
Hampir pukul sepuluh, Viona baru keluar dari kamarnya. Jika bukan karena perutnya yang terasa lapar, dia sangat enggan untuk keluar. Belum lagi dia harus menuruni tangga. Viona merasa tidak nyaman saat berjalan. Katakanlah dia sangat manja sekarang. Dia ingin digendong oleh Marshal. Boleh 'kan, jika dia punya keinginan seperti itu? Jarang-jarang Viona bermanja terhadap suaminya. Namun, Marshal?
Laki-laki itu tidak kunjung terlihat sampai sekarang. Entah ke mana dia. Viona sudah bosan menunggunya.
"Mbak!" Di lantai bawah dia tidak menemukan adanya kehidupan. Rumah besar itu terasa sangat sepi. Ke mana semua orang? Mereka tidak berniat meninggalkan Viona di rumah seorang diri, kan? Cukup Marshal saja yang dikerjai hari kemarin. Jangan sampai dia kena imbasnya!
Viona melonggok ke arah rumah belakang. Dia baru melihat tukang kebun yang sedang beristirahat di dekat taman. Ada juga seorang pekerja rumah perempuan. Mereka terlihat sedang mengobrol. Viona ingin mencari Erni, tapi dia tidak melihatnya. Jadilah dia menghampiri mereka dengan cara berjalan yang terlihat berbeda.
Wajahnya berubah malu menyadari tatapan para pekerja tertuju pada cara melangkahnya. Viona mencoba untuk terlihat biasa saja, karena tidak mau mereka tahu sebab kakinya sedikit kaku saat berjalan. "Ada yang lihat mbak Erni?"
Dua pekerja tadi menganggukan kepala hormat dan memberikan senyumannya melihat Viona.
"Mungkin sedang di ruangan samping, Nyonya. Tadi, dia bilang akan membereskannya," sahut perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Viona menganggukkan kepalanya pelan. Dia memberikan senyuman kepada mereka. "Tuan ke mana, ya? Apa ada yang lihat?"
Dua orang yang ditanya itu malah saling bertatapan sebelum mereka menggeleng berbarengan.
"Memangnya tuan tidak ada di rumah? Bukannya, biasanya tuan bersama Nyonya?" tukang kebun menyahuti dengan nada ramah.
Viona mengembuskan napas kasar. "Aku gak tahu. Sejak pagi tidak ada. Kalian sungguh tidak melihatnya?" Melihat dua pekerjanya menggeleng lagi, Viona menghela napas dan berpamitan kepada mereka untuk mencari Erni terlebih dahulu.
Marshal tidak ada, entah ke mana. Viona kesal karena suaminya menghilang begitu saja. "Ah, mending makan dulu." Viona berjalan menuju ruang makan. Di sana banyak makanan yang masih utuh. Belum ada yang mencicipnya, kah? Berarti Marshal belum sarapan?
Diliriknya sekitaran masih terlihat sepi. Erni di ruangan belakang, dan ke mana suaminya itu? Viona menunda dulu acara makannya dan malah berjalan ke jajaran ruangan belakang, menuju ruangan Marshal. Dia membuka ruangan kerja suaminya yang tidak dikunci. Ternyata Marshal tidak ada di sana. Kursi kerjanya nampak kosong.
"Chal!" Viona berteriak pun tidak ada yang menyahuti. "Ke mana, sih, dia?" Viona menutup kembali ruangan kerja suaminya.
"Eh, Mbak!" Tangan Viona melambai pada Erni yang terlihat di sudut ruangan. Terlihat sedang mengganti bunga hias dalam pot besar bersama dua teman sesama profesinya.
"Iya, Nyonya?" Erni dan pekerja lain mengangguk hormat melihat Viona mendekat pada mereka. "Nyonya butuh sesuatu?"
"Ada yang lihat tuan?"
"Lho, Nyonya tidak tahu? Tuan tadi subuh sekali sudah pergi, buru-buru bersama Rio," jelas Erni.
"Pergi?" Viona mengernyit heran, dia tidak tahu jika Marshal pergi. Suaminya tidak bilang apa-apa padanya. Saat bangun tidur tahu-tahu sudah tidak ada. Dan apa tadi kata Erni, Marshal pergi subuh sekali. Memangnya jam berapa Marshal berangkat? Mereka baru istirahat saat subuh tiba. "Pergi ke mana?"
Erni tersenyum canggung. "Saya kurang tahu, Nyonya. Tapi, tuan pergi bersama Rio. Mungkin urusan pekerjaan."
Urusan pekerjaan apa yang dilakukan sampai harus pergi subuh dan tidak bicara dengannya? Marshal sungguh pergi? Viona semakin kesal mengetahuinya. Dia beranjak dari sana pergi ke ruang makan. Masa bodoh dengan Marshal. Viona lapar dan kesal. Mungkin seluruh makanan di meja bisa jadi pelampiasan kekesalannya.
__ADS_1
Haruskah Viona memaklumi suaminya tidak tahu diri seperti Marshal?
Setelah selesai makan, Viona kembali ke kamar. Dia menghubungi suaminya, namun tidak mendapat jawaban. Sudah hampir sepuluh kali Viona menelepon nomor suaminya, tidak ada satu pun yang bersambut.
Memangnya Marshal sedang melakukan pekerjaan apa sampai dia tidak menerima panggilan dari istrinya? Apa dia sangat sibuk saat ini? Cih, Viona ingin sekali mencakar wajahnya! Marshal sungguh keterlaluan. Dia pergi tanpa bicara dulu, meninggalkan Viona begitu saja.
"Di mana kamu?" Viona langsung bertanya dengan nada tinggi saat panggilan kesebelasnya baru mendapat jawaban. "Marshal!" Dia kesal sudah mendekati puncaknya, dan Marshal tidak kunjung menyahuti.
"Huh, Sayang, sebentar, ya." Marshal bicara terengah-engah.
Entah apa yang sedang suaminya lakukan, Viona tidak peduli, dia sedang dalam mode kesal saat ini. "Di mana? Kenapa gak bilang kalo mau pergi?"
Viona duduk di ranjang, mengambil bantal dan mendekapnya erat menyalurkan rasa kesal. Dia meremas bantal dengan kuat, ponsel masih menempel di telinga. Hanya terdengar deru napas Marshal yang tidak teratur dari speaker.
Sial! Viona langsung menghentikan remasannya pada bantal. Mendengar napas suaminya yang tidak beraturan, terdengar terburu dengan tangannya sambil meremas bantal, Viona malah kembali teringat kejadian semalam.
"Chal!" Viona sudah tidak bisa bersabar lagi menunggu suaminya bersuara. "Kamu udah mati, ya? Lama banget, sih. Lagi apa, huh?"
"Sebentar, Sayang. Aku-eh, bentar, Sayang. Maaf!"
Ck! Viona memandang ponselnya horor. Panggilannya diputus oleh Marshal. Sebenarnya Marshal sedang apa? Dia terdengar sangat panik dan terburu-buru.
Awas saja jika Marshal tidak menghiraukan lagi panggilannya, Viona pasti mengomel panjang sampai telinga suaminya tuli!
Fokus Marshal terbelah antara ponsel dan urusannya saat ini. Dua-duanya sangat penting. Dia jadi sulit fokus untuk menyelesaikan urusannya, jika Viona terus menelepon.
Sejak panggilannya dia tutup secara sepihak, lima belas panggilan susulan masuk ke dalam ponselnya. Masih dari nomor yang sama. Istri tercinta. Marshal tidak sempat menerimanya karena dia sedang dalam keadaan darurat.
Begitu ponsel kembali berdering untuk yang ke enam belas, Rio memberi saran untuk dia mengangkatnya terlebih dahulu.
"Mungkin ada hal penting yang ingin nyonya sampaikan, Tuan," ucap Rio terlihat ikut bingung. Mereka sama-sama menghadapi masalah darurat saat ini.
"Kalo gitu, kamu urus dulu semuanya! Aku angkat teleponnya dulu." Melihat Rio mengangguk, Marshal mengambil ponsel yang masih berdering dari saku celananya. "Datangkan lebih banyak petugas, dan urus masalah ini pakai penyelidik handal!" lanjutnya sebelum Rio pergi dan dia menerima panggilan dari istrinya.
Marshal menjauhkan diri dari sana. Dia sedang berada di sebuah resort miliknya yang ada di luar kota. Ada masalah besar yang sedang dia hadapi saat ini, sehingga mengharuskannya untuk pergi pagi-pagi sekali.
Banyak orang lalu lalang di sana. Beberapa petugas membantu mengevakuasi penghuni yang masih harus mereka bawa ke tempat aman, setelah si jago merah berhasil membara di sebagian resort miliknya sejak tadi malam.
Marshal memilih untuk menerima panggilan di sisi dekat kolam. Dia berdiri di sana, dibalik tembok. Hanya di sana tempat yang sepi dari lalu lalang kesibukan para petugas yang sedang menbersihkan kerusakan akibat kebakaran.
"Ya, halo, Sayang? Kenapa? Aku sedang-"
__ADS_1
"Bagus, ya, aku telepon dari tadi gak diangkat! Suami gak tahu diri! Kamu udah gak sayang istri, ya? Di mana kamu sekarang?"
Marshal menjauhkan ponsel dari telinga. Dia melihat layarnya, mengernyit kaget karena Viona langsung mengomel padanya. Dia sangat terkejut karena Viona tidak pernah bernada bicara seperti itu sebelumnya.
"Di mana? Kamu pergi gak bilang sama aku!"
Marshal menghela napas saat ponsel kembali ia tempelkan di telinga. Viona masih dalam nada tidak menyenangkan membuat Marshal jadi bingung, ada apa dengan istrinya?
"Kamu kenapa, Sayang? Tiba-tiba marah gini. Aku salah apa? Atau di sana kenapa? Sesuatu terjadi?"
"AKU TANYA KAMU DI MANA, MARSHAL?!"
"Hufh!" Hampir saja ponselnya terjatuh sangking terkejut dengan suara Viona yang menggelegar. Viona sepertinya sedang marah. "Sayang, kamu kenapa?" Meskipun bingung, Marshal tetap berucap selembut mungkin di tengah rasa kaget dan paniknya.
"Menyebalkan! Tidak tahu diri!"
"Apa aku buat salah? Kamu kenapa marah-marah?" Marshal sangat bingung menghadapi ocehan istrinya. Viona memaki seakan dia membuat kesalahan besar.
"Kamu di mana?" nada suara Viona mulai terdengar melemah, tidak segetir tadi.
"Aku masih di Bali, Sayang. Urus-"
"Di Bali? Ngapain?"
Marshal mengernyit, menggaruk alis dengan bingung. Kenapa Viona malah bertanya seperti itu? "Masalah resort masih harus aku tangani, Sayang. Aku di sini masih banyak urusan."
"Kerjaan? Apa itu penting?"
Marshal bersandar lelah pada tembok terdekat. "Hmm ... sangat darurat, Sayang, bukan hanya penting."
"Lebih penting dari aku?"
Marshal tertegun mendengar pertanyaan Viona. Lama dia terdiam untuk menerka ke mana arah pembicaraan istrinya. Tapi, dia tidak bisa menebak apa-apa. "Sayang, kamu tidak apa-apa 'kan di sana? Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku tutup, ya. Aku masih harus mengurusnya. Masalah di sini belum selesai."
Tidak ada sahutan. Marshal cemas mendengar suara barang jatuh dari seberang sana. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" Suara gemerasak dan geraman terdengar. Marshal semakin cemas dengan keadaan istrinya. "Sayang?"
Terdengar helaan napas, sebelum suara Viona kembali menyahuti. "Apa pekerjaan lebih penting dari aku? Kamu bahkan gak inget sama istri gara-gara ngurusin itu. Aku ditinggal sendiri. Harusnya kamu bantuin aku. Aku susah jalan gara-gara kamu semalam. Tapi, pagi-pagi pas bangun, kamu udah gak ada. Kamu tuh emang nyari enaknya aja, ya, dari istri. Udah dapet segalanya, kamu ninggalin aku gitu aja."
"Sayang?" Marshal jadi berkecamuk mendengar ocehan istrinya. "Sayang, bukan gitu. Masalah di sini bukan masalah sepele. Sangat darurat. Maaf, kalo aku gak bisa nemenin kamu. Jangan bilang seperti itu! Aku sayang kamu. Gak mungkin cuma ngambil manisnya aja. Please, ngertiin aku sekarang, oke! Aku janji, setelah urusan di sini selesai, aku pasti langsung pulang. Jangan marah-marah gini!"
"Yaudah, gak usah pulang sekalian!"
__ADS_1
Tut!
Marshal terdiam melihat layar ponselnya yang sudah tidak menampilkan sambungan.