Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Membujuk Viona


__ADS_3

Jika pusing dengan ceritanya, kalian bisa baca ulang dari bab trouble sebelumnya, dari Bab 183 yang sudah Zhao perbaiki. Terima kasih. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu.😊


______________________________


Sialan Marshal!


Viona mengumpat dalam hati. Beberapa kali dia menghela napas, hanya bisa mengangguk dan memberikan senyuman canggung.


Rahma terlihat sangat antusias menagih cucu padanya, bahkan tidak henti-hentinya ibu mertua itu mengoceh mengenai banyak hal yang berhubungan dengan anak, tentu saja. Sedangkan si pembuat masalah, sekarang entah berada di mana. Dia sepertinya mengamankan diri terlebih dahulu, setelah mengajak Rahma tiba-tiba datang ke rumah dan menanyakan masalah program kehamilan kepada Viona. Sudah tentu biangnya Marshal. Viona yakin, karena dari semalam dia membahas masalah itu.


"Waktu mama punya Miranda dulu, hanya kosong satu bulan setelah menikah. Kami langsung punya anak. Dan itu rasanya bahagia sekali. Kami jadi gak kesepian di rumah, selalu ada mainan untuk menghilangkan rasa jenuh."


Viona hanya tersenyum setiap kali Rahma membicarakan hal seperti itu. Memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan? Membantah? Tidak mungkin. Viona tidak berani melakukannya.


"Kamu sama Marshal nikah udah lumayan lama, lho. Sudah berjarak. Mama rasa masa-masa pengenalan kalian sudah cukup." Rahma menggamit tangan Viona, meremasnya lembut. "Kehadiran anak gak bakal mengganggu kalian. Malah bagus. Kalian akan semakin dekat dengan adanya buah hati."


Lagi-lagi dan lagi, Viona hanya tersenyum, mengangguk samar. Apa yang harus dia lakukan? Dia ingin menyudahi pembahasan ini, tapi Rahma sepertinya tidak akan pernah berhenti, sebelum Viona mengiyakan untuk segera program.


Sedangkan di balik tembok ruangan tengah, Marshal menguping dalam diam. Bersandar dengan perasaan senang dan penuh harap. Semoga Rahma berhasil membujuk Viona. Dia tidak bisa membujuk Viona secara baik-baik. Tidak mungkin juga jika Marshal menghamilinya secara paksa. Mereka pasangan suami istri. Perkara punya anak harus dilakukan secara baik-baik, tidak boleh dengan pemaksaan. Dia tidak mau memperkosa istrinya sendiri, meskipun Viona adalah miliknya dan dia berhak melakukan apapun terhadapnya. Marshal tidak segila itu.


***


"Mama berharap kalian sehat, ya. Baik-baik di sini."


Viona mengangguk, tersenyum, membalas pelukan Rahma, sedangkan Marshal hanya terdiam di sampingnya. Mereka mengantar Rahma sampai ke depan pintu utama dan melambaikan tangan ketika mobil yang diperintah untuk mengantarkannya sudah mulai melaju melewati gerbang besar rumah Marshal.


Tidak sepatah kata pun yang Viona ucapkan. Dia berlalu begitu saja melewati Marshal yang masih terdiam memandanginya. Masalah anak memang selalu menjadi bahasan yang sensitif di antara kalangan yang sudah menikah. Dan sekarang mereka juga sedang merasakan hal yang demikian.

__ADS_1


Marshal menyusul Viona, mensejajari langkahnya hingga mereka sampai di kamar dan Viona masih saja mendiamkannya. Sejak semalam hubungan mereka memang kurang baik. Terlebih Marshal yang memang banyak menghindar karena keinginannya tidak sejalan dengan apa yang Viona mau.


"Harusnya kamu gak perlu sampai ngajak mama ke sini. Terlalu merepotkan."


Marshal melirik Viona sejenak. Istrinya berjalan menuju ruangan ganti, sedangkan dia duduk di tepi ranjang memperhatikan setiap langkah istrinya hingga menghilang dari pandangan.


Marshal tahu, Viona pasti tidak suka dengan cara curangnya. Viona pasti risih dengan permintaan Rahma yang memang tidak akan bisa dia setuju.


"Memangnya kenapa kalau kita punya anak segera? Sekarang atau nanti, sama saja," ucap Marshal, Viona baru saja keluar dengan baju piyama sudah siap untuk tidur, tinggal mencuci wajah dan menggosok gigi.


"Kamu pikir aku siap? Bukannya kita udah sepakat buat nunda punya anak? Kamu setuju. Tapi, kenapa sekarang tiba-tiba kamu pengen punya anak?"


Marshal menelan ludah melihat tatapan Viona yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Mereka bertatapan cukup lama. Viona memutus pandangan lebih dulu dan masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Marshal yang termenung sendiri.


Viona benar-benar belum mau mempunyai anak. Sepertinya akan sedikit sulit untuk membuat sifat keras kepalanya itu terurai. Marshal harus mencari cara lain supaya Viona setuju untuk mempunyai anak segera.


Ini semua gara-gara Vino. Marshal jadi banyak berharap tentang anak, akibat bayangan selewat yang Vino suguhkan padanya kemarin malam. Dan memang sepertinya akan sangat menyenangkan, jika ada buah hati di antara mereka berdua. Setiap pulang bekerja dia akan disambut hangat oleh istri dan anaknya. Pelebur rasa lelah. Anaknya yang rewel akan merengek untuk bermain, sedangkan dirinya sangat kelelahan.


Oh, Tuhan ....


Sudah cukup! Mereka tidak akan pernah bisa menjadikan bayangan itu nyata, jika Viona belum mau menyetujuinya. Harus dengan cara apa Marshal membujuknya?


Senyuman licik terbit. Marshal menemukan cara yang bagus untuk mewujudkan keinginannya.


***


"Kamu mencari apa?"

__ADS_1


Viona hanya melirik sekilas pada Marshal yang sedang berbaring miring di atas ranjang. Tidak menghiraukan suaminya, Viona kembali memeriksa tas dan laci nakas.


"Sudah malam. Sini tidur! Aku sudah mengantuk." Marshal menguap lebar, menutupnya dengan telapak tangan. Melihat Viona yang mondar-mandir memeriksa laci dan juga semua tempat yang biasa dia gunakan untuk menyimpan barang, Marshal hanya tersenyum tipis.


Viona pasti mencari strip pil kontrasepsi. Marshal tahu itu. Karena setiap malam, sebelum tidur dia akan meminumnya. Dan kali ini Viona pasti tidak akan melakukan rutinitas itu. Karena Marshal sudah menyembunyikannya di tempat yang aman. Viona tidak akan tahu, dia mengambilnya saat Viona masih berada di kamar mandi.


"Sayang, cepat ke sini! Aku sudah mengantuk." Senyuman devil-nya kembali muncul melihat Viona yang masih mencari-cari sesuatu. Mau mencari sampai pagi pun, Viona tidak akan menemukannya. "Cepat!"


"Sebentar, Chal."


Marshal menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya. Mendekap satu bantal, menyurukan wajah, Marshal tidak bisa menahan senyuman puas melihat Viona yang masuk ke dalam ruang ganti. Kasihan sekali Viona. Mau sampai kapan dia mencarinya?


"Sayang, cepat!" Sambil menunggu Viona, Marshal mulai memejamkan mata untuk pura-pura tertidur.


Tidak lama kemudian, terasa Viona mendekat dan naik ke atas ranjang. Marshal membuka matanya perlahan dan menggeser tubuh untuk memeluk Viona. "Kenapa lama sekali? Aku sudah mengantuk dari tadi."


Viona tidak mengatakan apapun. Marshal tahu, Viona pasti lelah mencari benda itu dan akhirnya dia menyerah. Setelah ini, rencananya pasti akan berhasil.


Dengan semakin mengeratkan pelukan, Marshal membawa Viona ke dalam dekapannya. Penuh kelembutan dia mengusap kepala Viona, memberikan kecupan ringan di sana. Tangan yang semula mendekap perlahan merayap pada tempat empuk yang selalu menjadi tempat kesukaannya. Tubuh Viona memang selalu menjadi destinasi yang menyenangkan untuk dijelajahi.


Tidak mendapat penolakan, Marshal semakin berani dengan aksinya. Senyuman kembali dia munculkan. Malam ini akan menjadi malam panjang bagi mereka dan dia memang sudah menginginkannya.


Semoga ini akan berhasil. Tanpa kontrasepsi.


***


"Terima kasih, Sayang." Marshal mengecup hangat kening Viona. Mencicipi kembali bibir istrinya sebagai penutupan ritual nikmat yang baru saja usai.

__ADS_1


Viona hanya mengangguk samar, memaksakan senyuman di balik wajah lelahnya. Tangan Marshal terulur mengusap pelipis dan kening yang berkeringat. Mereka terlalu banyak mengeluarkan tenaga.


"Tidurlah!" Memeluk tubuh polos istrinya, Marshal mengusap perut rata yang masih menyisakan peluh. Dia berdoa dalam hati, semoga hasil kerja kerasnya tanpa penghalang lagi, malam ini bisa membuahkan hasil.


__ADS_2