
Hari yang indah bagi mereka berdua. Bangun tidur, senyuman Marshal mengembang lebar mendapat sambutan hangat dari istrinya. Viona terlihat sangat cantik, sudah wangi dan berpakaian rapi. Dia menarik selimut yang digunakan oleh Marshal. Dengan jahil, Viona memencet hidung suaminya. Dia tidak mau Marshal kembali menutup mata.
"Bangun, sudah pagi!" Viona menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
Marshal menggeliat pelan dan kembali membuka matanya. Dikuceknya kedua mata yang masih terasa mengantuk, Marshal memonyongkan bibirnya pada Viona. "Morning kiss!"
Viona malah mencubit pipinya cukup keras sampai Marshal mengaduh kesakitan dan mengomel pelan. "Kamu belum gosok gigi. Ayo, bangun, aku mau jogging sama kamu!"
Mata Marshal langsung terbuka lebar. Dia memperhatikan lagi penampilan istrinya. Memakai baju jersey dengan celana trainning berwarna senada Ini hari libur, tidak ada salahnya jika mereka pergi jogging bersama. Lagian, mereka belum pernah berolahraga bersama. Selalu Marshal yang berolahraga pagi, dia tidak pernah melihat istrinya melakukan hal serupa.
"Ayo, ih! Aku mau olahraga, takut gendut. Aku mau buka ruangan gym kamu, tapi dikunci. Kuncinya mana? Kata mba Erni ada di kamu." Viona menarik-narik tangan suaminya supaya Marshal cepat untuk bangun.
Dengan malas, Marshal bangun dan mencium pipi istrinya sekilas sebelum dia berlari ke kamar mandi menghindari amukan istrinya yang terlihat kesal karena ciumannya.
"Kamu belum gosok gigi!" teriak Viona dengan marah pada Marshal yang malah tertawa dan masuk ke dalam kamar mandi dengan santainya.
Viona menyiapkan pakaian untuk suaminya berolahraga. Dia juga tidak tahu dari mana ide itu muncul. Mengingat semalam Marshal menggendongnya dan merasa bobot tubuh Viona sebagai beban. Dia jadi merasa perlu berolahraga. Sudah lama dia tidak melakukannya.
***
Jogging-nya tidak jadi mereka lakukan karena di luar malah hujan. Viona memilih melakukan yoga di ruangan gym milik suaminya. Marshal juga melakukan olahraga dengan jenis yang berbeda bersama dengan Rio.
"Jaga mata!" peringatan Marshal terlontar entah sudah berapa puluh kali pada asistennya. Dia kesal jika Rio melihat tubuh istrinya yang sedang terlihat sangat menggugah saat melakukan gerakan yoga.
Rio langsung mengalihkan pandangan. Dia tidak berniat melihat kemolekan tubuh majikannya, hanya tidak sengaja dia menoleh saat mengelap keringat, tetapi Marshal seolah menuduhnya yang berniat.
Tubuh Viona memang ideal dan sangat bagus. Menurut Marshal, Viona sama sekali tidak gendut, tapi istrinya tetap keukeuh ingin menurunkan berat badan. Marshal melarangnya karena dia tidak mau tubuh Viona terlalu kurus. Tidak enak jika dipeluk. Tapi, istrinya memang keras kepala dan tetap berusaha untuk menurunkan berat badan. Jika sudah seperti itu, Marshal harus mencari cara supaya istrinya tetap pada berat yang saat ini dia sukai. Biasanya Viona akan menurut jika diperintah untuk banyak ngemil. Dan itu sepertinya ide yang bagus. Marshal akan mengajaknya ngemil setiap malam supaya Viona tidak kurus kerempeng.
Plak!
"Jaga mata!" bentak Marshal, melemparkan handuk kecil pada Rio.
Asistennya itu melihat Marshal dengan kaget. Padahal dia sedang membenarkan tali sepatu, tidak melirik Viona sedikit pun. Tapi, tetap saja kena omelan. Rio ingin keluar sejak tadi, daripada dia diomeli terus oleh majikannya. Tapi, Marshal melarangnya dengan alasan supaya dia ada teman. Huh, ada teman untuk dimarahi sepertinya.
"Ke mana, Sayang?" Melihat Viona yang sudah membereskan matras, Marshal menghampirinya.
Viona melihat padanya, meengelap keringat yang menetes di pelipisnya. "Aku sudah selesai."
Marshal mengulurkan tangan untuk ikut mengelap keringat istrinya. Dia tersenyum melihat Viona yang terlihat sangat seksi. "Rio, kamu boleh pergi jika sudah selesai," teriaknya pada Rio tanpa berbalik badan dan tetap memperhatikan istrinya.
__ADS_1
Rio mendengus sebal dan segera keluar dari ruangan tersebut. Apa yang akan majikannya lakukan, dia juga tidak tahu. Tapi, ini adalah pikiran orang dewasa. Keluar lebih baik daripada dia menyaksikan dan dia ikut menginginkan, bisa repot nanti. Rio tidak ada pasangannya.
"Kenapa kamu sangat cantik?"
"Sudah dari sananya seperti ini. Aku memang cantik dari lahir, Chal," jawab Viona dengan santai sambil membuka gelungan rambutnya.
Senyuman Marshal semakin mengembang melihat rambit istrinya yang tergerai. Dia mengusapnya lembut sebelum Viona menggulungnya kembali.
"Bolehkah aku mengendus ini?" Marshal menyusuri leher istrinya yang basah dengan punggung jemarinya.
Viona merasa merinding, segera memundurkan tubuhnya untuk menjauh. "Kamu mau menjilat keringatku?"
Mirisnya Marshal mengangguk dan menyeringai. "Meninggalkan beberapa tanda di sini mungkin akan mengasyikan."
Viona menghindar saat Marshal mendekat padanya. Dia segera berlari keluar dari ruangan itu guna menghindari suaminya.
Marshal cepat menyusulnya. Viona berlari menaiki tangga, dia pun ikut dengan apa yang dilakukan istrinya. Namun, dia kalah cepat hingga sampai di kamar, Viona lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Marshal berteriak memanggil namanya, Viona seolah tuli dan menghiraukannya begitu saja.
***
Marshal mendelik jengah pada istrinya yang terus saja tertawa. Dia kesal. Di saat dirinya terjatuh, Viona bukannya membantu, tapi malah menertawakan suaminya yang terlihat sangat mengenaskan sehabis terpeleset di dekat ranjang.
"Kamu tuh, ya ...."
"Iya, Sayang. Tadi aku menginjak tutup pulpen, jadi terpeleset."
"Sekarang tutup pupelnnya mana?" Viona tertawa kembali melihat tutup pulpen yang ditunjuk oleh suaminya. "Tutup pulpennya sampai remuk." Dia terus tertawa membuat suaminya semakin kesal.
"Aku jatuh, Sayang. Kamu malah-"
"Iya-iya, Maaf. Lagian kamu sih, kalo jalan yang bener. Lihat lantai, jangan lihat berkas terus!"
Marshal tidak mau mendengarkan omelan istrinya. Semua ocehan Viona sudah percuma. Untuk apa lagi Viona banyak mengomel untuk memperingatkan, tapi Marshal sudah terjatuh. Petuah seperti itu sudah tidak berguna lagi baginya.
"Kamu kalo kesal lucu, tauk."
Marshal langsung beralih memandangi istrinya. Viona terlihat khawatir sekarang. Dia membantu Marshal untuk duduk di ranjang dengan hati-hati.
Marshal meringis. Bokong dan pinggangnya terasa sangat sakit. "Ambilin itu, Sayang!" Marshal menunjuk kertas yang berserakan karena saat dia terpeleset, semua kertas itu awalnya dia pegang dan langsung bertebaran.
__ADS_1
Dengan sabar Viona mengambildan mengumpulkannya kembali. Ada-ada saja ulah Marshal. Dia hanya bisa menahan tawa karena takut suaminya marah lagi. Tidak biasanya Marshal memeriksa berkas di kamar. Jadilah seperti itu.
***
"Kamu harus menyuapiku!"
Viona memandang sebal. Sejak kejadian tadi, Marshal mulai terlihat manja padanya. Apa-apa harus diambilkan, harus dituruti sampai Viona tidak bisa beranjak sedikit pun darinya. "Padahal yang sakit bagian belakang lho, Chal. Tangan kamu gak kenapa-napa. Masa makan sediri saja tidak bisa?"
"Istriku mulai mengeluh." Marshal mengalihkan pandangan dengan cepat ke arah lain.
Viona hanya mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia mengambil makanan yang sudah disiapkan untuk Marshal dan mulai menyuapi suaminya. "Kamu manja banget, sih. Aku saja waktu itu sakit pinggang gak manja seperti ini."
"Kapan kamu sakit, Sayang?"
"Waktu itu, pas kamu jatuhin aku ke lantai dengan sengaja."
Marshal yang sedang menguyah, langsung tersedak. Dia memandang istrinya dengan tajam. "Kapan aku menjatuhkanmu? Waktu itu kamu sendiri yang gak bisa diam, makanya jatuh."
Viona hanya bergumam saja dan kembali menyuapi suaminya dengan telaten. Dia tahu, Marshal sengaja membuatnya repot, padahal dia sudah tidak apa-apa. Dia sedang tidak ingin berdebat dan tetap sabar menghadapi suaminya yang manja seperti bayi.
"Aku manja hanya sama kamu, Sayang."
Viona hanya meliriknya sekilas. Dia mengambilkan minum dan memberikannya pada Marshal.
"Sungguh, Sayang! Sama orang lain aku tidak pernah manja. Kalau tidak percaya, kamu bisa menanyakannya pada papa atau Rio. Mereka tahu aku seperti apa."
Viona hanya bergumam.
Marshal menyerahkan gelas yang sudah kosong pada istrinya. "Kalau di depan Amanda, aku selalu terlihat gagah dan tegas. Tidak pernah menye-menye seperti terhadap kamu. Bahkan, aku jarang menyebutnya dengan panggilan manis. Kamu tahu sendiri, aku suka menyebut Manda saja, kan. Kamu memang berbeda."
"Aku tidak percaya." Viona menyimpan piring dan gelas yang sudah habis isinya. Dia ingin tertawa terbahak-bahak di depan wajah suaminya. Mana mungkin ada orang sakit makannya sampai lahap seperti itu. Dan setelah makan, Marshal malah memintanya untuk mengambilkan buah.
"Sayang, apa pilnya sudah kamu minum?"
Viona menggeleng sambil mengupas jeruk untuk suaminya. "Belum. Memangnya kenapa?"
"Apa kamu tidak mau meminumnya sesegera mungkin?"
Viona menatapnya dengan tajam. Dia menyerahkan jeruk yang sudah dikupas pada tangan suaminya dengan kasar. "Sedang sakit jangan macam-macam!"
__ADS_1
Marshal malah terkekeh sambil memakan jeruk pemberian istrinya. "Aku rasa aku sudah sembuh sekarang. Sudah kenyang dan siap melakukan apapun, jika istriku mau," ucapnya disertai kerlingan mata.
Viona melemparkan satu jeruk padanya dengan kesal. Marshal memang benar-benar menyebalkan. Dia hanya mengurung Viona supaya tetap meladeninya. Sakit hanya alasan dia saja. Viona sangat sebal melihat padanya. Jika Marshal bukan suaminya, pasti sudah dia penggal kepalanya.