Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Tamparan


__ADS_3

"Aku antarkan, ya?"


"Tidak usah, Tuan. Saya bisa berangkat sendiri," tolak Viona lagi.


Sudah beberapa kali Marshal menawarkan diri untuk mengantarkan Viona berangkat ke kampus. Tapi, istrinya itu selalu saja menolak dan bilang, "Jika Tuan mengantarkan saya, Tuan bisa kesiangan berangkat bekerja. Lebih baik Tuan segera pulang dan berganti pakaian. Saya bisa berangkat sendiri."


Meskipun Marshal sudah bilang dia tidak apa-apa jika harus berangkat siang. Jelas itu bukan sebuah masalah besar, karena dia bosnya. Tapi Viona malah mencibirnya, "Tuan harus menjadi contoh yang baik bagi karyawan lain. Jika bosnya saja kesiangan, apa kata mereka nanti?"


Hampir habis kesabaran Marshal menghadapi sikap Viona yang terasa tidak seperti biasanya itu. Viona selalu saja melawan ucapannya. Tapi, entah kenapa Marshal justru tidak bisa membentaknya. Keinginan untuk memarahi Viona ada dalam dirinya, tapi dia tidak bisa mengeluarkannya. Dia sendiri masih bingung dengan sikap Viona yang semakin dingin padanya. Apa dia punya salah? Kenapa Viona seolah tidak menganggapnya ada?


Bahkan semalam, Marshal harus tidur sendiri karena Viona memilih tidur bersama ibunya dengan alasan, "Saya ingin menginap di sini karena ingin tidur bersama mama. Saya sangat merindukannya."


Marshal tidak bisa melarangnya meskipun tidak rela. Melihat sikap dan wajah sendunya, dia jadi tidak tega dan membiarkan Viona tidur dengan ibunya hingga Marshal tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan Viona.


Dan sekarang, sudah diperjalanan menuju kampus pun, Viona hanya terdiam. Susah payah Marshal membujuknya supaya mau diantarkan. Tapi, setelah masuk mobil dan Marshal mulai mengemudikan mobilnya, hanya keheningan yang menyelimuti. Viona sama sekali tidak bicara dan bahkan tidak sedikitpun meliriknya.


"Nanti pulangnya aku jemput." Marshal menghentikan mobilnya saat sudah sampai di depan kampus Viona.


"Tidak perlu, Tuan. Saya bisa pulang sendiri," sahut Viona yang sedang membuka sabuk pengaman.


Saat dia hendak turun, tangannya dicekal oleh Marshal. Dia menoleh sebentar. Menatap Marshal dengan datar dan melepaskan cengkraman tangan suaminya dengan perlahan. "Ada apa, Tuan?"


"Kamu kenapa?" Marshal tidak membiarkan Viona melepaskan cekalan tangannya. Dia malah semakin mengeratkannya membuat Viona meliriknya dengan kesal.


"Saya kenapa memangnya?" Dia malah balik bertanya. Memandangi Marshal yang membuang napasnya kasar. Suaminya itu sudah sangat frustasi.


Marshal tidak mengerti istrinya itu kenapa. Dia merasa Viona berbeda dan semakin terasa menjauh darinya. Dia tidak suka dengan sikap Viona yang seperti itu. "Ada apa denganmu? Kenapa kamu bersikap seperti ini padaku?"


Viona malah mengangkat alisnya. "Tuan ini bicara apa, sih? Saya tidak mengerti. Memangnya sikap saya kenapa? Apa ada yang aneh dengan saya?"


"Iya," Marshal menatap lekat Viona. Melepaskan cekalan tangannya. "kamu terlihat berbeda. Apa kamu marah padaku? Jika iya, katakan apa salahku!"


Viona hanya diam memandangi Marshal yang tidak berkedip, menatapnya tajam. Dia meraih tangan Marshal. Diangkatnya ke depan wajah dan mencium punggung tangan suaminya dengan hangat.


Marshal tertegun mendapat perlakuan manis secara tiba-tiba. Apalagi saat Viona mendekat padanya. "Saya harus segera pergi. Dosen saya sudah menunggu. Tuan segera berangkat supaya terlambatnya tidak terlalu siang!" Viona mengusap rahang Marshal dengan lembut sebelum dia membuka pintu dan turun dari mobil. Meninggalkan Marshal yang terpaku, begitu saja.


Setelah kesadarannya kembali, Marshal melihat Viona yang sudah hilang jauh dari pandangan. Dia semakin tidak mengerti dengan sikap istrinya. Dari kemarin bersikap dingin dan barusan bersikap sangat manis di saat Marshal sudah frustasi dengan sikapnya. Tapi, Viona kembali berubah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

__ADS_1


Sebenarnya Viona itu kenapa?


Lama Marshal terdiam sebelum dia kembali menyalakan mesin mobil dan melajukannya. Dia harus segera pulang ke rumah untuk berganti pakaian dan berangkat bekerja. Ya walaupun ini sudah kesiangan. Tapi, tidak apa. Sedikit membuang waktu untuk mengantar istri tidak menjadi masalah baginya.


Beberapa kali Viona membuang napasnya dengan keras. Dia melakukan hal tadi pada Marshal hanya sekadar supaya Marshal tidak lagi banyak bertanya dan segera membolehkannya pergi. Dan ternyata berhasil. Dengan perlakuannya yang tiba-tiba tadi, Marshal tidak lagi menahannya untuk tetap berada di dalam mobil dengan suguhan pertanyaan yang membuatnya jengah untuk menghadapi.


***


"Ke mana dia?" Viona berjalan tidak tentu arah mencari sosok buaya darat yang dia jadikan sebagai sahabat. Frans. Orang itu tidak kunjung dia temukan setelah lama mencari.


Setelah selesai dia menemui dosen pembimbingnya, Viona menghubungi Frans untuk mengantarkannya pulang karena lagi-lagi Viona tidak punya uang untuk pulang. Dia lupa membawa uang dan kartu tabungannya tadi pagi saat berangkat. Padahal dia sudah mengingatnya dari semalam.


Semua uang dan tabungan itu pasti masih ada di dalam laci nakas di kamarnya karena Lina tidak tahu jika Viona menyimpannya di sana. Terbukti saat Viona membuka laci tersebut, semuanya masih ada. Dan betapa bodohnya dia, tidak menyimpannya ke dalam tas, semalam. Jika dia tidak lupa memindahkan uang dan kartu itu ke dalam tasnya, mungkin sekarang dia tidak akan kelimpungan.


Marshal dengan segala ucapannya, menjadi penyebab utama dalam masalah tersebut. Jika saja Marshal tidak mengajaknya untuk berdebat dulu tadi pagi, dia pasti tidak akan melupakannya. Akan tetapi, sikap Marshal yang memaksa ingin mengantarkannya itu membuat Viona jadi kesal dan tidak fokus pada apapun lagi. Dia hanya ingin segera mengakhiri perdebatan dan segera menjauh dari Marshal. Sehingga semuanya terlupakan. Hebat sekali. Marshal sudah membuat hari Viona hancur sekarang.


"Viona!" Frans melambaikan tangannya pada Viona dari kejauhan.


Terlihat dia sedang bersama teman-temannya. Viona menghampiri dengan langkah pelan. Dia tidak semangat walau hanya sekadar berjalan.


"Dicariin dari tadi. Ke mana aja, sih?" omel Viona pada Frans yang malah memberikannya kunci mobil. Viona mengernyit melihat kunci yang terulur itu. Dia memandangi Frans tidak paham.


Viona menerima kuncinya dengan malas. Dia tersenyum pada teman Frans yang sedang memperhatikannya. Tidak nyaman memang jika dipandangi seperti itu. Tapi, Viona tetap mengumbar senyum supaya tidak dibilang sombong.


"Woy, mata!" tegur Frans menyikut temannya yang tidak berkedip melirik Viona penuh minat.


Temannya itu tidak menghiraukan teguran Frans dan malah mengulurkan tangannya pada Viona. "Gue Samuel, anak Elektro."


Viona hanya diam melihatnya. Frans langsung sigap menjabat tangan Samuel. "Dia Viona. Jangan diganggu! Udah ada yang punya," ucap Frans sambil meremas tangan Samuel yang sedang dijabatnya.


Teman Frans yang lainnya tertawa melihat Samuel yang meringis. Menghempaskan tangannya dengan kasar. Dia mencibir pelan pada Frans. Padahal tadinya dia mau menggaet Viona. Tapi, sikap Frans seolah memberitahunya untuk tidak coba-coba mendekat.


"Aku tunggu di mobil. Jangan lama!" Viona berlalu dari sana. Dia tidak menghiraukan sikap teman-temannya Frans. Sudah biasa dia dihadapkan dengan hal seperti itu.


Sedang asyik-asyiknya Viona menonton drama, kaca mobil Frans ada yang mengetuk dari samping. Viona menoleh. Perempuan berambut sebahu dengan penampilan femininnya berdiri di sana. Dengan segera Viona menurunkan kaca jendela.


"Maaf, ada apa, ya?" tanya Viona ramah. Dia tidak mengenal perempuan itu dan mungkin dia baru melihatnya.

__ADS_1


"Lo siapa? Kenapa ada di dalam mobil pacar gue?" Perempuan itu langsung nyolot.


Viona hanya mengusap wajah. Dia tersenyum melihat perempuan itu. "Aku pacar yang punya mobil ini. Kamu siapa, ya?"


"Apa?" Perempuan itu menatap Viona dengan tajam. Sepertinya dia marah dan sangat terkejut. Viona hanya tersenyum.


Dasar playboy! umpatnya yang ditujukan untuk Frans.


Sudah biasa Viona menghadapi kekasih Frans yang berbeda setiap harinya itu.


Baru perempuan itu membuka mulut hendak memaki, dengan segera Viona mengangkat tangannya mengintruksikan untuk diam. "Frans lebih sayang padaku. Terbukti dia membiarkan aku berada di dalam mobilnya." Kemudian dia menutup kembali kaca jendela.


Perempuan tadi memaki kasar dari luar. Viona tidak peduli dan malah kembali melanjutkan menonton dramanya. Biarkan saja perempuan tadi marah ataupun nyerocos tidak jelas. Viona sedang tidak ingin menghadapi orang lain. Mood-nya sedang tidak baik.


Tidak lama kemudian, Frans masuk dan menutup pintu mobil dengan keras sampai Viona yang asyik melihat adegan romantis pun ikut terlonjak.


"Lo apain si Lea?!" tanya Frans dengan marah sembari mengusap-usap pipinya yang sedikit merah.


Awalnya Viona bingung, tetapi saat melihat Frans bercermin di ponsel, memperhatikan pipinya yang merah, Viona langsung mengerti dengan ucapannya. "Berapa tamparan?" tanya Viona terkiki geli. Dia paham betul dengan kehidupan Frans. Viona mengusap pipi merah sahabat sekaligus sepupunya itu.


Frans mendengus. Mengambil kotak P3K dari dashboard. Viona membantu mengambilkan kapas dan menuangkan alkohol, kemudian mengusapkannya pada pipi Frans yang panas bekas tamparan supaya lebih sejuk.


"Ampun gue mah, Vi, sama lo," ucap Frans dengan lelah. "Lo apain si Lea sampe dia ngamuk ke gue?"


Viona menggigit bibir bawahnya. Sekuat mungkin menahan tawa. "Gak diapa-apain, beneran!"


Frans kembali mendengus. Mencubit dagu Viona dengan gemas. "Euhh, lucu banget, sih, sahabat gue," ucapnya dengan gigi mengetat.


Dia kesal sekali dengan Viona. Sahabatnya itu terlalu kejam jika dijadikan teman. Bersama Viona terlalu menakutkan daripada bersama Aness di saat Frans punya kekasih. Karena Viona dengan segala caranya selalu bisa menghancurkan hubungan Frans dengan mudah bahkan hanya dengan satu kalimat. Dan dapat diduga oleh Frans, tadi juga pasti Viona hanya berkata satu kalimat pada Lea. Tapi sayangnya Lea malah mengamuk pada Frans dan langsung meminta putus karena beranggapan Viona yang sedang di dalam mobilnya adalah selingkuhan Frans. Sialn, kan?


"Maaf," kata Viona dengan pelan. Frans terlihat sangat kesal padanya karena telah bersikap berlebihan pada kekasih Frans tadi. "Cuma hilang satu cewek gak jadi masalah, kali."


"Bukan masalah satu atau dua, gue jadian sama Lea baru dua hari, Dongo!" Frans menjitak kening Viona dengan pelan. Viona malah tertawa merasa lucu melihat Frans yang menahan emosinya. Mana berani Frans memarahi Viona, dia takut terhadap Heru.


Tawa Viona terhenti saat kaca jendela mobil samping Frans, ada yang mengetuk. Hening seketika. Viona terpaku melihat orang yang mengetuk jendela.


Sadar dengan keanehan Viona, Frans melirik ke arah jendela. Dia langsung paham dan membuka pintunya. Dia keluar dari dalam mobil, sedangkan Viona diam di dalam dengan dada berdebar.

__ADS_1


"Ada apa Sen?"


__ADS_2