadi dia ke sini diantar sama Frans dan Aness." Lina duduk di sofa yang berseberangan setelah memerintah pelayan untuk mengambilkan minum untuk Marshal. Bisa dia tebak jika Marshal datang untuk menjemput Viona.
Suami Viona itu menghela napas lega. Dia sudah cemas dan marah. Lelah juga mencari Viona yang dihubungi juga tidak bisa. Marshal pulang bekerja pukul empat sore, tapi sampai di rumah Viona tidak ada. Kata Erni, Viona pergi dan belum kembali.
Marshal mengingat istrinya sempat meminta izin untuk pergi ke salon. Jadi, Marshal rasa Viona masih di salon. Tapi, setelah Marshal selesai mandi. Viona tidak kunjung pulang padahal waktu sudah menunjukkan setengah lima sore lebih.
Dia bertanya pada pekerjanya, jam berapa Viona pergi. Dan pekerjanya itu bilang jika Viona pergi pukul sembilan pagi. Mulai heran. Apa pergi ke salon harus sampai selama itu? Marshal rasa tidak akan selama itu. Jika dia mengantar Amanda perawatan saja, tidak mungkin sampai menghabiskan waktu sampai berjam-jam seperti itu.
__ADS_1
Mulai bingung dengan istrinya yang tidak kunjung pulang. Dia merasa kesal apalagi saat pekerjanya bilang Viona dijemput oleh temannya. Awalnya dia bisa berpikir positif. Mungkin yang menjemput sahabatnya yang dua itu. Tapi tiba-tiba pikirannya tertuju pada Sendi. Entah kenapa dia jadi marah dan segera mencari tahu supaya bisa mengetahui keberadaan istrinya.
Lama dia berpikir untuk menerka-nerka, mungkin Viona ke rumah orangtuanya. Dan ternyata benar saja, Viona ada di sana. "Di mana dia, Ma?"
"Di kamarnya. Oh iya, emang Viona tidak bilang mau berkunjung ke sini? Kenapa kamu tidak tahu?"
Marshal menggeleng. "Dia bilangnya mau ke salon aja. Aku gak tahu kalo dia datang ke sini."
Lina mengangguk-anggukan kepala dan mengantarkan Marshal menuju kamar putri semata wayangnya. "Tadi bilangnya mau istirahat. Dia pasti tidur, udah lama gak keluar soalnya," ucap Lina sesaat sebelum dia berlalu meninggalkan Marshal yang terdiam di depan kamar istrinya.
Dia sudah menyiapkan emosi yang akan meluap untuk sang istri yang berani berbohong dan membuatnya kebingungan. Dia kesal dan sangat tidak suka dengan sikap Viona yang seolah tidak menganggap Marshal sebagai suaminya itu. Ditelepon tidak diangkat sehingga Marshal harus kelimpungan mencarinya. Dan yang lebih membuatnya kesal, Viona tidak bilang jika akan pergi ke rumah Heru sampai dia lupa pulang. Jangan-jangan istrinya itu tidak berniat pulang lagi ke rumah suaminya? Awas saja jika benar seperti itu! Marshal sudah menyiapkan sikap tegasnya dan akan segera meledakkannya di depan Viona.
Diraihnya gagang pintu. Dia membuka pintu kamar Viona dengan perlahan. Kepalanya menyembul masuk ke dalam memastikan keadaan. Sepi. Ke mana istrinya? Marshal berjalan masuk dan menutup kembali pintunya dengan pelan.
Seketika emosinya meluap. Dia menghela napas lega melihat istrinya meringkuk di atas ranjang dengan pakaian yang begitu acak-acakan mengundang gairah. Dress-nya bahkan tersingkap sedikit ke atas menampilkan paha mulusnya.
Marshal berjalan menuju ranjang tempat istrinya menyelami mimpi. Melihat Viona terlelap, dia jadi tidak tega untuk membangunkan, apalagi memarahinya. Akhirnya dia hanya diam memandangai wajah cantik Viona setelah dia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
Bukan. Bukan karena dia perhatian. Tapi, dia tidak mau nafsunya terpacu melihat istrinya yang tidak berdaya dengan keadaan yang menganaskan seperti itu. Iya, bukan keadaan Viona yang mengenaskan. Tapi, dia. Dia tersiksa jika harus melihat paha mulus yang tidak pernah dia sentuh itu.
Marshal duduk di tepi ranjang tanpa mengusik tidur cantik istrinya. Dia melihat sekeliling kamar itu dengan diam. Sangat nyaman. Ruangan dengan warna peach dominan itu memberikan kesan tersendiri saat dia terus menelitinya. Di sudut kanan terdapat sebuah pot besar berisikan bunga Lavender yang harumnya bisa tercium dari jarak dia berada. Sepertinya bunga itu terawat walaupun pemilik kamar sudah seminggu tidak berkunjung.
Single sofa berwarna putih diletakkan di sisi bagian kiri sebelah jendela besar yang menghantarkan jalan menuju balkon kamar yang tertutup oleh gorden berwarna soft pink dengan aksen gold pada talinya.
Di kamar itu terdapat dinding kaca besar di dekat pintu masuk kamar mandi. Marshal bisa menebak dinding kaca yang memantulkan bayangan seperti cermin itu adalah lemari. Sangat rapi. Lemari dengan kaca dinding besar seperti itu memberikan kesan rapi dan elegan secara bersamaan. Dia kembali meneliti setiap sudut kamar. Matanya terhenti melihat meja rias yang dekat dengan ranjang. Di sampingnya terdapat kotak lumayan besar berwarna hijau bertuliskan 'Hey, there! This your collections'
__ADS_1
Kakinya tergerak untuk melangkah menghampiri kotak itu. Entah mengapa dia jadi penasaran ingin melihat isi kotak tersebut. Dan saat sudah berada tepat di depan kotak itu, tangannya terulur untuk menyentuhnya meskipun ada sedikit keraguan karena tidak seharusnya dia menyentuh barang milik Viona dengan seenaknya. Tapi, rasa penasarannya masih menjadi yang paling utama.
Dibukanya perlahan tutup kotak itu. Dia mengernyit dalam, saat isi dari kotak itu ternyata barang-barang yang menurutnya lebih seperti barang milik laki-laki. Di bagian atas ada sebuah hoddie berwarna dongker. Marshal mengambilnya dan melebarkannya saat dia melihat potongan hurup di bagian depan lipatannya.
"I love you, Viona," gumamnya membaca tulisan pada hoddie tersebut. Tidak ada pikiran aneh. Hoddie itu mungkin Viona buat untuknya sendiri dia tidak berpikir ke mana-mana. Dan kembali menggeledah isi kota tersebut. Ternyata banyak barang yang terselip tulisannya. Karena penasaran, Marshal melihat semuanya dengan perlahan.
Tangannya mengepal saat dia membuka kotak kecil berwarna hitam dengan pita merah di atasnya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan selembar kertas bertuliskan,
~Viona sayang, aku selalu merindukanmu.~
For Sendi A.M
Emosi yang tadi surut, kini mulai meningkat berkali-kali lipat. Dia melirik pada Viona yang masih terlelap. Rasa kesalnya semakin muncul. Marah sudah sampai ubun-ubun. Dia menatap semua barang itu dengan tangan yang mengepal kuat. Semua yang ada di dalam kotak itu ternyata barang-barang pemberian Sendi. Kenapa Viona menyimpannya? Apa Viona benar-benar mencintai Sendi dan tidak bisa melupakannya, sampai semua barang itu dia simpan di tepat yang khusus?
Ingin berteriak dia tahan. Takut membangunkan istrinya. Dia masih punya rasa tidak tega walaupun emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ingin rasanya dia membuang semua barang itu dan membakarnya langsung sekarang juga.
Kenapa Viona masih menyimpannya? Selalu pertanyaan itu yang ingin dia teriakan di depan Viona? Dia marah. Dia kesal dan cemburu melihat semua itu. Dia tidak suka dan sekarang dia menyesal telah membuka kotak itu, jika akhirnya dia harus merasa kecewa. Harusnya dia tidak membukanya. Itu lebih baik untuk hatinya. Tapi, sudah terlambat. Hatinya sudah terluka dengan perasaan marah semakin ditahan semakin mendekati puncak.
"Arghh!" Marshal menggeram dan menendang kotak besar itu.
"Hemm..."
Marshal yang tadinya ingin mengibrak-abrik kotak itu, bahkan membuangnya, dia jadi terdiam saat melihat Viona bergerak dari lelapnya. Mungkin Viona terganggu dengan suara geramannya.
Marshal segera membereskan barang-barang yang sudah berserakan itu. Dimasukkan kembali ke dalam kotak dengan cara melemparnya dengan tidak suka. Bahkan beberapa barang dia remas dulu sebelum dimasukkan. Kesal. Marah dan sangat kecewa. Dia membereskannya dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Lho, Tuan?!"
Deg. Marshal langsung berbalik badan dengan panik saat mendengar suara istrinya.