Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kembali Meminta Untuk Bercerai


__ADS_3

"Argh!" Marshal melemparkan ponselnya ke lantai hingga hancur. "Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Sayang!" ucapnya, frustrasi.


Sudah dua hari Viona tidak bisa dia temui, setelah kejadian itu. Viona menutup akses untuknya mendekat dan membencinya sekarang. Viona sulit ditemui, bahkan mengancam bunuh diri, jika Marshal berani menemuinya lagi. Yang lebih membuat Marshal marah, istrinya meminta cerai dengan segera dan Viona tidak ingin bertemu lagi dengannya.


Viona ternyata mendengarkan pembicaraannya dengan Rozer tempo hari, sehingga membuatnya sekarang seperti ini. Marshal menyesali percakapan itu. Dia tidak ingat jika mereka berbincang di rumah, sudah pasti siapa saja bisa mendengar pembicaraan mereka. Dan sialnya yang mendengar adalah Viona. Orang yang Marshal hindari dari kebohongan terbesarnya.


Sekarang dia harus bagaimana? Orangtuanya masih di rawat di rumah sakit dan dia malah mendapat masalah besar lagi. Rasanya ingin mati saja. Dia tidak mau berpisah dari istrinya, tapi Viona tetap kekeh untuk bercerai.


Sekarang apa yang harus dia lakukan?


Marshal sudah tidak punya solusi untuk hidupnya sendiri. Ucapan Rozer memang benar. Semuanya terjadi, setelah dia percaya diri jika Viona tetap akan bisa diluluhkan. Namun, nyatanya Viona tetap benci dan marah padanya, lalu meminta perpisahan.


"Papa tahu ini berat. Tapi, papa mohon, mental Viona memburuk karena hal ini. Dia terus mengancam untuk bunuh diri, jika kamu masih mendatanginya," ucap Heru, ketika Marshal mendatangi rumahnya entah untuk keberapa kali.


Viona sudah bisa memaafkan orangtuanya, karena berpikir mereka hanya dibodohi. Dan dia tidak bisa memaafkan Marshal karena tahu semua ini berasal darinya. Semua ide gila, semua rencana licik yang Heru setujui atas keinginan Marshal dengan alasan sangat mencintai Viona dan ingin menikahinya.


Perusahaan Heru memang tidak bangkrut, bahkan sangat sulit untuk bangkrut, karena perusahaan besar itu banyak penyongsongnya dan juga sangat maju. Tapi, dengan rencana curang yang Marshal inginkan, semua berita bohong itu tersebar hanya demi menikahi putri Pratama.


Marshal tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia hancur, Viona hancur dan semuanya hancur. Perasaannya sudah tidak bisa bermakna lagi. Hatinya bahkan sudah tidak bisa dikatakan baik untuk saat ini.


Terpaksa Marshal menceritakannya pada Wisnu. Ayahnya malah diam saja, sudah menduga cara licik memang tidak akan berakhir baik. Meski Wisnu ingin Viona tetap menjadi menantunya, tapi dia sadar apa yang telah anaknya lakukan. Dia ingin menghajar anaknya, tetapi tenaga masih disongsong alat medis. Dia tidak bisa melakukan apa pun lagi. Terpaksa harus mengatakan kenyataan pahit yang bisa menjadi titik akhir untuk kebaikan mereka, meski tidak akan berjalan baik seperti sebelumnya lagi.


"Turuti kemauannya, Chal. Jangan sampai kamu semakin menyesal, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya," saran dari Wisnu, ketika Marshal mengatakan jika Viona mengancam akan bunuh diri, bahkan pernah meminun obat dosis tinggi, hanya karena tidak mau melihat suaminya lagi.


Bercerai?


Kata itu nampaknya akan membunuh Marshal secara perlahan. Terpaksa dia membiarkan Viona melakukan apa yang dia mau. Viona menggugatnya atas banyak kasus. Bukan hanya kebohongan atas penipuan, juga perselingkuhannya dengan Amanda dia jadikan bahan supaya pengajuan cerainya diterima di pengadilan agama.

__ADS_1


Jelas Marshal tidak bisa mengelak. Semua itu terjadi secara nyata dalam rumah tangganya. Dan sebagai saksi, banyak orang juga yang tahu jika dia pernah berhubungan dengan Amanda. Itu malah semakin memperkuat pengajuan yang Viona layangkan.


Bukan karena Marshal tidak bisa memperjuangkan Viona, tapi istrinya yang sudah tidak mau diperjuangkan. Serentetan kalimat kasar yang terpendam dalam diri Viona keluar semua, saat setelah sekian lama mereka tidak bertemu.


Viona mengeluhkan semuanya, termasuk perasaannya yang terluka ketika dibohongi begitu tajam oleh Marshal dan keluarganya.


Marshal kira cinta bisa menyatukan dan membuat semuanya mudah. Ternyata dia salah. Sebesar apa pun rasa cinta Viona terhadapnya, tidak akan pernah bisa mengubah pendirian jiwa keras kepalanya. Viona telah merasa dibohongi dan dia benci terhadap Marshal. Sangat benci dan tidak ingin melihatnya lagi.


Marshal akui dia memang salah saat menikahi Viona. Tidak seharusnya kebohongan itu dia lakukan. Tapi sudah tidak ada cara lain untuk menikahinya saat itu. Viona punya Sendi yang begitu dia cintai. Pertahanan terakhir Viona hanya ada pada orangtuanya, sehingga Marshal memanfaatkan kelemahan itu.


Dan sekarang dia seperti mayat hidup. Wajah pucat, bibir kering dan mata dihiasi kantung hitam. Tubuhnya juga mulai kurus sedikit demi sedikit.


Apakah Viona juga merasakan hal yang sama?


Tapi, wanita itu terlihat baik-baik saja, ketika hari kemarin mereka sempat bertemu, saat Marshal menandatangani surat perceraian mereka.


"Jangan pikir karena aku sudah mencintaimu, lalu kamu bisa meraih aku lagi. Aku memang cinta sama kamu, Chal. Tapi, bukan berarti aku wanita bodoh yang terus-terusan dibodohi oleh suami sendiri. Aku wanita, seharusnya punya harga diri. Aku juga tidak percaya, kalau aku dinikahi dengan cara curang yang nahasnya kedua orangtuaku juga ikut-ikutan."


Wanita itu meraih tangannya yang terasa dingin dan bergetar. Viona memandangnya lekat, terlihat sangat serius. Marshal ingin sekali memeluknya erat, mendekapnya dan membawanya pulang. Tapi, tidak dia lakukan. Dia takut Viona akan menolak dan malah semakin benci terhadapnya.


"Ini adalah alasan aku ragu untuk menjadi seorang ibu. Aku belum sepenuhnya percaya sama kamu. Dari awal kita menikah, kamu selalu mengajak aku untuk bersandiwara. Aku ragu, apakah kamu memang penuh sandiwara dan banyak rahasia? Dan ternyata keraguan itu benar. Namun ironisnya, keraguan itu terbongkar ketika aku sudah mencintai kamu. Jujur, aku menyesal telah membuka hati."


Marshal menatap lekat manik mata yang berpendar bulat dan sendu. Dia melihat kesedihan itu ada di sana. Viona juga sangat enggan untuk berpisah, dia tahu itu. Tapi, rasa kecewa telah membuat rasa cintanya tertutupi. Viona ingin melupakan cintanya, karena tidak mau luka yang dibohongi tersebut mendarah daging.


"Awalnya aku ragu karena Amanda," Viona kembali bercerita padanya. Wanita itu kini duduk di sampingnya, masih memegang tangan Marshal. Sang suami yang merasa paling tersakiti mencoba untuk menggenggamnya, tapi Viona menolak dan malah menyembunyikan tangan di pangkuan. Dada Marshal berdenyut nyeri, bahkan hanya digenggam saja Viona tidak mau.


Apa dia sudah mulai jijik terhadap suaminya?

__ADS_1


"Aku takut, Chal." Viona melihat lurus ke arah depan. "Aku takut, jika aku punya anak dan kamu malah kembali pada Amanda, lalu meninggalkan aku sama anakku begitu saja."


Marshal menggelengkan kepala, meski Viona tidak mau melihat padanya. Dia tidak akan seperti itu. Dia sangat menyayangi Viona, tidak mungkin meninggalkannya. Apalagi jika mereka sudah mempunyai anak.


"Setelah Amanda kamu usir, bahkan kamu kirim ke luar negeri ... aku masih meragu. Ragu sama diri kamu sendiri. Aku nggak bisa. Feeling-ku kuat. Dan ternyata ...."


Marshal meraih tangan Viona dengan cepat, menggenggamnya erat tidak peduli dengan penolakan. "Aku minta maaf, Sayang. Untuk kebohongan dan semua sikapku. Aku tidak akan meninggalkanmu, sungguh. Aku sayang kamu. Kamu bisa buktikan itu, setelah kita bersama lagi."


Viona memandangnya dengan dahi mengernyit halus. Marshal ingin memeluknya, tapi Viona menolak.


"Aku sudah maafin kamu."


Bahagia. Marshal mendengarnya tidak percaya dan sedikit cahaya mulai terasa di matanya melihat Viona yang memberikan tatapan serius atas ucapannya. Namun, bibirnya tidak jadi tersenyum saat Viona malah menambahkan kalimat yang menyakitkan.


"Tapi, bukan berarti aku mau kembali. Aku ingin kita akhiri semua ini. Kamu tahu, aku sangat benci dibodohi. Aku wanita kuat, tidak ingin lemah hanya karena sebuah drama. Jadi ... aku tetap mau kita bercerai."


Rasanya memang bagaikan mimpi di siang bolong. Viona memilih untuk tetap menyudahi pernikahan, tidak ada lagi kata kembali untuknya.


***


Saat ini Marshal tengah duduk di hadapan Rahma yang masih tidak sadarkan diri. Masa kritisnya sudah terlewati, namun tetap saja belum mendapat kesadaran penuh.


Apa gunanya hidup Marshal sekarang? Viona meninggalkannya dan Rahma tidak bisa memeluknya.


Kenapa jadi menyedihkan seperti ini? Angannya ingin punya hidup bahagia malah hancur dengan terbongkarnya kebohongan besar.


Kenapa hidup begitu kejam mengutuk orang yang curang? Jika tahu akan berakhir tragis, lebih baik Marshal tidak menikahi Viona sejak dulu. Dia tidak akan memaksa Heru untuk mau bekerja sama dengannya. Ya, jika saja ....

__ADS_1


__ADS_2