
"Mungkin seharusnya pulang dulu, Sayang."
Viona langsung memberengut mendengarnya. "Terus kita ke rumah kak Vinonya kapan?"
"Ya ... nanti," Marshal menggaruk sebelah alis dengan ujung telunjuk. Terlihat serba salah menghadapi istrinya. "kita mandi dulu, bersih-bersih biar wangi. Habis itu pergi ke rumah Vino. Memangnya kamu tidak merasa gerah seharian beraktivitas? Sebentar lagi maghrib, lho. Gak enak juga kalau harus berkunjung dengan kondisi seperti ini."
Viona berpikir sejenak. Dia merasa lengket dengan tubuhnya, meskipun tetap tercium wangi. Marshal ada benarnya juga, mungkin sebaiknya mereka pulang terlebih dahulu dan nanti pergi dengan keadaan segar. Sekalian menyimpan dulu barang bawaannya yang tadi mereka beli.
"Tapi, apa gak sekalian aja, Chal? Biar gak bolak-balik."
Marshal menghidupkan mesin, memandang Viona sejenak. "Terserah kamu saja, sih. Aku hanya menurut."
Viona malah berdecak. Mobil mulai melaju keluar dari area taman. "Jadinya mau gimana?"
"Pulang dulu, habis itu ke rumah Vino." Marshal melirik Viona, memberikan senyuman manis dan kembali fokus ke arah depan. Jangan sampai Viona kesal. Viona harus tetap ceria dan bahagia, sebisa mungkin Marshal tidak boleh membuat kesalahan. Supaya acaranya hari ini berjalan lancar dan Viona senang.
***
"Nyonya dan Tuan sudah pulang." Rio menyambut mereka di depan rumah, dengan senyuman ramah yang terlihat manis. Ikut bahagia melihat raut wajah penuh kasih sayang pada majikan-majikannya. "Bagaimana berkencannya, Tuan?"
"Semua berjalan sesuai rencana, Yo." Marshal tersenyum lebar. Dia memanggil beberapa pelayan untuk membawakan barang belanjaannya dan Viona dari dalam mobil. "Coba lihat! Apa nyonya terlihat bahagia, Yo?" Alisnya naik turun memastikan penglihatan Rio. Marshal merasa pongah, karena dia sudah membuat istrinya senang sepanjang hari, menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan yang meresahkan.
Pandangan Rio tertuju pada Viona yang tengah tersenyum melihat barang belanjaan yang dibawa oleh para pelayan masuk ke dalam rumah. Aura yang cerah dalam suasana petang yang mulai redup. Majikannya begitu bercahaya penuh bahagia saat ini. Nampaknya usaha Marshal berhasil, sehingga wajah Viona terlihat berkali-kali lipat semakin cantik dan memukau, bak berlian langka yang hanya bisa dimiliki oleh satu-satunya orang di dunia.
"Cepat masuk, Sayang! Biar mereka yang mengurusnya supaya kita tidak berangkat terlalu malam, nanti."
__ADS_1
Viona berlari kecil menghampiri Marshal. Dia mengangguk dan segera menaiki tangga, setelah mendapat usapan lembut di pipi dari suaminya. Marshal menyuruhnya untuk mandi dan bersiap duluan, sedangkan dia malah berbincang ringan bersama Rio masih di teras depan. Memperhatikan cahaya petang yang berganti menuju remang-remang dan semakin lama semakin menghitam, gelap dan terasa sunyi.
"Memangnya setelah ini akan pergi ke mana, Tuan?"
"Nyonya ingin mengunjungi rumah baru Vino. Pengantin baru itu, dua hari lalu baru saja pindah rumah dan kami belum sempat berkunjung. Jadi, nyonya ingin pergi ke sana malam ini." Marshal memandang Rio yang hanya menganggukkan kepala, paham. "Gantian nyetir, Yo. Aku lelah seharian menyetiri nyonya." Wajah Marshal terlihat memelas.
"Menyetiri mobil untuk nyonya atau menyetiri ego dan tubuh nyonya?"
Rio bertanya sangat pelan, tapi Marshal masih bisa menangkap gurauan itu. Dia terkekeh, menepuk paha dengan tangan kanannya. "Tentu saja dua-duanya. Kadang aku ingin melarangnya ini, melarangnya itu, tapi tidak bisa. Hari ini aku sudah berjanji untuk membuatnya senang. Apapun yang dia mau, aku turuti. Selalu aku jalankan, selagi dia tidak melirik laki-laki lain."
Rio hanya menggelengkan kepala, merasa geli membayangkan bagaimana perubahan sikap manja Viona yang bercampur keinginan keras kepalanya. Marshal yang egois sudah tentu akan kalah. Dia pasti akan melakukan apapun demi Viona. Menuruti semua kemauannya. Apapun. Terkecuali masalah penjagaan mata.
***
Terdapat fasilitas yang sangat mewah di rumah tersebut. Selain perabotan yang mahal-mahal dengan penataan yang elegan membuat semua sudut ruangan terasa enak dilihat, memanjakan mata dengan amat baik. Kolam renang dan taman belakangnya juga terasa sangat indah. Apalagi di malam hari penuh dengan cahaya remang dan kerlap-kerlip lampu taman, semakin menambah kesan hangat yang romantis.
"Ah, aku suka rumah ini!" Viona berseru kencang, menghirup udara taman di suasana malam yang sejuk. Dia memandang pada Vino dan Rena yang sejak tadi menemaninya untuk berkeliling rumah baru tersebut. Senyumannya mengembang, ikut bahagia atas pancapaian sang kakak yang sudah mewujudkan impian terbesarnya.
Sejak dulu, Vino selalu mengatakan ingin menikah setelah punya rumah megah dan membangun sebuah rumah tangga yang harmonis bersama istri dan anaknya di tempat yang sejuk dan tidak ramai dari khalayak publik. Semua itu sudah terwujud. Apalagi usaha kakaknya sekarang semakin berkembang dan juga berjaya dengan gabungan perusahaan ayahnya. Tinggal menunggu kehadiran sang buah hati, maka lengkaplah sudah kebahagiaan yang Vino impikan.
"Rumah Kakak sangat ... indah!" Viona nyengir lebar, mengangkat jempol pada Vino yang langsung tertawa geli. "Bagus. Pintar milih hunian yang nyaman."
"Hei, harusnya kamu puji orang yang membuat rumah ini. Dia sangat berkontribusi besar atas pembangunan ini. Jika bukan karena dia, rumah kakak gak mungkin bisa indah seperti yang kamu katakan." Vino menatap Marshal dengan pandangan kagum. Dia berjalan mendekat pada suami Viona yang hanya berdiri diam di samping istrinya. Menepuk pelan pundak sahabat, dia berterima kasih lewat tatapan. "Semua gak akan indah tanpa tangan sang Tuan, bukan?" Alisnya naik turun menggoda membuat Marshal mendengus sebal.
Melihat hal itu mata Viona membulat tajam. Dia mendekat pada Marshal, tidak percaya dengan ucapan kakaknya. "Kamu yang desain?" Pertanyaan itu terucap spontan. Viona terkejut dan bahkan menggelengkan kepala, masih tidak percaya.
__ADS_1
"Memangnya siapa lagi yang Vino maksud, Sayang?"
Wooo ... Marshal mulai terlihat sombong dengan kemampuannya. Viona membuang muka pura-pura muak mendengar pengakuan tidak langsung dari mulut suaminya. Tapi, hal itu tidak membuat Viona benar-benar muak. Dia kagum pada Marshal dan bangga mempunyai suami yang sangat berbakat dalam hal desain arsitektur bangunan.
Tapi, ... "Kok kamu mau sih bikinin rangkaian rumah buat kak Vino? Kamu itu bukan arsitek. Kenapaļ¼"
"Kakak kamu yang maksa." Marshal memandang sebal pada Vino yang menampakkan deretan giginya. Terlihat konyol dan memalukan. Jika bukan dia yang memaksa, untuk apa Marshal repot-repot menjadi arsitek dadakan.
Walaupun pekerjaan itu sangat dia inginkan dan menjadi cita-cita terbesarnya, tapi pekerjaan Marshal saat ini bukan itu. Dia hanya seorang pengusaha di bidang property dan tidak merangkap jadi arsitek secara tidak langsung. Tetapi Vino membuat semuanya berkelok. Terpaksa Marshal menurutinya karena tidak mau membuat sahabat sekaligus kakak iparnya itu kecewa.
"Kakak berani-beraninya gunain Marshal jadi arsitek pribadi. Memangnya berani membayar berapa? Suami aku bayarannya harus mahal, dong. Dia bukan sembarang arsitek yang merangkap jadi pengusaha. Kakak tahu bukan kualitas dan bidangnya di mana."
Vino malah merangkul bahu Marshal, tertawa konyol. "Gratis, dong. Dia kan baik. Ya, kan, Mars?"
"Apa?" Viona yang meradang, sedangkan Marshal hanya biasa saja. Dia tidak suka melihat kesombongan kakaknya. "Bayar, Kak! Sekarang aku minta bayarannya!"
"Bayaran untuk apa?" Vino terlihat bingung melihat tangan Viona yang terulur.
"Untuk jasa Marshal. Untuk apalagi memangnya? Sini, mana bayarannya!"
"Dih, orang Marshal aja gak minta bayaran, kok."
"Enak aja! Pokoknya harus bayar! Aku yang akan memegang keuangan Marshal mulai sekarang. Jadi, semua pemasukan dan pembayaran jasanya, aku yang menagih. Sini, mana bayarannya! Enak aja, nyuruh bikin desain rumah tapi gak ada imbalannya."
Marshal terlihat kaget mendengar penjelasan Viona. Istrinya tamak atau bagaimana? Dia tersenyum geli melihat Vino yang menghindar dikejar Viona. Sang nyonya mengeluarkan taring, ternyata ingin berkuasa atas dirinya. Menarik. Viona sekarang ingin menguasai Marshal seutuhnya.
__ADS_1