Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
LDR-an. Melepas Rindu Lewat Sambungan


__ADS_3

"Hm, kenapa?" Viona menempelkan ponsel di telinga. Dia mengapitnya dengan pundak dan kepala karena dia sedang memilih buah-buahan di dalam kulkas. Sudah lewat Isya dan Marshal baru meneleponya. "Udah makan?"


"Baru mau makan, Sayang."


"Ya, sudah, makan dulu sana!" Viona menutup kulkas setelah dia selesai mengambil buahnya. "Kamu kapan pulang? Sekarang di mana? Udah jam segini belum sampai ke rumah."


"Em, Sayang, maaf. Kayaknya aku gak pulang malam ini. Urusannya masih belum selesai."


Viona nampak kecewa mendengarnya. Dia duduk di ruang makan dengan membawa satu wadah buah-buahan, yang kemudian dia letakkan di meja makan. Viona mengambil apel yang sudah dibersihkan dan menggigitnya sedikit. Ponsel masih dia tempelkan ke telinga dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan dia gunakan untuk memegang apel.


"Sayang?"


"Hm?"


"Aku rindu."


Viona malah asyik mengunyah apelnya. Baru tadi pagi mereka berpisah, Marshal sudah mengatakan rindu. Dia duduk bersandar memandangi akuarium yang ada di ujung ruang makan. Dia sangat suka melihat ikan berenang. Untungnya Marshal baik hati. Dia selalu menuruti kemauan Viona untuk membeli ikan-ikan hias baru untuk menjadi objek pemandangan indah di rumahnya.


"Sayang, apa kamu tidak rindu padaku?"


"Emm ... gimana, ya ...," Viona memandang ikan-ikan itu dengan serius. Jiwanya tenang melihat mereka berkerumun dalam air. Bergerak bebas dan senang, walaupun dalam sebuah wajah besar yang hanya seukuran tembok pembatas. "aku tuh ... rindu sama kamu. Tapi, gak ada alasannya. Aku rasa bukan rindu, deh."


"Terus apa?"


"Emm ... kayaknya cinta yang ingin terus bersama." Viona tertawa renyah sambil menguyah. Di seberang sana, Marshal juga tertawa dengan sangat bahagia. "Tapi, bohong. Kamu menyebalkan, mana mungkin aku rindu. Mending kamu gak ada, aku tenang," lanjutnya diakhiri kikikan.


"Aku suka kamu yang seperti ini. Kamu selalu menganggap aku menyebalkan, tapi ujung-ujungnya cinta juga."

__ADS_1


Viona malu mendengarnya. Untung saja Marshal tidak ada, sehingga wajah meronanya tidak bisa Marshal lihat. Belakangan ini hubungan mereka memang semakin hangat. Kecuali pas adegan Marshal ingin membunuh Rio. "O, iya, Rio gimana? Lukanya udah baikan?" Dia masih ingat goresan pisau dari tangan Marshal membuat leher Rio terluka.


"Lukanya lebih baik. Papa datangkan dokter dari rumah sakit Singapura. Obatnya juga mahal. Dijamin gak berbekas dan kata Rio udah mengering sempurna lukanya."


"Syukurlah. Lagian kamu, sih, gimana kalo Rio benaran mati? Kamu keterlaluan tauk."


"Salah kamu. Siapa yang nyuruh ngerjain aku kayak gitu. Kamu gak tahu aja kalau aku sudah marah karena istriku direbut orang, pasti nyawa akan melayang. Kamu segalanya, Sayang. Aku gak rela kamu direbut orang lain."


"Iya-iya, Chal Sayang. Udah, ya, aku ngantuk. Besok aku harus ke kampus lagi persiapan sidang. Kamu makan dulu sana! Udah malam, lho, ini." Baru setengah apel dia gigit, Viona sudah merasa bosan dan tidak mau memakannya lagi. Padahal tadinya dia ingin memakan semua buah yang dia bawa sambil menonton televisi. Tapi, matanya sulit diajak kompromi dan malah mengantuk, padahal belum terlalu malam.


"Jangan diputus! Biarkan saja! Aku gak pulang malam ini, tapi mau bersama kamu terus. Biarkan saja jarak memisahkan kita, asalkan hati kita selalu bersama."


"Udah mulai bisa gombal, ya, sekarang." Viona terkikik menutup mulut sembari menaiki tangga. Sambungan telepon masih terhubung pada Marshal. Dia masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan diri di sana. "Chal, makan dulu, gih!"


"Iya, sebentar. Aku sedang menunggu pelayan resort. Tadi aku sudah memesannya."


"Kamu selalu cantik."


Viona tersenyum mendengar pujian itu. Dia berbaring miring sambil memegang ponsel menghadap ke wajahnya. Dari layar ponsel, terlihat Marshal sedang duduk di sofa dengan tubuh yang menyandar lelah. "Itu kancing baju kamu kebuka gitu."


Refleks Marshal melirik kancing bajunya. Memang terbuka dua. "Tadi habis lepas dasi, aku lepas. Gerah, Sayang. Aku juga lelah seharian ngurusin masalah."


"Tapi, kalo ada pelayan resort ngantar makanan, kamu tutup. Malu-maluin tauk."


Marshal tertawa sambil menggeleng pelan. "Bukan malu-maluin, tapi kamu takut mereka tergoda, kan? Kamu cemburu, hm?"


"Bukan cemburu, tapi gak sopan kalo kamu penampilannya seperti itu. Nanti mereka ngira kamu abis ngapa-ngapain."

__ADS_1


Marshal tertawa lagi. Ocehan Viona yang semakin nyaman jika bicara dengannya membuat Marshal semakin sayang pada istrinya. Viona sekarang lebih terbuka dan cederung manja. Dia suka Viona yang sekarang. Marshal merasa semakin bahagia dengan pernikahannya.


"Sudah mengantuk?" tanya Marshal kala melihat Viona menutup mulut saat menguap. Istrinya mengangguk pelan dengan mata setengah terpejam. "Ya, sudah, tidur!"


"Aku matiin, ya."


"Jangan! Aku mau lihat kamu tertidur. Biarpun kita tidak satu ranjang, setidaknya aku bisa memastikan tidurmu nyenyak, Sayang."


Viona tertawa ringan dengan mata yang sudah sangat berat. "Gombal terus. Belajar dari mana?"


"Aku gak gombal. Hanya bicara sesuai isi hati." Tiba-tiba sosok Marshal hilang dari layar, tergantikan dengan langit-langit kamar resort di sana.


Viona mendengar suara orang bercakap dan tidak lama sosok Marshal kembali muncul lagi. "Maaf, Sayang, ada yang antar makanan."


"Oh. Ya, sudah, makan sana! Aku juga mau tidur." Viona tersenyum melihat kancing baju Marshal yang sudah tertutup. Marshal menuruti ucapannya ternyata.


Viona ingin mematikan sambungan, namun Marshal tidak membolehkan. Akhirnya dia menarik bantal, membenarkannya untuk dijadikan sebagai penyangga ponsel supaya layarnya tetap menampilkan wajah Viona.


"Nanti kalo kegeser atau kebanting sama tangan aku, gimana?" Viona masih membenahkan ponselnya, sedangkan Marshal sedang menyiapkan makanan yang akan di santapnya di sana. "Chal, aku tidur, ya," lanjutnya dengan masih sempat menguap.


"Iya, tidurlah, Sayang! Mimpikan aku, jangan laki-laki lain!"


Viona bergumam dan segera menutup mata. Layar ponsel mengarah padanya. Lampu kamar juga tidak dia matikan supaya wajah cantiknya yang sedang terlelap terlihat jelas di layar gadget. "Baik-baik di sana! Jangan melirik wanita lain!" Sebelum benar-benar terlelap dia masih sempat-sempatnya memperingatkan Marshal.


Suami Viona tersebut hampir saja tersedak mendengar peringatan istrinya. Dia tersenyum senang. Dengan Viona memberi peringatan seperti itu, membuktikan bahwa Viona tidak mau kehilangannya. Viona tidak mau Marshal melirik wanita lain. Bagaimana jika ada wanita lewat, pelayan resort atau manager, mungkin. Apa Marshal harus menutup mata guna menuruti perintah istrinya?


Malam itu dia makan dengan lahap. Selain karena lelah yang berlebihan, Marshal juga merasakan perasaan baru. Dia bisa makan sambil melihat wajah istrinya yang terpejam. Marshal selalu suka melihat Viona nyenyak dalam tidurnya. Terlihat damai dan selalu terlihat semakin cantik. Dia merasa lega melihat Viona bisa tidur nyenyak. Setidaknya Viona aman dalam tidurnya dan Marshal jadi ingin memeluknya. Memberikan dekapan hangat sampai pagi menjelang. Namun, sayang, dia hanya bisa melihatnya lewat layar dan berangan-angan.

__ADS_1


"Hufhh! Mungkin seperti ini rasanya LDR-an."


__ADS_2