
"Lapar?"
Viona mengangguk pelan, menarik selimut supaya menutupi tubuh dengan baik. Dia tidak mau mendengar Marshal yang menuduh menggoda, jika tubuhnya kembali terlihat. "Ha-ekhem! Aku haus." Marshal benar-benar buas. Bukan hanya tubuh yang lelah, suara Viona pun dibuat habis olehnya.
Marshal terkekeh, mengelus pipi istrinya dengan lembut. Hari sudah sore, dia sudah selesai mandi dan Viona baru bangun. Istrinya terlalu lelah, sehingga tertidur pulas, meskipun sebentar. Sekarang dia mengeluh lapar dan haus. Marshal gemas sekali melihatnya. Dia mencuri satu kecupan dari bibir Viona, sebelum dia berbalik untuk mengambil segelas air yang ada di atas nakas dan memberikannya pada Viona.
Senyuman tidak pernah surut dari wajah tampan Marshal. Dia sangat bahagia. Apalagi melihat wajah Viona yang merona, saat dia memperhatikan tubuhnya. Viona terlihat malu. Dia tidak mau bertatapan dengan Marshal barang sedetik pun. Selalu menghindari tatapan suaminya yang masih saja terus menggoda. Marshal tidakada puas-puasnya. Padahal mereka melakukannya cukup lama tadi.
"Setelah mandi, nanti kita makan, ya. Aku juga lapar." Marshal mengambil gelas kosong dari tangan istrinya. Viona benar-benar kehausan. Menghabiskan air segelas saja hanya sebentar.
Marshal terkekeh geli melihat Viona yang sigap menarik selimut. Padahal dia sudah melihat dan menikmati semuanya tadi. Tapi, Viona masih saja malu terhadapnya. Tidak apa. Mereka belum terbiasa.
"Mau mandi sekarang?" Marshal sudah lebih dulu membersihkan diri. Viona terlalu lelah sampai tertidur pulas, sehingga tidak ikut mandi. Padahal jika mereka mandi bersama, itu akan terasa lebih menyenangkan. Dan mungkin kejadian penuh nikmat itu akan kembali terulang di kamar mandi.
Marshal menggeleng keras. Tubuhnya bisa panas dingin lagi, jika memikirkan hal itu. Apalagi tubuh Viona masih poos di bawah selimut. Sudah cukup untuk hari ini. Dia tidak mungkin membuat Viona kelelahan terus-menerus. Kasihan istrinya. Meskipun terasa menyenangkan, tapi dia masih bisa menahan diri untuk tidak menyerangnya lagi.
"Chal ...."
"Hm?" Marshal memperhatikan Viona yang kembali berbaring nyaman dengan seluruh tubuh dibalut selimut tebal. "Kenapa? Mau mandi sekarang?"
__ADS_1
Viona terlihat bingung. Dia ingin mandi sekarang dan segera makan, tapi dia merasa malu untuk beranjak, jika di sana masihada Marshal. Jadilah dia hanya terdiam memainkan tangan di bawah selimut. Saat tangan Marshal memalingkan wajahnya, dia tidak mau menatap. Viona masih merasa malu. Tapi, Marshal memaksanya untuk bertatapan. Dan kecupan ringan kembali Marshal curi dari bibirnya.
Viona langsung panik saat tangan Marshal menyibak selimut membuat tubuhnya yang polos terekspos dengan gamblang. Wajah Viona kembali memanas. Dia meremas lengan Marshal sambil menggeleng. Marshal malah tertawa pelan sambil mengangkat tubuh polos istrinya.
"Mandi dulu, Sayang. Nanti kita makan."
Viona hanya pasrah saat Marshal membawanya ke kamar mandi. Dia memaksa untuk mandi sendiri saat Marshal berniat untuk memandikannya. Viona tidak mau. Dia malu dan takut. Untung Marshal bisa memahami dan membiarkan Viona mandi semaunya.
***
Tangan Marshal mengepal kuat mendengar bisikan dari Rio. Tatapannya menajam ke arah kursi yang ada di ujung meja makan. Emosinya meningkat pesat, padahal dia masih mengunyah.
Melihat suaminya yang menunjukkan reaksi aneh, Viona terheran. Dia berhenti makan, memandang Marshal dan Rio penuh tanya. Tapi, yang dipandang malah memperlihatkan tatapan yang sulit diartikan. Viona jadi semakin penasaran dengan apa yang sedang mereka bahas barusan.
"Awasi terus! Kalau perlu, langsung tangkap saja mereka, jika semua bukti sudah kuat."
Rio menganggukkan kepala dan oamit pergi dari sana. Marshal tidak lagi bernafsu makan. Dia menoleh ke samping, Viona memperhatikannya dengan serius. Terpaksa senyuman terbit. Dia mengusap puncak kepala istrinya penuh sayang disertai sedikit cemas. "Makan lagi."
"Ada apa?"
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit masalah pekerjaan." Viona memang tidak akan pernah puas sebelum dia mengetahui semuanya. Marshal kembali tersenyum, menyendokkan makanan yang kemudian dia sodorkan pada ke depan mulut istrinya. "Aaak ... Sayang."
Viona membuka mulut dan menyantapnya. Tapi, tatapan mata terus tertuju pada Marshal dengan masih penuh tanya. Dia mengunyah pelan sambil memperhatikan gerak-gerik aneh yang mulai Marshal tunjukkan. Viona yakin ada yang tidak beres dari suaminya. Bisa saja dia percaya, jika memang mereka membahas masalah pekerjaan. Tapi, dia tetap saja khawatir. Dia tidak ingin Marshal menutupi apapun darinya, jika dia ada masalah.
Setelah selesai makan, Viona kembali ke kamar. Dia merebahkan tubuhnya dia atas ranjang sambil memainkan ponsel. Viona sedikit bergeser saat Marshal menyusul masuk ke dalam kamar. Dia memberikan tatapan sebal, karena Marshal kembali menampakkan senyuman jahil, merangkak ke arahnya.
"Chal!"
"Sudah makan, energi kembali terisi lagi, bukan? Apa mau-" ucapannya tertahan karena tangan Viona sigap membekap mulutnya. Viona memberikan tatapan tajam pada Marshal. Dia sudah tahu ke mana arah pembicaraan itu akan bermuara. Viona sudah lelah dan tidak ingin mengulanginya lagi.
"Baiklah-baiklah, aku gak minta lagi." Bekapan terlepas, Marshal duduk diam di samping Viona yang masih rebahan. Dia memperhatikan wajah Viona dengan serius. Senyumannya terbit melihat leher Viona yang penuh tanda merah. Bangga pada dirinya sendiri yang bisa menaklukan gadisnya yang kini sudah tidak gadis lagi.
Marshal ingin memeluk tubuh Viona, tapi niatnya dia urungkan karena dering ponsel. Dia beranjak dari ranjak, mengambil ponsel dari atas nakas. Rio yang menelpon. Dipandanginya Viona yang masih sibuk dengan ponsel di tangan, Marshal berjalan menuju balkon. Dia menerima panggilan di sana supaya Viona tidak mendengar percakapan mereka.
"Bagaimana?"
"Orang suruhan nona Amanda sudah kami ikuti, Tuan. Mereka berempat. Laki-laki tiga dan satu wanita muda. Yang saya tahu, mereka berencana akan menculik nyonya saat kita lengah. Mereka tahu nyonya pasti sering ke kampus sebelum sidang. Mereka akan mengawasi dekat sana."
Marshal terdiam dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Informasi dari Rio terlalu detail membuatnya semakin khawatir. "Perketat penjagaan! Cari tahu juga nomor pembimbingnya nyonya! Atau hubungi pihak kampus. Aku ingin berbicar dengan mereka supaya istriku tidak bisa keluar rumah."
__ADS_1
"Baik, Tuan. Tapi, bagaimana jika-"
"Amanda dan aku tidak sebanding. Seharusnya aku tidak terlalu khawatir. Tapi, aku tetap harus berjaga-jaga. Wanita gila bisa melakukan apapun, di luar kendalinya."