Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Lebih Baik


__ADS_3

Sudah lebih baik. Itulah yang Viona rasakan saat ini. Senyumannya mengembang lebar menerima suapan demi suapan yang Marshal berikan.


Dia manja, memang. Dan Marshal tidak mempermasalahkan hal itu. Justru dia malah membuat Viona untuk semakin lemah dan bermanja padanya. Marshal suka hal itu. Dan dia sangat senang memperlakukan Viona bak putri raja. Tidak-tidak. Viona nyonya Marshal Syahreza Atmadinata. Dia seorang ratu. Pantas untuk dilayani seperti sekarang ini.


"Dua suap lagi." Marshal memperlihatkan salad dalam mangkuk yang dipegangnya. Viona sempat menggeleng, sudah merasa kenyang. Tapi, Marshal tidak akan membiarkan makanan Viona tersisa. Viona harus makan yang banyak supaya sehat dan tubuhnya tidak lemas. Karena sejak sakit perut kemarin, Viona tidak mau makan. Jadi, Marshal memanfaatkan kesempatan hari ini untuk memberikannya banyak nutrisi. Viona harus bugar supaya dia juga mendapat perhatian berganti.


"Kenapa gak berangkat kerja?" Mulut penuh dengan suapan dari Marshal. Dia menutupnya dengan tangan, menahan supaya makanannya tidak luber keluar.


"Nanti." Selalu saja kata itu yang Marshal gunakan untuk menjawab pertanyaan Viona. Padahal sudah pukul sembilan, Marshal malah belum bersiap-siap. Ini hari senin, seharusnya dia berkerja dan akan sibuk sekali. Berangkat tergesa-gesa dan akan pulang larut malam. Tapi, tidak untuk hari ini. Dia terlihat santai menyuapi Viona yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa. Dia bisa makan sendiri, tapi Marshal keukeuh ingin menyuapinya.


"Chal, mending berangkat kerja." Bukan apa-apa, Viona tidak bisa membiarkan Marshal berdiam di rumah saat jam kerja seperti ini. Banyak jadwal yang sudah masuk ke dalam agendanya. Kasihan jika diabaikan. Banyak orang yang menunggunya di kantor. Seorang bos bukan berarti harus seenaknya membatalkan agenda. Dia harus tegas dan lebih disiplin supaya menjadi contoh yang lebih baik bagi karyawannya.


"Iya, nanti, Sayang. Aku akan berangkat siang." Marshal menyodorkan sendok penuh salad ke depan mulut Viona. Tadi, katanya tinggal dua sendok lagi, tapi sekarang sudah tiga sendok terakhir dan masih tersisa dalam mangkuk. Pintar sekali Marshal merayunya. Seperti ibu yang membohongi anaknya yang susah makan. "Aaak ...."


Viona terpaksa menyantapnya. Padahal dia sudah merasa kenyang. Malas sekali mengunyah sampai terlelan semua. "Chal ...." Dia menggeleng saat Marshal menyodorkan suapan lagi. Bibirnya mencebik, tidak mau.


Marshal menghela napas. "Baiklah." Dia mengabiskan salad sisa makan istrinya dengan cepat. Kemudian mengambil gelas air mineral dan memberikannya pada Viona.


Melihat istrinya minum dengan tenang, Marshal tersenyum. Viona menyodorkan gelas yang sudah kosong padanya. Dengan sigap Marshal menerima dan menyimpannya di atas meja. "Sekarang mau apalagi? Mau puding?"

__ADS_1


Viona menggeleng. Dia sungguh sangat kenyang saat ini. Salad saja dia tidak mau menghabiskannya dan Marshal malah menawari makanan lain. "Mending kamu segera siap-siap berangkat kerja. Udah siang."


Marshal memandangnya dengan tatapan yang berubah seketika. "Apa kamu tidak senang aku berada di rumah? Kamu tidak suka dekat denganku?"


"Tidak-tidak. Bukan begitu." Viona menggeleng cepat. Sepertinya dia salah bicara. "Aku cuma gak mau kamu kesiangan atau bahkan gak kerja, Chal. Aku tahu, kamu sibuk. Jadi, mending segera bersiap." Kali ini Viona bicara dengan nada penuh kehati-hatian. Tidak mau kalau sampai salah paham lagi.


Marshal hanya terdiam memandanginya. Dilema. Dia tidak mau meninggalkan Viona, tapi harus berangkat bekerja. "Jika aku kerja, kamu sama siapa?"


"Ada mbak yang jagain aku. Lagian di rumah ini 'kan banyak penghuninya, Chal. Aku gak akan kesepian. Banyak pegawai. Aku bisa minta tolong mereka kalau ada apa-apa. Dan lagi, aku ini sehat, Sayang. Aku gak kenapa-napa."


Tangannya terulur mengusap wajah Viona. Marshal tersenyum. Panggilan sayang yang Viona katakan barusan terdengar sangat manis dan dia suka itu. Jarang sekali Viona memanggil sayang, jika bukan sedang ada maunya. Kali ini panggilan itu keluar dengan nada lembut dan terdengar sangat menakjubkan.


Marshal beranjak, Viona menghela napas lega. Akhirnya dia bisa berjauhan dengan Marshal. Jika suaminya pergi, Viona tidak akan merasa seperti orang sakit parah lagi. Dia bisa bangun dari ranjang dan melakukan aktivitas lain yang lebih berguna. Viona hanya sakit perut akibat datang bulan, tapi Marshal memperlakukannya berlebihan. Viona memang sempat memanfaatkan kesempatan itu untuk bermanja dan mencari perhatian. Dia senang. Tapi, jika sepanjang waktu hanya berbaring, dia juga bosan.


"Sini, biar aku yang pakaikan." Viona menghampiri Marshal di ruang ganti. Mengambil alih pakaian yang yang sedang Marshal pilih.


"Jangan, Sayang! Tidak usah. Kamu istirahat saja. Aku bisa bersiap sendiri."


"No, Chal. Biar aku aja."

__ADS_1


Marshal mengalah karena sifat keras kepala istrinya pasti keluar, jika dibantah. Dia menurut dan hanya bisa memberikan senyuman ketika Viona memasangkan pakaian ke tubuhnya.


"Nih, celananya pakai sendiri!" Viona menyerahkan celana pada Marshal.


Suaminya tersenyum jahil. Secercah ide muncul dalam benak, menyerongkan wajah ke arah istrinya. "Kenapa aku masih harus memakainya sendiri? Kamu yang membantu aku berpakaian. Jadi, harus dipakaikan juga, dong."


Mata Viona membulat tajam. "Pake sendiri, ah!" Dia hendak keluar dari ruangan itu, tapi tangannya ditarik oleh Marshal. Dengan kesal Viona menatapnya. Marshal tersenyum penuh arti, Viona tahu pikirannya mengarah ke mana sekarang.


"Kamu sudah sering melihatku. Kenapa masih malu membantuku memakai celana?" Marshal mendekapnya dari belakang, menopang dagu di pundak Viona. "Kita sudah melakukannya. Sudah tahu bagian tubuh masing-masing, kenapa masih saja malu? Hm?" lanjutnya bernada bisikan.


Bulu kuduk Viona merinding. Wajahnya merona mengingat hal itu. Oh, tidak ... dia menggeleng pelan. Kenapa juga otaknya harus secara otomatis memutarkan memori di saat-saat mereka berhubungan? Itu malah semakin memperburuk hawa panas di pipinya. Dia malu. Sangat malu sampai rasanya ingin menenggelamkan diri dalam bak mandi.


"Tidak mau ... ya, sudah." Marshal melepaskan pelukannya dari tubuh Viona. "Berarti kamu bukan istri yang baik. Apa-apaan, kamu melayani suami setengah-setengah."


Viona berbalik cepat, melihat Marshal yang tengah mengangkat celana, siap untuk memakainya. Dia menggelengkan kepala. Tidak berkata apapun lagi, dia mendekat. Mengambil celana dari tangan Marshal dan membantu untuk memakainya. Meskipun dia harus menahan sipu rona di wajah, karena Marshal yang tidak tahu malu malah sengaja memperlihatkan asetnya pada sang istri.


Sialan! Lagi-lagi bayangan aktivitas mereka berputar dalam kepalanya. Viona menggelengkan kepala berkali-kali, mencoba untuk mengenyahkan semua ingatan kotornya. Tapi, sia-sia. Apalagi Marshal terus saja menggodanya dengan kata-kata yang semakin membuat pipi merona merah. Viona harus keluar. Segera. Dia harus menjauhkan diri dari Marshal. Tapi, suaminya malah mengikuti dari belakang dan kembali menggodanya dengan kata-kata panas.


"Chal, diam! Aku sedang haid!" Viona membentak kesal pada Marshal yang langsung terpingkal, memegang perut. Sangat puas telah menggoda Viona, hingga taringnya keluar karena terangsang dengan kata-katanya. Semudah itu memang menggoda hasrat sang nyonya Marshal Syahreza.

__ADS_1


__ADS_2