
"Pergi sekarang, Tuan?" Rio menghampiri Marshal yang berdiri di teras rumah Atma.
Marshal mengalihkan perhatian yang semula tertuju pada ponsel yang berada di tangannya, pada Rio. Dia mengangguk, kemudian memasukan ponsel ke dalam saku. "Tunggu nyonya dulu! Istriku sedang siap-siap di kamar."
Rio mengangguk patuh. Dia hanya bisa menuruti perintah majikannya setelah tadi pagi, Marshal menelepon dan mengatakan, jika dia akan pergi ke luar bersama istrinya. Marshal meminta Rio menemani karena dia sedang tidak mau menyetir sendiri. Dengan tergesa, Rio datang kembali ke rumah Atma. Sebelumnya dia sudah pulang, tidak menginap di sana. Dan saat ini, dia memperhatikan wajah Marshal yang terlihat muram. Ada apa lagi dengan majikannya itu? Bukankah hari kemarin dia sudah terlihat biasa dengan bahagianya, kenapa sekarang dia malah kembali terlihat kesal?
Sadar diperhatikan, Marshal mendengus memandangi Rio. Menyandarkan punggung pada pilar besar yang ada di teras rumah. Melipat tangan di depan dada. "Anak tuan Arga koma, kenapa tidak ada berita yang sampai padaku?"
Rio mengernyit dalam. Setelah ingat, dia membuang napasnya dengan kasar, memandangi Marshal. "Bukankah saya sudah mengatakannya tiga hari yang lalu? Saya juga sudah menyarankan Tuan untuk menjenguknya di rumah sakit."
Marshal memutar mata, mengingat ucapan Rio. "Benarkah? Aku tidak tahu."
Sekali lagi, Rio mengembuskan napasnya dengan kasar, seolah tidak ada lagi waktu untuk bernapas dengan teratur. Kesal pun mulai muncul, jika mengingat tingkah majikannya akhir-akhir ini. "Tuan mungkin tidak ingat. Tapi, saya memang sudah mengatakannya pada Tuan."
Boro-boro mengingatnya, Marshal bahkan tidak mendengarkan apa yang Rio ucapkan. Beberapa hari ke belakang, pikiran Marshal hanya dipenuhi oleh Viona, sehingga apapun yang Rio utarakan maupun lakukan sama sekali tidak dia perhatikan. Terkadang Rio darah tinggi melihat hal itu, karena fokus majikannya tidak bisa dikontrol. Dia selalu mengoceh sendiri di depan majikannya, namun sama sekali tidak didengarkan. Tak jarang, Rio juga menjelaskan suatu laporan sampai beberapa kali, karena Marshal selalu bilang Rio belum menjelaskannya. Padahal setiap saat Rio mengoceh. Itulah Marshal, jika sudah memikirkan istrinya, suka lupa dengan hal lain.
Desahan gusar terdengar dari mulut Marshal, mengembalikan kekesalan Rio yang kini memandanginya heran. Wajah Marshal kian muram, sangat tidak enak di pandang. "Apa Tuan sakit? Sudah sarapan?"
__ADS_1
Marshal menoleh pada asistennya dengan tatapan malas. "Aku terpaksa melakukan ini, Yo. Istriku semalaman marah sampai aku tidak tahu harus berbuat apa lagi."
Rio diam mendengarkan, karena belum tahu ke mana arah pembicaraan Marshal dan apa masalah mereka, sehingga membuat Marshal seperti itu parahnya.
"Setelah tahu kabar anaknya tuan Arga, tengah malam dia memaksa untuk menjenguknya ke rumah sakit." Marshal memandangi Rio. Raut wajahnya penuh kesal dan sedih yang sudah dia tahan semalaman. "Kamu pasti tahu bagaimana perasaanku, bukan? Tengah malam, dia bela-belain berselisih denganku hanya untuk menjenguk laki-laki itu."
Rio mengangguk-anggukan kepala, masih diam mendengarkan. Sekarang dia mengerti, kenapa Wajah Marshal terlihat tersiksa seperti itu. Sendi merupakan saingan terberat bagi Marshal, pantas jika majikannya tidak mau Viona menjenguknya. Rio juga sangat tahu, bagaimana perasaan Viona pada Sendi. Jadi, dia paham kecemasan Marshal pasti besar, sehingga berbagai larangan pasti majikannya lakukan supaya istrinya tidak bertemu Sendi.
"Istriku yang keras kepala itu, membuatku mau tidak mau harus mengalah. Dia benar-benar membuatku gila hanya karena didiamkan. Bayangkan saja ...," Rio segera menggeleng, tidak mau membayangkan apapun. Tapi, Marshal tidak peduli dan kembali mengoceh, "dia mendiamkanku semalaman suntuk, sampai aku tidak dianggap olehnya sama sekali." Marshal menggeleng-gelengkan kepala pelan, embusan napasnya terdengar dipaksakan untuk menyembur. "Aku menyerah, jika dia sudah seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi, dia memang paling tidak bisa dilarang dan berakhirlah denganku yang harus mengalah ... lagi."
Marshal berdiri tegak dan merapikan pakaiannya saat melihat Viona datang mendekat sambil menyampirkan tas slempang di bahunya. Terpaksa Marshal memasang senyuman semanis mungkin untuk menyambut Viona yang masih terlihat dingin. Meskipun dia mau disuapi saat sarapan tadi, sikap Viona tetap saja terasa tidak enak bagi Marshal. Bukankah Marshal sudah mengizinkannya untuk menjenguk Sendi, tapi kenapa dia masih terlihat marah?
"Hari ini aku belum melihat senyumanmu yang manis, Sayang."
Viona sudah berdiri di samping Marshal, hanya melihatnya datar. Mengacuhkan ucapan Marshal yang lebih merujuk pada pesan tersirat, perintah untuknya tersenyum. "Aku sudah pamit sama mama. Perginya jangan lama, ya, kasihan mama kalo ditinggal lama."
Marshal memutar mata dengan kesal. Viona malah mengalihkan pembicaraan daripada mau menuruti keinginannya. "Sayang, apa senyumanmu sedang mendung hari ini? Kenapa tidak ada tanda-tanda akan terbit?" Pandangan Viona masih datar membuat kekesalan Marshal semakin besar. "Rio, kita tidak jadi pergi. Pulanglah, aku tidak akan ke mana-mana hari ini." Dengan cepat Marshal membalik badan dan masuk kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
Viona menyusul dengan cepat, menahan tubuh Marshal supaya berhenti melangkah masuk. Dia memandangi wajah kesal suaminya. Terpaksa Viona memasang senyuman semanis mungkin serta mengusap lengan Marshal. "Aku sudah tersenyum," ucapnya dengan manja.
Marshal ingin tersenyum, namun dia malah memasang wajah kesal kembali. "Untuk apa senyuman yang terpaksa, aku tidak suka." Menggeser tubuh, dan kembali melangkah masuk
Viona memeluknya dan kembali memasang senyuman semanis mungkin yang dia bisa. Matanya mengerjap lucu seperti kucing yang ingin dimanja. Marshal sampai tidak bisa menahan diri lagi. Tak kuasa, dia akhirnya tersenyum lebar. Mencuri satu ciuman di bibir istrinya yang sangat menggemaskan, sehingga wajah Viona berubah menjadi seram seketika.
"Hanya dicium kamu marah. Ya, sudah, kita tidak jadi pergi."
Viona menghela napas sejenak sebelum dia menarik paksa tangan Marshal untuk segera pergi. Bukannya marah, Marshal malah senang karena Viona terlihat sangat membutuhkannya. Dengan tarikan paksa dari Viona, Marshal merasa jika Viona menginginkannya.
"Pelan-pelan, Sayang! Aku tidak akan kabur lagi." Marshal terkekeh sendiri. Viona menariknya tidak sabaran sampai masuk ke dalam mobil. Biarpun tujuan Viona adalah supaya dia bisa cepat menjenguk Sendi, yang membuat Marshal tidak suka, tapi setidaknya Viona masih menganggapnya ada, Marshal sudah sangat bahagia. Urusan Viona yang sangat ingin menemui Sendi, itu urusan nanti. Yang terpenting, sekarang Viona sudah tidak terlalu mengacuhkannya lagi, meskipun masih terasa dingin dan tidak banyak bicara.
Rio mengikuti mereka menuju mobil, tidak hentinya menggelengkan kepala melihat pasangan aneh tersebut. Kadang Rio berpikir, kenapa Tuhan membiarkan mereka menikah padahal mereka sama sekali tidak pernah terlihat sejalan. Selalu beda pandangan terhadap suatu hal dan kadang juga sama-sama aneh dengan keinginannya masing-masing. Biarlah, Tuhan yang sudah merencanakannya. Rio hanya berharap, hubungan mereka baik-baik saja dan terus bertahan sampai maut yang memisahkan.
Jangan lupa like, vote dan komen!
Sehat dan bahagia selalu untuk kalian semua😊😊
__ADS_1