Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Aquarium Buat Nyonya


__ADS_3

"Nyonya maunya diisi ikan predator, Yo. Entah apa yang dia pikirkan sampai meminta hal itu."


Rio merapatkan bibir, menahan tawa yang akan menyembur. Melihat raut pusing Marshal, dia cukup tahu bagaimana anehnya permintaan Viona kali ini. Apapun yang Viona mau, selagi Marshal setuju, semuanya memang akan dituruti. Apapun. Seaneh apapun.


"Jadi kita akan membuatnya di mana, Tuan?" Tukang yang dibawa Rio ikut menyahuti.


"Emm ... bagaimana jika di dekat ruangan kerjaku?" Marshal melirik Rio, kemudian tukang tadi untuk meminta pendapat. Mereka berpandangan, terlihat sama-sama memilah. "Tadinya, nyonya mau dibuatkan di dalam kamar. Aku tahu, dia hanya bercanda, tapi tadi ... dia mengatakan hal yang serupa."


Mendengar kalimat terakhirnya, Rio sedikit melongo tidak percaya. Untuk apa menyimpan ikan predator di dalam kamar? Apa itu tidak cukup menakutkan? Tidak terlalu indah untuk dilihat, bukan?


"Mungkin lebih baik memang di pasang di dekat ruanganku saja, ya. Jangan terlalu besar juga mungkin. Nanti dia bosan, aku bisa memperbaikinya dengan mudah. Kamu tahu sendiri, kolam yang di belakang saja dia sudah mengeluhkan ada yang kurang. Padahal belum lama kolam itu kita renovasi, kan."


Rio dan sang tukang mengangguk-anggukan kepala, mengikuti langkah Marshal menuju ruangan belakang. Di sana mereka akan membahas kelanjutan projek aquarium untuk ikan predator yang Viona inginkan. Niatnya, Marshal akan menambahkan banyak ikan predator di sana. Dia akan membeli ikan-ikan tersebut dari luar negeri, mencari ikan yang mahal dan langka. Biar sang nyonya puas dan berterima kasih padanya. Dan nanti dia akan meminta imbalan yang setimpal. Anggap saja transaksi. Supaya semuanya lebih mudah untuk dipahami.


***


"Mau berapa jenis ikan? Biar nanti aku sesuaikan suasana aquariumnya sama ikan yang kamu mau."


"Hmm ... terserah." Viona enggan membuka mata, menarik selimut semakin menutupi tubuhnya yang belum berpakaian.


Setelah Marshal menggagahinya tadi pagi, Viona memang tidak mau bangun. Lebih tepatnya kelelahan. Dia tidur dengan nyenyak, sedangkan Marshal menyambut Rio dan tukang sejak tadi.


"Sayang, sudah mulai sore, mau sampai kapan tidurnya?"


Viona tidak menjawab dan malah kembali menarik selimut yang sempat melorot. Tangan Marshal mulai nakal, mencoba menyibaknya.


"Masalah jenis ikannya harus kita bicarakan sekarang, Sayang. Supaya nanti desain aquariumnya bisa disesuaikan. Kamu mau ikan apa saja?"


"Terserah kamu aja."


"Ya, ampun ...," Marshal mengusap wajah dengan satu tangan. "Kok terserah aku? Yang mau 'kan kamu."

__ADS_1


"Ya, terserah kamu aja. Aku tinggal lihat hasilnya nanti."


Marshal tidak tahu, jika Viona juga bisa bersifat mengesalkan. Istrinya yang mau, dia yang pusing. Jika sudah seperti itu, Marshal hanya bisa bersabar. Mungkin Viona sedang menampilkan sisi lain dari dirinya. Biarkan saja. Seharusnya Marshal senang, karena Viona memberikan kepercayaan padanya untuk memilihkan ikan yang bagus. Baiklah, demi sang istri. Marshal akan membuatkan yang terbaik. Nanti. Karena sekarang dia kembali tergoda dengan punggung mulus istrinya, saat berbalik badan.


Untung Rio sudah mengantarkan tukang tadi untuk pulang. Marshal tidak ada lagi urusan setelah ini.


"Sayang ...." Viona hanya bergumam, tidak sadar dengan tangan yang mulai menyelinap ke dalam selimut. "Apa masih lelah?" Viona bergumam lagi, sepertinya enggan untuk bergerak. Bahkan membuka mata saja dia tidak mampu. Sangat memudahkan Marshal untuk kembali beraksi. Tapi, niatnya harus terganggu dengan suara dering ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dengan kesal Marshal bangun dan meraih benda pipih itu.


Ayah mertua yang menelpon.


Tegakkan tubuh, menghela napas dan berdehem sejenak. Hasrat hampir naik, suara hampir parau, semoga tidak akan memberikan dampak buruk. Baiklah, tarik napas, embuskan. "Assalamualaikum, Pa."


"Waalaikumsalam. Kamu apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, Pa."


"Viona?"


"Syukurlah. Nanti malam apa bisa kalian datang? Kita makan malam di sini, bersama anggota baru. Istrinya Vino. Papa mau kalian juga ikut serta menyambut Rena."


"Ahm, nanti malam, ya?" Marshal melirik lagi pada istrinya. "Sepertinya bisa, Pa. Kami usahakan."


"Baik kalau begitu. Papa tunggu, ya. Jangan kemalaman! Kalau bisa, lebih baik maghriban di sini aja."


"Iya, Pa. Kami akan ke sana sebelum Maghrib tiba."


Setelah menutup sambungan, Marshal menyimpan ponsel di tempat semula. Dia mendekati istrinya, memberikan pelukan sejenak sebelum mengusap bahu Viona dengan lembut. "Sayang," panggilnya lirih, malah semakin membuat Viona terlelap. "Barusan papa telepon. Kita diundang makan malam, nyambut istrinya Vino sebagai anggota baru."


Viona hanya bergumam. Marshal menggelengkan kepala melihatnya. Viona tidak mau diganggu sama sekali. "Kamu gak bangun. Udah sore. Gak mandi dulu, nanti tidur lagi?" Viona tidak menjawabnya. "Atau aku boleh minta lagi?" Marshal menyeringai melihat mata Viona yang langsung terbuka. "Boleh?"


Tanpa diduga Viona memberikan senyuman dan mengangguk. Marshal tersenyum puas. Kenikmatan tambahan akan segera dia dapatkan.

__ADS_1


"Tapi," Tangan Viona teracung di depan wajah Marshal. "jatah nambah, satu bulan kita libur berhubungan."


"Hah?" Marshal menganga. Langsung bangun dan menjauhkan tangannya dari tempat favorit yang sudah dia sasar. Tidak jadi menjelajah. Dia malah memberengut melihat Viona yang kembali menutup mata, merapatkan selimut dengan senyuman licik di bibirnya.


Ini tidak boleh terjadi. Kenapa Marshal jadi lemah dikendalikan Viona?


"Hei, aku 'kan-"


"Ssst, aku lelah, Chal. Apa yang tadi gak cukup?"


Marshal ingin membantah. Memang tidak cukup, makanya dia menginginkan Viona lagi. Tapi, Viona sudah kembali terlelap. Sialan. Hasratnya sudah naik, harus diredam.


***


"Ya, ya, ya ... aku merepotkan." Viona memutar bola mata. Berpura-pura muak mendengar ucapan Marshal yang mengeluh repot dengan Viona yang banyak mau tentang ikan ini-itu, tapi ujung-ujungnya bilang, semua terserah Marshal.


Perjalanan menuju rumah Heru terasa sangat lama, karena di dalam mobil mereka malah membahas masalah ikan predator. Marshal tidak melepaskan pandangannya dari layar ponsel, searching dan bertanya pada kenalannya yang tahu jenis-jenis ikan mahal dan langka. Viona hanya menanggapi seadanya. Karena sejak awal dia tidak benar-benar menginginkan ikan itu. Hanya terlintas dalam benak dan tidak disangka, ternyata Marshal mengabulkan ucapannya.


Setelah masalah ikan selesai, Marshal menyimpan ponsel ke dalam saku. Dilihatnya ke samping, Viona nampak tidak bagus dengan mood-nya. Entah apa yang terjadi. Untung saja Rio yang menyetir, jadi Marshal bisa menggodanya, sedikit.


"Bukankah sejak kemarin kamu ingin menemui mama? Kenapa sekarang terlihat tidak senang?"


Viona menoleh padanya sejenak, lalu kembali melirik ke luar jendela. Sepertinya dia enggan berkomentar. Ada apa dengan Viona? Keinginannya memelihara ikan predator akan segera terwujud, apa lagi yang jadi masalah? Apa Marshal membuat kesalahan?


"Sayang?"


"Apa?!"


Wajah Marshal refleks mundur karena Viona berbalik sangar. "Kamu kenapa?"


Viona tidak menjawab, hanya mendengus dan kembali mengalihkan pandangan. Ada yang aneh dengan istrinya. Apa yang menyebabkan Viona tiba-tiba badmood seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2