
"Ma, aku hamil cucu Mama," ucap Viona, duduk di samping Rahma yang masih terbaring lemah. "Mama pasti bahagia 'kan mendengarnya?" Viona mengusap tangan dingin Rahma, memberikan remasan pelan, berharap ibu mertuanya akan segera sadar.
Di ruangan itu sudah tidak ada Marshal. Viona mengusirnya untuk keluar, karena sangat muak melihat wajah laki-laki itu terus berada di hadapannya. Viona selalu mual dan tidak ingin berdekatan. Untung saja Marshal mau menjauh dengan alasan akan membawakan makanan untuknya. Viona tidak peduli Marshal mau pergi ke mana, dia hanya ingin berjauhan dengan Marshal, tidak ingin berlama-lama melihatnya.
Keadaan Viona sudah lebih baik, bahkan sudah tidak merasa mual lagi sejak Marshal pergi. Dia hanya berbicara sendiri pada Rahma yang masih dalam keadaan yang tidak sadar. Dia merasa kasihan melihat ibu mertuanya. Benturan di kepala Rahma membuatnya menjadi seperti ini. Ibu mertuanya mengalami luka di dalam kepala, sehingga tingkat kesadarannya sangat rendah dan sulit untuk didapatkan kembali.
"Marshal bahagia sekali mengetahui anaknya telah tumbuh, Ma. Apa Mama mau diam saja seperti ini, tidak ingin ikut bahagia? Mama selalu minta cucu baru. Aku memberikannya, Ma. Cucu Mama. Dia anaknya Marshal, Ma. Cucu Mama masih kecil sekali, mungkin dalam waktu delapan bulan ke depan baru bisa Mama gendong. Pasti Mama senang mendengarnya, kan?" Viona bermonolog lagi pada Rahma.
Tiba-tiba tangan yang dia usap sejak tadi terasa menghangat. Viona semakin mengusapnya dan menggenggamnya erat. Memperhatikan wajah Rahma yang pucat, Viona terkejut saat jemari tangan mertuanya bergerak. Dengan raut kaget di wajah, Viona memastikan lagi, jika yang bergerak di dalam genggamannya adalah benar tangan Rahma. Dan jemari itu kembali terusik, walaupun hanya sebuah gerakan lemah.
Viona senang luar biasa melihat ada respon baik dari mertuanya. Dia segera menekan tombol merah di samping ranjang, memanggil dokter untuk segera datang.
Bukan hanya dokter yang datang, tapi juga dua perawat dan suaminya turut panik dan terkejut baru masuk ke dalam kamar. Viona menjauh untuk membiarkan dokter memeriksa keadaan ibu mertuanya. Marshal terlihat tidak tenang dan berdebar sama sepertinya. Mereka menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.
Marshal melihat Viona yang hanya diam dalam dekapannya. Dia tersadar dan langsung melepaskan tubuh istrinya, lalu menjauh. Mendengar Rahma bisa merespon dengan gerakan, Marshal bahagia luar biasa dan tanpa sadar langsung memeluk tubuh istrinya. Dia lupa jika Viona tidak mau dekat dengannya.
Viona melihat Marshal hanya diam, ekspresinya lagi-lagi sulit ditebak.
"Maaf. Aku terlalu bahagia. Makasih, Sayang. Kamu sudah membuat Mama lebih baik."
Viona hanya terdiam, tidak mengatakan apa pun dan memilih untuk melihat ke arah lain. Kedua tangannya saling memeluk tubuh sendiri. Viona mengusap lengannya, seolah dia memang kedinginan.
Melihat hal itu Marshal hanya bisa termangu. Ingin rasanya dia mendekap tubuh lemah itu dengan erat. Memberikan kecupan hangat di kening istrinya. Dia ingin melakukan itu semua, tapi tidak bisa. Dia takut Viona emosi lagi dan mengusirnya untuk pergi menjauh, lalu Viona tidak ingin bertemu lagi dengannya sampai kapan pun dan membawa anak mereka pergi.
Tidak. Marshal takut hal buruk itu terjadi. Mengalah lebih baik untuk saat ini.
Hingga dokter selesai dengan pemeriksaan, senyuman terlihat jelas di wajahnya. Dia menghampiri Marshal dan Viona yang mendekat penasaran dengan kabar mengenai Rahma.
"Nyonya sudah melewati masa koma. Kesadarannya mulai normal kembali dan kemungkinan akan segera membaik. Tapi, untuk saat ini nyonya masih butuh istirahat yang banyak dan belum pulih, sadar dengan optimal. Sebaiknya dibiarkan dulu, tidak boleh ada yang mengganggunya."
__ADS_1
"Baik, Dok. Terima kasih banyak."
Dokter itu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua yang akhirnya saling pandang. Sama-sama terdiam, ingin menggapai untuk menyalurkan rasa bahagia, namun sama-sama ragu untuk melakukannya.
"Boleh aku peluk kamu?"
Viona hanya diam, tidak mengatakan apa pun. Marshal tidak bisa menahan diri, perlahan dia mendekat dan Viona tidak membuka suara bahkan tidak sedikit pun menjauhinya. Maka, dia semakin mendekat dan mendekat lagi hingga bisa menggapai tubuh Viona dan memeluknya erat. Viona tidak menolak dan hanya diam saja.
"Mama akan baik-baik aja, Chal," bisik Viona, hampir tidak terdengar telinga.
Marshal menganggukkan kepala cepat, terharu dan bahagia. Jika ada Viona maka kebahagiaannya akan berlipat ganda seperti saat ini.
Rasanya, semua penderitaan yang disebabkan oleh kesalahan dan berakhir dengan perpisahan, kini sudah terbayar semua dengan kabar bahagia yang membuat Marshal merasa hidup kembali.
Pelukan Marshal terurai. Dia tersenyum hangat melihat Viona yang hanya diam saja sedari tadi, tapi di dalam matanya Marshal bisa melihat, jika Viona merasakan hal yang sama. Tangan Marshal mengusap perut rata istrinya, senyuman semakin lebar. Debar jantungnya menggila melalukan hal itu. Bahagia tiada terkira dan rasanya sangar luar biasa di saat Viona juga tidak menolak perlakuannya.
"Terima kasih, Sayang. Dan terima kasih kepada janin yang telah membangunkan mama. Berkat kabar bahagia ini, mama bisa sadar kembali. Mama pasti sangat senang mendengarnya." Mata Marshal berkaca-kaca, menembus sorotan mata Viona yang mulai menghangat.
Akhirnya, perlahan diamnya Viona mulai menghangat. Bahkan Marshal mendekat dan kembali menggenggam tangannya, Viona tidak mengusirnya lagi. Hanya beberapa kali terlihat mau muntah, tapi Viona seperti menahannya. Jika Marshal bertanya, dia hanya memberikan senyuman tipis dan bilang tidak kenapa-kenapa. Dia baik-baik saja. Selalu menjawab seperti itu. Padahal Marshal sudah takut dan khawatir, Viona akan seperti sebelumnya lagi.
***
Kabar baik mengenai keadaan Rahma sudah sampai pada setiap orang, bahkan Marshal sudah mengabari semua keluarganya dan sebentar lagi mereka akan datang dan mengucapkan syukur dengan penuh bahagia.
Marshal memegang mangkuk bubur untuk istrinya. Sudah berusaha beberapa kali membujuk Viona supaya mau makan. Istrinya tetap saja tidak mau. Dia berganti membawakan makanan lain, bahkan salad buah kesukaan Viona dan juga puding cokelat. Viona tetap saja menggeleng, ketika dipaksa untuk makan.
Marshal melihatnya cemas. Viona sejak tadi sering muntah, semua isi perutnya sudah habis. Dia harus makan makanan, setidaknya untuk bahan yang akan dia muntahkan supaya tidak memeras cairan di dalam lambungnya.
"Gak mau!" Viona menolak lagi dan malah kembali mual dan berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Marshal mengembuskan napas kasar melihatnya. Setiap hari Viona seperti itu tanpa dia yang mendapingi. Kasihan sekali istrinya begitu tersiksa. Dia tidak melihatnya. Tapi, Marshal juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain berusaha untuk membuat Viona nyaman. Dan dia memang sedikit lega, karena Viona tidak lagi mengusirnya.
"Ck, aku gak mau digendong!" tolak Viona lagi, terlihat kesal saat Marshal berusaha untuk menggendongnya. Dia memang lemas, tapi berada terus bersama Marshal memang membuat perutnya malah semakin melilit. Sejak tadi dia berusaha untuk diam, karena kasihan melihat Marshal. Meskipun perutnya bergejolak, Viona berusaha untuk tidak mendorong suaminya menjauh. Tapi, tetap saja dia muak melihat wajah suaminya saat ini.
Viona berjalan lesu keluar dari kamar mandi. Marshal mengikutinya di belakang, merentangkan tangan di samping tubuhnya, menjaga supaya Viona tidak terjatuh dan tetap pada keseimbangan yang baik saat berjalan.
"Papa?" Viona melihat Wisnu yang berada di kursi roda, tengah melihat ke arah mereka. Di belakangnya ada Rio yang menganggukan kepala dan tersenyum pada Viona. "Papa kapan datang?" Viona tersenyum lebar, menghampiri Wisnu dengan kepala yang mulai terasa pusing.
"Barusan." Wisnu tersenyum senang, meskipun raut terkejut terlihat jelas di wajahnya, mendapati Viona ada di sana bersama dengan Marshal.
Marshal memang tidak mengatakan, jika Viona ada bersamanya. Dia hanya mengabarkan, bahwa Rahma telah siuman. Rio pun tidak mengatakan apa pun. Tidak disangkanya, ternyata sang menantu kesayangan hadir dan mengejutkan Wisnu yang memang sangat berharap Viona terus selalu berada di dalam lingkaran keluarganya.
"Papa gimana kabarnya? Maaf, aku gak sempat jenguk ke rumah."
"Tidak apa. Papa sudah lebih baik. Hanya kaki papa belum kuat untuk lama berdiri." Wisnu tersenyum, mengusap tangan Viona. "Kamu terlihat pucat, Nak. Kamu sakit? Apa sudah makan?" Wisnu melirik meja yang terdapat banyak makanan. Dia melihat lagi pada Viona yang malah menggelengkan kepala.
"Pa." Marshal mendekat ke depan Wisnu, melingkarkan tangan di pinggang Viona tiba-tiba, membuat istrinya menoleh dengan cepat.
Melihat hal itu Wisnu terkejut, sungguh tidak percaya melihat mereka yang sudah terlihat lebih baik dari kabar sebelumnya yang dia tahu. Viona tidak mencoba menepis, bahkan menjauh. Apa mereka tidak jadi berpisah? Wisnu harap memang begitu. Dia tidak ingin kehilangan menantu sebaik Viona.
"Viona tidak sakit. Dia pucat karena cucu Papa."
Wisnu tertegun, mencerna ucapan putranya. Dia melihat Marshal dan Viona bergantian, sulit mengeluarkan kata dari dalam mulutnya.
"Viona hamil anakku." Tatapan Marshal terlihat sangat bahagia, mengusap perut rata istrinya. "Cucu Papa."
Wisnu tidak bisa menahan haru. Tangannya terentang meraih Viona untuk semakin dekat dan memberikan pelukan selamat, juga berterima kasih karena telah mengandung keturunan Atmadina yang baru.
"Jaga dia baik-baik, Nak! Jaga juga kondisi tubuh kamu. Jangan sampai kamu tidak telat makan! Cucu papa tidak boleh kelaparan di dalam sana."
__ADS_1
Viona menganggukkan kepala pelan, terlihat senyuman jelas di bibirnya. Marshal ikut tersenyum lebar, baru kali ini dia melihat senyuman itu terbit ketika membahas kehamilannya. Apakah itu mengartikan, jika Viona sudah menerima dan bahagia dengan kehadirannya?