
Dear Readers Tersayang,
Mohon maaf banget, Zhao akhir-akhir ini jarang up karena sibuk ngurus real life. Tapi, diusahakan untuk up setidaknya tidak lebih dari dua hari liburnya. Maaf banget, ya. Mungkin kalian merasa tidak puas karena up-nya jarang dan sekalinya up cuma sedikit. I'm so so sorry🙏 Kalo real life-nya mulai bisa teratasi dan Zhao ada waktu buat nulis banyak, Insya Alloh, Zhao akan up banyak bab dalam sehari. Tapi, gak janji dulu. Takut gak bisa nepati.
Sekian celoteh Zhao. Terima kasih sudah menjadi pembaca setia. Semoga rezeki kalian semua semakin melimpah ruah, ya, Aamiin. 😊😊🤗🤗🙏
_______________________________________
Emang dasarnya Marshal itu menyebalkan! Viona menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Setelah diming-imingi hal manis, baru dia mau makan. Tapi, baru sesuap, Marshal sudah tidak mau lagi dan malah menagih ucapan istrinya.
"Asal makan lagi yang banyak. Nanti aku kasih, benaran." Viona masih sabar menyodorkan sendok.
Marshal menggeleng lagi dan menggeser sendok supaya menjauh dari depan mulutnya. "Cukup, Sayang. Tidak enak."
"Ya, sudah, berarti ciumannya tidak jadi." Viona pura-pura acuh, menyimpan mangkuk bubur di atas meja.
"Tidak bisa. Aku sudah makan barusan. Kamu yang bilang ...."
"Tapi, aku maunya kamu makan lagi. Kalo mau makan lagi, baru, deh ...."
Akhirnya Marshal menurut untuk makan lagi. Tetap disuapi oleh Viona. Setiap satu sendok bubur masuk ke dalam mulutnya, ekspresi Marshal langsung terlihat tidak enak. Dia mengulum bubur itu seperti ingin segera memuntahkannya. Dengan tegas, Viona memperingatkan supaya Marshal menelannya. Terpaksa dia menurut dan menelannya dengan cepat. Dia melakukannya karena punya keinginan, bukan karena dia memang butuh asupan makanan.
"Satu sendok lagi," bujuk Viona kembali menyodorkan sendok.
Marshal memandangnya kesal. Ini sudah suapan ke lima dan Viona selalu bilang satu sendok lagi. Tapi, tidak selesai-selesai. Viona terus saja memaksanya untuk makan. Padahal dia sudah merasa mual dan tidak mau memasukkan makanan ke mulutnya lagi.
"Sayang, satu suap lagi! Ayo, setelah ini minum obat!"
Dengan terpaksa Marshal membuka mulutnya, menerima suapan ke enam. Dia pasti langsung mengernyit, jika makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Marshal pasti menelannya cepat dan langsung meminta minum. Walaupun air yang dia teguk rasanya lebih pahit, tapi dia tetap memintanya lagi pada Viona.
"Nah, ayo, sesuap lagi!" Viona membujuknya lagi setelah dia menyimpan gelas bekas minum suaminya.
"Sudah, aku tidak mau makan lagi. Sudah kenyang."
"Belum, kamu belum kenyang. Baru satu suap, masa udah kenyang."
Marshal bisa langsung stroke jika seperti itu. Enam sendok sudah masuk ke dalam perutnya, Viona anggap satu suap, katanya? Jika bukan istrinya, sudah Marshal omeli sampai dia menangis kejer. Viona benar-benar tidak menyerah membuatnya menelan makanan lembek tersebut.
"Cukup, aku tidak mau lagi!"
"Nanggung, sedikit lagi. Makan lagi, ya."
Marshal tetap menolak kali ini. Viona menyerah akhirnya. Disimpannya mangkuk bubur yang isinya tinggal tiga suapan lagi. Viona mengambilkannya obat dan memberikannya pada Marshal.
"Sekarang istirahat! Kamu harus banyak-banyak istirahat supaya cepat pulih." Viona mengusap rahang suaminya dengan lembut. Masih terasa sangat panas. Dia berharap suhu badan Marshal segera turun. Viona membenarkan selimut ke tubuh suaminya, meskipun Marshal tidak mau lagi. Suaminya mengeluhkan rasa panas yang terasa membakar tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa lagi?" Marshal malah menatapnya dengan tidak suka. Viona heran, kenapa lagi dengan suaminya itu? "Mau makan buah?"
Punya istri seperti Viona yang pandai mengalihkan memang cukup membuat Marshal kesal. "Mana?"
"Mana apa?" Viona mengambilkan buah mangga yang sudah dikupas dan dipotong. Dia menusuknya dan menyodorkannya pada Marshal. Mungkin suaminya mau buah. Tapi, ternyata bukan. Marshal malah membenahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai ke pundak. Dia berbalik badan, memunggungi Viona yang terlihat bingung.
Viona menyimpan kembali buah yang dia ambil. Dia sedikit beranjak untuk melihat Marshal. Suaminya menutup mata, dan saat Viona ingin mengusap kepalanya, Marshal malah menyingkirkan tangan Viona dengan pelan. "Kenapa? Mau tidur?"
Marshal tidak menjawab membuat Viona berpikir keras. Setelah sadar, dia bergerak melewati tubuh Marshal dan berbaring di samping suaminya. Marshal masih menutup mata. Viona berbaring miring, memperhatikan wajahnya yang masih pucat namun sudah mulai berkeringat. Mungkin obatnya sudah mulai bereaksi.
Dengan pelan, Viona mengusap kembali rahang suaminya. Dia tersenyum dan perlahan mendekat.
Cup!
Satu kecupan mendarat di rahang Marshal yang terasa sangat panas. Viona kembali tersenyum sambil mengusap bekas kecupannya. "Kamu marah?"
Perlahan mata itu terbuka. Marshal menatap istrinya dengan datar. "Cuma kecupan?" ucapnya dengan lirih. Dia merasa kecewa.
Viona mengulum senyum, mengusap-usap rambut sampai ke leher suaminya. Mereka saling berpandangan dengan posisi yang berhadapan. "Lagi sakit, jangan minta yang macam-macam!"
"Aku tidak minta. Kamu yang mau memberi."
Viona menghela napas, bibirnya membentuk sebuah senyuman yang hangat. Dia mengangguk pelan. "Mending kamu tidur, biar cepat pulih. Kalo udah sembuh, minta apa aja pasti aku turutin." Padahal sedang sakit pun Marshal banyak maunya, dan selalu Viona ikuti semua keinginannya.
Viona tetap saja memasang senyuman. "Tidur, ya!" Dia kembali maju, memberikan kecupan. Kali ini di bibir suaminya. Pertama kali, Viona yang memulai. Dia tidak memberikan pergerakan, hanya sebuah kecupan dalam dan cukup lama. Bibirnya ikut terasa panas saat bersentuhan dengan bibir Marshal. Viona segera memundurkan wajah, melepaskannya di saat Marshal sudah bergerak untuk membuka mulutnya. "Tidur! Kamu harus banyak istirahat."
Dengan seulas senyuman di bibir, Marshal mengangguk pelan. Padahal dia ingin yang lebih. Tapi, mendapat keberanian dari Viona yang mau menciumnya, Marshal sudah merasa bahagia. Dia meminta Viona untuk menemaninya tidur, dan istrinya itu tetap mengikuti apa yang dia mau. Viona benar-benar menemaninya hingga Marshal terlelap. Dia baru beranjak saat perutnya terasa lapar. Viona lupa mengisi perutnya sejak pagi tadi. Dia terlalu sibuk mencemaskan keadaan Marshal sampai lupa dengan tubuhnya sendiri.
Dilihatnya wajah Marshal yang terlihat sudah tidak terlalu pucat seperti tadi. Viona menghela napas lega. Dia menurunkan selimut yang menutupi tubuh Marshal sampai hanya menutupi tubuh suaminya hingga pinggang. Tubuh Marshal mengeluarkan banyak sekali keringat. Viona harap kondisinya segera membaik.
Selesai mengisi perutnya, Viona tidak langsung kembali ke kamar. Dia menyiapkan makanan dan beberapa buah segar untuk menggantikan stok yang ada di kamar dibantu oleh para pekerjanya. Marshal sebentar lagi pasti bangun. Dia harus siap untuk memberikannya asupan nutrisi dengan banyak supaya suaminya cepat pulih.
Saat masuk ke dalam kamar bersama dengan dua pekerjanya yang membantu membawakan makanan, Viona langsung berlari cepat menuju ranjang. Dia terkejut melihat Marshal yang hampir saja terjatuh saat dia mencoba untuk berjalan.
"Kamu ngapain? Kenapa malah bangun?" Viona sedikit membentak karena khawatir. Dia memapah Marshal untuk kembali berbaring di ranjang. Tapi, suaminya malah tidak mau dan ingin pergi ke kamar mandi.
Viona menyuruh pekerja tadi untuk menyimpan makanannya di atas meja yang sudah disiapkan sejak pagi. Setelah mereka keluar, Viona memapah suaminya masuk ke dalam kamar mandi.
"Maaf, tadi aku di bawah terlalu lama sampai gak tahu kamu bangun." Viona merasa bersalah telah meninggalkannya. Jika saja dia tidak cepat datang, entah apa yang akan terjadi dengan suaminya. Tubuh Marshal masih sangat lemah saat ini. Dia bahkan tidak bisa berdiri dengan tegak karena kepalanya masih terasa pusing. "Kamu mau ngapain? Buang air?"
Marshal mengangguk pelan. Dia melepaskan tangannya dari pundak Viona. "Aku bisa sendiri, Sayang. Takutnya kamu tidak nyaman."
Viona jadi bimbang sendiri. Dia khawatir pada Marshal, tapi dia juga tidak berani melihat suaminya mengeluarkan cairan dari tubuhnya. "Benaran bisa sendiri?"
Marshal mengangguk lagi. Viona menuruti untuk menunggunya di balik pemisah tempat kloset dan tempat mandi.
__ADS_1
"Sudah belum?"
"Sudah."
Viona terperanjat kaget mendengar suara Marshal yang sudah tepat berada di samping. Dia segera memapahnya lagi untuk segera keluar, tapi Marshal malah ingin mandi. "Kamu masih sakit. Jangan mandi dulu!"
"Harusnya ada rapat siang ini, Sayang. Aku harus mengukutinya."
"Ck! Rapat apa? Kamu sedang sakit. Lupakan dulu pekerjaan!"
"Tapi, mereka pasti sudah menungguku, Sayang. Sejak pagi aku belum memberitahu mereka. Aku-"
"Diam! Tidak ada rapat-rapat! Kamu sedang sakit." Viona memaksa Marshal untuk keluar dari kamar mandi. Suaminya tetap saja tidak mau. "Chal, kamu masih sakit. Gak boleh ke mana-mana."
"Aku sudah merasa lebih baik. Aku akan mengikuti rapat secara visual, Sayang. Tidak ke mana-mana. Hanya di ruang kerja."
"Tidak boleh! Aku udah bilang sama Rio supaya membatalkan semua jadwal penting kamu sampai tiga hari ke depan. Kamu hanya boleh istirahat di rumah. Tidak ada pekerjaan lagi!"
"Tapi, Sayang-"
"Ck! Nurut sama istri apa susahnya, sih? Demi kesehatan kamu juga."
Marshal diam dibentak sama istrinya. Dia sedang lemah, tidak punya tenaga untuk melawan. Marshal mengikuti larangan istrinya dan kembali berbaring di ranjang. "Rio ke mana? Dia harus memberitahu dan minta maaf sama para direktur untuk mewakili aku."
"Dia pergi ketemu papa. Udah, deh, Chal. Lupakan dulu masalah pekerjaan! Aku udah bilang sama Rio tadi. Dia pasti udah urus semuanya. Kamu hanya perlu istirahat, gak boleh mikirin apapun selain kesehatan." Viona mengambilkan minum untuk Marshal. Dia memberikannya dengan penuh perhatian.
"Ngapain Rio ketemu papa?"
Viona tertegun sebelum menyimpan gelas. Dia lupa. Harusnya dia tidak mengatakan pertemuan Rio dengan Wisnu. Rio bilang, rahasia mereka berdua. Tapi, Viona sudah terlanjur mengatakannya karena dia mulai kesal pada suaminya yang keras kepala.
"Sayang?"
"Tidur lagi aja, ya. Atau mau makan buah?"
Marshal menatap dalam manik mata istrinya. Ada sesuatu yang tidak Marshal ketahui? Viona terlihat tidak mau membahasnya lagi dan malah pura-pura sibuk ingin mengambilkannya buah-buahan.
"Mau buah apa? Anggur, apel, jeruk, mangga, semangka, melon atau-"
"Dicium lagi."
"Huh?" Viona tercengang mendengar sahutan suaminya. "Mau buah apa?" Takutnya dia salah dengar.
Dengan lemah Marshal mengulurkan tangan dan menyentuh bibir istrinya. "Aku mau buah bibir. Bibir kamu, Sayang."
Viona melotot kaget membuat Marshal langsung memasang ekspresi kecewa dan menarik kembali tangannya. Viona menghela napas, menggamit tangan suaminya dengan cepat. Marshal marah lagi. "Baiklah. Akan aku berikan. Hanya satu kali ciuman, oke?"
__ADS_1