Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Cemburu Viona Menyeramkan


__ADS_3

Jika cemburu, Viona sangat menakutkan. Sulit ditebak apa maunya dan apa yang akan dia pikirkan, lalu ditodongkan kepada Marshal sebagai senjata ampuh yang bisa meluluhlantahkan tingkat kesabaran.


Viona memang bersedia untuk datang ke rumah Garmita, tapi kekesalannya begitu jelas terlihat di mata Marshal. Entah cara apa lagi yang harus dia lakukan untuk meyakinkan Viona, jika dia dan Garmita hanya rekan kerja biasa. Bahkan mereka tidak terlalu dekat, selain sebagai pejabat perusahaan.


Sambutan hangat menyapa di depan pintu rumah tujuan. Garmita dan seorang laki-laki dewasa berdiri di sana, memberikan senyuman ramah dan ucapan selamat malam.


Marshal menggandeng tangan Viona dan mereka saling tegur sapa, sebelum dipersilakan untuk masuk ke dalam rumah tersebut.


Itu adalah rumah pertama Garmita. Dia bekerja menjadi seorang direktur di kantor cabang milik Marshal yang ada di Yogyakarta, namun bukan berarti dia berasal dari sana. Garmita hanya sekadar bekerja dan rumah keduanya ada di sana, sedangkan dia berasal dari kota Jakarta.


"Sebuah kehormatan besar untuk saya, Tuan dan Nyonya Marshal bisa datang ke rumah sederhana ini. Pasti tidak akan sebanding dengan rumah Tuan yang megah, ya," ucap laki-laki dewasa yang sejak tadi bersama Garmita, disertai kekehan.


"Tidak usah merendah. Kita sama." Marshal menimpalinya disertai kekehan juga.


Mereka dipersilakan untuk duduk di ruang makan. Banyak makanan sudah terhidang di sana, sudah dipersiapkan sejak awal untuk menyambut kedatangan Marshal dan istrinya. Lalu, dua bocah laki-laki kecil datang menghampiri mereka membawa mainan di tangan masing-masing. Bocah yang satunya terlihat lebih kecil. Sepertinya mereka adik kakak.


Laki-laki dewasa yang memperkenalkan dirinya sebagai suami Garmita, dia meminta kedua bocah itu untuk bersalaman pada Marshal dan Viona bergantian. Marshal tersenyum melihat Viona yang nampak senang bisa bertemu dengan bocah kecil. Dan jangan lupakan tatapannya yang seolah mencemooh Viona atas tuduhannya tadi siang. Marshal memandang seolah membuktikan, bahwa apa yang dia katakan memang benar. Dan semoga Viona percaya, tidak lagi kesal terhadapnya karena perasaan cemburu.


***


"Terima kasih untuk jamuan makan malamnya, Tuan, Nyonya."


Viona melirik cepat pada Marshal. Suaminya menundukkan kepala sejenak, hormat pada pasangan suami istri yang kini tengah tersenyum pada mereka. Dua bocah tadi belum menyelesaikan makannya karena sejak tadi mereka sering berselisih.


Kenapa saat ini Marshal menyebut nyonya pada Garmita? Sebelumnya dia tidak memakai embel-embel apapun. Apa karena ada suami wanita itu?

__ADS_1


Cih!


Perhatian Viona tertuju pada salah satu bocah yang tiba-tiba rewel pada Garmita. Bocah yang lebih kecil menangis, Garmita dan suaminya mencoba menenangkan, terlihat tidak enak dengan mereka.


"Maaf, Tuan, Nyonya, saya harus permisi dulu. Sepertinya Leon mengantuk," ucap Garmita terlihat sungkan, menggendong bocah kecil yang masih terlihat rewel.


Marshal dan Viona hanya tersenyum, memberikan anggukkan mengerti.


Perbincangan malah berlanjut antara Marshal dan suami Garmita. Mereka membahas banyak hal yang tentu saja berkaitan dengan pekerjaan. Ternyata suami Garmita adalah seorang dokter yang menjabat sebagai kepala rumah sakit terkenal. Marshal mengenal keluarga suaminya Garmita dengan baik, bahkan dia juga menjadi pemegang saham terbesar dari rumah sakit tersebut. Marshal memang kaya. Viona tidak akan menutupi kebenaran itu.


Tidak lama kemudian, Garmita datang dari arah belakang ruang keluarga tempat mereka berbincang. Terlihat lelah sekali, setelah menenangkan anaknya dan sepertinya telah berhasil membuat bocah kecil itu tertidur. Sedangkan bocah satunya yang lebih besar, dia malah asyik bermain di depan televisi dengan mainan kereta yang besar, menubruk-nubruk kaki ayahnya. Bobby-suami Garmita, terlihat sangat tenang dan penyabar. Dia tetap fokus berbincang dengan Marshal, tapi juga tidak mengabaikan keberadaan anaknya.


"Sekarang Abang yang tidur, ya." Garmita menghampiri bocah kecil yang masih memaju mundurkan kereta di bawah kaki Bobby. Bocah itu menengadah dan mengangguk. Terlihat lucu sekali. Patuh dan tidak rewel seperti adiknya yang tadi.


Sosok Garmita menghilang di belokkan ruangan. Terdengar suara kikikan khas anak kecil dari sana. Entah apa yang ibu dua anak itu lakukan. Viona cukup hangat menyaksikan secara langsung interaksi wanita tadi dengan anaknya. Apakah nanti dia juga bisa seperti itu? Terlihat sangat menyenangkan, jika mengurus anak penuh kasih sayang.


***


"Kenapa, hm?"


Viona menggeleng pelan. Terdengar embusan napas yang panjang keluar dari mulutnya.


"Sayang?"


"Iya?" Viona baru saja akan mengambil ponsel dari atas nakas. Marshal sudah bersuara lagi. "Kenapa?"

__ADS_1


Pandangan Marshal terlihat aneh melihat Viona. "Kamu yang kenapa?"


"Aku?" Viona menunjuk dirinya sendiri. "Aku gak apa-apa." Terlihat bingung dengan reaksi Marshal yang tidak bisa diperkirakan bagaimana.


Lalu, hening. Marshal melihat layar tablet di tangannya, terlihat fokus dan Viona juga memainkan ponselnya. Entah apa yang dia lakukan dengan benda tersebut. Sejak pulang dari rumah Garmita, Viona memang terlihat berbeda. Tidak lagi kesal, bahkan malah bersikap manja. Hal itu sedikit banyaknya membuat Marshal merasa heran. Sikap dan perilaku Viona semakin hari memang sulit untuk ditebak. Tidak tahu maunya apa dan apa yang sedang dia pikirkan.


Tapi, Marshal beruntung, Viona tidak lagi membahas masalahnya dengan Garmita. Sepertinya sudah tidak ada kecurigaan atau rasa cemburu. Dan Marshal harap memang seperti itu.


Posisi Marshal duduk bersandar di kepala ranjang dan kaki yang berselonjor ke depan memudahkan Viona untuk mengambil posisi nyaman. Dia mendekat dan memeluk tubuh Marshal. Menarik tangan suaminya untuk melingkar di bahu dan kepala Viona bersandar di dada bidang milik Marshal. Dia bisa melihat apa yang Marshal perhatikan di layar tabletnya. Ternyata menyimak berita terkini dan juga bagan perusahaan.


"Kenapa kamu selalu membawa ini di kamar, sih, Chal? Dari pagi kamu kerja, masa di jam tidur juga masih harus kerja."


Marshal mencium puncak kepala Viona. Memegang tablet dengan satu tangan, karena satu tangan lainnya melingkari bahu Viona, memeluknya erat supaya tetap menempel di tubuhnya. "Memangnya kenapa? Jangan bilang kamu mulai cemburu dengan pekerjaanku?"


Viona mendongak, lalu menggeleng. Kemudian suasana hening. Dia ikut memperhatikan jemari tangan Marshal yang mengusap-usap layar tablet, menggeser tampilan screen menjadi tampilan yang menurut Viona malah semakin membosankan. Hanya seputar berita pekerjaan yang suaminya tekuni.


"Chal."


"Hm?"


"Nona Garmita ibu yang telaten, ya. Perhatian dan sangat sayang sama anaknya. Terlihat hangat dan menyenangkan."


Usapan jari Marshal terhenti di atas layar gadget. Dia menunduk melihat wajah Viona yang terlihat serius.


"Apa semua perempuan akan begitu, jika sudah punya anak?" Viona menatap mata Marshal dengan lekat. Memastikan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2