
...WARNING!...
...Mature content! Diharapkan untuk bijak dalam memilih bacaan. Anak-anak diharap dengan mohon untuk tidak membacanya. Zhao tidak ingin pikiran kalian tercemari, karena ini bukan komsusian untuk usia di bawah dewasa. ...
______________________________
"Sudah sampai, Sayang."
Viona menggeliat pelan, merentangkan kedua tangan ke arah Marshal. "Gendong ...."
Marshal malah terkekeh melihat sikap manjanya saat ini. Perjalanan yang panjang membuat Viona lelah, tidak mau berdiri sendiri.
"Chal ...."
"Sayang, nanti malu dilihat yang lain. Ini negara orang, lho."
"Memangnya kenapa jika ini di negara orang?" Viona bergumam, turun dari mobil sendiri.
Marshal hanya menggelengkan kepala melihat istrinya merajuk. Viona sudah keluar duluan, menghampiri Rio yang tengah membantu seorang pelayan hotel membawakan koper milik mereka.
Negeri sakura, tempat yang mereka tuju saat ini. Pergi lewat tengah malam dan mereka sampai di pagi hari yang cerah, namun tubuh terasa sangat lelah.
Marshal mengajak Viona untuk pergi ke sana, karena suasana di sana sedang dalam keadaan yang enak untuk berbulan madu. Bunga sakura juga sedang bermekaran saat ini, sangat pas untuk membuat mood Viona supaya tetap memberikan senyuman manisnya terhadap Marshal.
Seorang pelayan hotel mengantar mereka ke sebuah Suite Room yang ada di lantai teratas. Marshal memilihnya karena ingin membuat Viona merasakan indahnya kota tersebut dari ketinggian.
Viona tidak banyak berucap, hanya menurut dan mengikuti setiap perkataan Marshal. Dia terlihat sangat bahagia, meskipun saat ini terlihat lelah dan mengantuk. Terbukti dari kepalanya yang sejak tadi terus bersandar di bahu Marshal. Lengannya juga Viona peluk erat, selalu ingin menempel dengan suaminya.
Saat pintu kamar terbuka, mereka masuk dan mengucapkan terima kasih pada para pelayan yang mengantarkan barang-barang mereka.
"Istirahatlah, Yo! Aku akan keluar saat jam makan siang nanti."
"Baik, Tuan."
Setelah Rio berlalu bersama para pelayan hotel, Marshal menutup pintu kamar dengan rapat. Membalik badan, dia menggelengkan kepala pelan, tersenyum melihat tubuh Viona yang sudah tumbang di atas ranjang empuk. Posisinya tengkurap dengan setengah kaki menjuntai ke lantai. Viona nampak sangat kelelahan sekali. Marshal menghampirinya, duduk di samping Viona yang sudah memejamkan mata.
"Sayang, mandi dulu, nanti baru istirahat."
Viona hanya bergumam saat Marshal mengusap punggungnya.
"Sayang ...."
"Mandiin," rengek Viona dengan manja, membalikan badan jadi terlentang.
Seringaian licik muncul di wajah Marshal. Dia mengusap wajah Viona dengan lembut. "Yakin mau dimandiin?"
Viona terperanjat kaget dan segera bangun. "Aku bilang apa barusan?" Dia terkejut sendiri, sepertinya tidak sadar telah mengucapkan kata terlarang pada suaminya.
"Aku suruh mandi dan kamu malah minta dimandikan. Ayo!" Lagi, Marshal menyeringai sambil menarik tangan Viona untuk beranjak.
__ADS_1
Viona segera menarik tangannya kembali, tidak mau. "Aku salah bicara," kilahnya, menghindari tatapan Marshal yang menelisik.
"Kamu yang meminta, Sayang. Tidak ada salahnya jika aku turuti, bukan? Ayo, aku mandikan!"
"Gak mau ...!"
***
"Bukankah kita datang ke sini untuk berbulan madu? Kenapa masih mengomel, hm?" Marshal memeluk Viona dari belakang. Memperhatikan istrinya yang tengah mengoceh sendiri di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya.
"Ya, nggak langsung juga, kan? Aku capek dan malah kamu tambah capek!" omelnya lagi, tepat melirik ke samping pada wajah Marshal yang terlihat segar dan tampan, setelah selesai mandi.
Viona kembali bersungut-sungut kesal. Marshal benar-benar memandikannya, tapi malah berakhir dengan mandi besar. Si tuan malah menyerangnya di kamar mandi, meski hanya satu ronde, tetap saja menguras tenaga.
"Kamu menikmatinya, tidak usah terus memarahi suamimu yang tampan ini, Sayang." Dengan santainya Marshal berjalan menuju ranjang, membaringkan tubuhnya dengan miring. Menopang kepala dengan sebelah tangan yang ditekuk sambil memperhatikan Viona.
Tidak akan munafik. Viona memang menikmatinya, sangat. Dia tidak pernah bisa menolak sentuhan Marshal, tapi sekarang rasa lelahnya malah berlipat-lipat. Setelah ini dia pasti akan menjadi bangkai. Tidur dengan nyenyak guna mengembalikan tenaganya yang terkuras habis.
"Mau tidur atau bermain lagi?"
"Chal!" Viona memandangnya tajam.
Yang ditatap malah tertawa kencang, menggeser tubuh, mempersilakan Viona untuk berbaring di dekatnya.
"Jangan macam-macam, ya! Aku mau tidur," hardik Viona, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya supaya mata Marshal tidak jelalatan. "Awas, geser!"
"Kita sedang honeymoon, jangan marah-marah!"
"Jika honeymoon yang kamu janjikan hanya seperti ini, kita bisa melakukannya di rumah, Chal. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri."
"Psst ... diam dan tidurlah! Atau aku akan kembali membuatmu kelojotan."
Saat itu juga Viona terdiam, memejamkan mata erat karena takut dengan ancaman suaminya. Meskipun bagian bawah malah berkedut menginginkan serangan, dia tidak bisa. Sudah cukup lelah. Lagian mereka pergi ke sana untuk berbulan madu. Masih banyak waktu untuk mengangkang lebar di depan Marshal. Tidak untuk saat ini. Dia mengantuk dan ingin segera tidur, mengembalikan tenaga untuk menerima serangan berikutnya.
***
"Huamp ...." Kedua tangan Viona terentang saling berjauhan ke kanan dan ke kiri. Dia mengheliat indah dari tidurnya yang terasa sangat nyenyak sekali. Pasti karena rasa lelah yang terasa menyiksa, makanya tidur Viona terasa berkualitas.
"Sudah bangun, hm."
Lirikan Viona beralih ke arah kamar mandi yang baru saja terbuka, menampilkan sosok iblis tampan yang menjelma menjadi suaminya. Senyuman Marshal terlihat sangat manis membuat Viona tidak kuasa untuk ikut membalas dengan senyuman berjuta dosis yang mematikan.
"Apa tidurnya sudah cukup?"
Kepala Viona mundur saat suaminya mendekat. Dia mendorong pelan dada Marshal, berharap suaminya tidak berbuat hal macam-macam yang bisa menguras tenaganya.
"Aku lapar, Sayang," rengek Viona, masih mencoba untuk menyingkirkan tubuh suaminya supaya menjauh. "Lapar ...."
"Sebentar," Marshal akhirnya menegakkan tubuh, tidak lagi condong pada wajah Viona. "aku akan meminta makanan untuk diantarkan ke sini."
__ADS_1
Viona hanya terdiam memandanginya. Perutnya terasa lapar, karena dia sudah tidur seperti bangkai busuk, sejak pagi dan baru terbangun di malam hari. Jam sarapan dan makan siangnya sudah terlewatkan.
Viona memejamkan mata kembali. Kasur yang dia tempati saat ini sangatlah empuk dan nyaman. Terasa begitu hangat dalam balutan selimut yang tebal. Terlebih di luar sepertinya sedang hujan, hawa dingin semakin bertambah berembus lewat pintu balkon yang tidak tertutup rapat.
"Chal, kenapa itu kebuka?"
"Sebentar, Sayang." Marshal malah sibuk dengan ponselnya.
Viona diam lagi, memperhatikan arah balkon yang sudah terlihat gelap. Sepertinya sudah malam. Pantas saja perutnya sudah keroncongan minta segera diisi.
"Tadi kamu bilang apa?" Selesai dengan ponselnya, Marshal mendekat kembali pada Viona yang mengeratkan selimut menutupi tubuh.
"Kenapa itu terbuka?"
"Hm?" Marshal malah menundukkan badan, melihat celananya sendiri. "Nggak, Sayang, sudah aku tutup, kok."
"Kebuka, Chal. Tutup gih!"
Lagi, Marshal melihat ke arah celananya sendiri. Dia memang menggunakan celana jeans yang terdapat ritsleting di depannya. "Nggak, Sayang, udah aku tutup."
"Masih kebuka, Sayang. Tutup cepatan!" Viona mengeratkan kembali selimutnya.
Hal itu membuat Marshal mengernyit tidak mengerti. Dia bangun dan menunjukkan celananya pada Viona. "Lihat sendiri! Aku sudah menutupnya, Sayang."
Mulut Viona menganga lebar saat Marshal mengusap bagian bawah perutnya. Sedetik kemudian dia meringis. "Bukan itu yang aku maksud!" Tangan Viona menyembul dari balik selimut, menunjuk arah balkon dengan tegas. "Itu! Kenapa itu terbuka? Aku kedinginan."
Marshal termangu sebentar, kemudian terkekeh geli, turun dari ranjang begitu melihat pandangan Viona. Masih sambil mengusap bawah perutnya, dia bergumam pelan, "Aku kira ritsletingnya yang masih terbuka, Sayang." Dia memang baru saja selesai buang air dari toilet, makanya berpikir demikian.
"Dasar mesum! Pikiran kamu tuh ke sana terus, Chal!"
Marshal berbalik cepat, setelah menutup pintu balkon dengan rapat. Ternyata Viona masih bisa mendengar gumamannya. "Siapa yang mesum?"
"Kamu!"
"O ... ya?" Marshal berjalan mendekati Viona kembali. "Lalu siapa yang suka keenakan menerima kemesumanku, hm?"
Viona diam. Tidak akan berakhir baik, jika dia menyahutinya. Dia akan kalah.
"Siapa, Sayang?"
Viona masih saja diam, malah kembali mengeratkan selimut saat Marshal semakin dekat dan duduk di sampingnya.
"Siapa yang suka mendesah ... Aaaahhh ... Chall ...." Ekspresi dan nada bicaranya dibuat-buat menyerupai Viona ketika bercinta. Dibisikan langsung di depan telinga Viona, Marshal kembali menggodanya, "Ahhh ... Sayang ..."
"HEI!"
Tawa Marshal menggema memenuhi kamar, kala melihat tangan istrinya mengepal kuat, meninju udara dengan wajah yang merah merona.
Terlihat sangat menggemaskan!
__ADS_1