
Pandangan penuh kemarahan Rahma pancarkan untuk melihat Marshal. Putra satu-satunya tersebut masih bersimpuh di lantai. Dia menunduk. Tubuhnya beku dengan banyak rasa yang kini hinggap dalam dirinya. Dia terluka. Dia tidak bisa melakukan apapun. Otaknya kosong, pandangannya pun sama demikian.
Kenapa? Kenapa takdir malah menghukumnya dengan kejam, di saat dia sudah rela untuk melepaskan Amanda demi Viona, tapi kenapa? Kenapa Tuhan malah menjauhkan pilihannya? Kenapa harus Viona? Kenapa Tuhan tidak membunuhnya saja?
Viona adalah sebuah kehidupan bagi Marshal. Sebuah harapan yang bisa diwujudkan. Namun, kenapa?
Kenapa harapan yang sudah terwujud itu malah pergi dengan mudah. Viona meninggalkannya. Viona tidak pernah menginginkannya dan tidak pernah menerima kenyataan jika mereka sudah menikah. Viona tidak pernah menganggap pernikahan ini serius? Kenapa dengan mudah dia menutupnya? Atau Marshal yang tidak becus? Dia yang salah? Dia yang terlalu mementingkan ego daripada kebahagiaan istrinya?
Marshal akui jika dia salah. Dia memang mengekang Viona. Melarang Viona banyak hal, karena mau Viona menurut padanya dan tidak mudah lepas darinya.
Namun, saat ini kondisinya berbeda. Di saat Viona meluapkan semua yang dia pendam, Marshal seakan bungkam dengan sendirinya. Dia tidak bisa melakukan apapun. Semua yang Viona katakan entah kenapa selalu saja tajam sampai padanya. Sekali pun itu kenyataan, tapi kenapa rasanya selalu menusuk. Viona yang selama ini diam, berubah menjadi belati tajam jika sedang berpendapat. Ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulutnya selalu saja membuat Marshal mati kutu. Viona cerdas dan Marshal sebaliknya.
Dia mengikat Viona tanpa memikirkan hal apa saja yang membuat istrinya nyaman. Dia kurang peduli. Dia terlalu egois. Sekarang Viona pergi, dia bisa apa? Kenapa untuk menyusul langkah istrinya saja Marshal tidak bisa? Dia beku. Tubuhnya beku mengikuti arus dingin yang merambat perlahan dari hati menuju ke seluruh raganya dan dia mulai terluka.
"Puas kamu?" Rahma menunjuk anaknya dengan tajam. "Suami tidak tahu diri! Kurang apa Viona di matamu, Chal? Kenapa kamu malah membuat dia pergi? Kamu merusak pernikahan kalian dengan cara yang kotor. Mantu mama pergi karena kamu sakiti. Kamu brengsk! Anak brengsk! Tidak tahu diri!"
Marshal hanya diam, menunduk lemah. Rahma benar, dia memang tidak becus jadi suami. Dia brengsk. Tidak tahu diri. Seharusnya dia sadar dari dulu Viona terpaksa menikah dengannya. Seharusnya dia membuat Viona nyaman berada di dekatnya, bukan malah membuat Viona tertekan seperti itu. Marshal kira Viona baik-baik saja setelah menikah dengannya. Namun, nyatanya tidak. Viona menahan semua rasa seorang diri. Marshal kurang memahami istrinya selama ini. Yang dia tahu dan dia inginkan hanya Viona menurut dan selalu berada bersamanya. Itu saja. Tapi, semua berbanding terbalik dengan keinginan Viona.
Kenapa semuanya jadi begini?
Kenapa dia baru menyadarinya di saat kehilangan itu telah terjadi?
Pernikahan yang dia inginkan ternyata hanya bertahan sebentar, itu pun penuh keterpaksaan. Mungkin seharusnya dia memang tidak terlalu mengekang karena istrinya juga butuh kebebasan. Namun, ego mengalahkan segalanya dan sampai akhirnya dia kalah. Dia telah terpedaya dengan egonya sendiri. Terpedaya dengan apa yang menjadi keinginan hati, bukan yang seharusnya terjadi maupun yang seharusnya dia lakukan.
Seharusnya dia lebih memahami keinginan Viona yang sejak awal meminta keadilan. Seharusnya dia memberikan kebebasaan kepada istrinya. Jika semua itu yang dia lakukan, maka saat ini semuanya pasti belum berakhir. Pernikahannya pasti tetap utuh dan mungkin hubungannya dengan Viona akan semakin membaik, bukan seperti sekarang, malah putus dengan harapan besar, jika Viona pergi hanyalah sebuah kebohongan.
Namun, semua itu nyata. Viona pergi dan meninggalkannya. Mereka berpisah. Pernikahan mereka berakhir. Apa yang harus Marshal lakukan sekarang? Kenapa sulit sekali untuk dia beranjak? Dia tidak mau berdiam seperti ini. Niat hati ingin menyusul Viona yang pergi dan membawanya kembali. Mendekapnya erat dan meminta maaf. Tapi, semua itu tidak bisa terjadi. Dia masih membeku dengan perasaan yang masih belum percaya jika Viona memilih untuk mengakhirinya.
Kenapa? Kenapa semua masalah ini datang secara bersamaan?
Amanda? Viona? Pernikahannya? Dan semua masalah lain yang kini dia hadapi bukanlah sebuah masalah yang mudah untuk dia selesaikan.
__ADS_1
Masalah demi masalah ini hadir memang karenanya sendiri. Marshal sadar. Semua ini salahnya seorang. Dia memang terlalu munafik, jika masih mengharapkan semuanya baik-baik saja dan kembali seperti semula.
Tidak bisa.
Dia yang membuat masalah dan dia juga yang harus menyelesaikannya. Dia butuh dukungan untuk menyelesaikannya, tapi kenapa semua orang tidak ada lagi yang menoleh padanya? Tidak ada yang peduli lagi dengannya, yang ada malah mereka semua membencinya.
"Pergi kamu dari sini! Mama gak mau liat kamu lagi. Sana susul si model sialan itu! Dan jangan pernah kamu tampakkan lagi wajah di depan mama!"
Marshal sama sekali tidak bereaksi apa-apa. Hanya duduk bersimpuh dengan kepala menunduk lemah. Memandangi lantai dengan berbagai pikiran hinggap dalam benaknya.
"Seharusnya kamu mikir, Chal! Kamu sudah dewasa, tahu mana yang benar dan salah. Mama kecewa sama kamu. Sana pergi! Mama gak mau liat kamu lagi!" Rahma beranjak dari ruangan tersebut bersama dengan Wisnu yang hanya terdiam.
Wisnu hanya menenangkan istrinya dan membiarkan Marshal berpikir dengan sendirinya. Anaknya itu sudah dewasa, pasti tahu apa yang harus dia lakukan dan tidak seharusnya dia lakukan. Hanya sayangnya saja, selama ini Marshal lebih memilih apa yang seharusnya tidak dia lakukan sampai membawanya pada jurang kehancuran. Marshal memang pintar di bidang perbisnisan, namun dia bodoh dalam mengikuti alur kehidupan.
Terlalu mementingkan diri sendiri tanpa melihat sekitar. Wisnu juga kecewa pada anaknya. Dia selalu membanggakan Marshal pada semua orang tanpa dia tahu, jika sifat Marshal di belakangnya sangatlah tercela.
Perlahan Marshal menengadah melihat kepergiaan orangtuanya. Sakit sekali rasanya. Semua orang membencinya. Mereka menjauhinya. Dia sendiri. Benar-benar sendiri tanpa siapa pun yang bersedia menemani. Istrinya pergi dan dia? Dia hanya bernapas dengan pelan merasakan sesak dalam dada yang perlahan semakin menyiksa.
Kepalanya berdenyut nyeri kala ucapan demi ucapan Viona kembali berputar dalam benaknya.
Terbaik apanya? Marshal tidak terima. Dia tersiksa. Dia sakit hati mengetahui istrinya tidak pernah menerima pernikahan mereka dan sekarang malah memilih untuk mengakhirinya.
"Cih, lihatlah si brengsk itu! Suami macam apa dia, istrinya pergi bukannya berjuang memperbaiki, malah masih di sini."
Marshal melirik ke arah tangga saat suara itu terdengar. Michelle berdiri di sana dengan tangan melipat di depan dada. Tatapannya sinis melihat Marshal. Mereka beradu pandang. Sorotan penuh luka dari Marshal beradu dengan tatapan tajam dari adiknya. Mereka sama-sama diam.
Michelle mendengus kasar memandangi Marshal penuh kebencian. "Apa Kakak sudah puas, sekarang? Kenapa masih berada di sini? Pergi sana! Bukannya tadi mama sudah mengusir Kakak? Ck, tidak tahu malu."
Marshal hanya diam. Michelle tidak ada saat mereka sedang berbicara serius, tetapi kenapa Michelle tahu? Pasti adiknya itu menguping dari kejauhan, makanya dia memaki Marshal sekarang.
"Aku pikir Kakak suami yang baik untuk kak Viona, ternyata busuk! Kakak brengsk! Sana pergi aja jauh-jauh, aku benci Kakak! Aku tidak sudi punya saudara yang tidak tahu diri." Michelle menaiki tangga dengan cepat setelah ia memaki Marshal penuh kebencian.
__ADS_1
Apa yang adiknya katakan memang pantas dia dapatkan. Dia tidak tahu diri. Dia brengsk dan perbuatannya sangat busuk. Marshal sadar akan hal itu. Tapi, apa semua harus membencinya sampai sejauh itu? Jika semua orang pergi, dia hidup sendiri, begitu?
Tidak. Marshal tidak akan kuat jika harus hidup sendiri. Dia butuh teman yang bisa menemani dan berharap teman itu adalah istrinya yang kini telah pergi jauh darinya.
Oh, Viona ... kembalilah! Lihatlah, Marshal sangat frustasi karena kepergianmu!
***
Beginikah rasanya menjadi seekor burung yang baru saja terlepas dari sangkar?
Kenapa rasanya bahagia sekali. Viona tidak menyangka, jika dia bisa terlepas dari suaminya. Dia bisa bebas sekarang tanpa memikirkan banyak hal lagi yang menurutnya sangat menyesakkan.
Kini dia masih berada di dalam mobil. Orangtuanya duduk di depan, Heru yang menyetir dan Lina duduk di sampingnya. Mereka sama-sama diam. Sejak keluar dari kediaman Atmadinata, kedua orangtuanya nyaris tidak mengeluarkan suara lagi. Mereka membisu. Viona jadi ragu, apakah keputusannya ini sudah benar? Kenapa terasa ada yang ganjil setelah dia mencerna kembali semua yang sudah terjadi ini?
Dihelanya napas dalam dan membuangnya secara perlahan. Viona diam di kursi belakang, ikut terdiam. Dia yang memilih mengakhirnya, seharusnya dia bahagia dengan keputusannya sendiri. Orangtuanya diam mungkin karena mereka merasa kasihan padanya dan tidak mau membahas masalah itu. Takut Viona tidak nyaman, jika mereka membahasnya kembali.
Viona hanya berharap, apa yang dia lakukan ini bukanlah sebuah kesalahan, melainkan awal dari sebuah kehidupan yang dia inginkan.
" ... Memperbaiki memang cara terbaik, tapi harus berpikir juga untuk kedepannya. Jangan sampai keputusan untuk memperbaiki tersebut menjadi penyesalan di kemudian hari."
Kalimat yang Heru lontarkan tersebut kembali terngiang. Dan sekarang Viona ingin menambahkannya menjadi sebuah pilihan yang menjadi keputusan akhirnya.
*Mengakhiri adalah cara terbaik agar kamu bisa terlepas dari jeratan. Jika kamu merasa tidak nyaman sejak awal, maka sebaiknya kamu ungkapkan dan kamu jelaskan bagaimana kemauan hatimu pada semua orang. Terkadang orang lain hanya menginginkan kebahagiaannya sendiri tanpa memikirkan siapa yang dia hadapi untuk dia bahagiakan juga kehidupannya.
Jika mengakhiri menjadi jalan terbaik, maka pilihlah penyelesaian tersebut!
Hidup tertekan tanpa adanya kebebasan memang sangat menyesakkan. Apalagi jika dilakukan dengan penuh keterpaksaan. Semuanya hambar dan tanpa kamu sadari, kehidupanmu telah terkikis oleh keegoisan orang lain.
Raihlah bahagiamu! Kejarlah semua keinginanmu!
Kenyamanan adalah hidupmu. Jika nyaman tidak kamu rasakan, maka bahagia pun sulit kamu dapatkan.
__ADS_1
Percayalah, hidup mengikuti kemauan diri akan lebih luas terasa daripada hidup di bawah telunjuk orang lain yang berkuasa tanpa tahu dan mengerti keinginanmu seperti apa.
Bahagia itu memang sederhana, tapi kamu harus bisa mendeskripsikan arti 'sederhana' itu seperti apa yang kamu inginkan, bukan seperti apa yang orang lain tangguhkan.