Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Rahma Menangis


__ADS_3

Pergi bebas tidak ada Marshal. Viona sudah terlihat sangat cantik dengan dress sabrina berwarna peach. Dengan senang, Viona menuruni tangga. Dia tinggal menunggu Frans menjemputnya sebentar lagi. Namun, kebebasan itu hilang seketika di saat melihat Egi di depan pintu sudah berdiri dan membungkuk hormat saat melihatnya.


"Apa kita akan berangkat sekarang, Nyonya?"


Viona mengernyit melihatnya. Untuk apa Egi bersiap? Viona tidak meminta Egi untuk mengantakannya karena Frans sudah janji akan menjemputnya. Viona ingin menolak Egi, tetapi panggilan di ponsel membuatnya mengurungkan diri untuk bicara. Dia merogohnya di dalam tas. Decakan kesal keluar begitu saja melihat nama si pemanggil.


"Berangkat dengan Egi atau tidak berangkat sama sekali."


Viona mendengus sebal mendengar suara Marshal dari ponsel yang baru saja dia tempelkan di telinga. "Aku sudah janji sama Frans. Dia yang menjemput, Chal."


Tidak ada sahutan. Viona yakin Marshal mendengarkannya, tetapi pura-pura tuli supaya Viona mau menuruti perkataannya. Kebebasannya sirna jika sudah seperti ini. Dia kira Marshal akan membiarkannya benar-benar bebas untuk pergi, namun nyatanya tetap saja seperti biasa.


"Jangan pulang terlalu malam! Batas waktu sampai di rumah hanya sampai jam delapan. Aku kasih kelonggaran setengah jam setelah itu, jika mau telat."


Viona menggeram marah. Marshal tetaplah Marshal. Menyebalkan!


"Oke. Aku tidak akan pulang malam. Tapi, Frans-"


"Hubungi dia dan bilang kamu tidak jadi berangkat dijemput olehnya! Begitu saja kamu repotkan."


Viona memandang kesal pada layar ponselnya. Kesenangannya berkuranglah sudah. Di saat berjauhan pun Marshal tetap tidak membiarkannya untuk benar-benar bebas. "Ya, sudah, aku berangkat sama Egi."


"Istri baik."


Viona mencibir saat mendengar suaminya tertawa bahagia.


"Sudah dulu, ya, Sayang. Aku sedang sibuk. Hati-hati di jalan!"


Viona hanya bergumam dan memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Terpaksa dia pergi bersama Egi. Di jalan dia baru mengirim pesan pada Frans untuk tidak jadi menjemputnya. Laki-laki buaya itu emosi padanya. Dia sudah hampir sampai di rumah Viona, tapi tiba-tiba dibatalkan begitu saja.


***


Suasana pesta maminya Frans terlihat sangat menyenangkan. Banyak ibu-ibu sosialita yang hadir di sana. Termasuk Lina dan Rahma, ibunya Viona. Istri Marshal itu terkejut mendapati mereka berada di sana. Dia tidak tahu jika ibu-ibu kesayangannya itu ternyata satu perkumpulan dengan maminya Frans.


"Marshal ke mana? Dia gak datang sama kamu?" tanya Rahma pada menantunya.


Viona menggeleng. Aness yang saat itu sedang berada dengannya, dia malah pamit dan meninggalkan Viona bersama dengan ibu dan ibu mertuanya. "Dia berangkat ke luar kota tadi pagi."


"Lho, bukannya tadi pagi kalian dari rumah mama. Marshal tadi 'kan masih ada." Lina menimpalinya.

__ADS_1


"Iya, Ma. Pas mau pulang, dia telepon ada masalah di proyek yang ada di sana."


Lina dan Rahma hanya mengangguk-anggukan kepala memahaminya. Mereka menikmati suasana pesta bersama. Viona dikenalkan oleh Rahma pada para sahabatnya. Viona terus tersenyum dan menyapa mereka dengan ramah. Banyak yang memuji kecantikannya membuat Rahma bangga mempunyai menantu seperti Viona. Namun, ada juga yang malah membuat mereka merasa malu. Seperti saat ini, salah satu teman sosialitanya Rahma malah mengungkit masalah yang sudah berlalu mengenai suaminya Viona.


"Punya istri secantik ini, bodoh sekali waktu itu suamimu malah berselingkuh dengan seorang model, ya," ucap salah satu wanita paruh baya. Nadanya memang lembut, tetapi menusuk.


Viona melihat Rahma dan Lina bergantian. Dua wanita itu menundukkan wajah dengan malu. Dia jadi merasa tidak enak pada mereka. Padahal Marshal yang bersalah, tapi mereka juga menanggung akibat dari ulahnya.


"Iya, ya, padahal jauh lebih cantikan kamu loh, daripada model yang diberitakan itu." Ibu lain ikut menyahuti.


Viona hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan mereka. Dia tidak menyangka jika masalah ini akan terungkit di tengah-tengah para ibu-ibu tersebut. Viona tidak masalah jika hanya dia yang mereka obrolkan. Namun, dia mulai merasa terganggu saat ibunya yang malah ikut dibawa-bawa.


"Jeng Lina bagaimana itu tanggapannya punya menantu yang seperti itu?"


Viona semakin tidak enak melihat Rahma. Ada ibunya Marshal di sana, tapi ibu-ibu itu tidak tahu malu dengan malah berbicara seperti itu di depan ibu yang melahirkan anak yang sedang mereka obrolkan.


"Ma, sudah mulai malam. Aku harus pulang. Apa kalian mau pulang bareng sama aku?" Viona menyiratkan paksaan dibalik sorotan matanya pada Lina dan Rahma. "Suami aku udah hubungin buat pulang sekarang."


"Ah, iya, kebetulan mama juga gak bawa sopir. Mama ikut pulang sama kamu, ya," ucap Rahma pada Viona.


"Mama dijemput papa," ujar Lina.


Setelah mengantarkan Lina sampai ke depan mobil milik ayahnya, Viona mengajak Rahma untuk masuk ke dalam mobil yang sudah ditunggu oleh Egi. Namun, ternyata Rahma membawa sopir sendiri. Dia hanya berbohong guna menghindari cercaaan temannya tadi. Tapi, sopir pribadinya itu dia suruh pulang dan Rahma tetap menumpang ke mobil Viona.


"Mama kenapa nangis?" Viona terkejut saat mobil sudah dijalankan, dia melihat Rahma yang menutup wajah dan isakan terdengar darinya.


Dirangkulnya bahu ibu mertua yang terguncang, Viona sangat panik melihatnya. Rahma masih menangis dan tidak mau bicara pada Viona. Dengan sabar menantunya itu mengusap punggung Rahma dan terus mencoba menenangkannya.


"Bukan sekali mereka berkata seperti itu, Viona. Mama malu jika bertemu mereka."


Viona hanya bisa mengembuskan napasnya kasar. Ternyata masalah obrolan tadi. Apa Lina juga meraskannya? Viona tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka saat berkumpul bersama dengan temannya dan malah digosipkan seperti itu. Viona masih tidak menyangka jika masalah Marshal akan terus menyeret nama keluarganya. Padahal masalah itu sudah berakhir dan kini Marshal juga telah mengakhiri hubungannya dengan Amanda.


"Mereka terus membicarakan keluarga kita, Viona. Mama sampai tidak bisa menjawab jika mereka sudah seperti itu. Mama malu. Marshal memang sudah mencemarkan nama baik keluarga kita."


"Sst ... Ma, sudah! Biarkan saja mereka berkata seperti apa. Lagian, masalahnya juga sudah selesai. Nanti juga mereka meredam sendiri, Ma."


"Mereka semakin berani membicarakan mama, karena Amanda yang datang ke rumah menemui papa saat di rumah sedang ada acara arisan. Mereka melihat Amanda dan malah bilang, jika kita mendukung hubungan Marshal dengan model itu. Padahal nyatanya tidak."


Viona terkejut mendengarnya. Pelukannya terhadap Rahma semakin erat. Viona tidak tahu akan hal itu. Rahma terus saja menangis karena rasa malunya sudah sangat tidak terhingga lagi di hadapan para teman-temannya. Jika Rahma seperti ini, Lina juga pasti menerima perlakuan serupa. Mereka sekarang satu perkumpulan, sudah pasti masalah yang ibu-ibu bicarakan itu hal yang sama. Tapi, Viona tidak pernah melihat ibunya tertekan dengan obrolan mereka. Apa Lina hanya pura-pura kuat saja dihadapannya?

__ADS_1


Pulang dari pesta dan mengantarkan Rahma sampai ke rumahnya, Viona segera pulang ke rumah suaminya. Dia akan segera tidur sudah berganti pakaian, dan Marshal menghubunginya. Dengan malas Viona menerima panggilan tersebut. Dia berbaring dan menarik selimut dengan ponsel yang dia dekatkan di depan telinga.


"Bagaimana pestanya?"


"Aman. Aku pulang sedikit terlambat karena mengantarkan dulu mama pulang ke rumahnya."


"Mama?"


"Iya, mama Rahma. Di sana aku bertemu dengannya. Dengan mama aku juga. Mereka ternyata diundang juga ke acara maminya Frans."


"Oh."


"Hm." Viona mengubah posisi jadi menyamping. Sebenarnya dia belum mengantuk, tapi dia hanya ingin merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


"Sayang?" Viona menyahutinya dengan gumaman. "Kamu sudah mengantuk?"


"Belum. Aku hanya sedang berpikir."


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu memikirkan aku?"


"Iya."


Tawa Marshal menggema di seberang sana. Rasa bahagia menyambar hatinya. "Sungguh? Apa kamu sudah rindu pada suamimu ini?"


Viona hanya diam. Sampai suara Marshal kembali terdengar. "Aku juga merindukanmu."


Viona tersenyum miris. Tapi, sayangnya dia tidak merasakan hal yang sama dengan suaminya. Bukan karena rindu dia memikirkan Marshal, tetapi karena hal lain. "Kapan pulang?"


Tawa Marshal kembali terdengar. "Aku belum sehari di sini. Oh, Sayang, kamu sungguh sudah sangat merindukanku, hm?"


"Bagaimana masalahnya?"


Tawa Marshal terhenti seketika. Dia berdehem kecil karena Viona malah mengalihkan pembicaraan. "Masalahnya lumayan besar, Sayang. Penggelapan dana yang mereka lakukan ternyata bukan hanya dari proyek yang saat ini. Tapi, juga dari dua proyek yang sebelumnya. Aku benar-benar kecolongan. Kamu tahu tuan Suryo? Ternyata dia, orang paling aku percayai itu adalah dalangnya."


Viona hanya bergumam dan mendengarkan suaminya bercerita mengenai masalah yang terjadi di sana. Sampai kantuk menyerang, Viona merasa suaminya sedang membacakan sebuah dongeng.


"Cepat pulang, ada yang ingin aku bicarakan." Viona menutup panggilan tidak menunggu suaminya menyahuti lagi. Dia sudah sangat mengantuk dan menyimpan ponsel di atas nakas.


Marshal terheran di seberang sana. Ada yang lain dari istrinya hari ini. Viona sedang memikirkannya, tapi di saat Marshal bertanya, dia selalu menghindarinya. Apa Viona menutupi sesuatu? Marshal merasa istrinya punya suatu hal penting sampai menginginkannya untuk segera pulang hanya untuk sebuah pembicaraan. Padahal Viona bisa mengatakannya lewat panggilan, tapi tidak istrinya lakukan.

__ADS_1


__ADS_2