
Part yang lumayan panjang.
Khusus Sweet part😜
______________________________________
"Nyonya, Tuan sudah pulang."
Viona menghentikan tangannya yang sedang menyiram bunga di taman belakang. "Tolong lanjutkan!" ucapnya menyerahkan pekerjaan pada Erni.
Dengan tergesa Viona berjalan menuju pintu utama. Terlihat Marshal baru akan masuk dan mengucapkan salam di luar pintu.
Viona yang belum sampai, menyahuti dari kejauhan. "Waalaikumsalam." Viona terburu-buru menghampiri. Dia tersenyum pada Marshal yang malah terdiam melihat Viona mendekat padanya.
Tanpa bicara, Viona segera meraih tangan Marshal untuk dia cium punggung telapak tangannya hingga Marshal kembali termagu mendapat perlakuan manis itu.
Setelah mencium tangannya, Viona mendongak menatap Marshal sambil tersenyum. Mereka saling berpandangan dalam diam.
Rio yang belum bisa masuk karena terhalang Marshal, dia hanya diam memperhatikan keduanya. Hatinya senang karena interaksi kedua majikannya sudah terlihat hangat. Dan Rio amat sangat bersyukur karena itu artinya hubungan Marshal dan Viona semakin membaik.
"Cium lagi!" suruh Marshal kembali mengulurkan tangannya pada Viona yang malah terdiam dengan bingung. Bukankah barusan dia sudah mencium tangan suaminya, kenapa Marshal malah menyuruh melakukannya kembali?
"Salim lagi!" Marshal meraih tangan Viona. Diarahkannya ke depan wajah sang istri yang masih terdiam.
Viona menatap tangan Marshal dan wajah suaminya bergantian. Namun dia menurut saja saat Marshal mengarahkan tangannya untuk dicium oleh Viona dengan terpaksa.
Setelah Viona salim untuk kedua kalinya, Marshal mendekat pada wajah Viona yang membuat Viona semakin bingung. Apa lagi yang akan Marshal lakukan?
Mereka kembali bertatapan dengan Viona yang harus menengadah melihat mata suaminya yang lebih tinggi. Mereka terdiam cukup lama tanpa ada suara. Terlihat keraguan dari mata Marshal dan Viona bingung mengartikan tatapannya.
"Kenapa, Tuan?" tanya Viona dengan pelan tanpa melepas pandangan.
Marshal masih terdiam. Hatinya tergerak untuk membalas perlakuan manis dari sang istri namun dia ragu.
"Ehem, keningnya belum," celetuk Rio memecah keheningan. Rio masih ingat dengan kejadian tadi pagi. Dan sekarang dia jengah sendiri melihat majikannya saling bertatapan seperti itu. Di depannya yang tidak memiliki pasangan.
Marshal berdehem kecil mendengar ledekan Rio. Dia jadi salah tingkah dan segera merangkul pundak Viona. Diputarnya tubuh sang istri, Marshal berjalan sembari merangkul pundak Viona dari samping dan meninggalkan Rio yang masih senyam-senyum di ambang pintu.
Sampai menaiki tangga pun, rangkulannya tidak ia lepaskan. Viona hanya diam menerima perlakuan Marshal. Namun dia terkejut dan menghentikan langkahnya saat Marshal mencium puncak kepalanya dua kali.
Viona yang kaget menatap Marshal dengan tajam, sedang yang di tatap malah tersenyum. "Kenapa? Kurang?" goda Marshal dengan kerlingan mata.
Viona mendengus. Bukan kurang, hanya tidak suka saja jika dicium sembarangan.
"Ayo, ke kamar! Kenapa malah diam?"
Viona tetap diam. Dia memandang Rio yang sudah masuk ke dalam rumah. Dan saat melewati tangga, Rio tersenyum geli melihat majikannya yang masih berdiri di sana.
"Nanti aku kasih lebih di kamar. Di sini malu kalo ada orang lewat," bisik Marshal yang langsung mendapat pukulan kecil di dadanya.
Viona jadi merona mendengarnya. Kenapa Marshal jadi omes seperti ini? Bagaimana jika para pekerja mendengarnya?
Marshal terkekeh melihat istrinya cemberut. Dia senang jika menggoda Viona seperti itu. "Sudah, ayo naik! Aku mau mandi," ucap Marshal menarik tangan Viona untuk kembali menaiki tangga.
Sesampainya di kamar, tak hentinya Marshal memperhatikan Viona hingga istrinya berpaling pandang, merasa risih.
__ADS_1
Guna menghilangkan kecanggungan, Viona segera masuk ke dalam kamar mandi. Menyiapkan perlengkapan mandi untuk suaminya yang ternyata malah mengikuti dari belakang membuat Viona terperanjat kaget. Namun, segera Viona merubah raut wajahnya dan tersenyum pada Marshal yang berdiri sambil menyandarkan punggung pada tembok dengan kedua tangan dilipat di dada, memperhatikan gerak gerik istrinya.
Saat Viona akan lewat hendak keluar, tangannya dicekal oleh Marshal. Viona kembali berbalik mengahadap suaminya dengan bingung. "Kenapa, Tuan?" tanya Viona lembut.
Marshal terdiam memperhatikan wajah cantik istrinya. Ucapan Rio tiba-tiba terngiang dalam otaknya.
"Nona itu istri baik, ya, Tuan. Sampai mau mengantarkan makan siang ke kantor. Sangat perhatian sekali pada Tuan. Sepertinya Nona tidak mau Tuan telat makan atau harus kerepotan makan di luar. Tuan beruntung bisa memiliki nona."
Viona semakin bingung saat tatapan Marshal tidak berpaling darinya bahkan tidak berkedip sama sekali.
"Tuan, ada lagi yang harus saya laku-mmmhh," ucapan Viona tertahan karena Marshal menciumnya dengan tiba-tiba. Dia berusaha keras berontak supaya terlepas. Namun, Marshal malah memeluk pinggangnya dengan tangan kiri dan tengkuknya ditahan dengan tangan kanan Marshal untuk memperdalam ciuman.
Viona tidak hentinya memukul dada Marshal. Namun, tidak dihiraukan oleh suaminya yang malah semakin liar menikmatinya dengan terpejam.
"Argh!" Marshal langsung mundur hingga terlepas dari istrinya. Mengusap kaki yang barusan Viona injak dengan kuat dia menatap Viona tajam. Berani sekali Viona menyiksa Marshal seperti itu. "Kenapa diinjak?"
Wajah Viona sudah merah. Antara malu juga marah dengan perlakukan Marshal. Tapi, sekarang dia malah merasa bersalah melihat Marshal yang meringis kesakitan. "Maaf, Tuan, maaf." Viona segera berjongkok dan mengusap kaki kiri Marshal yang barusan dia injak.
Marshal mendengus. Namun, kemudian dia menyeringai. "Argh, sakit," ringisnya membuat Viona semakin merasa bersalah.
"Maaf, Tuan. Habisnya Tuan, sih ...." Viona langsung berdiri karena pundaknya ditarik oleh Marshal yang tidak suka istrinya malah menyalahkan dirinya.
"Salah aku apa? Kenapa kamu menginjakku?" ucap Marshal dengan marah.
Viona menatap Marshal dengan tajam. Dia kesal karena Marshal bersikap biasa saja tanpa merasa bersalah sama sekali. "Tuan!" bentak Viona yang entah mengandung makna apa.
Marshal hanya terdiam. Pura-pura tidak menyadari kesalahannya dan malah kembali meringis. Mengangkat kaki kirinya dan mengusap bagian yang tadi dilindas oleh istrinya. "Shh, kenapa sakit sekali?" lirih Marshal, menunduk sambil mengusap kakinya.
Viona yang semula terlihat marah mulai melunak, tidak tega melihat Marshal kesakitan karenanya. Padahal injakan Viona tidak begitu kuat sampai mematahkan tulang. Tapi, melihat ringisan Marshal, tetap saja dia tidak tega. "Maaf," lirih Viona ikut mengusap kaki Marshal.
"Maaf, maaf ..., ini sakit," kecam Marshal dengan ketus. Viona semakin tidak enak melihatnya. Tapi hatinya mencibir, apakah sesakit itu? Padahal injakannya tidak terlalu kuat.
"Kemari!"
Viona yang kembali setelah menyimpan handuk bekas Marshal ke ruangan dekat kamar mandi, segera menghampiri Marshal yang tengah duduk di tepian ranjang.
"Ada apa, Tuan? ... argh, Tuan!" Marshal langsung menarik pinggang Viona hingga duduk di pangkuannya. Viona yang terkejut, sontak kembali bangun. Namun, Marshal menahannya.
"Diam dulu!" ucap Marshal lembut namun jelas itu perintah keras yang tidak bisa dibantah. Mau tidak mau Viona menurut tanpa mau melihat wajah suaminya.
"Tatap aku!" Marshal paling tidak suka jika diacuhkan. Namun, bukannya menurut, Viona malah mendengus tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku memintamu menjadi dirimu sendiri bukan berarti kamu bisa membantahku, kan?" lanjut Marshal penuh penekanan.
Marshal sekarang mengerti dengan perubahan Viona yang menurutnya mulai tidak biasa. Seperti mencium tangan suami saat berangkat dan pulang, juga tentang makan siang tadi.
Marshal menyadari hal itu karena setelah semalam Viona mengatakan ingin menjadi dirinya sendiri, gadisnya itu jadi banyak bicara dan bahkan mau menanyakan hal tentang Amanda. Padahal sebelumnya Viona sama sekali tidak suka banyak bicara jika Marshal tidak mengajaknya bicara. Sekalipun diajak bicara, Viona selalu menjawab dengan seadanya.
Tapi berbeda dengan hari ini. Sikap Viona yang Marshal tahu sebelum menikahinya, kini mulai terlihat lagi. Marshal senang melihatnya, tapi bukan berarti dia suka Viona membantahkan bahkan mengacuhkannya begitu saja.
"Tatap aku!" Dengan terpaksa Viona memandang wajah tampan Marshal yang hanya berjarak beberapa senti di depannya. Bahkan hembusan napas Marshal bisa dia rasakan. Viona jadi gelisah sendiri. Dia tidak tenang. "Menjadi diri sendiri bukan berati kamu bisa bersikap seenaknya padaku. Aku suamimu. Menuruti apa kata suami itu, tetap hal yang harus kamu patuhi!" ucap Marshal dengan lembut. Memandang nerta bening istrinya dengan intens.
Viona jadi menunduk, tidak berani menatap mata Marshal. Berada sedekat ini saja membuatnya tidak tenang apalagi jika harus menatap mata suaminya dengan waktu lama. Tapi wajahnya tidak lama berada diposisi itu karena Marshal mengangkat dagunya hingga mereka bisa bertatapan.
Hal itu tidak baik untuk kerja tubuhnya. Dia ingin menghindarinya tapi tidak bisa. Tatapan Marshal sudah mengunci arah pandangnya.
"Terima kasih." Marshal mengusap rambut indah Viona dengan tangan kanannya. Sedang, tangan kirinya merangkul pinggang Viona supaya tidak jatuh atau terlepas darinya.
__ADS_1
Viona memandang Marshal dengan alis yang bertaut dengan bingung. "Untuk apa, Tuan?"
Marshal malah tersenyum membuat Viona semakin bingung dengan tingkahnya. Dan ingin segera menjauh dari makhluk berbahaya berstatus suaminya tersebut.
"Kenapa kamu mengirimkan makan siang untukku?" tanya Marshal yang malah mengabaikan pertanyaan istrinya.
Oh, makan siang, ucap Viona dalam hati.
"Tumben. Dalam rangka apa? Padahal aku tidak memintanya," ucap Marshal lagi. Tangan kanannya masih asyik memainkan rambut Viona dan tatapan matanya fokus melihat wajah cantik istrinya yang mulai terlihat tidak enak karena merasa risih dengan perlakuannya.
Bahkan, tangan Viona sudah gatal untuk mematahkan tangan Marshal yang seenaknya itu jika dia tidak ingat siapa Marshal.
"Kenapa?" tanya Marshal lagi dengan nada terdengar seperti bisikan tepat di depan wajah istrinya.
Viona jadi meremang mendengar nada suaranya. Dia jadi gugup. Namun, dengan segera menetralkan reaksi tubuhnya. "Memangnya kenapa, Tuan? Apa Tuan tidak suka? Jika tidak suka, saya tidak akan melakukannya lagi."
Marshal menggeleng dengan cepat. Dia tersenyum dan mencium bibir Viona sekilas. Dia malah tertawa saat Viona yang geram juga terkejut malah memukulnya. Rada sakit memang. Pukulan Viona memang lumayan bertenaga karena marah dengan perlakuan Marshal yang seenaknya.
"Bukan, bukan aku tidak suka. Hanya heran saja. Tidak biasanya kamu melakukan itu ...," ucap Marshal setelah tawanya mereda, "dan lagi, kamu melakukannya tanpa diminta olehku."
Viona mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ingin rasanya dia membunuh Marshal sekarang juga jika tidak takut dosa. Perasaan kesal terhadap perlakuan Marshal hari ini membuatnya jengkel dan naik darah. Hingga dia tidak berminat menggubris ucapan suaminya sendiri.
"Jadi, kenapa? Dalam rangka apa?" tanya Marshal lagi. Dia sudah mulai geram melihat istrinya yang hanya diam saja dan bahkan sesekali menggeliat minta dilepaskan. Namun, Marshal sekuat tenaga menahannya. "Bicara!" desak Marshal yang mulai menaikkan nada bicaranya.
Hela napas panjang. Viona menatap Marshal dengan nanar. "Apa saya tidak boleh melakukan itu untuk, Tuan?" tanya Viona dengan ketus. "Apa salah jika saya melakukannya karena kewajiban sebagai seorang istri? Saya hanya tidak ingin Tuan repot harus makan siang di luar atau bahkan telat makan. Saya hanya sedikit memperhatikan Tuan apa itu salah? Apa saya harus meminta izin dulu pada Tuan jika saya akan melakukan suatu kebaikan? Iya?"
Viona berhenti bicara saat melihat Marshal terdiam. Marshal syok mendengar suara Viona yang tidak pernah dia dengar setelah menikahinya itu. Memang Marshal pernah mendengar suara tajam lebih dari ini keluar dari mulut Viona, saat mereka belum menikah.
Tapi, kasusnya berbeda. Marshal sampai tidak percaya jika Viona malah mencercanya seolah dia yang salah. Padahal Marshal hanya bertanya dengan baik-baik mengenai keheranannya. Tapi, respon Viona diluar ekspektasinya.
Sadar ada yang salah dari ucapannya, Viona jadi salah tingkah saat sorotan mata suaminya mulai berbeda. Dia segera menetralkan dirinya sendiri. Memandang Marshal dengan lembut. "Saya hanya ingin memperhatikan pola makan Anda, Tuan. Saya memang salah. Seharusnya saya meminta persetujuan Tuan dulu sebelum melakukannya. Maaf, jika Tuan tidak suka. Tapi, itu murni karen-"
"Sst, aku ngerti. Kamu gak salah." Marshal tersenyum.
Viona gelagapan saat ucapannya terhenti karena jari telunjuk Marshal yang singgah di depan bibirnya. Dia jadi salah tingkah dan batinnya selalu mencibir supaya Viona menolak perlakuan Marshal. Tapi, tubuhnya malah terdiam dengan kaku. Padahal apa yang Marshal lakukan bisa membahayakannya.
Marshal senang sekali mendengar penjelasan Viona. Dia merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung bisa diperhatikan istrinya seperti itu. Ternyata benar kata Rio, dia memang beruntung menikahi Viona. Belum lama menikah saja, Viona sudah berguna menjadi seorang istri yang baik.
"Kamu tahu dari mana aku suka telat makan siang?" tanya Marshal. Mengalihkan jarinya dari bibir tipis Viona yang amat sangat menggoda itu.
"Dari Rio," ucap Viona dengan pelan. Suaranya terdengar gugup.
"Sudah kuduga," gumam Marshal.
Memang siapa lagi yang tahu kebiasaannya yang satu itu? Dan yang memberitahu Viona sudah pasti Rio. Di rumah itu tidak ada yang berani membicarakannya pada Viona jika bukan Rio. Yang memang Marshal tahu, Viona dan Rio terlihat akrab di belakangnya.
"Apalagi yang Rio katakan padamu?"
Viona memandang Marshal bingung. Tapi menjawab juga dengan seadanya. "Tuan suka menyepelekan jam makan siang jika sudah fokus dengan pekerjaan. Jarak dari kantor ke restoran yang Tuan inginkan juga kadang jadi alasan Tuan menunda-nunda waktu untuk makan."
Marshal tersenyum. Ucapan istrinya memang benar. Kenapa juga Rio harus mengatakan hal sepele seperti itu pada istrinya? Tapi sekarang dia tidak akan menyebut itu hal sepele lagi, karena dengan mengetahui hal itu, perhatian Viona tertuju padanya
"Makasih. Tapi, kamu tidak perlu melakukan itu."
"Tuan tidak suka saya melakukan itu? Saya tidak akan melakukannya lagi."
__ADS_1
Marshal segera menggeleng. Istrinya salah menafsirkan. "Bukan begitu," ralatnya, "aku menyukainya. Aku senang kamu melakukan itu. Mulai besok aku akan membawa bekal buatanmu lagi supaya kamu tidak perlu meminta Egi untuk mengantarkannya."
Viona tertegun. Dia kira Marshal tidak suka dengan perlakuannya.