Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Akhir dari Sebuah Perjalanan


__ADS_3

Kebahagiaan datang melimpah ruah. Dua keluarga tersebut tidak bisa menyembunyikan rasa senang atas anggota keluarga baru. Ruang rawat Viona dipenuhi dengan orang-orang yang memberikan selamat, juga berbondong-bondong berebut ingin menggendong si jagoan.


"Her, sekarang bukan hanya aku yang dipanggil kakek, kamu pun sama."


Gelak tawa mengiringi candaan yang Wisnu lempar untuk besannya. Tidak disangka jika hubungan dua keluarga itu sangatlah baik dan harmonis.


"Ini kakek Heru, Nak. Dia sekarang juga sudah kakek-kakek." Lagi, Wisnu mengeluarkan candaannya sambil menggendong anak Marshal dan Viona, yang membuat semua orang tertawa lagi. "Oiya, ini cucu baru namanya siapa? Chal, mana si Marshal?" Wisnu celingukan melirik semua orang satu per satu tidak menemukan anaknya.


Ternyata laki-laki yang baru mendapat gelar ayah itu hanya duduk anteng di sofa pojokan kamar. Boro-boro menggendong anaknya, melihatnya saja tidak kebagian. Semua orang berebut ingin menimang bayi tampan tersebut sampai lupa jika ayahnya saja belum diberi kesempatan untuk memangku.


"Chal, anak ganteng ini siapa namanya? Udah ada namanya, kan?"


"Udah, Pa. Kata Chal udah disiapin dari lama." Viona masih berada di ranjang perawatan, menyahuti ucapan ayah mertuanya. Itu juga yang ingin dia tahu. Marshal tidak pernah mengatakan nama anaknya siapa sampai saat ini, Viona masih dibuat penasaran.


Kini pandangan semua orang tertuju pada Marshal yang hanya diam. Ekspresinya terlihat datar, mungkin kesal karena belum bisa merasakan sensasi memangku anak sendiri.


"Sini kamu! Masa ayah diam aja di sana, sih. Siapa namanya?"


Marshal berdiri, menghampiri segerombolan manusia yang mengelilingi ranjang Viona. Senyumannya mengembang saat berhadapan dengan Wisnu yang tengah menggendong anaknya. Bayi mungil itu menggeliat di dalam bedongan, matanya terpejam dengan pipi yang masih terlihat merah. Sangat lucu sekali. Marshal ingin menggendongnya, tapi tidak enak dengan papanya. Dia hanya baru bisa melihatnya saja, tidak berani untuk memangku karena gerogi, takut terjadi sesuatu.


"Chal?"


"Nah, siapa nama anak kamu?"


Suasana ruangan terasa hening, menantikan Marshal buka suara.


"Namanya Zehan Pratama Varen Atmadinata."


Orang lain berseru girang menyambut nama yang disebutkan oleh Marshal, berbeda dengan Viona yang malah menatapnya terlihat kurang suka. "Kok namanya itu? Kepanjangan, Chal."


"Ha?" Marshal tidak mengerti. Dia berdehem pelan tidak enak dipandangi oleh istrinya.


"Zehan Pratama artinya imam besar pertama, Sayang," jelasnya dengan lembut, "Selain gelar keluarga ibunya, Pratama ini juga mengartikan anak pertama dan cucu pertama bagi papa Heru. Iya 'kan, Pa?"


Sorak sorai terdengar membahagiakan. Wajah Heru juga terlihat cerah memberikan apresiasi atas nama yang sangat baik.


"Lalu, Varen Atmadinata. Itu artinya hadiah kehidupan terbaik." Tangan Marshal tergerak untuk menyentuh pipi halus milik bayi mungil yang ada di gendongan Wisnu. Senyumannya mengembang penuh arti. Dadanya berdesir halus, terasa menggelitik sampai ke ulu hati. Untuk pertama kalinya dia bisa merasakan betapa hangatnya kulit si Dedek. "Dia adalah hadiah terbaik untuk kami." Pandangannya bertemu dengan sorot mata Viona yang hanya terdiam.


Semua orang ikut senang mendengarnya.

__ADS_1


"Kalau gitu, berarti dua nama ini akan berbeda sebutan kalo nanti anaknya berada di keluarga yang beda." Miranda, ikut menimpalinya disertai senyuman. "Kalau lagi di keluarga Pratama, dia dipanggil Zehan Pratama, sedangkan kalau lagi berkunjung ke rumah papa Wisnu, dia akan dipanggil Varen Atmadinata. Dua nama yang sangat bagus, kan, ya." Usulannya malah mengundang gelak tawa lain.


Viona menatap Marshal dengan lekat. Mereka saling mengunci pandangan, tidak peduli dengan keluarga yang malah berbincang riang mengenai anak mereka. Marshal tergerak untuk mendekat, berhadapan dengan Viona yang duduk di atas ranjang perawatan, senyumannya mengembang lamat-lamat.


"Sayang." Marshal meraih tangan Viona, memfokuskan pandangan hanya pada istrinya. Untung saja semua orang sekarang memusatkan perhatian pada bayi mungil yang pindah gendongan pada Lina yang duduk di sofa. Semua orang mengerumuninya, tanpa sadar memberikan waktu untuk orangtua baru tersebut berduaan sedikit lebih jauh dari mereka.


"Imam besar pertama sebagai hadiah terbaik atas kehidupan kita?" tanya Viona dengan pelan, menatap lekat suaminya yang mengangguk. "Nama dengan arti yang bagus. Makasih."


"Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu." Marshal menggenggam tangan Viona dengan erat, membawanya ke depan bibir untuk diberikan kecupan. "Terima kasih telah bersedia menjadi istri dan ibu dari anak kita. Terima kasih sudah berjuang  sampai di titik ini. Dan terima kasih, telah hadir dalam kehidupan seorang Marshal, menjadi pelengkap yang terindah."


Mata Viona berkaca-kaca. Dia balas menggenggam tangan suaminya, tersenyum penuh haru. "Terima kasih juga udah jadi suami yang baik. Semoga kamu menjadi ayah yang baik juga buat anak kita."


Marshal memeluk Viona dengan erat, memberikan kecupan hangat di kening dan berlanjut dengan kecupan-kecupan ringan tiada henti di puncak kepalanya.


Bahagia yang kini mereka rasakan tidak pernah bisa tergambarkan dengan jelas bagaimana bentuknya. Tidak semua keterpaksaan akan berakhir memilukan, karena tidak semua kehidupan akan memberikan jalan yang sama dengan apa yang kita pikirkan.


Dunia berputar sesuai dengan porosnya. Sebagai manusia hanya bisa mengikuti ke mana takdir akan menggiring dan ke mana angin akan melayangkannya pada kenyataan hidup yang menjadi saksi, bahwa dia pernah berada di titik yang tidak diinginkan, lalu terbang lagi, dibawa oleh arus air yang menepikannya di sebuah tempat hijau yang asri. Kehidupan nyata yang penuh bahagia bersama anak dan suaminya.


"Ehem! Yang pelukan kayaknya gak tau tempat. Berasa dunia milik berdua sampai lupa sekarang berada di mana."


Pelukan Marshal dan Viona terurai mendengar sindiran Michelle. Semua orang tertawa geli melihat wajah mereka yang terlihat malu-malu, menahan rasa menggebu yang datang terus menderu.


Marshal ikut tertawa melihat raut wajah istrinya. Dia memberikan pelukan lagi, menyembunyikan wajah Viona di dadanya. "Terima kasih, Sayang," bisiknya di atas kepala Viona.


Istrinya semakin bersembunyi, tidak ingin menampakkan wajahnya yang sudah semerah tomat juga senyuman yang tidak bisa dia tahan untuk mengembang. Viona menjawabnya dalam hati, sangat menyayangi suaminya dan berharap bisa bersama sampai hari tua dan mati dimakan usia.


...***...


"Anak papa ganteng banget, sih. Kamu mau nyaingin papa, ya, huh?"


Viona terkekeh geli melihat Marshal berinteraksi dengan anaknya yang sudah berusia satu bulan. Zehan tumbuh dengan baik dan malah semakin lucu. Wajahnya tampan, berkulit putih dengan hidung mancung yang terlihat mungil dan bibir yang selalu segar, apalagi jika sudah diberi ASI.


Kini Zehan tengah digendong oleh Marshal di samping box bayi. Cahaya pagi menyinari lewat kaca jendela yang terbuka lebar menampakkan pemandangan indah tanaman hias milik Viona di halaman belakang.


"Kamu ngantuk, hm?" Marshal berbicara lagi pada anaknya. Dia terkekeh melihat mulut mungil Zehan terbuka. Bayi itu menguap sambil menggeliat dan tangan mungilnya mengepal, mengusik di wajahnya. "Cup, cup, cup ... tidur, ya."


Viona hanya melihat di tepi ranjang. Bagaimana Marshal sangat telaten mengurus anaknya, memberikannya perhatian penuh juga kasih sayang yang melimpah. Marshal bahkan selalu menyempatkan makan siang di rumah, ketika jam istirahat kerja tiba. Dia selalu merindukan anaknya ketika bekerja sampai kadang Viona merasa cemburu pada Zehan. Sekarang Marshal tidak merindukannya lagi, sudah tersisihkan dengan kehadiran si jagoan di barisan paling depan.


"Sayang, Zehan sepertinya ngantuk."

__ADS_1


Viona merentangkan tangan hendak mengambil alih gendongan. Tapi, Marshal tidak memberikannya, ingin menidurkan anaknya sendiri. Zehan pasti sudah sangat ngantuk, terlihat dari beberapa kali dia menggeliat dengan mulut menguap kecil. Baru saja selesai diberikan ASI oleh Viona. Jika sudah kenyang anak itu pasti akan mengantuk, lalu tidur beberapa saat sebelum dia bangun lagi dan berjemur pagi di halaman belakang.


"Sayang," lirih Marshal, terlihat berhati-hati mengeluarkan suara karena mata Zehan sudah mulai tertutup setengah.


"Kenapa?" Viona ikut memelankan suara, melihat anaknya yang nyaman di gendongan Marshal, terlihat sebentar lagi akan terpejam sempurna.


"Aku lapar, belum sarapan."


Kebiasaan. Setiap pagi pasti seperti itu. Marshal selalu melewatkan jam makan paginya hanya untuk melihat Viona mengurus Zehan hingga menyusuinya. Sampai-sampai dia suka lupa dengan dirinya sendiri dan selalu Viona yang direpotkan untuk melayani.


Viona beranjak keluar kamar, menyiapkan makanan untuk Marshal. Sebenarnya semua masakan sudah terhidang di meja makan, hanya saja Marshal yang manja lebih ingin Viona kerepotan, kadang juga harus membawanya ke kamar Zehan karena laki-laki itu akan lebih lahap makan ketika melihat wajah lucu anaknya.


Saat masuk ke dalam kamar Zehan, Viona mengeluarkan dengusan pelan melihat ke arah ranjang. Marshal sudah terlelap dengan Zehan di sampingnya yang dia peluk. Ayah dan anak itu terlihat nyaman dan nyenyak dalam tidurnya. Viona mendekati ranjang, duduk di tepinya memperhatikan wajah damai mereka berdua.


Tiba-tiba matanya memanas. Viona menghela napas kasar, mengulurkan tangan untuk mengusap wajah Marshal dengan lembut, berlanjut dengan elusan telunjuk di pipi anaknya yang tembam. Air mata meluruh dengan sendirinya melihat wajah mereka berdua. Viona menundukkan kepala, tidak mau melihat lagi mereka yang tidak terusik sama sekali dengan kehadirannya.


"Sayang ...." Marshal terbangun mendengar isak tangis. Dia membuka mata dengan cepat, panik melihat istrinya sedang menangis di tepi ranjang. Buru-buru Marshal bangun setelah memastikan anaknya tidur dengan nyaman. "Kamu kenapa?"


Viona malah menggelengkan kepala. Tangannya mengusap air mata di wajah, dia malah terisak lagi membuat Marshal cemas dan panik, tidak tahu istrinya kenapa bisa menangis seperti itu.


"Kamu kenapa, Sayang?" Marshal beranjak untuk duduk di samping istrinya, memperhatikan dengan cemas. "Kenapa nangis?" Tangannya tergerak untuk menyentuh bahu Viona, memandanginya dengan lekat.


Viona mengangkat wajah, menatap Marshal dengan nanar. Air mata bersimbah membasahi wajahnya yang malah terlihat semakin cantik setelah melahirkan. "Aku yang mengandung, melahirkan sampai menyusuinya, Chal. Tapi, kenapa wajah Zehan malah mirip sama kamu, bukan aku? Aku cemburu!"


Ya, ampun ....


Begitulah perasaan tidak terima yang Viona rasakan karena tidak mendapat jejak pada anaknya. Zehan bagaikan Marshal kecil yang imut dan lucu. Semuanya sama persis, sangat mirip bagai fotocopy-an. Lantas, apakah wajar dia merasa iri hati? Rasanya Viona tidak diakui sebagai seorang ibu, jika hanya tampang Marshal yang Zehan tiru.


...~The End~...


Perjalanan panjang telah usai, Zhao ingin menepi beristirahat dan melanjutkan perjalanan kembali. Mungkin dengan cerita baru yang sudah tentu punya arah jalan yang lebih baik dari sebelumnya.


Terima kasih kepada kalian semua yang telah mendukung dan membacanya. Terima kasih telah bertahan sampai sejauh ini. Dan mohon maaf sebesar-besarnya, bila tangan ini tidak bisa memberikan suguhan yang masih jauh dari kata baik. Mohon maaf bila kurang memuaskan, karena kepuasan satu per satu orang berbeda-beda dan Zhao tidak bisa memenuhi semuanya.


See you next time, guys. Terima kasih sebanyak-banyaknya dan mohon maaf karena banyak kekurangannya.


Salam hangat, semoga rezeki kalian semua semakin melimpah ruah. Zhao akan lebih bahagia, jika kalian juga bahagia. Dan semoga Tuhan selalu membahagiakan kalian semua.


Bye-bye, peluk hangat dari Zhao ...🤗🤗🤗

__ADS_1


Nantikan cerita selanjutnya yang insya Allah akan rilis sebentar lagi, ya. 😘😘


__ADS_2