Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Terlalu Rumit


__ADS_3

PRAK!


Dengan panik Viona melihat ke bawah dari atas balkon kamar Marshal. Ponselnya tergelak dengan mengenaskan di tanah setelah Marshal merebut dan melemparkannya dengan sekali gerakan saat Viona sedang berteleponan.


"Aku kira kamu sudah menurut padaku. Tapi ternyata masih berhubungan dengannya?!" bentak Marshal pada istrinya yang juga kesal karena ponselnya dibuang begitu saja.


Marshal marah karena dia memergoki Viona sedang menerima panggilan dari Sendi di balkon kamarnya. Dia kira istrinya itu sudah menurut dan tidak akan berhubungan lagi dengan Sendi. Tapi Viona tidak menghiraukan peringatannya. Dia tetap berhubungan dengan Sendi.


"Tuan, saya dan Sendi hanya-"


"Aku tidak mau mendengar penjelasanmu. Sungguh, ya, mau kamu itu apa? Sudah berapa kali aku ingatkan, jangan berhubungan dengannya lagi! Tapi kamu tetap tidak mengindahkan peringatanku." Viona hanya diam memandangi Marshal dan sesekali melirik ponselnya yang dilempar. "Berani kamu berhubungan lagi dengan dia, aku akan semakin murka. Kali ini ponselmu yang jadi korban, tapi esok ... aku tidak bisa menjamin jika ayahmu akan baik-baik saja." Marshal berlalu dari balkon kamar.


Viona termangu melihat kepergian Marshal. Apa maksud ucapan Marshal barusan? Suaminya itu mengancam keselamatan Heru? Jika benar, Viona semakin tidak bisa melawan. Marshal jadi semakin kejam. Dia kembali mengandalkan kelemahan Viona supaya istrinya itu kembali tunduk. Viona tidak bisa berkutik jika sudah dihubungkan dengan masalah keluarganya.


"Handphone-ku ...." Viona menyandar di pagar balkon dengan lemah. Ponselnya pasti rusak karena dilempar dari ketinggian. Dia melirik lagi ke bawah, ponselnya masih tergeletak di tanah.


Viona menghela napas berat. Barusan dia mengangkat panggilan dari Sendi karena dia ingin mengatakan padanya untuk tidak menghubungi Viona lagi karena Marshal sudah sangat marah. Dia tidak mau berbuat macam-macam lagi karena takut dengan ancaman Marshal. Tapi belum selesai Viona mengatakannya, Marshal tiba-tiba datang dan merebut ponsel Viona. Melemparkannya dari balkon dengan sekali lemparan.


***


Mereka masih berada di rumah Wisnu. Keadaan rumah masih sepi karena keluarganya belum pulang dari rumah Emeli. Di rumah hanya ada Marshal, Viona dan Zean yang dititipkan oleh Miranda pada adik iparnya.

__ADS_1


Viona sedang berada di kamar Marshal yang ada di lantai atas bersama dengan Zean, sedangkan Marshal berada di lantai bawah duduk di depan televisi yang masih menyala dengan emosi yang enggan mereda. Dia masih kesal pada istrinya. Dan Viona juga sepertinya sedang marah padanya karena perbuatannya tadi. Terbukti dari Viona yang berusaha menghindarinya dengan alasan mengajak Zean bermain.


"Jika saja dia tidak menghubungi laki-laki itu, aku tidak akan melempar ponsel miliknya tadi," gumam Marshal pada dirinya sendiri. Memijit kening yang terasa sangat berdenyut. Dia benar-benar tidak suka jika Viona masih berhubungan dengan Sendi. Marshal selalu panas dan meradang jika tahu Viona menghubungi laki-laki itu.


"Maaf, Tuan," Mbok Asih-pelayan rumah, menghampiri Marshal, "di halaman belakang ada hape yang tergeletak di tanah. Itu punya siapa, ya?"


Marshal memandangi Mbok Asih dengan diam. Ponsel itu belum ada yang mengambil? Viona juga tidak mengambilnya. Apa dia sudah tidak peduli dengan ponsel yang sekarang pasti sudah rusak itu. "Itu punya istriku, Mbok. Tadi jatuh dari balkon."


Mbok Asih mengangguk. "Kenapa masih tergelatak di tanah, Tuan muda? Apa sudah tidak dibutuhkan, kenapa tidak diambil? Saya lihat masih bagus hape-nya."


Setelah mendengar ucapan mbok Asih, Marshal tergesa menuju halaman belakang rumah wisnu, tempat di mana ponsel Viona ia lempar dari atas balkon kamar. Dia tidak percaya jika ponsel itu masih baik-baik saja. Jarak dari balkon kamarnya sampai tanah itu lumayan tinggi. Dan Marshal sadar jika tadi dia melemparkannya cukup keras. Jadi, dia rasa ponsel itu pasti sudah hancur.


Dan ternyata, ponsel istrinya itu memang sudah rusak saat dia mengambilnya. Layarnya sudah retak meskipun keadaannya tidak acak-acakan. Hanya sedikit retakan di bagian sisi layarnya. Saat Marshal menghidupkannya, ternyata masih bisa menyala. Kualitas ponsel Viona sungguh sangat baik. Dilemparkan dari balkon saja masih bisa menyala tidak pecah menjadi serpihan. Viona pembeli yang baik dalam memilih barang. Ponselnya saja bisa berkualitas baik seperti itu. Mungkin karena harganya yang mahal, jadi kualitasnya pun terjamin.


Lebih baik Marshal segera menghubungi Rio untuk mengganti ponsel milik istrinya. Melihat Viona yang terus memandangi ponselnya dari balkon kamar, ada setitik penyesalan dalam diri Marshal setelah dia melakukan hal tadi. Mungkin Viona memang sangat marah padanya, tapi karena gertakan Marshal untuk tidak berani membantah membuat Viona tidak bisa melawan atas apa yang telah Marshal perbuat.


Marshal yakin, jika Viona masih bersikap seperti kemarin, sudah pasti istrinya itu langsung meradang dan kembali mendebatnya. Tapi, berhubung sekarang Viona kembali tunduk, dia tidak mungkin berani lagi emosi di depan suaminya. Viona pasti takut dengan ancaman Marshal tentang Heru. Karena hal itu salah satu titik terlemah Viona. Kebahagiaan keluarganya pasti menjadi prioritas ketimbang nasibnya sendiri.


***


Marshal masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Viona sedang menenangkan Zean yang terbangun akibat suara pintu yang terbuka. Istrinya itu tidur menyamping. Tangannya mengusap pelan kepala Zean supaya kembali terlelap.

__ADS_1


Marshal mendekat dengan diam. Dia tahu Viona pasti marah padanya. Marshal tidak peduli. Dia hanya tidak ingin Viona berhubungan lagi dengan Sendi. Cukup sudah Marshal merasa tidak suka. Dia tidak bisa menahan amarahnya lagi. Sangat takut jika Viona benar-benar nekat menjalin hubungan dengan putra dari Arga tersebut.


Saat Marshal duduk di tepi ranjang, memperhatikan mereka yang sedang berbaring dengan posisi Viona yang memeluk Zean, Viona memandangi Marshal dengan malas. Kemarahan jelas terpancar dari sorot matanya. Marshal pun menyadari hal itu. Dia memang sudah keterlaluan saat bersikap.


"Kita pul-" ucapan Marshal terhenti karena Viona mengacungkan jari telunjuk di depan bibirnya. Mengisyaratkan supaya Marshal terdiam. Dan suaminya itu menurut. Takut membangunkan Zean yang baru saja kembali menyelami mimpi.


Marshal menghela napas dalam. Memperhatikan Viona yang mulai memejamkan mata. Ingin dia tersenyum melihat pemandangan yang hangat itu. Viona memang masih muda. Tapi, saat mengasuh Zean, dia juga bisa bersikap keibuan. Zean sama sekali tidak rewel bersama dengannya. Padahal mereka baru berkenalan hari ini. Tapi, anak itu sepertinya nyaman bersama bibi barunya.


Zean sangat sulit berinteraksi dengan orang baru. Tapi, Viona dengan segala bujuk rayunya mampu mendekati Zean hanya dalam hitungan menit. Bahkan, anak itu sekarang terlelap dalam dekapan Viona. Apa dia sudah lupa pada ibunya sangking nyamannya bersama Viona?


Hari sudah mulai malam. Miranda dan orangtua Marshal belum juga pulang dari rumah Emeli. Katanya, di rumah Emeli ada acara syukuran kecil-kecilan sehingga keluarga Marshal pergi ke sana. Marshal dan Viona tidak ikut karena suami Viona itu beralasan sangat lelah dan tidak mau repot pergi ke sana. Jadilah mereka menunggu di rumah.


Miranda malah memanfaatkan kesempatan itu untuk menitipkan Zean. Dia ingin terlihat seperti perawan, katanya. Karena kebetulan dia datang tidak bersama suaminya.


Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh Viona dan Zean. Marshal kembali terdiam memperhatikan mereka yang sudah terlelap. Tadinya dia mau mengajak Viona untuk pulang. Tapi, istrinya malah tidur. Dia tidak tega untuk membangunkan. Viona pasti lelah sudah mengajak Zean main hampir seharian.


Dia mengambil ponsel baru dari dalam saku, kemudian dia menyimpannya di atas nakas. Tepat di samping Viona. Itu untuk istrinya. Anggap saja sebagai ganti rugi atas ponselnya yang tadi Marshal lemparkan. Semua data dari ponsel yang rusak sudah Marshal masukkan ke dalam ponsel baru itu. Dia berharap Viona bisa memaafkan sikap kejamnya tadi.


Kini Marshal menyesali perbuatannya. Dia menyesal telah bersikap kejam pada istrinya. Dia pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Terkadang dia merasa sangat marah pada Viona. Tapi, terkadang dia juga sangat menyayangi istrinya. Dia tidak tega jika Viona terluka karenanya. Dia juga tidak mau Viona bersikap dingin padanya. Tapi, dia juga tidak bisa menerima jika Viona membantahnya.


Dia tidak suka Viona dekat dengan laki-laki lain. Tapi, dia tidak bisa setia hanya pada Viona dan masih mencintai Amanda.

__ADS_1


Perasaannya terlalu rumit jika dijelaskan. Yang pasti dia ingin Viona selalu dalam genggamannya dan bisa menuruti semua perkataannya. Itu sudah cukup. Marshal hanya ingin Viona selalu bersamanya.


__ADS_2