
"Pagi ... Sayang!"
Marshal hampir saja terperanjat karena terkejut menerima pelukan tiba-tiba dari belakang. Wajah Viona langsung terlihat di samping lengannya, tersenyum dan menampilkan wajah imut khas bangun tidur.
Menghela napas pelan, Marshal meraih Viona untuk bisa dia kecup keningnya. Ponsel masih Marshal pegang di tangan, karena dia memang sedang berteleponan dengan orang yang bekerja dengannya.
"Sambutan pagi yang buruk." Viona cemberut pada suaminya, karena Marshal tidak tersenyum sedikit pun dan sapaannya diabaikan. Marshal malah berbicara lagi dengan ponselnya, setelah memberikan kecupan yang sangat singkat, hampir tidak terasa menyentuh kulit. Itu kurang lama.
Wajah Viona semakin tertekuk, kesal karena acungan telunjuk Marshal yang mengisyaratkan untuknya terdiam. Marshal sedikit menjauh dan kembali sibuk dengan partner connecting-nya. Baiklah, biarkan saja Marshal menyelesaikan dulu urusannya.
Pagi yang cerah masih di waktu Tokyo. Viona berdiri di depan jendela kaca besar yang terbuka lebar. Pemandangan indah terdapat di hadapannya. Jajaran gedung-gedung tinggi menjulang dan suasana kota tersebut terlihat sangat menarik, bahkan bias mentari pagi seakan memberikan kesan yang sangat hangat dan enak dipandang mata.
Dengan memeluk tubuh sendiri, kedua tangan Viona silih mengusap lengan yang butuh pelukan. Tubuh yang ringkih dan sangat ingin didekap, kini hanya bisa menatap lurus ke depan. Memperhatikan frame baru yang tidak biasa ia lihat.
Jika berada di rumah, paginya hanya disibukkan dengan menjadi istri yang baik, melayani suami dan mengurus pekerjaan rumah-jika Marshal sedang mengizinkan. Jika tidak mengizinkan, maka aktivitasnya monoton. Selalu begitu sampai terasa membosankan. Makanya Viona begitu antusias saat Marshal mengajaknya untuk berbulan madu. Dia ingin merasakan suasana yang baru.
Wajah Viona menoleh ke samping, merasakan Marshal mendekat padanya dan memberikan pelukan. Tidak ada lagi senyuman di bibir Viona, mungkin dia masih kesal. Marshal baru saja selesai dengan urusannya, terlihat sekali berusaha untuk membujuk. Viona harusnya tidak luluh, namun yang terjadi malah berbeda.
Pelukan Marshal terasa sangat nyaman ditambah kehangatan dari sang mentari pagi. Rasanya Viona ingin bersandar di dada bidang yang selalu membuatnya tenang. Dan itu yang dia lakukan. Marshal juga menempelkan kepalanya di kepala Viona yang bersandar. Mereka saling diam menikmati suasana pagi yang berbeda dari biasanya. Terasa indah dan sangat menghangatkan.
"Apa kamu suka?"
Viona hanya memberikan anggukan kecil, masih tidak mau buka suara dan lebih memilih untuk merasakan kenyamanan tubuh mereka. Dia memang menyukainya, sangat.
Membayangkan bagaimana pemandangan di malam hari, Viona sangat menyesal semalam tidak melihatnya dengan jelas, terhalang oleh gordin. Dia sangat ingin melihat Tokyo Tower di malam hari. Pasti terlihat sangat indah dengan cahaya lampu yang kerlap kerlip. Dan itu akan menjadi planning untuk malam ini. Viona akan meminta pada Marshal dan dia akan bersua foto di sana untuk ditunjukkan kepada Vino dan Rena.
Seperti halnya Marshal, Viona juga tidak mau kalah dengan mereka. Viona sempat iri saat kakak iparnya-Rena, memamerkan keseruan mereka saat berbulan madu di Maldives. Lihat saja, kali ini dia akan lebih pamer dari kakaknya! Marshal akan membawanya ke beberapa tempat indah yang tentu saja akan lebih membuat iri dilihat orang lain.
__ADS_1
***
"Sarapan, Sayang!" nada bicara Marshal mulai meninggi. Dia mulai geram karena Viona susah dibujuk untuk makan. Entah apa yang terjadi, Viona selalu menolak untuk sarapan pagi ini, bahkan sekali pun Marshal menyuapinya, Viona tetap menggeleng.
Kepala Viona menggeleng lagi sambil menutup mulut, tidak mau memakan apa pun.
"Terus kamu mau makan apa? Masa tidak mau sarapan." Marshal menghela napas kasar, melihat istrinya malah terdiam dan wajahnya tertekuk tidak suka. "Aku pesankan yang lain? Kamu mau apa?"
Tetap tidak menjawab. Viona lebih memilih bungkam, memandang Marshal dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
"Aku ambilin buah, mau?" Marshal masih saja berusaha membujuk, meski dia ragu Viona mau menurutinya. "Oh, atau mau salad buah? Biasa kamu suka salad, kan. Biar aku pesankan."
"Gak mau!" Viona menahan tangan Marshal yang hendak meraih ponsel untuk menghubungi pelayan hotel.
"Terus maunya apa? Puding cokelat sama jus alpukat?" Dia tahu, itu adalah kesukaan istrinya. Tapi ...
Marshal harus ekstra sabar. Entah apa yang terjadi dengan istrinya sampai tidak mau makan seperti itu. "Kamu gak enak badan?" Takutnya selera makan Viona hilang, karena Marshal yang terlalu berlebihan menggempurnya. Istrinya bisa saja kelelahan.
Tapi, bukankah jika lelah, energinya akan habis dan Viona malah lahap mengunyah?
"Mau makan di luar?" Marshal menghela napas lega saat wajah Viona berubah cerah.
Apa susahnya untuk bilang, jika mau makan di luar? Jika begitu, Marshal tidak perlu repot membujuknya sampai hampir bunuh diri menahan geram.
"Ke mana?" Viona memandang Marshal, mengernyit saat tangannya di tarik.
"Bersiap! Katanya mau makan di luar. Kita cari restoran dekat sini." Marshal hanya menggelengkan kepala melihat bibir istrinya sedikit tertarik. Perubahan yang cukup drastis. Nyonya sedang dalam mode manja yang sangat sulit di tebak apa maunya.
__ADS_1
Setelah bersiap, Marshal membawa Viona keluar dari hotel. Mereka mencari restoran terdekat yang menyajikan menu sarapan nikmat dan juga halal. Rio ikut dengan mereka, hanya saja keberadaannya berjarak. Rio tidak ingin menganggu majikannya, hanya akan muncul di saat sedang diperlukan.
Viona tersenyum melihat Rio yang nampak sangat tampan pagi ini. Pakaiannya berwarna abu dan cokelat, disertai dengan tatanan rambut yang terlihat acak-acakan, namun malah menambah kesan cool.
"Ganteng banget kamu, Yo. Tumben."
Yang disapa malah terlihat gelagapan, melirik ke arah lain. Dia tidak mungkin bisa merespon pujian dari Viona, karena tatapan Marshal langsung menghunus melihat padanya. Marshal pasti marah mendengar istrinya memuji laki-laki lain di depan matanya sendiri.
Melihat Marshal yang hanya terdiam memandanginya, Rio memilih untuk segera pergi, setelah selesai mencarikan tempat duduk yang nyaman untuk kedua majikannya. Dia harus menghindar, sebelum Viona salah berbicara lagi. Bisa-bisa Marshal membuangnya di kota tersebut dan tidak mau membawa Rio pulang ke Indonesia, jika hal itu sampai terjadi.
"Kenapa Rio gak sarapan sama kita?" Viona menengadah, melihat pada Marshal yang hanya terdiam, menggenggam tangannya, berjalan menuju meja yang sudah dipesan. "Chal ...."
Marshal memilih bungkam. Menyapukan pandangan ke sekitar restoran yang terlihat tidak ramai. Mungkin karena pagi hari seperti sekarang, banyak orang yang sibuk dengan pekerjaan, tidak bisa menyempatkan diri untuk sarapan di luar. Dengar dari Rio juga, katanya, restoran itu baru buka satu jam yang lalu. Di sekitar hotel yang mereka tempati, tidak banyak restoran halal yang menyajikan menu sarapan seperti itu.
"Sekarang kamu harus sarapan! Tidak boleh menolak lagi!" tegas Marshal, memperingatkan istrinya, setelah semua hidangan yang mereka pesan sudah datang.
Viona hanya menganggguk patuh, melirik satu per satu menu makanan yang tersaji di depan matanya. Meja penuh dengan berbagai masakan jepang. Ada juga salad buah yang biasa dia makan dan juga puding cokelat kesukaannya disertai jus alpukat.
Entah berapa uang yang Marshal keluarkan untuk memesan semua itu. Demi membuat Viona mau sarapan, Marshal bahkan menemui koki restoran secara khusus dan meminta tambahan menu yang tentu saja tidak ada di dalam daftar list menu restoran mereka.
Pantas saja pesanan mereka harus ditunggu sedikit lama. Tahu-tahunya, Marshal meminta secara khusus pada koki untuk membuatkan makanan yang sesuai dengan selera istrinya.
Uh, suaminya yang sangat baik dan perhatian. Viona memandangi wajah Marshal sambil tersenyum hangat. "I love you," gumamnya lirih sambil mengedipkan mata-imut, tidak terdengar jelas di telinga.
Marshal melongo, tidak percaya membaca mulut istrinya bergerak mengucapkan kalimat manis tersebut.
Ada apa dengan Viona hari ini?
__ADS_1