
"Zahra, tunggu!" Marshal menarik tangan Viona dengan cepat.
Viona baru saja akan keluar dari ruangan privat tersebut. Marshal tidak akan mengizinkannya pergi. Dia tidak rela Viona menjauh darinya. Apalagi jika istrinya tetap ingin menggugat cerai. Dia tidak mau kehilangan wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Apa lagi, Tuan?" Viona berbalik tajam. Dia ingin pergi sekarang juga, tapi Marshal terus saja menahannya. "Apa ucapan saya kurang jelas? Saya memilih mundur sekarang daripada harus tertekan dengan keadaan seperti ini setiap hari. Tuan pikir hidup saya bahagia menikah dengan Anda? TIDAK! Saya tersiksa menahan semuanya sendiri. Jadi, saya mohon, lepaskan saya!"
Marshal menggeleng tegas. Semakin erat mencengkram tangan Viona sampai istrinya meringis pelan semakin tajam memandanginya dengan penuh amarah. Marshal tidak menyangka, jika Viona akan meluapkan semua padanya. Dia kira Viona tidak menahan berbagai perasaan seperti itu. Selama ini, Viona hanya diam dan menurutinya. Meskipun kadang membantah, tapi Viona tidak pernah meluapkan perasaannya seperti sekarang. Marshal tidak tahu, jika Viona sebenarnya tertekan.
"Aku mohon, Ra, jangan pergi!" Mata Marshal sudah memburam. Sebentar lagi cairan bening mungkin luruh membasahi matanya. Dia sangat ketakutan melihat Viona seperti itu.
"Jangan pergi!" mohonnya lagi dengan lirih.
Viona memandangnya muak. Sekarang Marshal melarangnya pergi di saat Viona sudah tidak bisa bertahan lagi. Ke mana dia selama ini? Selama mereka menikah Marshal seolah tidak peduli terhadap kebebasan Viona. Setiap hari dikekang dan dilarang berbuat ini itu. Sama sekali tidak memberikan kenyamanan. Viona sudah lelah menyimpan semuanya sendiri.
"Diizinkan atau tidak pun, saya akan tetap pergi. Kebahagiaan saya bukan di sini, Tuan. Bukan bersama Anda. Jadi, saya harap Tuan bisa mengerti dengan keadaan saya."
Marshal diam memandangi wajah serius Viona. Hatinya sakit mendengar semua yang Viona katakan. Apa sebegitu tersiksanya Viona menikah dengan Marshal?
"Aku minta maaf, jika selama ini aku terlalu mengekangmu. Tapi, aku mohon, jangan tinggalkan aku, Ra! Kita bisa memulai kembali semuanya dari awal. Aku tidak akan mengekangmu lagi. Aku janji!"
Viona mendengus. Membuang muka sejenak sebelum dia tersenyum sinis dan kembali memandangi Marshal. "Telat. Saya sudah tidak bisa memulai lagi. Apa yang sudah dimulai dan kini sudah sampai tahap menuju jurang, menurut saya sudah tidak ada lagi perbaikan." Viona mencoba lagi melepaskan tangannya yang masih dipegang oleh Marshal. "Jika Tuan meminta maaf, dengan lapang dada saya akan memaafkan. Tapi, untuk memulai kembali, saya rasa tidak ada kesempatan lagi. Saya memilih mundur secara baik-baik."
"Kamu beneran mau kita bercerai?" Sekali lagi Marshal memastikan. Meskipun hatinya sakit, Marshal tetap mencoba untuk meyakinkan diri sendiri terhadap keputusan Viona.
Dengan penuh keyakinan, Viona mengangguk. "Itu yang terbaik."
Mencoba mencari peruntungan. Marshal menghela napas dalam. Dipandanginya wajah Viona yang sangat serius itu. "Kamu tidak takut jadi janda?"
Alis Viona terangkat mendengarnya. "Untuk apa saya takut? Status janda menjadi sebuah pilihan. Tidak ada yang salah dan perlu ditakutkan."
"Kamu masih muda, tidak mungkin mau jadi janda, kan? Orang lain akan melihatmuļ¼"
"Apa?" potong Viona dengan cepat. "Tidak ada yang salah dengan status janda, Tuan. Jika hidup menjadi janda lebih baik, kenapa tidak? Biarkan saja orang menganggap seorang janda seperti apa. Yang terpenting hidup seorang wanita terasa nyaman, meskipun tanpa menjalin sebuah ikatan. Janda lebih mulia daripada jadi istri yang terdzolimi."
Marshal bungkam. Tadinya dia ingin mencari peruntungan untuk menakuti Viona supaya tidak pergi darinya. Tapi, yang ada istrinya itu malah kembali berargumen dengan lugas dan terasa begitu menyindirnya. Apa selama ini Marshal sudah mendzolimi Viona?
Keputusan Viona sudah bulat. Membalikan badan untuk segera pergi menjauhi Marshal. Dia tidak akan menoleh lagi. Biarkan saja pernikahannya bertahan hanya sampai di sini. Viona tidak bisa menahan diri lagi untuk meraih kebebasannya.
"Jangan ...!"
Viona tersentak kaget saat tubuhnya dipeluk dari belakang membuat langkahnya yang akan pergi, jadi terhenti. Marshal memeluknya sangat erat. Tidak membiarkan Viona beranjak sedikit pun.
__ADS_1
"Jangan pergi! Aku mohon ... jangan tinggalkan aku!"
Viona tidak peduli dengan lirihan Marshal. Dia memukul tangan Marshal yang melingkar di perutnya. Marah sudah keluar dalam dirinya. Viona harus bisa menjauh dari Marshal sekarang juga.
"Tuan, lepas!"
"Tidak!"
Menghela napas dalam, menyiapkan tenaga dengan baik. Jika marah sudah sampai batasnya, dia tidak bisa menahan lagi keinginannya untuk menghajar Marshal. Namun, pergerakannya untuk berontak langsung berhenti saat mendengar Marshal melirih kembali di dekat telinganya. Kepala Marshal menyandar di pundaknya dengan lemah.
"Aku akan mati, jika kamu pergi," lirih Marshal tepat di samping telinga Viona yang langsung terdiam. Apa maksud ucapan Marshal barusan? Dia tidak berniat bunuh diri, kan?
Viona tertegun saat hangat dan basah menyapa pundaknya. Marshal menangis? Ditolehkannya wajah ke samping kanan. Melihat wajah Marshal yang ternyata sudah basah. Suaminya memang menangis. Tapi, kenapa? Viona sangat terkejut melihat air mata terus mengalir dari mata Marshal. Meskipun tidak terdengar isak tangis, tapi air mata itu seolah membuktikan jika Marshal sedang kesakitan.
"Aku mohon ... jangan pergi!" Pelukannya semakin lama semakin erat. Viona sampai tidak bisa bergerak. Membiarkan suaminya memeluk sesuka hati. Dia jadi bingung, kenapa Marshal menangis?
Lama mereka terdiam dalam posisi seperti itu. Pikiran Viona berkecamuk. Dia ingin pergi, tapi Marshal terus menahannya. Sampai kapan dia harus bertahan lagi? Viona lelah dan ingin segera berlari. Menjadi seorang istri yang tidak pernah mempunyai kebebasan, walaupun hanya berpendapat membuatnya tidak nyaman.
"Jika kita bercerai, Amanda akan tetap aku lepas. Kamu bisa bebas, dan aku ...," Marshal melonggarkan pelukannya. Membalikkan tubuh Viona hingga bertatapan dengannya. "aku takut tidak bisa menahan diri lagi. Bunuh diri ...."
Viona membola. Menampar-nampar pipi Marshal dengan pelan. "Sadar, Tuan! Jangan bicara omong kosong!"
"Untuk apa aku hidup, jika semua orang menjauhiku? Aku sendiri. Kamu memilih pergi, aku bisa apa?"
"Aku akan tetap melepaskan Amanda, Ra. Aku cuma mau kamu. Aku rela melepaskan dia, asal bisa bersama kamu. Please, Ra, jangan pergi! Tetaplah bertahan bersamaku! Aku minta maaf, jika selama ini kamu tidak bahagia. Tapi, aku janji, kedepannya aku akan membahagiakan kamu. Aku tidak akan mengekangmu lagi. Aku mohon, jangan minta cerai padaku!" Digenggamnya tangan Viona erat, Marshal kembali berkaca-kaca. Dia serius dengan ucapannya. Melepaskan Amanda mungkin memang menjadi cara terbaik supaya dia tetap bisa memiliki Viona.
Namun, istrinya itu tetap menggeleng. Melepaskan tangannya dari genggaman Marshal. "Maaf, saya tidak bisa. Kita akhiri saja sampai di sini. Saya janji, saya tidak akan mengatakan alasan saya mundur yang sebenarnya. Di depan keluarga nanti, saya akan mengatakan jika saya memilih bercerai karena alasan lain. Tuan tenang saja, saya tidak akan pernah mengatakan alasan kita menikah pada papa Wisnu. Jadi, mereka tidak akan pernah tahu tentang tawaran Tuan terhadap papa dulu."
Viona berlalu pergi dengan cepat. Meninggalkan Marshal yang terpaku di tempat memandangi kepergiannya. Kenapa rasanya sakit sekali? Memperjuangkan seorang istri yang telah dia lukai. Viona serius akan menggugat cerai? Tubuh Marshal kaku tidak bisa digerakan. Pandangan matanya kembali memburam dengan pikiran tidak karuan. Haruskah dia melepaskan Viona juga?
Viona memilih pergi, lalu siapa yang akan menemaninya? Dia tidak mungkin kuat hidup sendiri. Semua keluarga sudah membencinya. Dia tidak mungkin mudah mendapatkan maaf dari mereka.
"Argh!" Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa rasanya sakit sekali?
Wanita yang dia inginkan sejak dulu, kini malah pergi setelah satu bulan ia nikahi. Apa dia tidak berhak memilikinya? Kenapa Tuhan malah menyeret takdir perpisahan padanya? Sesak sekali rasanya. Membayangkan hidupnya tanpa Viona. Tanpa kehangatan dari keluarga. Tanpa semua cerita yang pernah membuatnya bahagia. Apa Marshal harus tetap hidup, di saat wanita yang paling berarti dalam hidupnya itu pergi? Mashal tidak mungkin kuat. Dia sangat ingin Viona tetap bersamanya. Selamanya. Sampai tua dan mempunyai keturunan hingga maut yang memisahkan.
Tapi, Viona sudah pergi? Apa yang harus dia lakukan? Berjuang mempertahankan pernikahan atau mengakhiri hidup dan kembali bangun di alam mendatang? Marshal tidak bisa. Dia tidak mau Viona pergi darinya.
"Aku sayang kamu Viona!"
****
__ADS_1
Ketegangan begitu terasa mencekam di ruang tengah kediaman Atmadinata. Dua keluarga yang berbesanan tersebut mengadakan sidang secara mendadak.
Pasangan yang menjadi alasan perkumpulan itu duduk berpisah saling diam. Mereka menunduk mendengarkan semua orang bertanya satu per satu padanya. Meminta kejelasan dalam langkah yang akan di ambil selanjutnya.
"Her, jika kamu mau marah, silakan!" ucap Wisnu pada ayahnya Viona, "Jika ingin menghajarnya, silakan! Aku mengizinkan. Asalkan jangan sampai nyawanya melayang. Aku bukan takut dia mati, tapi takut kamu dipenjara akibat kasus pembunuhan."
Marshal menelan ludah susah payah mendengar ucapan ayahnya. Dia memang pantas mendapat hukuman. Sudah seharusnya mendapatkan kembali siksaan, bukan? Semua hukuman akan dia terima dengan lapang dada, kecuali satu ... jangan pernah menjauhkan Viona darinya!
Heru menggeleng pelan. "Itu bukan salah satu cara penyelesaian," ucapnya dengan tenang. Dia masih bisa menahan emosinya untuk tidak menghajar Marshal, meskipun keinginan itu ada. Tapi, dalam hatin kecilnya, dia lebih benci pada dirinya sendiri daripada terhadap menantunya yang sudah berbuat salah.
Sesuai dengan perkataannya tadi siang, Heru mendatangi kediaman Atmadinata untuk menyelesaikan masalah yang menimpa rumah tangga putrinya. Dia datang secara baik-baik karena ingin masalah selesai tanpa harus menimbulkan masalah baru.
Sekarang semua mata tertuju pada Viona. Perempuan yang menjadi incaran banyak pertanyaan dari dua keluarga. Dia masih menunduk dengan jemari yang bertaut diatas pangkuan.
"Keputusan kamu apa? Papa tahu kesalahan Marshal itu sangat fatal, bahkan tidak pantas dimaafkan," ucap Wisnu pada Viona yang hanya terdiam.
Marshal sudah harap-harap cemas menanti jawaban Viona yang sudah diketahui jawabannya tersebut. Viona memilih bercerai. Dengan tegas mengatakannya pada Marshal tadi siang. Tapi, kenapa dia hanya terdiam di saat semua orang bertanya padanya?
"Dek, sebuah pernikahan bisa diperbaiki, jika kalian yakin bisa membinanya kembali. Tapi, jika suatu masalah satu saja tidak dapat diselesaikan, maka lebih baik jangan diteruskan! Memperbaiki memang cara terbaik, tapi harus berpikir juga untuk kedepannya. Jangan sampai keputusan untuk memperbaiki tersebut menjadi penyesalan di kemudian hari."
Viona memandangi ayahnya dengan lekat. Heru memberikan petuah bijak dan bisa Viona mengerti. Berpisah lebih baik daripada bertahan, namun bisa jadi membawa penyesalan di masa depan. Itu yang harus Viona lakukan. Di sini, mereka mempermasalahkan hubungan Amanda dengan Marshal. Viona jadi merasa bersalah pada mereka. Dia bukan mempermasalahkan hal itu, tapi ada alasan lain yang membuatnya seperti sekarang.
"Kamu akan menggugat cerai Marshal?" tanya Wisnu memastikan.
Viona memandangi mereka satu per satu. Keseriusan tampak jelas di wajahnya. Dia melirik pada Marshal yang terus menggeleng padanya. Marshal tidak mau Viona berpisah darinya. Dia ingin memperbaiki semuanya dan berharap Viona mau bertahan kembali dengannya. Namun, semua itu terasa tidak mungkin. Viona bukan orang yang suka bermain-main dengan ucapannya. Bukan sekali Marshal menanyakan hal ini pada istrinya. Dan Viona tetap menjawab hal yang sama. Dia ingin mereka berpisah.
Elusan di tangan membuat Viona menoleh ke samping. Lina tersenyum hangat padanya. Memberikan Viona semangat untuk segera mengeluarkan suaranya. Viona balas tersenyum dengan ragu. Bibirnya kelu jika harus mengatakan sebuah keputusan yang akan menjadi titik balik untuknya di masa depan.
"Ra ...." panggil Marshal lirih. Melihat Viona dengan sendu. Tatapan penuh harap memancar di matanya. Dia tidak mau Viona berpisah darinya. "Aku tidak mau kita bercerai. Aku minta maaf! Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku!"
Sakit. Dadanya terasa berdenyut nyeri mengatakan kalimat tersebut. Apa yang dia khawatirkan akan terjadi sebentar lagi. Keputusan Viona sudah bulat. Dia tidak mungkin bisa merubah keputusannya lagi. Apa yang dia katakan saat ini akan menjadi hasil akhir. Menjadi sebuah penyelesaian, akan dibawa ke mana pernikahan mereka nantinya.
Ke persidangan? Jelas hal tersebut akan terlaksana. Penyelesaian sebuah masalah yang berakhir dengan perpisahan. Meskipun pedih, tapi Marshal harus menghadapinya. Dia tidak rela Viona pergi, tapi dia tidak bisa menahannya lagi, jika itu menjadi yang terbaik untuk istrinya. Dia sadar diri. Selama ini dia terlalu mengekang Viona. Terlalu egois terhadap istrinya. Marshal memang bukan suami yang baik. Hukuman yang paling dia takuti sepertinya akan segera dia alami.
"Aku," Viona mulai bersuara. Semua mata tertuju padanya. Menanti keputusan apa yang akan dia katakan. Dihelanya napas pelan. Semoga ini menjadi yang terbaik untuk hidupnya. Keputusannya sudah mencapai final, meskipun dia sendiri masih ragu untuk mengatakannya. "Aku memilih ...." Dia diam kembali. Menundukkan kepalanya dengan lemah.
Suasana hening menanti sebuah keputusan. Degup jantung Marshal sudah tidak karuan. Tangannya terasa dingin. Tuhan, cabutlah nyawa Marshal sekarang! Dia tidak bisa mendengar Viona mengatakan perpisahan untuknya. Keputusan istrinya itu terlalu pahit untuk didengar. Marshal tidak akan kuat. Lebih baik dia mati sekarang, daripada harus mendengar keputusan istrinya yang akan terasa menyayat hati. Izinkanlah hidupnya berakhir bersama nasib pernikahanya. Jika ini menjadi akhir dari segalanya. Namun,
"Aku memilih bertahan."
Deg. Marshal terdiam dengan kaku. Napasnya terhenti mencerna kembali ucapan Viona. Bertahan? Apa artinya Viona ....
__ADS_1
Apa artinya Viona, ya? Uhuhuhu... yayayaya...