Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Viona Harus Ngidam


__ADS_3

"Kamu mau apa lagi, Sayang?"


"Tadi aku udah minta apa saja?"


"Mie Ayam ekstra Veggie, Sup buah jangan terlalu manis," Marshal mulai menyebutkan keinginan Viona, "Puding cokelat harus sama persis seperti resep mama, jus alpukat jangan banyak es, nasi goreng seafood, kripik jagung yang original, kue kering rasa Macha, bolu kukus rasa cokelat dan roti bakar selai blueberry."


Viona tertawa pelan. "Ternyata udah banyak, ya. Kamu gak apa-apa nurutin semua?"


Marshal malah tersenyum penuh percaya diri sambil menepuk dada. "Untuk kamu dan anakku. Jadi, mau apa lagi?"


"Itu udah banyak, lho, Chal." Viona merasa tidak enak dengan suaminya. Marshal memintanya untuk mengatakan apa yang sedang dia inginikan saat ini. Jadilah, setiap apa yang terlintas di kepala, semuanya Viona sebutkan. Sebenarnya dia tidak ngidam apa pun saat ini. Tapi, Marshal tetap memaksa untuk Viona meminta sesuatu, tidak boleh mengabaikan apa yang dia inginkan. Semuanya harus terlaksa dan Marshal akan mengabulkan semuanya.


Setiap wanita hamil dianggap ngidam saat ingin sesuatu. Namun, yang Viona rasakan tidak seperti itu. Dia sadar diri, ketika sesuatu makanan terlintas di kepalanya, dia pasti menginginkan itu. Dia yang mau, bukan selalu membawa anaknya. Bisa jadi hanya keinginan sang ibu, tapi orang-orang suka mengartikannya sebagai ngidam efek dari janin yang tengah dikandungnya.


"Mau apa lagi, hm?" Tangan Marshal menahan di sisi kanan dan kiri tubuh Viona, berdiri setengah menunduk memperhatikan wajah istrinya yang selalu terlihat sangat cantik. "Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Viona duduk di tepi ranjang, sedikit menengadah untuk membalas tatapan hangat Marshal. "Aku ... lagi mikirin kamu." Dia mengulum senyum, Marshal melongo seolah ada yang salah dengan ucapannya.


Tubuh Viona mundur ke belakang, ketika Marshal memberikan kecupan di bibirnya. Dia pura-pura merengut, padahal memang sangat suka dengan kecupan yang Marshal berikan, bahkan ingin mendapatkannya lagi, lagi dan lagi.


"Aku menanyakan apa yang kamu inginkan lagi, Sayang. Jangan beralih ke hal lain. Aku harus banyak berpuasa. Kamu sedang hamil."


"Memangnya tidak boleh, ya? Dokter bilang boleh, kok. Asal masih dalam batas wajar dan tidak membahayakan."


Marshal tertawa melihat istrinya yang memberikan cengiran lebar. "Sudah rindu sama sentuhanku?" Ironisnya, Viona mengangguk cepat. Tawa Marshal semakin terbahak sampai sudut matanya sedikit berair. "Tidak sekarang, ya. Nanti."


Viona tersenyum lebar, terlihat seperti wanita yang jarang disentuh. Entah kenapa, dia sangat rindu dengan sentuhan suaminya. Sangat ingin dan bahkan tidak mau Marshal jauh darinya. Dia rela mengangkang sepanjang malam, asalkan Marshal tidak pergi jauh dan bertemu dengan wanita lain. Marshal hanya boleh meliriknya seorang. Viona tidak akan pernah membiarkan mata suaminya berpandang ke salah arah.


"Mau apa lagi, hm? Apa yang kamu inginkan?" Marshal masih saja bertanya. Padahal sudah sangat banyak makanan yang Viona sebutkan tadi. "Biasanya, wanita hamil banyak maunya, lho, Sayang."


Viona hanya diam, tidak merasa apa yang Marshal ucapkan terjadi juga kepadanya. Dia makan biasa saja dan tidak pernah menuntut banyak hal pada suaminya.


"Yakin, tidak mau apa-apa lagi?" Melihat istrinya mengangguk, Marshal menegakkan tubuh. "Baiklah, aku akan mencarikan semua makanan yang kamu mau. Serius, tidak mau apa-apa lagi, Sayang? Makanan pedas atau buah yang asam, misalnya?"


"Nggak. Udah cukup, Chal."

__ADS_1


"Oke." Marshal tersenyum manis, beranjak menuju ruang ganti yang seketika membuat mata Viona melotot tajam memanggilnya dengan nada tidak suka. Marshal berbalik badan lagi, istrinya terlihat sangat garang.


"Gak usah ganti baju! Udah begitu aja!"


Marshal lupa, istrinya tidak suka dia terlihat tampan. Jangan bergaya, jika tidak mau nyonya meradang karena penampilannya. "Tapi, masa penampilan seperti ini, Sayang? Aku akan pergi ke banyak tempat, sekalian bertemu Chef Rizwan di hotel. Aku-"


"Niat ganjen?!" Viona akhirnya meradang juga.


"Bukan, Sayang." Marshal mengalah, tidak jadi ganti pakaian. "Baik, aku gak akan ganti pakaian. Cukup seperti ini saja." Celana pendek selutut, kaos putih polos dan ... sudah. Dia bahkan baru bangun tidur siang beberapa saat yang lalu.


"Ke mana lagi?!"


"Aku mau cuci muka, Sayang. Biar terlihat segar sedikit." Marshal berdiri depan kamar mandi, istrinya malah semakin darah tinggi. "Apa aku tidak boleh mencuci wajah?" Dan benar saja, Viona memberikan gelengan tegas, menjentikkan telunjuk memintanya untuk segera kembali.


"Itu," Viona menunjuk ke bawah, pada kaki Marshal. "gak usah pakai sandal yang bagus! Pakai sandal jepit, itu aja udah cukup."


Marshal menganga di tempatnya berdiri, melihat kaki dan wajah istrinya yang nampak serius. Bahunya lemas seketika. Viona takut wanita lain tergoda atau ingin membuat Marshal menjadi gembel dadakan?


"Oh, cuma diam, ya? Pantas, sih. Kamu kan emang hobinya tebar pesona."


"Aku sekarang harus apa? Apa aku bisa membantah, Sayang? Kamu mau aku yang mencarikan semua makanan itu, tidak boleh menyuruh Rio dan sekarang kamu juga tidak membolehkan aku untuk berpenampilan-setidaknya terlihat lebih baik. Aku hanya akan menurutinya, Sayang."


Senyuman Viona melebar, tidak ada lagi raut garang di sana. Semudah itu mood-nya membaik. "Gak enak, ya, kalau aku kekang, aku larang-larang? Gak enak kalau gak bisa nolak keinginan, gak bisa membantah? Gak enak, kan, Chal? Itu yang aku rasain juga dari pertama nikah sama kamu."


Shit!


Marshal langsung bungkam, mengangkat tangan di udara. Dia menyerah. Viona dan anaknya telah mengibarkan bendera kemenangan dan Marshal akan akui kekalahan itu dengan telak.


***


Marshal memeriksa satu per satu makanan yang sudah dia dapatkan. Banyak kantong yang dia jinjing, sangat merepotkan. Tidak boleh ada yang terlewat supaya Viona senang dan tidak marah padanya. Bisa saja, Viona kecewa dan nanti uring-uringan lagi, kalau Marshal tidak membawakan sesuai dengan pesanan yang dia inginkan.


"Apa perlu bantuan, Tuan?" Erni datang menghampiri, terlihat kasihan melihat majikannya membawa semua barang bawaan sendiri, kecuali sebuah wadah kotak berisi kue tar dan puding yang di bawakan oleh Rio.


"Tidak apa. Aku bisa sendiri membawanya ke dapur. Kamu hanya perlu bantu untuk menyiapkannya, ya."

__ADS_1


Erni dan Rio mengikuti Marshal menyimpan semua makanan itu di atas meja. Setelahnya, Marshal naik ke lantai atas untuk memanggil istrinya dan memberitahukan, bahwa semua pesanan Nyonya telah siap dihidangkan.


"Sayang?"


Viona menggeliat di atas ranjang, ponsel masih menyala di tangannya. Kebiasaan dia akhir-akhir ini adalah bermain dengan ponsel sambil rebahan. Katanya, dia selalu merasa lemas dan gampang lelah. Itu wajar untuk wanita hamil.


"Pesanannya udah siap semua. Mau makan sekarang?" Mata Marshal membola kala istrinya menggeleng pelan dan kembali melihat ponselnya. "Sudah semuanya aku dapatkan, Sayang. Ada yang tidak bisa dibiarkan sampai nanti, kalau tidak dimakan sekarang."


"Aku gak mau, Chal. Aku gak lapar."


"Tapi, tadi kamu yang-"


"Siapa yang maksa aku buat nyebutin semua yang ada di kepala? Aku udah bilang, aku cuma kepikiran itu, bukan mau itu! Udah, ah, aku mau tidur aja. Kamu abisin semuanya! Si Dedek yang minta."


Marshal merosot saat itu juga melihat Viona berbalik badan, memunggungi. Berjam-jam dia mencari banyak makanan dan Viona ... tidak mau memakannya? Lalu untuk apa dia membelikan semua itu?


"Sayang, jangan ubah ngidamnya. Aku gak bisa makan semua makanan kamu."


"Aku gak bilang ngidam, Marshal Sayang. Kamu yang maksa buat nyebutin semua yang ada di pikiran aku, ya. Jangan nyalahin aku begitu!"


Baiklah, Marshal yang salah kali ini. Dia beranggapan, bahwa semua yang dipikirkan istrinya adalah apa yang dia inginkan. Marshal hanya ingin direpotkan dengan ngidam sang istri, seperti kebanyakan suami di luaran sana. Viona berbeda, tidak pernah banyak meminta, selain masalah diri Marshal sendiri.


Mungkinkah ngidam Viona adalah membuatnya jadi jelek dan tidak tampan sepanjang hari? Mustahil! Marshal sudah tampan sejak lahir, mana bisa menuruti keinginan hormon hamil istrinya.


Atau ... memang benar, Viona akan senang jika punya suami berpenampilan seperti gembel?


Benar-benar gila, jika sampai itu yang Viona idamkan!


________


Musim seperti ini, ada banyak penyakit yang akan datang menyita waktu dan mengganggu beberapa aktivitas. Jaga terus kesehatan kalian, ya. Sehat itu penting dan sehat itu mahal.


Kalau gak jaga diri sendiri, memangnya siapa yang akan peduli?


Jadi, tetaplah jaga kesehatan dan semoga bahagia selalu. Semoga rezeki kalian semakin melimpah.

__ADS_1


__ADS_2