Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Apa yang terjadi?


__ADS_3

Viona turun dari mobil, melihat kepergian Rio yang terlihat sangat buru-buru. Entah apa yang membuatnya sampai seperti itu, dia juga tidak tahu. Kini, Viona kesal melihatnya. Rio sepertinya tidak punya telinga sampai teriakkan Viona yang sangat keras, tidak dia hiraukan.


Senyuman malu dia berikan pada dua orang laki-laki yang baru saja melewatinya. Dua orang itu baru saja turun dari mobil yang terparkir di basement tersebut. Viona sangat malu sekali karena mereka melihat padanya dengan aneh. Mungkin mereka mengira Viona orang gila yang berteriak-teriak pada orang yang bahkan sudah tidak terlihat lagi.


Untuk menutupi rasa malunya, Viona kembali tersenyum pada mereka yang masih melihat padanya. Dia buru-buru membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Wajahnya bersemu merah. Sangat malu sekali, sampai mereka terus saja memperhatikannya. Viona bisa melihat mereka dari jendela mobil yang baru saja dia tutup, karena takut terlihat oleh mereka. Bisa-bisanya Viona bersikap seperti orang gila. Berteriak sendiri di basement yang dia kira sepi, namun ternyata ada orang di sana.


Viona membuang napasnya lega melihat dua orang itu tidak lagi melihat ke arah mobilnya. Mereka sudah pergi. Dan sepi menyelimutinya, setelah malu berhasil membuatnya tidak punya muka.


Pikirannya kembali pada Rio. Dia penasaran, kenapa Rio sampai tegesa seperti tadi? Apa yang terjadi? Viona bahkan tidak tahu siapa yang menelepon Rio. Namun, dia bisa menebak jika itu adalah Marshal. Apa yang terjadi dengan suaminya? Viona mulai tidak bisa tenang sebelum dua laki-laki itu menjelaskan padanya tentang apa yang sudah terjadi.


Viona ingin menyusul Rio, namun dia tidak tahu manusia menyenangkan itu pergi ke mana. Viona kesal pada asisten suaminya. Dia ditinggalkan sendiri di basement yang sangat sepi. Hanya terdapat beberapa mobil yang terparkir rapi, Viona tidak melihat lagi ada manusia yang muncul, selain dua manusia tadi yang berhasil membuatnya malu sampai ubun-ubun.


Lama Viona menunggu mereka datang. Dia sudah menyalakan musik dari playlist dashboard. Menyetelnya dengan suara yang cukup kencang untuk menemaninya yang sedang kesepian. Viona juga sudah menangkan satu permainan dari game di ponselnya yang tadi dia mainkan bersama Rio.


Dari dalam, dia bisa melihat Marshal berjalan seorang diri. Viona melihatnya heran, karena penampilan suaminya jauh dari kata rapi. Dia turun dari mobil, menghampiri Marshal yang berjalan mendekat padanya.


"Apa yang terjadi?"


"Masuk!"


Viona melihat Marshal semakin heran dan bertanya-tanya. Pakaian suaminya terlihat tidak baik-baik saja. Berbeda dari saat terakhir kali dia melihatnya. Sangat berantakkan dengan dua kancing baju terbuka di atas, bahkan rambutnya juga sangat terlihat tidak Marshal sekali. Menahan diri dengan rasa penasaran, dia menurut untuk masuk ke dalam mobil menyusul suaminya. Viona duduk dan melihat Marshal dengan penuh tanda tanya besar. Mereka duduk di jok belakang. Viona mengernyit dalam melihat Marshal yang menyandar dan menghela napasnya dengan kasar.


Lama Marshal diam sambil memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya. Desahan lelah terdengar darinya. Dia melirik Viona yang terlihat heran dengan alisnya yang bertautan. Istrinya tidak lagi bertanya, namun tatapan menyiratkan lebih dari sepuluh pertanyaan menusuk pada Marshal. Viona menuntut penjelasan tanpa mau bertanya lagi padanya. Marshal hanya mendesah lelah dan kembali memejamkan matanya.


Dia ingin bernapas sejenak. Marshal tahu, Viona pasti ingin mengetahui apa yang sudah terjadi padanya.

__ADS_1


"Chal?"


"Hm?"


Viona menggigit bagian dalam bibir bawahnya. Dia ragu untuk bertanya, tapi dia sangat penasaran. "Are you okay?" lirihnya melihat Marshal khawatir.


Marshal hanya bergumam tanpa membuka mata. Tangannya mengepal mendarat di kening. Tidak lama, kepalan itu membuka dan mulai memijit pelan pelipis dan keningnya.


Viona semakin bingung melihatnya. Rasa penasaran semakin besar. Namun, dia tidak mau mendesak untuk menuntut jawaban. Melihat keadaan Marshal, Viona sangat yakin, sesuatu terjadi pada suaminya.


"Sayang?" panggil Marshal dengan pelan. Masih di posisinya, tidak kunjung membuka mata.


"Iya?"


"Kemari dan beri aku pelukan!"


"Kamu kenapa?" Viona mengusap rahang suaminya pelan. Napas Marshal terdengar belum teratur, Viona semakin bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan suaminya?


"Peluk aku, sebentar saja!"


Viona melakukannya. Memeluk Marshal dari samping, dia melihat wajah suaminya yang terlihat begitu tegang. Dahinya mengkerut dalam, dan Viona bisa melihat jakun suaminya beberapa kali naik turun. Marshal menelan ludah dengan gusar.


"Mau minum?"


Marshal membuka mata, mengangguk pelan pada istrinya. Untung saja ada botol minum yang selalu tersedia untuk Marshal di dalam mobil. Jadi, Viona tidak perlu repot mencarinya.

__ADS_1


Viona memberikan botol yang sudah dibuka. Marshal menerima dan meminumnya dengan tidak sabaran sampai hampir saja tersedak. Setengah botol dia tenggak dan kembali memberikannya pada Viona. Marshal kembali bersandar dan meminta Viona memeluknya lagi, setelah istrinya menyimpan botol minum ke tempat semula.


Mata Viona membulat saat memeluk tubuh suaminya, tidak sengaja dia melihat leher Marshal. Tanda merah itu begitu terlihat. Viona mendongak melihat pada suaminya.


Merasa sedang diawasi, Marshal menunduk. Pandangannya bertemu dengan manik Viona yang terlihat semakin bertanya-tanya. "Kenapa?"


Viona hanya diam melihatnya. Tidak mengeluarkan suara, Viona membenahkan posisi lebih nyaman memeluk tubuh suaminya dari samping. Marshal merangkul bahunya dan membiarkan Viona bersandar di dadanya.


Pikiran Viona mulai menerka ke mana-mana. Dia tidak pernah membuatnya di leher Marshal. Dan Viona sangat ingat, jika tidak pernah ada tanda seperti itu di tubuh suaminya. Pantas saja penampilan Marshal tidak tertata rapi.


Mereka sama-sama diam, duduk berdua hanya terdengar suara napas yang teratur. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, dan Rio tidak kunjung kembali. Viona semakin ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia begitu penasaran setelah tahu keadaan yang sudah dia lihat saat ini. Suaminya tetap bungkam membuat Viona ragu untuk bertanya.


"Chal?" Viona melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah Marshal yang mulai sedikit tenang.


"Apa, Sayang?"


"Apa yang terjadi?" Dengan ragu dia bertanya. Viona melihat Marshal yang terdiam sebentar, sebelum dia mengembuskan napasnya kasar.


"Sayang," Marshal menatap Viona dalam. Dia memberikan senyuman yang sangat manis. "tidak terjadi apa-apa."


Viona terlihat kecewa tidak mendapat penjelasan. "Serius, Chal! Apa yang terjadi?"


"Emm ...," Marshal memainkan matanya terlihat berpikir. "memangnya apa yang terjadi?"


"Chal, ih!" Viona memukul pelan lengan suaminya. Dia kesal karena Marshal malah terlihat bercanda. Padahal dia sudah tidak sabar untuk tahu apa yang terjadi dengan suaminya.

__ADS_1


Diberikan pukulan, Marshal malah terkekeh pelan. Dia mengusap wajah istrinya. Viona terlihat menggemaskan jika sedang merajuk seperti sekarang. "Kamu wanita satu-satunya yang akan menjadi temanku untuk melewati kebahagiaan bersama dengan anak-anak kita." Marshal kembali memberikan senyuman manisnya. "Aku mencintaimu. Aku sudah menepati ucapanku, Sayang. Hanya kamu. Aku tidak terikat dengan wanita mana pun lagi."


Viona tertegun mendengarnya. Marshal sungguh berani mengatakan hal itu pada Amanda? Viona jadi ingin tahu, bagaimana reaksi Amanda setelah tahu Marshal memutuskan hubungan mereka? Tapi, dia enggan bertanya pada suaminya. Biar saja Marshal yang bicara lebih dulu, itu pun jika Viona masih bisa menahan diri untuk tidak menuntut banyak penjelasan.


__ADS_2