Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Bulan Madu?


__ADS_3

"Huh, kenyang" Marshal memegang perutnya.


  Rio melihatnya tak percaya. Marshal bahkan nambah sampai tiga kali. Ini sarapan. Marshal biasanya hanya sarapan sedikit saja. Kadang dia hanya makan roti dan segelas susu saja di pagi hari. Tapi kali ini, Marshal hampir menghabiskan seluruh menu masakan yang tersaji di meja makan. Padahal makanan yang tersaji begitu banyak. Dan Marshal mencoba semua makanan itu.


  Ada apa dengan tuan? Tidak biasanya tuan makan sebanyak ini. Tuan hampir menghabiskan semua makanan yang tersaji. Pantas saja dia merasa kenyang.


"Tuan, tidak biasanya tuan sarapan sebanyak ini" ucap Rio yang geram dengan keheranannya.


Marshal menatap Rio dan tersenyum padanya. "Entahlah aku juga merasa aneh pada diriku sendiri. Tapi aku merasa sarapanku terasa berkualitas. Rasanya nikmat"


Apa karena ini masakan Nona?.. atau Karena ditemani Nona?..


"Siapa yang memasak pagi ini? Aku akan memberikannya bonus. Dia sudah membuat nafsu sarapanku meningkat"


Rio melirik Viona yang sedang membereskan bekas makan mereka.


  Apa benar karena masakan Nona, tuan jadi rakus seperti ini?


"Masakannya lezat, Yo. Aku sampai tak bisa mengontrol diriku sendiri" Marshal tertawa renyah.


"Siapa yang memasak pagi ini, Yo?"


Rio kembali melirik pada Viona yang tetap diam saja. Menundukkan kepala sembari membereskan semua bekas makan mereka dalam diam, seakan Viona tak mendengar pertanyaan Marshal hingga dia tak menjawabnya.


"Yang memasak.... "Rio jadi ragu mengatakannya. Melihat Viona yang cuek, kenapa Rio jadi ragu. "Nona yang memasak pagi ini, tuan"


Mata Marshal membulat pasti. Dia mungkin kaget mendengarnya. Dia menatap Viona penuh keterkejutan.


  Dia yang memasak? Apa benar dia yang memasak? Dia bisa masak?


"Jangan becanda, Rio." Marshal masih tak percaya. Namun Rio mengangguk pasti.


"Memang benar Nona yang memasak, tuan. Saya sendiri yang menyaksikannya"


Jadi benar dia yang memasak?


Marshal terus memandangi Viona dengan tidak percaya..


Viona menerima tatapan Marshal, kemudian dia menyunggingkan senyuman sembari mengangguk. Membenarkan ucapan Rio bahwa dirinya lah yang memasak.


Marshal langsung mengalihkan pandangannya. "Pantas saja masakannya tidak enak" ujar Marshal santai membuat Viona memberengut.


  Cih, dia bilang tidak enak? Tapi dia tadi bilang masakanku lezat. Sekarang dia bilang tidak enak. Munafik sekali orang ini... bilang tidak enak tapi menghabiskannya.


Viona memandangi Marshal dengan wajah kesalnya. Dia kemudian membawa piring-piring kotor kedapur. Viona tidak mau berdekatan terus dengan Marshal yang menyebalkan. Jadi dia melarikan diri ke dapur. Untung ada alasan untuk menghindar 'pikirnya.


"Jadi bagaimana, tuan?" Rio memecah keheningan dalam mobil.


Marshal mengernyit. "Bagaimana apanya?"


   Rio tersenyum. "Semalam" Rio melirik Marshal dari spion depannya. "Apakah berjalan lancar?"


Marshal paham sekarang apa yang Rio maksud. "Ya, gitu" jawaban Marshal membuat Rio bingung.

__ADS_1


"Gitu, gimana tuan?" Ujarnya benar-benar bingung. "Jadi semuanya berjalan lancar, ya?"


Marshal tertawa. Yang membuat Rio yakin, bahwa semalam semuanya memang berjalan lancar. "Semuanya lancar" ujar Marshal. "Sangking lancarnya, sampai sekarang dia masih gadis" lanjut Marshal diakhiri dengan tawa renyahnya kembali.


  Rio menautkan alisnya. Mencerna kembali ucapan Marshal.


  Sampai sekarang masih gadis? Apa semalam tidak...


"Jadi semalam bagaimana, tuan?" Rio benar-benar tak bisa berpikir apa-apa. "Kalian melakukannya, bukan?"


Tawa Marshal kembali pecah. "Melakukan apa, Rio? Semalam tak terjadi apa-apa"


"Tidak terjadi apa-apa?" Rio menganga, dan Marshal mengangguk. "Jadi semalam kalian tidak.."


"Iya. Semalam aku tidak melakukan apa yang seharusnya kulakukan"


Rio semakin mengernyit. Dia ingat betul jika semalam Marshal bilang akan begadang untuk melakukan malam panjang bersama istrinya. Tapi, sekarang Marshal bilang tidak melakukan apa-apa. Lalu apa yang mereka lakukan semalam?


"Saya kira sudah terjadi, tuan"


"Ya, aku juga berharap memang terjadi. Tapi semalam tak terjadi apa-apa"


  Mulut Rio diam, tapi otaknya seliweran dan tangannya fokus mengemudi.


  Aku kira semuanya berjalan lancar, ternyata tidak. Lalu apa yang mereka lakukan dimalam pertama? Apa tuan berubah pikiran? Sampai mereka tak jadi melakukannya. Bukannya tuan semalam bilang akan melakukannya,.. ah, tahu lah bukan urusanku. Aku belum menikah. Jangan berpikir yang aneh-aneh.


......


Erni membujuk Viona beberapa kali. Tapi Viona tetap saja kekeh ingin membersihkan rumah. Dan sekarang tangannya sudah memegang vacum cleaner.


  Setelah keberangkatan Marshal tadi, Viona tidak diam hanya duduk manis seperti kebanyakan Nyonya. Dia melakukan semua pekerjaan rumah membantu para pelayan.


"Tidak apa, Mba. Biar aku aja yang beresin. Kalian kerjakan yang lain saja!"


   Viona tetap kekeh pada keinginannya. Dia tak mau tinggal diam saja. Dari tadi Viona melakukan ini, melakukan itu. Dan Erni dari tadi mencoba melarangnya. Membujuk Viona supaya tak melakukan pekerjaan pelayan, tapi Viona tetap keras kepala. Dia kekeh mau melakukannya sendiri. Bahkan Viona selalu merebut pekerjaan pelayan lain.


  Seperti tadi, saat seorang pelayan dan juga tukang kebun sedang membenahkan tanaman di halaman belakang, Viona dengan segera menyerobot pekerjaan pelayan tersebut.


"*Biar aku yang tanam" Viona merebut bunga dari tangan pelayan yang sedang membenah taman belakang. "Ini tanaman baru yah? Baru mau ditanam, kan? Biar aku yang tanam"


"Tidak perlu, Nyonya. Ini biar saya saja yang menanamnya. Ini sudah tugas saya" tolak pelayan dan tukang kebun tersebut dengan sopan. Namun Viona tetap ingin menanamnya sendiri.


"Biar aku saja!" Tolaknya. "Lagian cuman menanam bunga saja aku bisa"


"Tapi ini kotor, Nyonya!"


"Tidak apa. Tanganku gak akan jadi lumpuh kalo cuman kotor doang" tolaknya lagi. Dia sudah mulai menyusun bunga apa saja yang ingin dia tanam.


"Nyonya, jangan.." pelayan itu masih melarangnya membuat Viona menghembuskan napas. "Biar saya saja"


"Sudah. Biar aku saja. Tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya" tegas Viona membuat pelayan tersebut akhirnya menyerah. Dan membiarkannya. Padahal pelayan itu merasa sangat tidak enak jika majikannya malah membantu pekerjaan pelayannya.


  Apa gunanya ada banyak pelayan?

__ADS_1


  Pelayan itu hanya pasrah. Dan Viona merasa senang. Dia menanam bunga-bunga dengan tangannya sendiri. Dan menyusunnya. Alhasil tangannya kotor terkena tanah juga pupuk saat membenah tanaman tersebut*.


Itulah Viona. Dia kadang keras kepala. Sebenarnya dia tidak mau merasa bosan jika tidak melakukan apapun dirumah. Dan juga ingat dengan perkataan Marshal yang mengatakan bahwa, Marshal menikahi Viona hanya untuk dijadikan pelayan. Jadi dia sadar diri. Dia juga tak mau tinggal diam begitu saja. Selagi dia bisa melakukannya, apapun akan dia lakukan.


....


"Rio, ayo pulang!" Marshal baru saja keluar dari ruangan Meeting, menghampiri Rio yang berada di samping pintu ruangan meeting.


"Oh, Baiklah tuan" sahutnya. "Kita langsung pulang? Atau mau kemana dulu?"


Marshal sudah berjalan mendahuluinya. "Langsung pulang. Aku rasanya ingin tidur" Rio mengernyit mendengarnya.


  Tidur lagi? Bukannya tadi saja bangun kesiangan? lalu sekarang sudah ingin tidur lagi? Ada apa dengan tuan. Kenapa hari ini tuan aneh sekali?..


Mereka berjalan bersama menuju mobil.


"Tuan"


Marshal menoleh. "Hm?"


"Apa tuan sangat lelah? Tidak seperti biasanya tuan banyak tidur" tanya Rio pelan sembari fokus mengemudi.


Marshal membenahkan punggungnya supaya menyandar lebih nyaman pada jok mobil penumpang. "Tidak juga. Aku sama sekali tidak lelah" sahutnya membuat Rio termagu.


  Tuan tidak lelah, tapi dia ingin tidur lagi. Apa karena semalam begadang?.. atau semalam memang sudah terjadi malam panjang dengan Nona sampai tuan kurang tidur..


"Tapi tidak seperti biasanya tuan banyak tidur" Rio melirik dari spion. "Apa karena semalam begadang, jadi tuan sekarang ngantuk?"


"Ya ampun, Rio. Semalam tidurku nyenyak. Aku tidak jadi begadang. Aku kan sudah bilang, malam pertamaku tidak terjadi apa-apa. Untuk apa aku begadang"


"Tapi.." Rio menghela napas. "Apa tuan sedang kurang sehat?"


Marshal menoleh pada Rio. Menghela napas panjang. "Aku hanya ingin tidur lagi saja, Rio. Aku tidak lelah maupun sakit" ujarnya. "Memang hari ini aku juga merasa aneh pada diriku sendiri. Hari ini entah kenapa aku rasanya ingin malas-malasan saja"


Entah apa yang Rio pikirkan, tapi dia senyam senyum sendiri. "Tuan, mungkin aura pengantin baru seperti itu"


Marshal menoleh. "Aura pengantin baru?" Rio mengangguk dan tersenyum, walaupun Marshal tak melihatnya. Karena Rio mengahadap depan fokus mengemudi.


"Saya kan sudah menyarankan, tuan sebaiknya tidak usah ngurusin pekerjaan dulu. Sebaiknya tuan nikmati dulu masa-masa pengantin baru. Yang saya tahu, pengantin baru itu akan sering menghabiskan waktu bersama. Ya... setidaknya satu minggu setelah menikah, biasanya hanya berdua, bermesraan dan pergi bulan madu"


  Bulan madu? Apa aku harus pergi bulan madu juga untuk menikmati masa pengantin baruku? .. mungkin Rio benar, seharusnya aku tidak memikirkan pekerjaan dulu. Aku harusnya bersama istriku. Saling mengenal mungkin kali yah..


Marshal terdiam. Memikirkan ucapan Rio yang menurutnya memang benar. Dia baru saja menikah, mungkin seharusnya memang seperti itu. Menghabiskan waktu bersama. Tapi apa yang akan mereka lakukan sebagai pasangan baru. Mereka bahkan belum saling mengenal lebih dekat.


"Apa aku harus pergi bulan madu, Yo?"


"Saran saya sih, mungkin sebaiknya iya. Tuan dan Nona bisa berliburan sambil saling mengenal lebih dekat"


  Untuk bulan madu.. Masalahnya adalah, apa yang akan mereka lakukan. Pengantin baru saat bulan madu biasanya akan menghabiskan waktu bersama bahkan bermesraan atau bahkan melakukan hal lebih intim sebagai pasangan suami istri.


Tapi, Viona belum siap untuk melakukan hal lebih. Dan Marshal juga tak mau memaksa Viona. Dia akan menunggu hingga Viona siap. Lalu apa yang akan mereka lakukan untuk menikmati masa pengantin baru saat bulan madu? Marshal tidak mau jika harus menghabiskan waktunya untuk berliburan saja. Entahlah, mungkin Marshal menginginkan hal lebih. Jika hanya berliburan saja Marshal rasa, hal itu tidak bisa dibilang bulan madu. Itu namanya piknik.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2