
"Aku kangen banget sama Mama." Viona memeluk ibunya dengan erat yang dibalas hal serupa oleh Lina.
Marshal menyalimi ibu mertuanya setelah Viona selesai memberikan pelukan sebagai rasa rindu.
Selesai dengan pekerjaannya, Marshal menuruti keinginan Viona untuk mengunjungi orantuanya. Meskipun lelah, Marshal tetap mengantarkan istrinya. Dia menyetir sendiri karena Rio sudah dia suruh pulang duluan. Dia tidak yakin akan pulang, karena biasanya Viona ingin menginap jika sudah datang ke sana.
Marshal hanya tersenyum melihat sikap manja istrinya pada Lina. Sejak sampai, Viona tidak mau jauh dari ibunya dan membiarkan Marshal begitu saja, seakan tidak peduli padanya. Viona bahkan tidak melihatnya dan berjalan masuk terlebih dahulu, tidak mengajak suaminya untuk ikut serta. Untung saja Lina masih menganggap Marshal sebagai menantunya, jadi dia bisa masuk setelah Lina mempersilakan. Kalau tidak, pasti Marshal hanya berdiri di ambang pintu sampai ajal menjemput untuk selama-lamanya.
"Mau minum apa?" tanya Viona dengan lembut pada suaminya.
Sudah hampir bosan Marshal melihat istrinya bergelayut manja pada Lina, baru sekarang Viona menoleh padanya.
"Apa saja boleh, Sayang."
Viona mengangguk dan beralih melihat pada pekerja di rumah Heru. "Mbok, tolong bawakan air kolam satu gelas! Jangan lupa kasih es serut sama lada bubuk, ya!"
Marshal, Lina dan pekerja rumah itu melihat Viona dengan terkejut, sedangkan orang yang dilirik malah tersenyum lebar dengan geli.
"Tadi kamu bilang apa saja boleh, jadi apapun-"
"Ya, tidak begitu juga Viona," sambar Lina disertai kekehan.
Marshal ikut gemas melihat istrinya yang bergurau. Sepertinya mood Viona sedang baik hari ini. Sejak dari kantor, dia sering memperlihatkan keceriaannya. Marshal suka melihatnya. Rasa lelahnya setelah seharian menggeluti pekerjaan, selalu sirna jika sudah melihat istrinya. Apalagi jika sikap Viona seperti itu, Marshal pasti ikut bahagia merasakannya.
Setelah berbincang ringan dan melepas rindu, Viona dan Marshal ditinggal berdua di ruang tamu. Lina pergi keluar sebentar, ada yang harus diurus. Marshal mendekatkan tubuhnya untuk lebih merapat pada istrinya. Dia bersandar di bahu Viona dengan pura-pura lelah. Viona hanya melihatnya sejenak dan kembali sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Sayang, aku ingin mandi."
Viona menyimpan ponsel. Dia melirik Marshal yang malah memejamkan mata, masih bersandar padanya. Padahal lumayan berat jika Marshal bersandar seperti itu, tapi Viona tidak merasa risih karena mungkin sudah mulai terbiasa berada dekat suaminya.
"Tapi, di sini tidak ada baju kamu, Chal. Apa mau pakai baju kak Vino? Aku rasa ukuran kalian sama."
"Aku pernah menginap di sini. Bajuku yang waktu itu pasti masih ada, kan?"
Viona terdiam untuk mengingatnya. Kemudian dia mengangguk dan mengajak Marshal menuju ke kamarnya.
"Aku ingin menginap di sini, boleh, kan?"
Marshal baru saja akan masuk ke dalam kamar mandi. Dia menoleh sebentak untuk mengangguk, kemudian tersenyum melihat istrinya yang bersorak girang. Ada apa dengan Viona hari ini? Keceriaannya seakan tiada henti membuat Marshal sedikit heran melihatnya.
***
Malam hari yang hangat terasa di tengah-tengah keluarga Pratama. Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Marshal, Heru dan Vino menonton sepak bola di televisi, sedangkan Viona dan Lina sibuk membahas banyak hal menenai kebiasaan dan keinginan wanita.
Berada bersama keluarga Viona memang sangat menyenangkan. Marshal selalu nyaman bersama mereka semua. Bukan hanya karena Vino yang merupakan teman dekatnya, tapi juga karena sikap ramah kedua mertuanya membuat Marshal merasa semakin dekat dengan mereka.
"Ya, sebentar lagi rumah ini juga akan penuh dengan anak kecil. Setelah Vino menikah, kalian pasti segera memberikan papa cucu, kan. Rasanya papa tidak sabar untuk menimang mereka," ucap Heru tersenyum penuh harap.
"Biarlah si adek dulu, Pa. Nanti aku menyusul," timpal Vino disertai kekehan. Dia menaik turunkan alisnya menggoda pada Viona yang duduk dekat dengan Lina.
__ADS_1
Kini giliran Lina. Dia mengusap tangan anaknya lembut, sehingga Viona melihat padanya. "Kamu belum ada tanda-tanda mau ngasih mama cucu?"
Viona tertegun. Dia melirik pada Marshal yang juga melirik padanya. Bingung harus menjawab seperti apa, takut membuat orangtuanya kecewa. Tapi, kenyataannya memang belum. Bahkan belum memulai proses sama sekali.
"Belum, Ma. Doakan saja, ya, semoga secepatnya," kata Viona dengan pelan. Dia menatap tajam pada Marshal yang malah tersenyum penuh arti padanya. Suaminya pasti sudah mulai berharap.
"Bekerja keraslah, Bro! Nanti anak kita gak akan beda jauh umurnya. Setelah mereka besar, kita sekolahkan di tempat yang sama. Ya, kan, Dek?" Vino melirik Viona setelah dia menepuk pundak Marshal untuk memberikan semangat. Pasangan yang sedang jadi perhatian itu hanya tersenyum canggung dan menimpali seadanya.
***
“Sayang, aku lihat seharian ini kamu sangat ceria. Apa yang membuatmu jadi seperti ini?” Marshal merangkul pundak Viona, semakin mendekatkan tubuh padanya.
Karena sudah mulai terbiasa dengan perlakuan suaminya, Viona hanya diam saja. Dia malah melingkarkan tangan di perut Marshal. “Aku juga tidak tahu. Mungkin karena kamu baik hari ini, makanya aku ceria,” sahutnya disertai kekehan kecil.
“Oh, jadi menurutmu, di hari lain aku tidak baik?” Marshal berucap dengan nada sedikit kesal membuat Viona mengangkat wajahnya dan memberikan senyuman yang sangat manis. Marshal mengecup lengkung di bibir istrinya dengan cepat. “Aku suka kamu yang seperti ini.”
“Seperti bagaimana?”
“Ya, seperti hari ini. Kamu bersikap manja dan sangat manis. Aku suka. Kamu menggemaskan.”
Viona malah tertawa. Dia merasa apa yang Marshal ucapkan sedikit aneh didengar telinganya. “Orang lain tidak suka jika istrinya begitu manja. Tapi, kamu malah senang. Heran.”
“Itu karena aku lebih sering melihat kamu yang berani dan cenderung tangguh. Bahkan kamu tidak pernah meminta bantuan padaku. Jadi, aku lebih suka jika kamu manja dan banyak maunya. Dengan sikapmu itu, aku merasa lebih berguna.”
“Oh. Baiklah jika begitu. Berarti mulai sekarang aku akan bersikap manja dan akan banyak minta sama kamu.”
Marshal tersenyum lebar. Mencubit hidung istrinya dengan gemas. “Baiklah, Nyonya Marshal. Apapun yang kamu inginkan, pasti akan aku kabulkan.”
“Aku memang baik, Sayang.” Marshal meraih dagu Viona dan mengangkat wajah istrinya. “Berikan aku ciuman!” ucapnya dengan pelan, namun terasa seperti paksaan bagi Viona.
Hari ini mood Viona sedang dalam keadaan baik, karena Marshal yang menuruti keinginannya untuk berkunjung dan bertemu dengan keluarganya. Viona merasa senang bisa kumpul lagi dengan mereka. Dia berterima kasih pada Marshal yang bahkan mau menemaninya langsung datang ke rumah itu.
“Tanda terima kasih.” Viona mengecup rahang suaminya sekilas.
Bukannya bahagia diberikan hal langka oleh istri, Marshal malah terlihat tidak senang. Dia menunjuk bibirnya sendiri, meminta Viona mengulanginya di tempat yang berbeda.
“Tidak ada tambahan!” Viona segera membenamkan wajahnya di dada Marshal guna menghindari keinginan suaminya. Mencium di rahang saja butuh keberanian besar untuk Viona melakukannya, apalagi jika di bibir. Viona tidak berani melakukannya, meskipun dia sudah sering merasakan bibir itu menyerang dirinya.
“Sayang?”
Viona tidak menyahuti dan malah menutup mata, pura-pura tertidur dengan suara napas yang dibuat teratur seperti orang terlelap.
Meskipun sudah mencoba memanggilnya beberapa kali, namun tetap tidak mendapat sahutan, Marsha tahu jika istrinya hanya mau menghindar. Dengan usil Marshal menggerakkan tangannya untuk meraba bagian perut istrinya. Tubuh Viona bereaksi pelan. Dengan berani tangan tersebut bergerak semakin ke atas dari perut, dan dengan sengaja, Marshal meraba bagian yang sensitif membuat tubuh istrinya tersentak kaget. Viona langsung bergerak cepat menahan tangan Marshal. Matanya membuka dengan lebar dan terlihat kesal. Namun, wajahnya juga memerah. Marshal tersenyum geli melihat ekpresi istrinya.
“Beri aku ciuman atau itu …?” Marshal menunjuk bagian yang barusan dia raba. Refleks Viona menutupinya dengan tangan dan semakin melotot tajam pada suaminya. “Cium aku!”
Dengan ragu Viona mendekatkan wajah pada suaminya. Debar jantungnya mulai tidak normal di saat dia melirik bibir yang sedikit dimonyongkan meminta untuk segera di sentuh. Sungguh, keberanian Viona tidak cukup besar untuk melakukannya. Dia hanya bisa melihat bibir itu dengan lama tanpa berani melakukan apa yang diinginkan oleh suaminya.
Marshal sudah memejamkan mata menanti benda kenyal itu bersentuhan dengan bibirnya. Namun, lama dia menunggu, hal yang dia inginkan tidak kunjung terasa. Marshal pun membuka mata. Wajah merona istrinya begitu kentara di depan muka. Marshal hanya menghela napas kecewa melihatnya. “Aku sudah menunggunya, Sayang.”
__ADS_1
Viona hanya menampilkan cengiran malu. Dia menggigit bibir bawah dengan ragu dan matanya langsung membulat tajam saat Marshal yang malah menyerangnya duluan.
Marshal sudah memulainya dan menuntut balasan. Viona tidak langsung menurutinya karena masih terkejut. Namun, lama kelamaan dia pun ikut terhanyut dan menyambut setiap pergerakan yang suaminya berikan.
Lama mereka terbuai dalam pemainan. Marshal menghentikannya saat tangan Viona mencengkeram erat tangannya. Napas mereka terengah-engah sesudahnya. Marshal mengusap bibir Viona yang basah akibat ulahnya. Senyuman bahagia terukir jelas di bibir Marshal. Dia selalu senang jika apa yang dia ingin bisa terwujud.
Mereka sama-sama diam. Marshal kembali meminta Viona untuk semakin mendekat dan memeluknya. Viona menurutinya tanpa bicara. Mereka masih diam, hingga keheningan terpecah oleh pertanyaan yang keluar dari mulut Viona.
“Chal, apa kamu mengharapkan aku menjadi istri seutuhnya?”
Marshal cukup tertegun mendengar pertanyaan itu. Meskipun dalam hati, semua suami juga pasti menginginkannya. Tapi, jika saat ini Viona yang memancing percakapan, Marshal sangat tidak menyangka istrinya akan membahas masalah itu.
Viona mendongak untuk menatap suaminya. Dengan pelan tangan Viona mengusap rahang Marshal. “Izinkan aku ber-KB sebelum menjalankan kewajiban!” ucapnya dengan pelan.
Marshal membalas tatapan istrinya disertai dahi yang mengernyit.
Viona kembali mengusap rahangnya dengan lembut. “Aku istri kamu. Aku wajib memenuhi kebutuhan kamu, tapi saat ini aku belum bisa melakukannya. Aku ingin memberikannya sama kamu, tapi aku masih belum siap.”
Ditatapnya mata Marshal dengan lekat, Viona menghela napas dalam. Dia sebenarnya ragu untuk membahas masalah itu. Tapi, ada hal lain yang sering dia perhatikan yang membuatnya merasa bersalah pada Marshal. “Maaf, Chal. Tapi, aku belum mau punya anak. Jadi … boleh ‘kan aku ber-KB?”
Marshal tercengang. Ekspresi itu jelas terlihat di wajahnya. “Kamu tidak mau punya anak?” Perasaannya tidak enak saat mengucapkan kalimat tersebut. Tapi, Marshal berharap jawaban Viona tidak sama dengan apa yang dia pikirkan.
Viona menggeleng dengan cepat. Dia merasa tidak enak melihat reaksi suaminya. “Bukan begitu, Chal. Aku belum siap, bukan tidak mau. Semua orang juga pasti ingin punya anak, kan? Aku juga termasuk.”
“Tapi, kamu ….”
Viona menghela napas dalam. Dia menatap Marshal dengan pandangan teduh. “Aku masih butuh waktu untuk kita saling mengenal. Punya anak bukan perkara yang bisa dianggap remeh. Aku mau kehadiran anak kita nanti bisa disambut dengan kasih sayang yang utuh dari keluarganya. Kamu pasti paham maksud aku.”
Marshal memandang Viona dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia membuang napasnya dengan kasar. Marshal kira Viona tidak mau punya anak dengannya. Tapi, ternyata hanya masalah kesiapan dan rasa saling mencintai.
Viona belum mencintainya. Hati Marshal berdenyut nyeri jika mengingat hal itu. Viona ingin anak mereka terlahir dalam kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya. Marshal mengerti, tetapi kenapa dia merasa kecewa hanya karena Viona belum siap punya anak darinya.
“Bagaimana?”
Marshal hanya terdiam. Viona terlihat begitu hati-hati berucap padanya. Mungkin karena dia takut apa yang dia ucapkan bisa menyinggung perasannya.
Viona semakin merasa tidak enak melihat suaminya yang tidak merespon apapun. Dia kembali menunduk, menyurukkan wajahnya di dada Marshal. “Maaf, tapi aku belum siap jadi ibu, Chal. Maaf jika mengecewakan kamu. Aku tidak bisa ngasih kamu anak secepatnya. Aku-”
“Sust… tidak apa, Sayang.” Marshal meraih wajah Viona untuk melihat padanya. Dia memberikan senyuman manis pada istrinya. “Aku paham. Aku setuju denganmu. Kita memang masih butuh waktu untuk bersama lebih mengenal jauh. Lagian, kita menikah belum lama. Tidak perlu terburu-buru untuk punya anak. Hanya masalah waktu. Aku tidak akan marah.”
Viona bernapas lega mendengarnya. Dia tersenyum senang jika Marshal juga setuju dengan apa yang dia maksudkan. “Heem. Karena kita belum lama menikah, aku juga maunya kita banyak menghabiskan waktu berdua dulu, sebelum si kecil hadir. Aku masih perlu waktu untuk mengenal kamu.”
Senyum Marshal semakin lebar. Dia memeluk Viona erat dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil di kepala istrinya. “Besok kita ke dokter untuk konsultasi supaya KB-nya berjalan aman.”
Viona mengangguk dan memeluk suaminya. Ternyata Marshal sangat baik dan mau memahami apa yang Viona pikirkan.
“Berarti setelah dari dokter, kita akan melakukannya,” bisik Marshal.
Viona mulai berpikir ke mana-mana. Bulu kuduknya langsung merinding. Dan semakin menyembunyikan wajah di dada suaminya.
__ADS_1
"Sebelum si kecil hadir, si tuan dan nyonya apa akan bersenang-senang dulu?"