Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Bendera Perang


__ADS_3

Marshal lemas seketika. Kenapa Viona melihat kehadiran Sendi? Geram sekali rasanya. Apa yang dia cemaskan malah terjadi. Dan lihat! Sekarang Viona terbengong di tempat, memandang Sendi tanpa berkedip.


Marshal marah melihatnya. Dia membuang napas dengan kasar dan segera memeluk Viona supaya tidak memandang Sendi lagi.


Viona yang masih setengah sadar, diam di dalam pelukan. Namun tangan Marshal kembali mengepal saat istrinya bergumam yang masih bisa dia dengar.


"Sendi ..."


Ingin sekali Marshal tendang saja Sendi dari muka bumi. Dia emosi melihat istrinya yang bereaksi sehebat itu saat bertemu Sendi. Tuhan, kenapa mereka harus bertemu sekarang? Marshal merasa kebakaran. Bara api dalam tubuhnya sudah berkobar mengeluarkan tanda perang. Sisi iblisnya berbisik jika dia harus melenyapkan Sendi sekarang juga. Tapi Marshal tidak mungkin melakukan hal itu. Dia masih punya belas kasihan.


Menghela napas dalam. Menetralkan emosi dalam diri. Marshal tersenyum dan melepaskan pelukannya pada Viona. "Kenapa kamu turun?" tanya Marshal dengan pelan. Mengusap wajah Viona.


Viona yang baru saja tersadar, hanya bisa memandang Marshal dalam diam. Dia masih terkejut dengan kedatangan Sendi. Viona tidak menyangka jika pertemuannya kali ini akan terasa amat mengejutkan.


Sendi hampir menangis di tempatnya. Dia tidak bisa menghampiri Viona karena Arga sekuat tenaga menahannya. Sendi hanya bisa pasrah dan menahan gejolak dalam dada. Dia kesal melihat Viona yang dipeluk oleh Marshal seperti itu. Harusnya Sendi yang memeluknya, bukan Marshal.


"Jaga sikapmu, Sen! Nanti kita bicarakan baik-baik," bisik Arga pada Sendi yang wajahnya sudah memerah. Menahan kesal juga rindu yang teramat dalam.


 


Marshal yang teramat geram melihat Viona memandangi Sendi tanpa berkedip seperti itu, dia langsung menarik Viona menuju halaman belakang supaya mereka bisa menjauh dari Arga dan Sendi sebentar.


Setelah lama saling diam. Memandang satu sama lain. Akhirnya Viona memberanikan diri untuk membujuk Marshal supaya membiarkannya bicara dengan Sendi. Namun, Marshal yang tidak rela, menolak keinginan Viona dengan berbagai alasan.


"Tuan, saya mohon ..."


Marshal tetap diam mendengarkan permohonan Viona yang sudah entah untuk keberapa kali dia ucapkan. Marshal tidak rela jika Viona harus berbicara dengan Sendi. Apalagi jika hanya berdua. Apa yang terjadi nanti?


"Tuan, saya hanya ingin bicara sebentar dengan Sendi. Hanya sebentar saja, saya janji!"


Dipandanginya wajah sang istri dengan lekat. Marshal memang tidak suka jika Viona harus bertemu dengan Sendi. Egonya berkata jika dia tidak boleh memberikan kesempatan pada Sendi karena banyak kemungkinan terjadi jika Sendi akan merebut Viona kembali.


"Memangnya kamu mau membicarakan apa dengan dia?"


Viona terdiam cukup lama. Dia tidak mungkin mengatakan semuanya pada Marshal. Ini tentang masalahnya dengan Sendi yang harus segera dia selesaikan, tidak ada sangkut pautnya dengan Marshal yang entah mengapa sulit sekali untuk mengizinkan.


Tangan Marshal mengepal. Kesal melihat istrinya yang malah terdiam. Marshal tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, apalagi jika Sendi mengajak Viona untuk balikan. Dia masih ingat, sebelum dinikahi olehnya, Viona sempat diajak untuk berta'aruf oleh Sendi.


Itu artinya mereka pernah mencintai, bukan? Dan Marshal tidak mau mengetahui kelanjutan cerita mereka. Melihat tatapan istrinya pada Sendi saja, dia sudah sangat kepanasan. Apalagi jika harus mendengar kenyataannya jika istrinya benar mencintai Sendi. Tidak, Marshal tidak siap mendengarnya. Dia takut, Viona akan bersedia jika Sendi mengajaknya kembali.

__ADS_1


Sungguh, Marshal tidak akan bisa membiarkan hal itu terjadi. Dia sangat tidak rela jika Viona memilih kembali pada Sendi.


"Tuan," Viona memandang Marshal dengan sendu. "biarkan saya bicara pada Sendi."


Berpikir sejenak. Marshal membuang napasnya kasar, memandangi wajah istrinya yang sangat memelas, dia jadi tidak tega. Dan akhirnya dia mengangguk pada Viona. "Hanya sebentar," ucapnya yang walaupun sangat tidak rela.


Tapi Marshal benar-benar tidak tega melihat istrinya memohon sampai seperti itu. Harus belajar positif thinking, mungkin Viona akan memutuskan hubungannya dengan Sendi secara baik-baik, harap Marshal. Tapi hati kecilnya tetap menolak pikiran itu. Tetap cemas dan takut Sendi akan merebut Viona darinya.


Viona tersenyum memandangi Marshal. Senang karena Marshal akhirnya mengizinkan, meski harus menggunakan banyak alasan. Tapi tak apa, setidaknya Viona bisa bicara dulu dengan Sendi.


"Diam di sana! Aku yang akan panggilkan dia untukmu," ucap Marshal menunjuk salah satu ruangan yang menghadap langsung menuju kolam dekat taman.


Viona hanya mengangguk. Dia mengikuti perintah Marshal untuk menuju sana. Tapi, tangan Marshal menahan Viona yang akan beranjak dan langsung memeluknya erat. "Jangan macam-macam dibelakangku!" ucap Marshal tepat di telinga Viona.


Mencibir dalam hati. Memangnya apa yang akan Viona lakukan sampai Marshal terlihat seperti akan kehilangan? Viona hanya akan bicara dengan Sendi, bukan melarikan diri. Tapi Marshal sampai harus memeluknya erat seperti itu setelah mengizinkan. Aneh.


Dengan langkah pelan dan dada bergemuruh, Marshal langkahkan kakinya ke ruang tamu. Melirik Sendi dengan tajam. Dia tidak bisa percaya pada laki-laki yang umurnya enam tahun dibawahnya tersebut.


Sendi yang sedang duduk pun sama halnya dengan Marshal. Mendongak, menatap Marshal dengan tajam hingga bendera perang dibalik tatapan itu pun terpancar.


Arga hanya menghela napas. Dipandanginya dua pria itu bergantian. Dia geleng-geleng kepala. Marshal yang dia kenal sangat berwibawa dan berkuasa, kini terlihat seperti bocah saat menghadapi Sendi. Sehebat itu Viona bisa merubah seorang "King Of Business" sampai lupa pada jabatannya.


Setelah lama saling terdiam. Marshal pun angkat bicara duluan. "Istriku ingin bicara denganmu. Dia di ruangan halaman belakang," ucap Marshal dengan tenang, menekankan kata 'istriku' dihadapan Sendi.


Marshal harus membuang napasnya dengan kasar. Hatinya mencibir dalam sadar. Lucu sekali. Dia merasa bersaing dengan anak rekan bisnisnya sendiri. Sulit dipercaya.


Marshal duduk kembali bersama Arga. Menahan diri untuk tidak memikirkan Viona. Meskipun itu sulit dilakukan karena pikirannya terus saja tertuju pada istrinya.


...


Viona duduk di sofa yang ada di ruangan pinggir kolam, menunggu Sendi datang yang sudah dipanggilkan oleh Marshal.


Jantungnya sudah berdebar tidak beraturan. Dia gugup. Apa yang harus dia katakan pada Sendi nanti? Bagaimana di menghadapi Sendi?


"Vi ...!" Sendi menghampiri Viona dengan senang. Mendekatinya serta merentangkan tangan hendak memberi pelukan. Tapi Viona dengan sigap menghindar. Tidak mau menerima pelukan dari Sendi.


"Duduk, Sen!"


Beberapa kali Viona menghela dan membuang napasnya. Perasaan gugup sangat dahsyat dia rasakan. Dadanya bergemuruh tidak karuan. Apa yang harus dia katakan sekarang? Dari mana dia harus memulainya?

__ADS_1


"Vi, aku ke sini-"


"Apa kabar, Sen?" potong Viona dengan cepat. Dia harus meminimalisir dulu keadaan. Jika sedang tegang seperti ini, Viona rasa perbincangannya dengan Sendi akan kurang mengenakan.


Sendi memandang Viona dengan lekat. Dia tersenyum, manis sekali, bahkan Viona harus memejamkan matanya melihat lengkungan bibirnya.


Senyuman itu. Senyuman yang aku lihat dari zaman SMA, kenapa masih terlihat sama? batin Viona.


"Kabarku baik. Bagaimana kabarmu?"


Viona tersenyum canggung. Entah mengapa tangannya terasa dingin. Berhadapan dengan Sendi terasa sangat mencekam melebihi berada di samping suaminya. "Aku baik," ucap Viona lirih. Mengalihkan pandangan melihat ke arah kolam.


Lama mereka terdiam. Viona tetap memandangi kolam yang terdapat banyak ikan hias di sana, sedangkan Sendi tanpa henti memperhatikan wajah Viona yang selalu terlihat cantik dan menarik untuk dipandangi tanpa henti.


"Vi, apa kita masih bis-"


"Lupakan kata 'kita'!" sambar Viona dengan tegas. "aku mau, kamu tidak menemui aku lagi," lanjut Viona tanpa menoleh sedikitpun pada Sendi. Suasana kolam lebih menenangkan dibanding menghadap pada Sendi.


Sendi tercengang mendengar ucapan Viona. Kenapa Viona berkata seperti itu? Apa Viona sudah melupakannya? Secepat itukah?


"Apa maksud kamu?"


Viona kini menghadap pada Sendi. Hela napas dalam sebelum bicara. Dia tersenyum. "Aku mau kamu tidak menemui aku lagi. Dan untuk hal ini ... aku sangat meminta maaf sama kamu, Sen. Bukan maksud aku mau membohongi ataupun mengkhianati kamu, tapi ini memang sudah menjadi pilihanku."


Sendi menggeleng dengan kuat. "Nggak. Kita masih bisa bersama. Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku masih punya harapan untuk memilikimu."


"Harapan apa, Sen? Aku sudah menikah, tidak mungkin bisa kembali lagi sama kamu."


"Tapi kamu masih milikku!" ucap Sendi dengan tegas. Menatap Viona dengan lekat. "Kamu masih milikku dan akan selalu jadi milikku!"


Menangkup wajah dengan kedua tangan. Viona menggeleng. "Tapi kita tidak punya hubungan, Sen," ucapnya lirih.


Sendi terdiam. Membuang napasnya kasar. Inilah yang dia takutkan. Makanya dari dulu dia ingin menjalin hubungan yang resmi dengan Viona. Ikatan yang benar-benar jelas untuk bisa menjadi alasan Sendi mengakui pada dunia bahwa Viona adalah miliknya. Namun, Viona selalu saja menolak.


Dan lihatlah sekarang! Viona direbut orang lain dan Sendi tidak punya alasan untuk mengambilnya kembali. Padahal dia sangat mencintai Viona dan tidak mau kehilangannya.


Mencoba bertahan dengan harapan yang masih ada. Sendi yakin, Viona masih bisa menjadi miliknya meskipun sekarang dia sudah menikah. "Tapi kita masih saling mencintai, kan? Kita masih bisa bersama, Vi!"


Viona menggeleng pelan. "Tidak, Sen. Aku tidak mencintaimu lagi."

__ADS_1


Sakit. Sendi membisu. Panah itu menusuk ulu hati terlalu dalam. Sendi terdiam. Apa secepat itu Viona melupakannnya? Sendi menggeleng. "Kamu masih mencintaiku, jangan bohong!" ucapnya meyakinkan diri sendiri. Namun, hatinya semakin sakit saat Viona berkata, "Tidak. Aku tidak mencintaimu dan sudah melupakanmu."


Nyeri. Sendi terkulai lemas. Bagaikan disayat dengan belati. Tubuhnya mati rasa. Penantian yang dia bangun dari SMA, apakah harus semudah itu sirna?


__ADS_2