
SAH?
SAH!
Para saksi serempak mengucapkan doa setelah ijab kabul yang begitu sakral diucapkan lancar oleh Marshal dengan sekali tarikan napas.
Kepala Viona pusing tidak karuan, setelah mendengarkan pengucapan ijab kabul yang terdengar sampai ruangan tunggu, tempat Viona kini berada. Entah apa yang harus dia rasakan sekarang, apakah dia harus bahagia telah resmi dinikahi oleh Marshal, atau dia harus bersedih, karena pernikahannya berlangsung tanpa dasar cinta seperti apa yang telah ia dambakan sedari dulu.
Hanya satu yang bisa Viona lakukan, menerima pernikahan ini dengan sepenuh hati dan menjalani semuanya dengan ikhlas, apapun yang terjadi, akan Viona terima dengan lapang dada, baik itu suka maupun duka. Biarlah pernikahannya hanya dilandasi keterpaksaan, biarlah dia yang harus berkorban, tujuannya hanya satu... membahagiakan. Hanya itu yang bisa Viona lakukan demi kebaikan semua orang, demi perusahaan Heru serta keluarganya, dan juga demi kehidupan para karyawan Heru. Viona tidak mungkin menjunjung tinggi egonya sendiri hingga membuat orang lain menderita, yang bisa dia lakukan hanya ini, menikah dengan Marshal, dan berharap semuanya akan baik-baik saja.
Viona digandeng oleh ibu dan calon kakak iparnya yaitu Rena-kekasih dari Vino, melangkah menuju tempat dimana Marshal telah mengucapkan ijab kabulnya.
Para hadirin yang menyaksikan turut bersuka cita menyaksikan haru biru langkah mempelai wanita bergaun putih itu digiring mendekat pada Marshal, si pengantin pria yang sudah memancarkan senyumannya melihat langkah anggun Viona.
Sejenak pandangan mereka beradu dikala Viona juga menatap pada Marshal, dengan segera dia menundukan pandangannya, karena rasa gugup sudah mendominasi. Viona masih belum percaya jika dia sekarang sudah menjadi istri sah dari Marshal. Secepat inikah statusnya berubah, baru beberapa menit yang lalu dia masih berstatus lajang, sebelum Marshal mengucapkan ijab kabul untuknya. Kini dia sudah menjadi istri, rasanya masih seperti mimpi.
Cantik.
Hanya satu kata itu yang bisa Marshal simpulkan melihat takjub penampilan Viona yang kini berdiri dihadapannya. Perasaan gugup sangat terlihat darinya, tapi dia mencoba menyunggingkan senyuman manisnya kepada para hadirin yang menyaksikan.
Tanpa menunggu berucap ataupun diperintah, Viona meraih tangan kanan Marshal, mencium punggung telapak tangannya. Riuh hadirin turut serta gembira saat Marshal menanggapi tindakan Viona dengan mencium keningnya lembut.
Cup
Viona terpaku dalam diamnya. Ini adalah kali pertama dia dicium oleh pria lain selain Heru dan juga Vino. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak tak karuan, perasaanya juga tak bisa ditebak. Apa yang dilakukan oleh Marshal sungguh mengejutkan baginya.
Acara pernikahan terus berlanjut didalam aula gedung yang luas itu. Pernikahan super mewah dengan dekorasi super wah yang terlihat glamour, memanjakan mata para hadirin yang ikut serta.
......
"Selamat atas pernikahannya" para tamu undangan menjabat tangan silih berganti, menyalami kedua mempelai yang terlihat sangat berbahagia itu. Mewahnya dekorasi gedung pun menambah kesan meriahnya pesta yang berlangsung. Semua orang terlihat memancarkan rasa penuh suka cita dibalik sorot matanya, melihat kedua mempelai yang tak pernah absen menyunggingkan senyuman.
"Kamu capek?" Bisik Marshal pada Viona yang terlihat menghentakkan kakinya yang memakai hiels, beberapa kali. Kakinya sudah mulai pegal karena terlalu lama berdiri, sedangkan para tamu undangan yang hadir belum juga menunjukkan tanda-tanda akan cepat surut.
"Kaki saya pegal, Tuan" Marshal memaklumi aduan Viona, karena dia juga merasa sangat lelah.
"Apa mau istirahat dulu?" Viona menggeleng, tanda dia menolak untuk istirahat.
"Tapi tamu undangan yang datang baru separuhnya, apa kamu masih kuat?" Viona terbelalak. Marshal bilang tamu yang datang baru separuhnya? Padahal dari tadi jika Viona hitung, kiranya tamu undangan yang sudah hadir mungkin sudah ribuan orang, dan itu baru separuhnya? Berapa banyak sebenarnya orang yang diundang?
Memang tak heran jika mereka mengundang banyak orang, mengingat keduanya adalah keluarga pebisnis hebat dikalangan atas, tentu saja mereka memiliki banyak kerabat juga kenalan.
"Jika ingin istirahat dulu juga tidak apa" Viona sebenarnya ingin menyetujui tawaran dari Marshal, tapi dia merasa tidak enak jika harus menyetujuinya, mungkin lebih baik dia tetap menyalami para tamu undangan, dan memaksakan kaki pegalnya ini untuk terus berdiri.
"Bagaimana? Mau istirahat?" Viona hanya menggeleng dengan raut wajah yang kurang bersahabat, dia ingin istirahat dan meninggalkan aula gedung itu sekarang juga, tapi keinginannya ia urungkan mengingat ini adalah hari pernikahannya, dia harus menyalami para tamu undangan. Akan terlihat tidak baik jika dia malah beristirahat dan tidak menyambut para tamu undangan.
__ADS_1
"Tuan.." panggil Viona lirih membuat Marshal menaikkan alisnya bertanya 'ada apa?'
"Apakah saya boleh melepaskan sepatunya?" Bisik Viona pelan. "Kaki saya pegal karena sepatunya terlalu tinggi"
Marshal melirik kaki Viona sejenak, sebelum akhirnya dia tersenyum dan berkata "Yasudah, lepaskan saja jika tidak nyaman. Jangan memaksakan dirimu!"
Viona terpaksa memegang lengan Marshal untuk berpegang saat dia harus melepaskan sepatu hielsnya. Tapi belum Viona melepaskannya, Marshal sudah lebih dulu berjongkok, membuat Viona terkejut karena tangan Marshal tergerak melepaskan sepatunya.
Antrian tamu undangan terhenti, riuh hadirin juga terdengar bersorak, ada juga terdengar siulan-siulan menggoda diantara para tamu undangan yang menyaksikan keromantisan kedua mempelai tersebut.
Viona jadi merasa tak nyaman. Semua mata tertuju padanya, hingga membuat pipinya merona menahan malu. Apa yang Marshal lakukan barusan sangatlah tiba-tiba, Viona pun tak menyangka jika Marshal akan melakukan itu padanya.
Namun disisi lain, Heru memang terlihat bahagia melihat keromantisan anak dan menantu barunya itu, tapi tidak dengan hatinya, dia merasa sangat bersalah karena harus menikahkan Viona dengan Marshal, pria yang tidak dicintainya sama sekali. Batinnya terus bertanya, apakah keputusannya menikahkan Viona sudah benar? Apa Heru terlalu kejam pada anaknya sendiri, hingga Viona harus berkorban sejauh itu demi perusahaannya? Heru hanya bisa berdoa dalam hati, semoga keputusannya kali ini tidaklah salah. Ia hanya berharap, semoga pernikahan anaknya bisa berjalan lancar, Viona bahagia dan pernikahannya bisa bertahan sampai maut yang memisahkan.
________________________
"Sepertinya Anda sudah sangat lelah tuan?" Heru menghampiri Marshal yang sedang duduk dibangku luar gedung sendirian guna menghilangkan rasa penat dalam tubuhnya. Acaranya belum selesai namun Marshal memilih untuk mengistirahatkan diri dulu sejenak.
"Eh, tuan.." Marshal menggeser duduknya mempersilahkan Heru untuk ikut duduk dikursi panjang yang ia duduki.
"Tuan sebaiknya beristirahat diruangan dalam saja, itu lebih baik daripada disini"
"Ah, tidak apa. Oh ya, jangan memanggilku seperti itu lagi. Aku anak Anda juga sekarang"
Heru tersenyum dan menepuk bahu Marshal. "Kalau begitu panggil aku Papa" Marshal mengangguk menyetujui, keduanya tersenyum bahagia.
"Minta izin untuk apa?"
"Aku akan membawa Viona tinggal dirumahku. Mungkin selesai acara, dia akan langsung pulang kerumahku"
Heru menghela napas dalam, kemudian tersenyum. "Aku mengizinkan" ucapnya ragu, terlihat sekali jika dia belum bisa merelakan Viona untuk pergi jauh darinya.
Heru menatap kearah depan, melihat pemandangan indah ditaman depan gedung yang menjadi tempat pernikahan megah itu dilaksanakan. Dia beberapa kali menarik dan membuang napasnya, dengan pandangan sendu, menerawang entah kemana.
"Viona puteriku satu-satunya. Aku sangat menyayanginya. Sekarang dia sudah menjadi milikmu, menjadi istri orang lain. Apapun keputusanmu dalam membimbing langkahnya aku akan selalu mengizinkannya selagi itu baik untuk Viona" Heru menyampingkan duduknya, menatap pada Marshal yang juga tengah menatapnya. "Aku percayakan Viona padamu. Aku harap kamu bisa menjaganya dan selalu membuatnya bahagia. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan ini benar atau salah, semuanya diawali dari kebohongan diantara kita. Tapi aku berharap, semoga kamu bisa menjaga puteriku dengan baik. Jangan pernah mengecewakannya apalagi membuatnya menangis. Viona perempuan tangguh, dia tidak pernah menangis jika bukan karena hatinya terluka terlalu dalam. Dan aku harap kamu tidak membuatnya terluka. Berjanjilah padaku, kamu akan selalu membuat puteriku bahagia!"
Marshal mengangguk dengan cepat dan tersenyum pada Heru. Marshal tahu, keputusannya untuk menikahi Viona bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Dia menikahi anak gadis orang sudah berarti mulai sekarang dialah yang menanggung kebahagiaan Viona.
*****
Hufhhh... Viona menghempaskan tubuhnya yang masih terbalut gaun merah, keatas sofa diruang make upnya.
Tubuhnya terasa begitu sangat lelah setelah seharian mengikuti rangkaian demi rangkaian acara yang menjadi bagian dari pesta pernikahannya.
Acara pesta baru selesai beberapa menit yang lalu. Berlangsungnya acara sangatlah lama, dari pagi hingga saat ini sudah menunjukkan waktu pukul 9 malam, dan tentu saja hal itu menyita banyak tenaga, membuat tubuh Viona hilang rasa, merasakan penat yang begitu luar biasa.
Yang dia inginkan saat ini hanyalah pulang kerumah. Dia ingin mandi dan melepaskan gaun yang merepotkan ini dari tubuhnya, langsung tidur nyenyak diatas kasur empuk kesayangannya. Baru membayangkannya saja sudah mampu membuat tubuh Viona merasa lebih rileks, hingga keinginan untuk segera pulang semakin besar.
"Capek, Sayang?"
__ADS_1
Viona menoleh kearah pintu, senyumnya mengembang melihat dua orang yang paling dia sayangi ada dihadapannya.
"Kalian belum pulang? Kirain aku, kalian udah pada pulang ninggalin aku sendirian" tanya Viona pada kedua orangtuanya yang baru saja memasuki ruangan itu.
"Tadinya mau langsung pulang, tapi pengen liat dulu gadis Mama untuk terakhir kalinya" Lina dan Heru duduk mengapit Viona disofa.
"Emangnya aku mau meninggal, sampe harus ketemu untuk yang terakhir kalinya"
"Bukan begitu maksud Mama, kamu kan sudah menikah, dan sudah pasti akan berpisah dari kami.."
"Aku akan tetap tinggal sama kalian. Gak akan kemana-mana"
"Kamu akan tinggal dirumah Marshal setelah ini"
Viona menatap Heru tak percaya. "Aku gak bakalan tinggal sama tuan Marshal, Pa. Aku akan tetap tinggal sama kalian"
"Tidak, Viona. Tadi Marshal sudah bilang sama Papa kalau kamu akan tinggal bersama dia dirumahnya"
"Aku tidak mau, Pa. Kenapa harus tinggal dengannya? Aku kan bisa tinggal dengan kalian saja"
Lina mengusap kepala Viona lembut, ditatapnya lekat. "Dek, sekarang dia adalah suami kamu, kamu harus mematuhi apapun yang menjadi keputusannya. Jika dia memintamu untuk tinggal bersamanya, ya kamu harus mau, karena kalian sudah menikah jadi harus tinggal bersama" Viona memoncongkan mulutnya, dia tidak bisa berkata lagi dan harus mematuhi apa kata kedua orangtuanya.
"Oh iya, Kemana suami kamu?" Tanya Heru membuat Viona terbelalak.
'Suami'. Kata itulah yang Viona kagetkan. Kata itulah yang membuatnya terpaku sementara. Jantungnya berhenti berdetak sejenak dengan napas yang berhenti berhembus. Dia mungkin baru menyadari jika dirinya sekarang sudah punya suami. Statusnya sudah berubah. Dia sudah menjadi istri orang lain sekarang.
'Istri'.. ya, mengingatnya saja sudah membuatnya tak bisa percaya. Sekarang dia seorang Istri dari Marshal Syahreza Atmadinata.
"Dek, kemana suami kamu?" Tanya Heru kembali membuyarkan lamunan Viona.
"Emm.. dia masih sibuk bersilaturahmi sama kolega-koleganya. Katanya masih ingin mengobrol dengan rekan bisnisnya yang dari luar negeri" sahut Viona yang mendapat anggukan paham dari Heru.
"Maafin Papa ya, Nak. Harusnya Papa gak ngelakuin ini sama kamu. Papa harusnya bebasin kamu untuk memilih.."
"Tidak, Pa. Aku yang memilih ini, jadi Papa jangan nyalahin diri terus,"
"Tapi ini semua salah Papa. Salah Papa. Kalo aja Papa gak menyetujui persyaratan dari tuan Marshal, Papa tidak akan memberikan kamu padanya. Kamu tidak perlu menikah dengannya, Sayang" tatapan sendu tuan Heru disertai mata berair penuh rasa bersalah.
Viona memegang tangan Heru. Mengelus punggung tangannya lembut. "Pa, ini semua adalah pilihan aku. Aku yang memilih menikah dengannya. Bukan salah Papa. Berhentilah menyelahkan diri sendiri. Ini semua pilihan bukan kesalahan"
Tersenyum, dia menyeka air mata, menatap Heru penuh yakin. "Semua yang Papa lakukan demi keluarga kita. Demi kebahagiaan keluarga kita. Demi kebaikan bersama. Jika ini yang terbaik untuk kita, aku ikhlas menerimanya. Aku hanya ingin kalian selalu hidup bahagia tanpa harus menderita. Aku sayang kalian aku tidak mau melihat kalian bersedih" Viona menyeka air mata yang ada dipipi kedua orangtuanya secara bergantian.
Heru dan Lina kembali memeluk Viona dengan penuh kasih sayang. "Sayang, maafkan kami. Sebagai orangtua kami belum bisa ngasih kebahagiaan buat kamu. Kami memang salah telah melakukan semua ini padamu, Nak." Ujar Lina yang terus menerus mengalirkan butiran beningnya.
"Ma, Pa.. Aku gak akan pernah nyalahin kalian. Kalian melakukan ini semua juga untuk kebaikan aku.. selama ini kalian sudah membesarkan aku dengan penuh kasih sayang juga banyak perjuangan untuk membuatku bahagia.. mungkin sekarang saatnya aku membalas semuanya..Ya, walaupun aku tahu, semua yang telah kalian berikan padaku tidak akan pernah bisa terbalaskan. Tapi
setidaknya dengan aku melakukan ini? Keluarga kita akan tetap bahagia tanpa mengalami kebangkrutan. Aku sayang kalian. Dan akan selalu sayang kalian" ketiganya tak bisa membendung air matanya lagi. Larut dalam kesedihan juga keharuan yang begitu mendalam.
BERSAMBUNG......
__ADS_1