
Rio masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Niatnya ingin menemui Viona. Namun Nyonya mudanya itu tidak terlihat. Dimanakah dia?
Berjalan ke ruang tamu saat melihat punggung Marshal di sana. "Maaf, Tuan. Dimana Non-eh, Tuan. Selamat siang!" Rio menganggukan kepalanya dan tersenyum saat melihat Arga. Dia tidak tahu jika Arga ada di sana.
Arga hanya tersenyum menimpali sapaan Rio. Marshal menoleh pada Rio dengan heran. Tadi Rio izin, mengatakan akan pulang ke rumahnya sampai malam, tapi kenapa jam segini dia sudah datang?
"Ada apa, Yo?" tanya Marshal.
"Itu, Tuan ... saya mencari Nona. Nona di mana, ya?" Marshal mengernyit, menatap Rio dengan tajam. "Mau apa kamu menanyakan istriku?" ucapnya dengan ketus.
Rio jadi gelagapan. Dia lupa, kenapa juga dia menanyakan Viona pada Marshal. Harusnya dia cari saja sendiri. Karena sudah terlanjur, terpaksa deh, Rio mengatakannya, "Ada hal yang harus dibicarakan."
"Membicarakan apa?"
"Nanti juga Tuan tau sendiri," ucap Rio dengan sedikit kedipan.
Marshal malah tersenyum. Tidak peduli dengan ucapan Rio. Dia tersenyum karena otaknya menangkap sinyal untuk menggunakan Rio sebagai senjatanya.
"Yo, kemari!"
Rio mendekat saat Marshal menjentikan telunjuknya. "Ada apa, Tuan?"
Marshal menarik pundak Rio untuk sedikit berjongkok supaya Marshal yang sedang duduk bisa berbisik padanya tanpa repot harus berdiri dulu.
Rio menuruti saja dengan apa yang Marshal lakukan. Dia juga penasaran, untuk apa Marshal menyuruhnya mendekat?
"Istriku ada di ruangan yang ada di halaman belakang dekat kolam. Kamu temui dia dan awasi terus gerak geriknya. Awasi kalau-kalau dia melakukan tindakan yang aneh-aneh. Jika terjadi sesuatu, kabari aku!" bisik Marshal ditelinga Rio.
Rio melirik Arga yang memperhatikan keduanya, sejenak. "Baik, Tuan," ucapnya pada Marshal sembari mengangguk. Padahal dia juga masih tidak mengerti dengan perintah Marshal. Kenapa Viona harus diawasi? Padahal dia masih berada di rumah.
Marshal bisa lebih tenang karena ada Rio yang bisa dia gunakan. Setidaknya Viona dan Sendi tidak berdua. Dari tadi Marshal sulit konsentrasi pada obrolannya dengan Arga karena pikirannya terus melayang pada Viona. Apa yang dilakukan istrinya? Mereka membicarakan apa? Pertanyaan itu selalu saja berkeliaran di dalam otaknya.
Rio baru mendekat ke ruangan di samping kolam tapi langkahnya terhenti saat ponselnya menampilkan pesan masuk. Dia terdiam dulu di sana untuk mengecek pesan yang masuk tersebut.
Setelah selesai, Rio segera melanjutkan jalannya menuju tempat di mana Viona berada.
"Non-" Rio menghentikan kembali langkahnya. Mematung di tempat. Terkejut melihat apa yang sedang dua orang itu lakukan.
Viona segera menarik tangan dari genggaman Sendi yang sedang bersimpuh di depannya. Mereka menoleh ke arah Rio berbarengan.
Terkejut melihat kedatangan Rio, berdehem sejenak menghilangkan rasa tegang, Viona bertanya, "Ada apa?"
Namun, Rio yang masih sangat terkejut dengan kehadiran Sendi, dia masih terdiam. Memandang dua manusia berbeda jenis itu bergantian.
Kenapa dia ada di sini? tanya batinnya heran.
"Rio, ada apa?" tanya Viona dengan lantang.
"Eh, itu ... em ..." Rio terkejut dengan teriakan Viona. Dia akhirnya hanya bisa tersenyum, lupa akan kabar yang akan dia sampaikan pada Viona.
"Apa?"
"Tidak jadi." Rio menggeleng dengan linglung. Pantas saja Marshal memintanya mengawasi Viona. Ternyata ada musuhnya di sana.
__ADS_1
"Aneh," gumam Viona, memandang Rio dengan heran.
Sendi hanya bisa terdiam. Apa yang bisa dia lakukan sekarang? Bersimpuh dihadapan Viona pun sudah tidak berguna karena bukannya pergi, Rio malah duduk di kursi panjang yang ada di pinggiran kolam ikan sembari memperhatikan ke arah keduanya.
"O ya, Sen, kamu mau minum apa?" tanya Viona pada Sendi yang masih terdiam. Dia harus menghilangkan rasa canggungnya. Apalagi sekarang ada Rio di sana. Viona harus menjaga sikap.
Sendi yang semula melihat kearah kolam, dia beralih menatap Viona. "Apa saja boleh," jawabnya pelan. Kemudian kembali duduk di sofa.
Sendi masih ingin bicara serius dengan Viona. Tapi, Rio yang sedang duduk di sana tidak berhenti memperhatikan mereka. Dan sudah pasti jika perbincangan mereka bisa di dengar olehnya. Terpaksa Sendi menghentikan dulu keinginannya.
Viona pergi ke dapur, mengambilkan minuman untuk Sendi.
Dia kembali dengan membawa nampan berisikan jus strawberry dan juga setoples kue keju.
Bukan Viona ingin mengingat kenangannya, tapi dia hanya ingin membuat Sendi nyaman dan bisa menikmati suguhan yang dia berikan. Dia masih ingat dengan benar jika Sendi sangat suka makanan yang dicampur keju dan juga dia suka meminum jus strawberry tanpa gula.
Sendi tersenyum senang saat Viona menyimpan nampannya di atas meja, tepat dihadapannya. Dia senang jika apa yang Viona bawakan adalah hidangan kesukaannya.
Dia masih mengingatku, batin Sendi.
Ternyata, setelah adanya kehadiran Rio, suasana halaman dekat kolam tersebut terasa lebih nyaman. Viona dan Sendi pun sudah bisa melanjutkan obrolan dengan lebih ringan, tanpa takut Rio menguping pembicaraan mereka.
***
"Benar. Tapi data terakhir yang saya terima, dana yang sudah dikeluarkan untuk proyek yang mendatang itu sudah sekitar 40 apa 48%, eh, kayaknya 46%. Eh, bukan-bukan ... aih, hadeh, saya lupa." Marshal tertawa ringan. Tidak seperti biasanya dia lupa pada data penting seperti itu.
Arga ikut tertawa. "Harus banyak refresing supaya tidak pelupa," ejek Arga dibarengi kikikan.
Marshal menutup wajah dengan satu tangan. Kepalanya menggeleng kiri kanan serta tertawa kembali. Dia malu di depan Arga, kenapa dia bisa lupa seperti itu? "Hah, biar saya bawa dulu file-nya, biar pembahasan kita tidak ngelantur karena salah data." Marshal berdiri sembari terkikik geli.
"Sialn si Rio!" gumam Marshal kesal.
Saat dia berjalan menuju ruangan kerjanya yang berada dihalaman dekat taman, dia melewati ruangan dekat kolam yang terdapat Viona dan Sendi sedang duduk berbincang. Dia kesal melihat mereka asyik bercakap berdua.
Rio?
Asisten sialn itu sedang berbaring menyamping pada kursi panjang di pinggir kolam. Telinganya disumpal dengan earphone dan tangan kanan dia lipat sebagai bantalan.
"Disuruh ngawasin malah tidur!" Marshal bekacak pinggang. Emosi sekali melihatnya.
Viona dan Sendi tidak bisa melihat kehadiran Marshal karena ruangan yang Viona tempati saat ini langsung menghadap ke kolam, sedangkan Marshal berdiri di samping ruangan itu, pinggirannya dilapisi kaca sebagai pembatas untuk jalan menuju ruangan kerja Marshal.
Marshal tetap berdiri di sana melihat punggung Viona dan Sendi yang sama-sama memandang ke arah kolam dengan pemandangan yang teramat mengesalkan karena dipinggiran kolamnya terdapat bangkai hidup sedang terlelap.
"Jangan bohong! Aku tahu kamu belum disentuh dia, kan?"
Marshal yang tadinya sudah melangkah hendak menuju ruangan kerjanya, dia urungkan saat mendengar ucapan Sendi. Dia kembali terdiam, memperhatikan istrinya. Jarak yang sangat dekat membuat telinganya bisa mendengar pembicaraan mereka.
Viona terdiam memandangi Sendi dengan lekat. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Sendi yang memang benar jawabannya itu. Kenapa juga Sendi harus mengatakan hal seperti itu?
"Tuhkan, benar. Aku tahu itu, kamu jangan bohong!"
"Tahu apa kamu?" tanya Viona dengan ketus.
__ADS_1
Sendi malah tertawa. "Aku tahu kamu masih perawan."
Viona terbelalak. Menatap Sendi dengan tajam. Bagaimana Sendi tahu akan hal itu?
"Pembicaraan macam apa itu? Mereka dari tadi membicarakan hal seperti itu?" gumam Marshal yang masih berdiri di sana. Membuka telinga lebar-lebar untuk menguping.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu?" tanya Viona.
Sendi tersenyum. Mengalihkan pandangan pada Rio yang sedang tertidur pulas. "Sejak aku melihatmu tadi, aku tahu ... karena langkahmu masih sama seperti dulu sebelum kamu menikah," ucapnya dengan pelan dan tersenyum kembali.
Viona tercengang. Apa sampai sedetail itu Sendi memperhatikannya, sampai dia tahu perubahan langkah Viona? "Apa maksud kamu, Sen? Memangnya kenapa dengan langkahku?"
Sendi malah tertawa, mengalihkan pandangan penuh pada Viona. "Viona, Viona ... kalo kamu sudah disentuh olehnya, cara berjalanmu jelas akan berbeda. Kenapa? Karena kamu ..." Sendi tidak sanggup meneruskan ucapannya. Dia senang menebak hal itu. Dan sepertinya, tebakan dia benar karena Viona sama sekali tidak menyangkal.
Sudah Sendi duga, pernikahan yang tanpa dilandasi cinta memang akan seperti itu. Dan Sendi teramat sangat senang. Viona belum seutuhnya menjadi milik Marshal. Jadi, dia masih bisa memiliki Viona sepenuhnya jika suatu saat tiba, Viona dilepaskan oleh Marshal.
"Kamu ini ngomong apa, sih, Sen?" Viona berusaha mengelak. Meskipun dia paham dan membenarkan ucapan Sendi.
Menghentikan tawanya, Sendi menatap Viona dengan lekat. Dia menyentuh tangan Viona dan menggenggamnya erat. "Kembalilah padaku, Vi! Aku tahu kamu masih mencintaiku. Tinggalkan saja suamimu itu!"
"Apa, sih, Sen? Lepas, ah!" Viona menarik kembali tangannya. Menatap Sendi dengan marah. "Aku udah nikah, Sen. Kamu jangan ganggu aku lagi! Aku sudah bahagia dengan pernikahan ini."
Sendi menggeleng. "Kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini dan tidak bisa bahagia. Kamu tidak mencintainya, Vi. Mana mungkin bisa bahagia."
"Tahu apa kamu masalah aku mencintainya atau tidak. Ini rumah tanggaku. Aku bahagia menikah dengannya."
Sendi mengangguk-anggukan kepalanya. Tersenyum dengan misterius. "Jika kamu mencintainya, kamu pasti sudah membiarkan dia menyentuhmu. Tapi kenyataannya apa? Kamu tidak bersedia menjadi istri seut-"
"Belum, Sen," potong Viona dengan tegas. "Aku tetap istrinya. Kewajibanku melayaninya. Bagaimana pun juga, dia suamiku. Dia berhak atas diriku. Udah, ah! Mending kamu pulang aja!" Viona berdiri melangkah pergi. Namun, Sendi segera menahan tangannya dengan cepat hingga Viona terhuyung dan duduk kembali.
Viona menatap Sendi dengan lelah. "Kamu mau apa lagi, Sen? Kita gak ada urusan lagi. Aku tidak mau bertemu kamu lagi. Kita tidak mungkin bisa bersama seperti dulu. Aku sudah menikah dan bahagia dengannya. Kamu jangan-"
"Akan kutunggu jandamu!"
"Apa?" Viona terbengong di tempatnya. Ucapan Sendi sangat mengejutkan dirinya.
Marshal mengumpat kasar. Tangannya mengepal di udara mendengar ucapan Sendi. "Sialin! Apa dia berpikir aku akan menceraikannya? Cih, tidak! Aku bahkan tidak akan melepaskan Viona. Dia istriku!" Sekuat tenaga Marshal menahan kakinya untuk tidak melangkah dan meninju Sendi.
Dia harus meredan emosi. Jika Sendi bukan anak dari rekan bisnisnya, sudah pasti nyawanya sudah lenyap di tangan Marshal. Tapi Marshal masih punya adab, tidak mungkin dia menyiksa Sendi.
Tapi dia sangat marah!
Sendi kembali bersimpuh dihadapan Viona. Memandangi wajahnya dengan intens. Dia mengukir senyuman semanis mungkin pada Viona. "Aku sangat mencintaimu, Viona."
"Tapi aku TIDAK!"
Sendi terdiam saat Viona membentaknya. Selalu saja dadanya berdenyut nyeri. Ucapan Viona masih menyakitinya dengan dalam. Napasnya terasa terputus saat ini juga. Pujaan hatinya ... Tidak. Sendi tetap harus berjuang mendapatkan Viona. Dia pasti mendapatkan Viona kembali. Pasti.
Marshal tersenyum penuh kemenangan dibalik dinding kaca besar itu. Melihat Sendi yang terdiam mengaku kalah dengan ucapan Viona, membuatnya berkepala besar. Dia masih punya harapan. Viona sudah pasti tidak akan kembali pada Sendi.
"Lebih baik kamu pulang. Dan jangan temui aku lagi!" ucap Viona dengan tegas saat Sendi hendak menggapai tangannya.
Marshal segera berjalan masuk ke ruang kerjanya saat melihat Viona yang berjalan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Dibalik pintu ruang kerjanya, Marshal tidak bisa berhenti tersenyum. Sendi sudah kalah sekarang. Dengan begitu, Viona akan tetap aman menjadi miliknya.