Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Membujuk Michelle


__ADS_3

"Sebelum meminta Viona, kamu berjanji akan membahagiakannya. Akan menjaganya. Tapi ...," Heru memandang Marshal dengan kecewa dan marah. "kamu malah mengkhianatinya?"


Hanya menunduk dengan tubuh yang sangat tegang. Berhadapan dengan sikap tenang nan mencekam dari mertuanya membuat Marshal kesusahan bernapas.


"Sejak kapan hubungan itu terjalin? Apa ada wanita lain lagi selain wanita yang ada diberita itu?"


Marshal menggeleng dengan cepat. "Tidak, Pa. Hanya satu, itu saja," sangkalnya dengan cepat. Dia memang hanya memiliki satu wanita lain selain istrinya.


Dia mengakui hubungan itu pada Heru setelah mertuanya mendesak supaya dia mengatakan kejujuran. Sikap Heru lebih tenang daripada Wisnu saat mengetahui kebenaran itu. Sama sekali tidak ada tangan yang melayang selama mereka berbincang. Mertua Marshal tersebut cukup kuat mengendalikan emosinya. Meskipun Marshal tahu, sedari tadi Heru sudah naik pitam ingin menghajarnya. Terlihat dari tangannya yang bisa Marshal lihat beberapa kali mengepal kuat.


"Anda pikir Viona itu apa? Kenapa Anda malah menduakannya?"


Marshal tertegun mendengar kalimat yang dilontarkan Heru. Bahkan gaya bahasa mertuanya sekarang formal, seperti dulu mereka masih menjadi mitra bisnis biasa. Sebelum Marshal menjadi menantunya. Heru pasti sangat kecewa padanya.


"Maaf, Pa. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf." Marshal kembali menunduk penuh rasa bersalah. Bagaimana dia bisa mengambil kepercayaan Heru kembali? Heru sudah marah dan pasti sulit memaafkannya. Dia takut, Heru bersikap tenang saat ini, namun saat Marshal lengah, dia langsung membawa Viona pergi darinya. Tidak bisa. Marshal tidak mau. Lebih baik dia babak belur daripada harus berpisah dari istrinya.


"Untuk apa meminta maaf padaku? Harusnya meminta maaf pada Viona!" hardik Heru dengan tajam. Dia sangat marah saat ini. Viona putri satu-satunya yang dia punya. Tidak rela mengetahui anaknya dipermainkan seorang pria yang sialnya malah pilihannya sendiri.


Kepala Marshal mengangguk pelan. Merasakan aura mencekam dari Heru, dia tidak berani menatap mata mertuanya. Sebelumnya dia bahkan berkuasa dan sangat akrab dengan Heru sebagai mitra bisnis. Tetapi, setelah dia menikahi Viona, rasa segan Marshal terhadap Heru semakin besar. Dia sangat menghormatinya bukan sebagai mitra bisnis, melainkan sebagai seorang ayah. Tapi kini, ayah dari istrinya itu sudah kecewa dibuatnya.


"Aku akan meminta maaf pada Viona, Pa. Aku sud-"


"Baru akan?" Heru tersenyum sinis. Mengalihkan pandangan ke samping serta menggeleng. "Berita muncul di permukaan sudah dua hari. Sudah tentu Anda melakukan perselingkuhan itu telah lama, kan? Tapi, dengan santainya Anda bilang baru akan meminta maaf? APA ANDA TIDAK MERASA BERSALAH SEBELUMNYA?" bentak Heru diakhir kalimat.


Marshal sampai terperanjat. Degup jantungnya semakin tidak karuan. Keringat sudah merembes di pelipis. Kemarahan Heru akhirnya meluap juga.


Ditatapnya wajah sang mertua dengan sendu. Tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa meminta maaf untuk saat ini. Tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan. Marshal kembali mengucapkan maaf dengan sungguh-sungguh. Namun, Heru malah mengacuhkannya.


"Sekarang Viona di mana?"


Mulanya Marshal terdiam. Mendengar nada bicara Heru yang terasa dingin, dia semakin ketakutan. Jika Heru tahu Viona berada di di rumah orangtuanya Marshal, dia takut Heru akan pergi ke sana dan membawa Viona untuk menjauh. Meskipun banyak ketakutan, Marshal tetap menjawabnya karena Heru tidak henti memandanginya dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.


"Viona di kediaman Atma, Pa. Dia dibawa oleh orangtuaku ke sana," jawabnya ragu-ragu.


Heru menganggukkan kepala. "Bagus jika kalian menjauh. Beritahu tuan Atma, ayah Viona akan menemuinya nanti malam!" Kemudian dia beranjak dari sana.


Marshal termangu di tempat melihat kepergian mertuanya. Begitu tersadar, tubuhnya langsung merosot di sofa. Apa yang akan terjadi selanjutnya, setelah Heru berkata seperti itu? Apa Heru akan membawa Viona untuk pulang? Jika Heru bertemu dengan Wisnu, maka lengkaplah sudah dua kepala keluarga itu akan bersatu mengumpulkan kekuatan untuk mengintimidasinya.


***


"Cepatlah! Aku harus segera bertemu Viona sebelum mertuaku menemuinya."


"Iya, Tuan." Dengan setengah berlari Rio mengiringi langkah Marshal yang sudah tidak sabaran.

__ADS_1


Setelah Heru pergi, Marshal segera mengajak Rio untuk menemui Viona. Dia harus secepat mungkin bertemu dengan Viona dan membicarakan banyak hal pada istrinya.


Sidang dadakan akan dimulai nanti malam. Berbagai kemungkinan besar akan terjadi. Marshal harus lebih cepat mengambil langkah. Satu-satunya jalan untuk menyelesaikan semua ini berada di tangan Viona. Keputusan Viona akan menjadi tolok ukur dua keluarga dalam mengakhiri semuanya. Entah pernikahan itu akan bertahan atau malah akan berakhir. Marshal harap pernikahannya tidak akan berakhir. Dia tidak akan pernah siap kehilangan Viona.


"Tapi, Tuan ... bagaimana kita akan menemui, nyonya? Tuan besar pasti-"


"Aku tahu. Makanya cepat cari cara untuk bisa menemuinya!"


Rio bersungut-sungut di belakang Marshal. Memandangi punggung majikannya dengan sangat kesal. Kenapa harus dia yang mencari cara? Rio kira Marshal sudah punya cara sendiri sebelum dia mengajaknya pergi. Ternyata majikannya tetaplah majikannya.


Menyusahkan!


Mereka sudah berada di dalam mobil. Tapi, Rio belum juga mengemudikannya karena dia masih ragu. Dia bingung, bagaimana caranya supaya mereka bisa menemui Viona, sedangkan Wisnu masih menjaga rumahnya dengan ketat supaya tidak dimasuki oleh Marshal.


"Kenapa? Cepat jalan!"


Rio melirik Marshal dari kaca spion tengah. "Bagaimana cara kita menemui nyonya, Tuan?"


Marshal mendengus. Memandangi Rio tajam. "Pikirkan caranya sendiri! Aku tidak mau tahu, pokoknya aku mau menemui istriku sekarang juga."


Perlahan mobil mulai melaju. Selama mengemudi, otak Rio berputar mencari solusi. Yang membuat masalah Marshal, yang sedang dalam keadaan terancam, Marshal dan yang sedang diratapi masalah rumah tangga juga Marshal. Tapi, kenapa dia yang repot?


"Nona Michelle, Tuan." Akhirnya Rio menemukan ide untuk bisa menemui Viona.


"Maksudnya?"


Marshal mengerutkan kening mendengar usulan Rio. "Tapi, Michelle tidak mungkin mau. Lagian, jam segini dia masih sekolah."


"Satu jam lagi jadwal nona Michelle pulang, Tuan. Kita bisa menemuinya di sekolah."


"Dia tidak mungkin mau. Semua keluargaku sedang memusuhiku, Yo, kamu tahu sendiri, kan?"


Asisten yang sedang menyetir itu menghela napas. Kembali memutar otak untuk bisa mempertemukan Marshal dengan istrinya tanpa sepengetahuan Wisnu.


"Sogok nona Michelle, Tuan. Yang saya tahu, adik Anda itu sangat suka memeras harta kakaknya."


Marshal menyeringai. Apa yang Rio katakan memang benar. Michelle suka memerasnya, dia pasti bisa membuat Michelle tunduk padanya. Tapi, senyuman itu luntur seketika. Dia tidak yakin bisa membujuk Michelle. Semua keluarganya sedang tidak bisa diajak bicara baik-baik untuk saat ini. Marshal yakin, Michelle juga pasti sangat membencinya. Tidak mungkin bisa diiming-imingi hadiah untuk saat ini.


"Dicoba saja dulu, Tuan. Hanya itu caranya nyonya bisa keluar dari rumah. Tuan besar tidak mungkin melarangnya untuk pergi bersama nona Michelle."


Akhirnya mereka memutuskan untuk menjemput Michelle di sekolahnya. Lama menunggu, akhirnya sang adik kesayangan berjalan melewati mobilnya. Marshal keluar dan langsung menarik tangan Michelle untuk masuk ke dalam mobilnya.


Michelle sangat kaget. Mencoba berontak, tetapi tidak bisa melawan tenaga Marshal yang membawanya seperti seorang penculik. Dengan marah Michelle memaki dan memukul kakaknya.

__ADS_1


"Breng**k, lepaskan!"


Michelle meronta-ronta. Dia sudah didudukan di kursi penumpang. Di sampingnya Marshal siaga menahan. Kedua tangan Michelle dicengkram dengan kuat oleh Marshal hingga Michelle tidak bisa melakukan pemukulan lagi padanya.


"Tidak, Michelle. Diam dulu! Kakak mau bicara baik-baik sama kamu."


"Mau apa? Aku tidak punya kakak breng**k sepertimu," sarkas Michelle dengan keras.


Marshal sampai menghela napas dalam menghadapi sikap adiknya. Michelle biasanya sangat manja terhadap Marshal, tetapi sekarang dia sudah membencinya. "Chelle, dengankan dulu kakak!"


"Aku tidak mau! Lepaskan aku! Aku mau pulang."


Kakak laki-lakinya itu menggeleng tegas. Michelle menjerit dengan keras. Dia sudah sangat benci pada kakaknya itu. Dia kira Marshal bisa menjadi suami yang baik bagi Viona yang sudah sangat Michelle sayangi sebagia kakaknya. Dengan tega hatinya, Marshal malah menduakannya. Di mana pikiran kakaknya itu? Viona kurang apa sampai dia nemplok pada wanita lain? Michelle rasa Viona wanita sempurna. Selama dia meengenalnya, Michelle sama sekali belum pernah melihat kekurangannya. Di mata Michelle, Viona adalah wanita paling baik yang pernah dia kenal. Tapi sayang, suaminya yang kurang ajar ini malah menyia-nyiakan kesempurnaan itu dengan melirik wanita lain.


"Oke, aku akan dengarkan. Tapi, lepaskan dulu!"


Marshal pun melepaskkan cengkramannya dari tangan Michelle. Baru dia akan membuka mulut untuk bicara, satu tamparan mendarat mulus di rahangnya.


Plak!


"Brengsk!" maki Michelle tepat di depan wajah Marshal yang terdiam. Sebenci itukah Michelle padanya sekarang, sampai dia sudah berani menamparnya. "Bilang! Apa yang kakak katakan?"


Meskipun terasa panas, Marshal tidak mengusap pipinya. Dia cukup sadar diri dengan apa yang telah dilakukannya. Semua penyiksaan memang pantas untuknya. Dia tidak akan marah jika Michelle sekarang menamparnya, tetapi dia tidak akan rela jika Michelle terus membencinya. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga. Marshal tidak mau hubungan keluarganya putus begitu saja. Makanya, dia harus bisa memperbaiki semuanya dengan cepat.


"Chelle, bantu aku untuk menemui istriku!" mohon Marshal dengan sungguh-sungguh. Memandangi Michelle penuh harap.


Adiknya itu malah menatap tajam. "Untuk apa? Bukannya kakak sudah lupa dengan istrimu yang cantik dan baik itu?"


Suami Viona menggeleng. "Mana mungkin aku lupa. Please, Chelle, bantu aku untuk bisa bertemu dengannya!"


Tidak peduli dengan siapa dia berhadapan. Marshal menangkup kedua tangan di depan dada. Memohon pada adiknya yang terlihat melongo. Tidak percaya dengan tingkah kakaknya.


"Aku mohon, Chelle! Cuma kamu yang bisa bantu aku."


Michelle terdiam memandangi Marshal. Entah mengapa emosinya menguap begitu saja melihat apa yang Marshal lakukan di depannya. Marshal orang terhormat, meskipun kelakuannya bejat. Tapi, dia tidak menyangka jika Marshal akan memohon sejauh itu di hadapan adiknya. Tatapan sendu penuh harap yang memancar dari matanya, sungguh membuat Michelle tidak tega. Sekali lagi dia melihat mata kakaknya, menyelam ke dalam sana. Marshal sungguh serius dengan ucapannya yang ingin menemui Viona.


"Chelle, kakak akan berikan apapun yang kamu mau, asal kamu mau bantu kakak bertemu Viona." Marshal menundukkan kepala. Menyandarkan punggung dengan lemah. "Aku ingin bicara dengannya, Chelle. Dua hari tiga malam aku tidak bisa melihatnya. Tidak bisa bicara padanya. Aku tersiksa, Chelle. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya."


Michelle terdiam memandangi wajah frustasi kakaknya. Terlihat sekali jika ucapan kakaknya itu tulus dari hati. Sepertinya memang murni, Marshal mengatakan rasa tersiksanya berjauhan dengan Viona. "Itu memang pantas kakak dapatkan sebagai hukuman."


Marshal menatap Michelle dalam. Dia harus bisa membujuk Michelle secepatnya. "Aku tahu aku salah, Chelle. Makanya mau meminta maaf pada istriku. Jika terus dijauhkan seperti ini, kapan kita bisa bertemu? Kapan aku bisa bicara dengannya? Kapan aku bisa meminta maaf padanya?" Michelle terdiam kembali. Perasaannya jadi tidak karuan melihat Marshal. "Aku mohon, Chelle, bantu aku bertemu dengannya! Apapun akan kakak berikan jika kamu mau membantu."


Cukup lama Michelle terdiam. Suasana terasa hening di dalam mobil yang masih terparkir di parkiran sekolah. Rio berdiri di luar. Menyandari di kap mobil. Dia tidak ikut campur urusan kakak dan adik itu, meskipun pertemuan mereka berkat idenya. Biarkan saja Marshal berusaha mengambil kembali kepercayaan keluarganya. Semua masalah dia yang buat, Marshal harus bisa menyelesaikannya.

__ADS_1


"Oke, baik. Tapi kali ini aja. Awas kalo kakak malah menyakiti kak Viona lagi!"


Marshal tersenyum senang. Memeluk Michelle dengan erat. Keinginannya untuk menemui Viona akan segera terlaksana. "Apapun yang kamu mau, akan kakak berikan. Kakak janji tidak akan menyakitinya, hanya bicara baik-baik saja!"


__ADS_2