Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Viona Hamil?


__ADS_3

Berat kakinya untuk melangkah. Viona meragu, apakah dia harus masuk atau tidak?


Hari masih pagi, dia sengaja memilih waktu tersebut untuk datang ke rumah sakit. Saat ini semua orang pasti sedang sibuk, sehingga aman baginya untuk menjenguk. 


Setelah berpikir matang-matang, akhirnya Viona berani untuk melangkahkan kaki lagi ke rumah sakit tempat mertuanya dirawat. Dia sangat penasaran dengan keadaannya.


Viona membuka pintu kamar Rahma, setelah dipersilakan oleh perawat yang menjaga di depan. Perawat itu sangat tahu, jika Viona menantu pasien, makanya dapat dengan mudah mendapatkan izin untuk masuk ke dalam. Dia sangat merindukan mertuanya dan ingin tahu bagaimana kondisinya saat ini.


Viona tertegun saat membuka pintu. Dia baru melangkah masuk sudah dikejutkan dengan sosok yang paling dia benci dan beberapa hari belakangan dia hindari keberadaannya.


Laki-laki itu mengangkat kepala saat mendengar suara pintu terbuka. Dia menoleh. Pandangannya terkunci dan matanya melebar melihat kedatangan bidadari yang selalu menari dalam benaknya setiap saat.


Wanita itu sama membeku di tempat seperti dirinya. Beberapa saat mereka terdiam, saling pandang tanpa kedip yang menyadarkan. Pancar kerinduan begitu jelas di mata keduanya. Perlahan Viona melangkah maju, tekadnya sudah bulat. Ini saatnya. Dia tidak akan mungkin menghindar lagi, jika pertemuan ini membawanya untuk lebih serius mengatakan hal, yang seharusnya dia katakan terhadap Marshal. Dia sudah dewasa, seharusnya lebih berani menghadapi masalah, apa pun yang terjadi.


"Aku tahu kamu memang akan kembali, Sayang," lirih Marshal, berdiri dengan lemah melihat langkah istrinya yang semakin mendekat.


Viona hanya terdiam dengan pandangan yang sulit diartikan. Perasaannya bercampur aduk dan sedikit teriris melihat laki-laki yang selalu terlihat keren, kini malah sebaliknya. Kantung mata menghitam, bibir kering dan rambut yang acak-acakan. Pakaiannya juga asal-asalan tidak style list seperti biasanya. Terlihat seperti bukan Marshal.


Apa sebegitu tersiksanya Marshal ditinggalkan oleh Viona?


"Aku mau melihat mama." Meski suara bergetar dan pikiran terus bertekat untuk bertahan, Viona mengatakan kalimat itu. Dia tidak ingin berlama-lama melihat suaminya yang malah menyebabkan tubuhnya berkontraksi dan gejolak mual di dalam perut kembali lagi. Segera Viona melangkah ke sisi ranjang yang berseberangan dengan tempat berdiri Marshal sekarang.


Viona menunduk, meraih tangan Rahma yang terasa dingin dan lemah. Dia mencium punggung tangannya dengan sopan. "Assalamualaikum, Ma. Aku datang untuk melihat kondisi Mama. Semoga lekas sembuh." Diperhatikannya wajah pucat yang masih terdapat berbagai alat medis di tubuhnya. Viona merasa kasihan melihat keadaan Rahma seperti itu. Dia terus berdoa setiap hari, semoga ibu mertuanya segera sadarkan diri supaya penderitaannya tidak lagi terasa menyakitkan.


Melihat pemandangan itu, mata Marshal berkaca-kaca. Dia telah salah melangkah dan membiarkan wanita seperti Viona membencinya. Lihatlah wanita baik itu sangat menyayangi ibunya. Marshal merasa bersalah juga pada ibunya, tidak bisa mempertahankan Viona untuk tetap menjadi menantu keluarga Atma.


Marshal hanya diam, memperhatikan Viona yang kini tengah melihat wajah Rahma penuh harap. Wanita itu terlihat sedih dan merasa kasihan. Marshal bisa melihat jika perlakuan Viona memang tulus untuk orangtuanya.


"Sayang ...." Setelah sekian lama mereka terdiam, Marshal memberanikan diri untuk bersuara lagi. Dia duduk di seberang Viona, melihat istrinya yang melirik dengan enggan. "Aku minta maaf."


Marshal tercenung melihat sudut bibir istrinya bergerak membentuk senyuman yang malah terasa menyayat hati. Mereka saling pandang kembali dalam waktu yang cukup lama. Namun, tiba-tiba gejolak itu muncul kembali dalam perut Viona, sehingga dia terburu-buru memutus pandangan dan berlari menuju kamar mandi yang terdapat di kamar tersebut.


Marshal mengikutinya dengan panik dan terkejut saat mendapati Viona yang ternyata tengah muntah di depan toilet. Dia mendekatinya, ragu. Perlahan langkah Marshal mulai berani karena khawatir dengan keadaan istrinya.


Langkahnya terhenti karena tangan Viona mengintruksi untuk tidak mendekat. Marshal berusaha menahan keinginan untuk mendekat dan membiarkan Viona kesusahaan sendiri mengeluarkan semua isi perutnya.


Suara muntah Viona malah membuat hatinya panas, bergemuruh. Marshal tidak tahan lagi jika hanya berdiam diri di sana melihat istrinya seperti itu. Dia tidak peduli Viona akan menolaknya, dia hanya ingin membantunya saja.


Dan Viona terpaksa diam membiarkan Marshal mengurut tengkuk dan mengusap punggungnya. Sepertinya semua sarapan yang Lina jejalkan terhadap Viona sudah keluar semua. Terbukti dari muntahan yang malah sudah mengeluarkan cairan kuning.

__ADS_1


Viona terkulai lemas, setelah membasuh mulutnya di wastafel. Marshal menahan tubuh Viona untuk bersandar di dada bidangnya. Viona hanya diam saja, karena dekapan itu ... terasa sangat nyaman dan sangat dia rindukan.


"Kamu sakit, Sayang?"


Viona menggelengkan kepala dengan lemah, tidak punya tenaga lagi untuk bersuara. Dia bahkan sempat menolak ketika Marshal ingin menggendong tubuhnya untuk kembali ke dalam. Tapi,  berakhir pasrah karena Marshal tidak mendengarkan penolakannya.


Viona dibaringkan di sofa panjang oleh Marshal. Dia segera mengambil air hangat di pantry mini yang ada di kamar tersebut dan memberikannya pada Viona. Istrinya terlihat tidak mau minum, tapi Marshal memaksa lagi hingga satu gelas air putih hangat hilang dan masuk ke dalam perutnya.


"Aku bawa kamu ke dokter, ya?" Marshal terlihat sangat khawatir melihat keadaan Viona yang terkulai lemas. Istrinya malah menggeleng, tidak mau diajak untuk periksa ke dokter. "Diam di sini! Aku akan memanggilkan dokter untukmu."


Dengan cepat Viona menahan tangan Marshal. Dia menggeleng lagi. "Aku gak sakit, Chal," ucapnya dengan nada lemah.


"Kamu sakit, Sayang. Harus diperiksa. Biar aku panggilkan dokternya ke sini."


Lagi-lagi Viona menahannya. Kali ini pegangan Viona di tangannya terasa sangat erat dan Viona meringis sambil memejamkan mata. Marshal panik dan langsung berjongkok di depan sofa. Dia memandangi Viona dengan kecemasan yang sangat besar. Viona mengusap perutnya lagi, mungkin mual kembali.


"Usapin ...." lirih Viona, masih memejamkan mata sambil meringis.


Walau tidak mengerti, Marshal tetap menuruti ucapan istrinya. Viona menarik tangan Marshal untuk mengusap perutnya yang terasa sakit dan mual. Marshal sangat ragu untuk melakukan hal itu. Terlebih sikap Viona akhir-akhir ini tidak mau menemuinya karena rasa benci dan akan semakin benci, jika dia menyentuhnya.


Saat tangan Marshal menyentuh perut Viona, menuruti keinginan istrinya untuk memberikan usapan, mata Viona justru malah semakin erat terpejam. Marshal terus memperhatikannya dalam diam, mengawasi setiap ekspresi yang terlihat dari wajah istri yang sangat dia rindukan.


"Iya, Sayang?" Marshal sempat menghentikan usapannya, takut Viona tidak nyaman dan akan marah padanya. Tapi, anggapan dia salah. Viona justru tidak mau usapannya terhenti dan Marshal harus terus mengusap perutnya hingga keadaan Viona terlihat lebih baik.


Mata Viona mulai terbuka dan langsung bertatapan dengan mata cemas milik suaminya. Dia terlihat ragu untuk bicara. Sambil merasakan usapan Marshal yang membuat perutnya sedikit lebih baik, Viona menarik napas dalam dan membuangnya secara perlahan.


"Bisa kamu ambilkan tas aku di sana? Tolong ...." Viona menunjuk tempat di mana tasnya tergelatak di samping ranjang Rahma.


Marshal tidak mengatakan apa pun, langsung berdiri dan mengambil benda yang diinginkan istrinya. Dia menyerahkan benda tersebut masih diam, takut salah mengeluarkan kata yang akan berakhir fatal.


Melihat Viona bergerak untuk bangun, dengan segera Marshal membantunya dan memastikan Viona bersandar dengan nyaman.


Viona mengambil sebuah amplop cokelat dari dalam tas miliknya dan memberikan benda tersebut pada Marshal.


Marshal memandangnya tidak paham. Apa isi dari amplop tersebut? Apakah sebuah surat panggilan untuk sidang perdana perceraian mereka?


"Aku harap kamu bisa menerimanya. Ini memang tiba-tiba datang kepada kita di saat seperti ini. Tapi, aku tahu, kamu pasti bisa menerimanya, kan?"


Marshal menarik napas dalam. Memegang amplop cokelat persegi itu dengan gusar. Dia memperhatikan benda itu, terasa berbeda. Jika di dalamnya hanya sebuah lembaran surat, benda itu tidak mungkin sedikit mengembung di bagian ujungnya.

__ADS_1


Masa bodoh dengan kebingungannya. Marshal sudah berdebar sejak tadi. Dia tidak mau membukanya, sangat enggan. Bahkan berniat untuk menyimpannya dan nanti akan dia baca, jika dia mau. Tapi, niat itu tidak terlaksana karena Viona memaksa untuk segera melihatnya.


Marshal duduk di samping istrinya, sempat menatap Viona, memastikan jika dia tidak akan disuruh untuk pindah. Dia takut, Viona selalu tidak mau berdekatan dengannya.


"Ini surat apa?" gumam Marshal, melirik lagi Viona sejenak sebelum membuka amplop cokelat itu secara perlahan.


Viona hanya mengedikkan bahu dan terdiam. Memperhatikan suaminya yang terlihat ragu dan malas untuk membuka amplop tersebut.


Dada Marshal sudah tidak bisa dikatakan baik-baik saja, ketika membuka amplop tersebut. Firasatnya mulai tidak enak. Beberapa hari lalu Viona juga memberikan amplop yang lebih besar dari itu dan isinya malah surat perceraian yang harus ditanda tangani. Dia akan menebak, amplop kali ini pun isinya tidak akan jauh dari permasalahan mereka.


Tapi, saat dia membukanya, di dalam amplop tersebut tidak ada selembar kertas pun yang terlihat. Marshal melirik pada Viona yang masih diam memandang padanya. Melihat lagi isi amplop tersebut sampai ke ujungnya dan mengangkatnya, Marshal mengernyitkan dahi dengan tajam. Di sana ada sebuah benda kecil yang Marshal tahu itu untuk apa, meskipun belum pernah menyentuhnya secara langsung.


"Sayang?" Dia melirik lagi Viona yang masih diam, matanya hanya berkedip, terlihat polos tidak tahu apa-apa.


Marshal pun mengeluarkan benda tersebut dari dalam amplop. Dia melirik lagi Viona yang kini menggigit bagian dalam bibir bawahnya. Terlihat entah bagaimana. Marshal tidak bisa menyimpulkan ekspresi Viona saat ini. Tapi, istrinya menunggu respon dari Marshal.


"Apa maksudnya ini?" Marshal mengangkat benda itu, memperhatikannya dengan serius. Ada sebuah garis di bagian benda itu. Terdapat dua yang bersebelahan. "Kamu ...?" Matanya membulat sempurna dengan alis yang terangkat kaget menangkap pemikirannya sendiri.


Melihat Viona mengangguk cepat, Marshal membeku. Seakan dunia berhenti untuk berputar dan napas berhenti untuk berembus, hanya debar jantungnya yang menggila dan perasaan luar biasa menghantam tubuhnya. Sulit dijelaskan dan matanya tiba-tiba memanas dan berair.


"Di alat itu, aku positif," ucap Viona, mengembalikan kesadaran Marshal dan langsung memberikan pelukan erat pada tubuhnya sampai Viona tersentak ke belakang.


"Kamu hamil, Sayang?" Marshal tidak bisa menahan rasa haru dan bahagianya saat ini. Yang bisa dia lakukan hanya menangis dan memeluk erat tubuh Viona, mensyukuri karunia Tuhan yang menjadi kejutan indah untuknya.


Viona juga terharu melihat reaksi suaminya yang tidak terduga. Dia bahkan ikut meneteskan air mata. Entah apa yang harus dia rasakan saat ini. Entah harus bahagia atau bersedih. Yang jelas, dia masih belum percaya dengan hasil tes alat tersebut, setelah semalam Lina menemukan benda itu di bawah bantal dan memaksanya untuk memeriksakan diri saat itu juga.


Viona awalnya tidak mau, karena dia yakin dia tidak hamil. Tapi, Lina kembali meyakinkan, bahwa mual dan sakit yang Viona alami bisa saja pengaruh dari rahimnya yang terisi. Dan ternyata benar saja. Viona bahkan hampir pingsan mengetahui hasil alat tersebut yang bergaris dua dan Lina yang histeris, lalu terisak bahagia setelah dia menunjukannya.


Reaksi yang sama seperti yang Marshal perlihatkan saat ini. Suaminya bahkan tidak mau melepaskan tubuh Viona memberikan pelukan erat, sampai Viona merasa nyawanya sebentar lagi akan hilang karena sesak napas.


Sudah tidak ada oksigen yang bisa dia hirup karena pelukan erat suaminya, Viona mendorong pelan tubuh Marshal supaya berhenti memeluknya.


"Sejak kapan kamu tahu ini? Kenapa baru memberitahu aku sekarang?" Marshal terlihat marah, meskipun bahagia terpancar jelas di wajahnya. "Kamu sengaja menutupi ini dari aku supaya kita tetap bercerai? Iya?"


Viona hanya terdiam, menundukkan kepala dan memainkan jemari di pangkuan. Dia terkejut dan masih belum percaya dengan apa yang dia alami saat ini. Kenapa juga dia bisa hamil? Padahal Viona sangat yakin, dia tidak pernah semalam pun melewatkan pil kontrasepsi untuk dikonsumsi.


Tubuh Viona kembali tersentak karena Marshal yang kembali memeluknya erat. Kecupan di kening terasa begitu hangat. Viona hanya mampu memejamkan mata meresapinya. Dia tidak akan menampik kenyataan, bahwa dia memang sangat merindukan suaminya. Kecupan Marshal dan pelukan hangat ini sudah menjadi candu. Viona amat sangat nyaman dan senang bisa mendapatkannya kembali.


Tapi, ini salah. Tidak seharusnya terjadi di saat seperti ini. Meskipun belum memeriksakannya langsung dengan dokter, tapi jika Viona memang benar hamil, lalu perceraian mereka bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2