
Viona berjalan ke arah pintu utama rumah Wisnu. Dia akan menemui pengawalnya yang tempo hari diperintah oleh Marshal untuk menjaganya saat Marshal berada di luar kota. Viona sendiri heran, kenapa mereka masih mengikutinya bahkan sampai ke rumah Wisnu. Tapi, dua pengawal itu hanya bilang, mereka belum diperintahkan berhenti untuk mengawal oleh Marshal.
Dia akhirnya hanya acuh saja. Pikirnya, Marshal mungkin memang sengaja masih mempekerjakan mereka untuk tetap mengawasinya. Karena Marshal tidak bisa masuk ke rumah orangtuanya. Sedangkan dua pengawal itu dibolehkan oleh Wisnu karena Viona juga yang memaksa supaya Wisnu mengizinkan mereka berada disekitarnya. Wisnu mengizinkan dengan syarat tidak boleh menemui Marshal dengan pelantara mereka.
Viona tidak tahu kenapa Wisnu sangat ketat menjaganya jauh dari Marshal. Perlakuan Wisnu seolah dia adalah ayahnya Viona. Setelah tahu perbuatan anaknya, Wisnu sama sekali tidak pernah membela Marshal, melainkan malah membela Viona terus-terusan.
"Aku minta tolong, besok bawakan barangku di rumah Tuan! Aku harus mengerjakan skripsi tapi laptop sama bukunya di rumah Tuan," ucapnya pada dua pengawal yang menunduk, menerima perintah darinya.
Entah sampai kapan dia tinggal di sana. Jadi, dia mungkin bisa mengerjakan skripsi di rumah mertuanya saja. Selama menunggu bisa kembali ke rumah Marshal.
Terpaksa Viona meminta bantuan mereka karena dia sama sekali tidak diizinkan untuk keluar rumah oleh Rahma dan Wisnu. Benar-benar terkurung. Mereka takut Viona bertemu dengan Marshal, karena mereka belum bisa membolehkannya. Entah apa alasannya, Viona hanya menurut saja.
Jika ada yang ingin dia sampaikan pada Marshal, Viona selalu bilang pada dua pengawalnya. Dia harap mereka bisa menyampaikannya dengan benar. Karena jujur, dia sudah mulai jengah berada di rumah itu. Dia ingin segera lari dari sana jika bisa.
Menghadapi mertuanya yang terus saja membahas masalahnya dengan Marshal, membuat Viona cukup kebingungan. Selama di sana, Viona benar-benar dijauhkan dari Marshal. Untuk sekadar berkomunikasi pun tidak bisa. Padahal banyak hal yang ingin Viona katakan pada suaminya. Dia ingin keluar dari keadaan yang mendesaknya itu.
***
Marshal berdecak kesal. "Kenapa tidak diangkat-angkat?" geramnya.
Sudah berpuluh-puluh kali dia mencoba menghubungi kembali istrinya, tetapi tidak diterima juga oleh Viona.
"Sudahlah, Tuan. Percuma menelepon terus, nyonya tidak akan mengangkatnya."
Marshal menatap tajam pada Rio yang sedang duduk sambil menonton televisi. Dengan santai asistennya berucap dan memakan sebuah apel merah ditangannya.
Marshal kembali menekan nomor Viona. Tapi, tetap saja tidak mendapat jawaban. Dengan kesal dia melemparkan ponselnya ke atas meja. Rio sampai terperanjat kaget dan segera menoleh ke arah majikannya.
"Kenapa dia jadi begini? Apa dia juga mau memusuhiku, sekarang?" Marshal duduk di sofa dengan sekali hempasan. Perasaan kesalnya semakin tidak tertahankan. Dia ingin berbicara dengan Viona, tetapi istrinya sangat susah diajak bicara. Semua pesan dan panggilannya sama sekali tidak mendapat respon.
"Aku pinjam sebentar." Marshal mengambil ponsel Rio yang tergeletak di atas meja.
__ADS_1
"Untuk apa, Tuan?"
"Menelepon istriku. Mungkin jika menggunakan nomormu, dia akan mengangkatnya." Marshal mulai mencari nomor istrinya. Tapi, tidak ketemu. Dia menyerahkannya pada Rio untuk mencarikan. Setelah menemukan nomor istrinya, dia langsung melakukan panggilan.
Panggilan pertama tidak mendapat jawaban. Dia mencoba lagi. Hasilnya tetap sama sampai panggilan ke lima.
"Dia ini kenapa, sih? Kenapa tidak kunjung mengangkat panggilannya?" Memperhatikan nomor Viona di layar ponsel Rio dengan kesal.
"Handphone nyonya dipegang sama nyonya besar. Jadi, tidak mungkin ada yang mengangkat panggilannya."
Marshal menoleh cepat pada Rio. Alisnya terangkat. "Kenapa kamu bicara seperti itu?" Rio hanya mengangkat bahu dengan acuh sambil terus memakan apel ditangannya.
Marshal pun kembali menghubungi nomor Viona lewat ponsel Rio. Tidak terlalu memikirkan ucapan asistennya. Mungkin Rio hanya asal bicara. Rio tahu apa tentang Viona. Setiap saat dia selalu bersama dengan Marshal. Mana mungkin Rio tahu informasi melebihinya.
Marshal kembali berdecak. Mengembalikan ponsel pada pemiliknya. "Tetap tidak diangkat. Dia itu sedang apa, sih? Kenapa tidak mengangkat semua panggilan?"
"Nyonya sedang kebingungan, Tuan," sambar Rio dengan tenang. Pandangan matanya masih fokus pada televisi. Mulutnya asyik mengunyah.
"Bukan karena itu, Tuan. Tapi, nyonya sedang bingung memikirkan skripsinya. Semua barang nyonya di sini. Bagaimana nyonya mau mengerjakan skripsinya? Yang saya tahu, sepertinya besok nyonya akan menyuruh orang untuk mengambil laptop dan barang lain ke sini."
Marshal mencibir pelan. Melemparkan bantal sofa pada Rio. Dia sedang serius, tapi Rio malah melantur. "Sok tahu, kamu."
"Tuan, dibilangin gak percaya."
Marshal kembali mencibir. Daripada dia meladeni omong kosong Rio, lebih baik dia mencoba menghubungi Viona lagi. Tapi, panggilannya tidak kunjung mendapat respon.
"Percuma Tuan menghubungi ratusan kali pun, panggilannya tidak akan ada yang menerima. Saya sudah bilang, handphone nyonya dipegang sama nyonya besar." Dengan santai Rio memakan apelnya kembali. "Saya sebenarnya tahu-"
"Tahu apa kamu?"
Rio berdecak. Mengunyah gigitan apel sebentar sebelum bicara. "Saya," Dia menelan dulu. "dapat laporan dari orang suruhan-"
__ADS_1
"Suruhan siapa?"
Marshal mulai tidak sabaran. Memotong terus membuat Rio menggeram dan menyimpan apel yang tinggal separuh dia atas meja. "Apa saya boleh menjelaskannya, Tuan?" ucapnya semanis mungkin. Bagaimana dia mau menjelaskan jika Marshal terus saja menyela ucapannya.
Akhirnya Marshal diam. Mendengarkan ocehan Rio yang menurutnya adalah omong kosong itu.
Ternyata Rio mendapatkan informasi dari orang suruhannya atas perintah Marshal tempo hari. Saat Marshal akan pergi keluar kota, dia menugaskan dua pengawal untuk menjaga Viona ke mana pun dan di mana pun. Dua pengawal itu tetap menjaga Viona sampai saat ini karena Marshal belum pernah memerintahkan mereka untuk berhenti mengawasi istrinya. Karena setelah kepulangannya dari luar kota, Marshal malah mendapat masalah besar sehingga lupa dengan hal itu.
Tanpa sepengetahuan Marshal, dua pengawal itu masih suka memberikan laporan pada Rio.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku?"
"Ya, saya kira, Tuan tidak perlu informasi itu," sahutnya cuek. Dia langsung berdiri. Harus pergi menjauh sekarang juga sebelum Marshal marah karena Rio telah menutupinya.
Rio baru akan melangkah, kaki Marshal sudah menjulur, mengait kakinya hingga Rio hampir terjatuh.
"Bodoh, kenapa tidak memberitahuku dari awal? Jika saja aku tahu, aku tidak akan sekhawatir ini padanya," bentak Marshal menatap tajam.
Rio meringis. Memandangi Marshal dengan kesal. "Jadi siapa yang bodoh, Tuan? Saya ingat dua pengawal itu, sedangkan Tuan?" Dia tidak suka dikatai bodoh oleh majikannya seperti itu. Meskipun dia hanya asisten, dia juga tidak sebodoh itu.
Marshal menatapnya tajam. Ucapan Rio sangat menyindirnya. "Aku tidak bodoh hanya lupa," elaknya tidak mau kalah dengan asistennya sendiri. "Suruh mereka terus mengawasi istriku. Eh, tapi kenapa mereka tahu semuanya? Bukankah papa menjaga rumah dengan ketat, aku saja anaknya tidak bisa masuk."
Rio menghela napas terlebih dahulu. Mau marah tidak bisa. Mau memaki takut tidak sopan. "Nyonya sendiri yang menemui mereka. Katanya, nyonya juga bicara pada mereka tentang semua hal supaya mereka bisa menyampaikannya pada Tuan."
"Lalu kenapa informasinya tidak sampai padaku, bodoh?!" maki Marshal lagi. Memandangi Rio dengan marah.
Rio mendengus pelan. Mengangkat kedua tangan di depan Marshal. "Saya resign, Tuan. Besok saya akan sekolah lagi. Tidak pantas bekerja dengan Anda. Saya terlalu bodoh," guraunya dibuat seserius mungkin.
Kemaraham Marshal semakin kentara. Mode seriusnya kacau karena asistennya itu sama sekali tidak bisa berbicara pada jalurnya. Semenyebalkan apapun Rio, dia tetap orang kepercayaan Marshal. Apapun pasti dia katakan pada Rio. Dengan terpaksa dia harus terlihat baik padanya. Takut jika Rio tidak lagi peduli dengannya.
"Jadi, apa informasi dari istriku?"
__ADS_1
Dengan terpaksa, Rio mengatakan semuanya. Emosinya harus dia relakan untuk meredam. Meladeni majikan seperti Marshal memang terkadang membuatnya darah tinggi. Belum lagi kelakuan majikannya yang menyimpang itu, Rio terkadang muak melihatnya.