Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Cukup Marshal Saja!


__ADS_3

"Dianter jemput mulu, Nyonya," sindir Aness saat melihat Viona baru turun dari mobil. Kedua sahabatnya sejak tadi sudah menunggu kedatangan Viona di parkiran kampus.


Frans tertawa melihat wajah Viona yang langsung tertekuk. "Yang udah jadi nyonya, mah, bebas, Ness. Apalagi bentar lagi lulus. Gue pasti bakal cepet dapat ponakan."


Viona melempar tatapan sebal melihat kedua sahabatnya tertawa. Dia berjalan mendahului mereka dengan langkah yang dihentak-hentakkan kasar. Bukan maunya diantar oleh Egi. Tapi, Marshal yang memaksa. Viona hanya menuruti setelah Marshal berfatwa, semua demi kebaikannya.


"Ngomong-ngomong, gue denger hubungan kalian makin klop, ya?" Frans berjalan di samping kiri Viona dan Aness di samping kanannya.


"Ternyata lo bisa juga jatuh cinta kedua, ya," lanjut Aness disertai kekehan.


"Tahu dari mana? Idih, kalo ngomong asal celoteh aja," sahut Viona dengan cuek. Dia melirik kedua sahabatnya bergantian karena mereka kembali tertawa. "Apanya yang lucu, sih? Kalian aneh, mentang-mentang mau sidang, banyak pikiran. Tuh, otak kalian geser, kali."


"Cie, yang mulai jatuh cinta." Aness menusuk-nusuk pipi Viona dengan ujung telunjuknya. "Ehem! Yang udah ada pasangan mah beda. Apalagi kalo udah ada rasa."


"Ih, apa, sih?" Wajah Viona sudah memanas. Dia melirik sekitar tidak tenang. Kenapa juga kedua sahabatnya jadi suka menyindir seperti itu. Meskipun sudah merupakan fakta, tapi Viona malu mengakuinya. Dia dan Marshal bersama juga belum lama. Viona sendiri masih tidak percaya, jika dia bisa nyaman menjadi seorang istri.


"O, iya, Vi, gue dengar si Sendi mau nikah bulan depan."


Viona duduk di kursi kantin. Dia memandang acuh pada Aness yang terus mengajaknya bicara, sedangkan Frans? Laki-laki itu sudah tersangkut di depan kantin saat mereka akan masuk ke sana. Ada mahasiswi yang bening. Frans yang memang playboy, malah menyuruh mereka masuk duluan, sedangkan dirinya mencari mangsa.


"Lu gak apa-apa 'kan dia nikah?"


Viona menaikan alisnya sesaat, kemudian mengedikkan bahu. "Emangnya kenapa?"


"Ya, kan, kalian ...."


Viona menghela napas kasar. Ada sebuah rasa berat di sana, tapi dia harus kuat bertahan untuk menerima. "Aku bahkan datang ke acara tunangannya."


Mata Aness membulat seperti ingin melompat dari tempatnya. Belum lagi mulutnya menganga lebar membuat Viona tidak tahan untuk memasukkan tissue ke dalam mulutnya.


"Serius?"


Dengan santai, Viona menganggukkan kepala. "Tuan Chal yang diundang, dan kita datang berdua."

__ADS_1


Aness semakin kaget mendengarnya. "Terus, Sendi lihat kalian?"


"Heem." Viona mengambil jus alpukat favoritnya saat pelayan kantin memberikan pesanan mereka. Dia menyedotnya pelan, tidak terusik dengan tatapan Aness yang terlihat banyak pertanyaan yang ingin dia utarakan.


"Terus dia gimana?"


"Siapa?" Dengan tenang, Viona menyesap kembali minumannya. "Sendi maksudnya?" Aness mengangguk, siap mendengar penjelasan. "Ya, gak gimana-gimana. Kayaknya dia juga udah bahagia sama tunangannya, kali." Viona mengedikkan bahu acuh.


Aness melihat raut tidak enak di wajah Viona. Meskipun Viona berkata tenang, tapi dia masih melihat ada yang Viona tutupi darinya. Cinta memang kadang tidak bisa ditebak. Sejauh apapun dia pergi, hati tetap memihak. Dan kadang malah membelenggu sampai perasaan terkoyak, kala takdir bertindak untuk tidak saling memiliki.


"Kata Frans, Sendi dijodohin?"


"Iya. Tante Fatma bilang gitu."


Mulut Aness kembali menganga. "Kok, lo tahu semuanya? Gue kira gak tau apa-apa."


Viona menyimpan jus yang sudah tinggal setengah. Dia memainkan sedotannya, menghela napas, melihat Aness. "Emang udah takdir, kali, Ness. Makanya semua dipermudah buat kita gak saling berharap lagi. Cuma dengan cara itu, akhirnya aku juga bisa jauh sama dia. Kita gak saling kenal lagi, kayaknya. Bukan cuma dari kita yang nutup akses buat ketemu, tapi dari pihak keluarga Sendi juga udah memperingatkan aku buat gak nemuin dia lagi."


Cinta bisa hilang, tapi rasa saat mengingat sebuah kenangan tetap bisa terbayang. Viona dan Sendi memang sudah tidak bisa lagi bersama. Tapi, ada kenangan di anatara mereka yang mengingatkan, bahwa mereka pernah dekat untuk saling menyayangi.


"Gue salut. Gue kira lo bakal nangis kejer liat dia tunangan."


Ironisnya, Viona malah terkekeh. "Aku gak pantas nangis. Karena aku duluan yang matahin dia. Aku duluan yang ninggalin dia buat nikah sama Marshal. Aku penjahat di sini, bukan satu-satunya orang yang terluka. Kita impas."


Aness menggelengkan kepala sambil ikut terkekeh. Aneh melihat Viona yang bisa sekuat itu dan malah menyalahkan diringa sendiri.


***


"Viona!"


Orang yang dipanggil membalikan badan, nampak terkejut melihat siapa yang memanggilnya. Viona dan kedua sahabatnya menatap Sendi kaget. Aness dan Frans dian, saling pandang kala Viona malah tersenyum ramah pada Sendi.


"Sendi. Apa kabar?" Viona tidak terlihat ada apa-apa. Dia biasa saja dan malah terlihat tenang dan ramah.

__ADS_1


Sendi tidak menyahuti malah lekat memandangi Viona. Matanya seperti berbicara, tapi dia tidak bisa mengutarakannya. Dia hanya terdiam, membisu dengan pandangan terkunci pada satu objek. Sama halnya dengan Viona.


"Vi, ayo, pulang!" Frans tiba-tiba mendekat menarik tangan Viona dengan cepat.


Viona memandangnya kaget dan langsung melepaskan diri. Bukan dia tidak mau pergi. Tapi, dia merasa tidak enak terhadap Sendi. Laki-laki itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu, dan Viona juga ingin mengatakan sesuatu juga yang belum sempat dia sampaikan pada Sendi. Karena saat acara pertunangannya, Viona tidak sempat mengobrol, bahkan tidak ada waktu untuk menghampirinya. Acara waktu itu cukup meriah dan banyak tamu yang hadir, sehingga dia tidak punya kesempatan untuk bicara berdua dengan Sendi. Terlebih Marshal selalu mengawasinya dan memberi peringatan untuk Viona tetap berada di samping suaminya.


"Frans, boleh pinjam Viona sebentar?"


"Gak bisa kalo sekarang. Dia mau pulang, Sen."


"Frans!" tegur Viona tidak suka.


Dari dulu Frans memang selalu menjadi sosok Heru ketiga, setelah Vino, di dekat Viona. Dia selalu menjaganya dengan baik dan selalu membatasi Viona supaya sejalan dengan batas yang wajar dan memberikan pengaruh baik padanya. Apalagi akhir-akhir ini Frans selalu saja menguatkannya untuk melupakan Sendi, sejak dia tahu jika Viona memang lebih baik bersama dengan suaminya. Frans tahu semua cerita Viona dan dia selalu ada dan membantu saat Viona membutuhkan sesuatu.


Makanya sekarang dia harus overprotektif terhadap sahabatnya. Dia tidak mau memberikan kesempatan pada Sendi dan Viona bicara berdua. Karena menurutnya, hal itu akan berdampak buruk untuk jalan kehidupan mereka berdua. Viona sudah menikah dan Sendi juga sebentar lagi akan menikah. Jika mereka sering bertemu saat ini, perasaan mereka pasti sulit untuk dikendalikan. Rasa tidak rela mereka juga pasti muncul kembali. Frans harus mengantisipasi hal tersebut. Itu semua dia lakukan demi kebaikan Viona semata. Dia tidak mau sahabatnya terus terbelenggu dengan perasaan cinta yang tidak bisa dimiliki. Cukup Marshal saja! Jangan ada laki-laki lain lagi!


Frans secara terang-terangan menolak keinginan Sendi. Dia menatapnya tidak menyetujui. "Viona mau pulang. Nanti suaminya nyariin kalo gak pulang cepat." Frans menarik tangan Viona untuk ikut dengannya. Tapi malah tertahan oleh Sendi.


Laki-laki itu menahan tangan Viona yang satunya lagi. Viona menghela napas melihatnya. Dia memohon pada Frans untuk bicara sebentar. Dengan terpaksa Frans mengizinkan asalkan mereka bicara di hadapannya.


"Vi, aku tunangan-"


Viona pun meladeni Sendi. Dia melepaskan tangan Sendi dan Frans yang sedang memegang tangannya. Viona tersenyum manis pada Sendi, sudah terlihat tenang saat ini. Mungkin karena Viona sudah mulai terbiasa melupakan semuanya.


"Aku mau ngomong berdua."


"Gak bisa!" sahut Frans dan Aness berbarengan.


"Lo mau mati dicekik tuan Marshal? Gak usah ngomong sama dia! Harusnya lo tuh kasih peringatan sama dia buat ngejauh, Dongo!" bisik Frans memperingatkan.


Viona terdiam sejenak nampak berpikir. Dia kembali memberikan senyuman pada Sendi. "Semoga bahagia, Sen. Aku tahu kalian gak saling cinta. Tapi, percaya, deh. Kalian nantinya pasti bisa saling mencintai. Awalnya memang terpaksa. Aku tahu, dijodohkan itu gak enak. Tapi, aku yakin, kalian pasti bisa bahagia. Aku sama Marshal juga gitu. Awalnya terpaksa, tapi sekarang kita malah bisa bahagia dan mudah-mudahan sebentar lagi di kasih momongan. Udah, ya, aku harus pulang. Salam buat calon istri kamu," ucap Viona lembut penuh penekanan.


Sendi mematung di tempat melihat Viona melambaikan tangan padanya dan pergi begitu saja bersama kedua sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2