
Duduk di depan laptop dengan pikiran mumet menjadi aktivitasnya sore hari ini. Viona sibuk mengerjakan skripsi. Ditemani segelas jus alpukat dan puding cokelat kesukaannya.
Hari ini dia teramat sangat bahagia karena Marshal tidak ada. Dia bisa melakukan apapun sebebasnya. Biarpun Marshal menyuruh orang untuk mengawasinya, Viona lebih merasa lega ketimbang harus Marshal langsung yang mengawasi. Karena jika berada di dekat Marshal, dia selalu merasa tidak nyaman.
Seperti perkataan Marshal sebelum berangkat, dua pengawal yang dia siapkan untuk menemani Viona pergi ke kampus ternyata sudah berada di rumah. Mereka siap siaga berdiri di depan pintu utama. Viona rasa itu terlalu berlebihan. Bukannya mereka hanya akan menemaninya ke kampus, tapi kenapa mereka juga berjaga di rumah? Padahal Viona hari ini tidak akan pergi ke mana pun.
Suara notifikasi pesan masuk dari ponsel baru mengalihkan pandangan Viona dari laptop. Diraihnya ponsel ganti rugi dari Marshal tersebut. Terdapat satu pesan masuk ditampilkan layarnya.
"My Handsome Hubby," gumam Viona membaca nama kontak yang mengirim pesan. Alisnya terangkat. Dia bingung. Itu nomor siapa? Dia tidak pernah menyimpan nama kontak seperti itu.
Mengacuhkan masalah nama kontak, Viona membuka isi pesannya karena penasaran.
~Jangan macam-macam selama aku tidak ada! Jaga diri dengan baik! Jika ada apa-apa langsung hubungi aku, atau panggil pengawalmu!
Viona terdiam membaca pesan pertama tersebut. Apa itu dari Marshal? Dia berdecak kesal. "Jadi dia mengubah nama kontaknya sendiri ...pantas saja namanya memuakkan." Viona lihat lagi nama kontak yang mengirim pesan tersebut. Dia langsung mengganti namanya dengan "The Planet Marsmellow".
Viona tersenyum geli setelah menggantinya. Jika Marshal tahu pasti dia diomeli karena memberikan nama kontak suami dengan sesukanya.
Saat akan menyimpannya, setelah selesai membaca pesan itu, ponselnya kembali berbunyi. Notifikasi pesan masuk lagi dari nomor yang sama. Siapa lagi kalo bukan suaminya, si Planet Mars yang berkuasa. Dengan malas Viona membukanya.
~Supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Aku hanya memberitahukan, aku tidak sengaja bertemu dengan Amanda di sini. Jadi, kamu tidak usah marah. Aku tidak tahu jika Amanda juga sedang berada di kota ini.
Viona mencibir pelan. Jadi, suaminya itu bertemu dengan Amanda di sana? Dia tidak marah sebenarnya. Hanya sedikit ingin mengejek saja pada suaminya. Viona sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Lagian, dia juga sudah tidak bisa mempermasalahkan keadilan lagi. Dia tidak peduli Marshal mau bertemu dengan siapa pun juga.
Viona mengetikkan balasan,
~Baguslah. Tuan tidak akan kesepian.
Langsung check in hotel saja supaya nanti malam ada kehangatan.
Ujung jarinya menekan panel kirim. Selesai. Dia kembali menyimpan ponselnya. Tertawa renyah serta kembali mengerjakan skripsi. Apa Marshal akan marah jika Viona malah membalas seperti itu? Viona tidak peduli.
Jika suaminya itu menurut dan malah satu hotel dengan Amanda, Viona rasa itu hal yang bagus. Jika terjadi sesuatu dan Amanda hamil, Marshal pasti dituntut tanggung jawab. Dengan begitu Viona bisa terlepas dari Marshal. Karena dia tidak mau punya suami yang tidak tahu diri. Jika benar kejadian, Viona jadi punya alasan yang kuat untuk mengugat cerai.
Dia tidak peduli jika apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi. Viona tahu, masalah akan semakin besar. Tapi, semua itu tidak akan berimbas padanya. Jika Marshal berbuat yang tidak-tidak, Viona tidak akan disalahkan. Karena semua itu murni perbuatan suaminya. Dan semua keluarga, baik keluarga Viona maupun keluarga Marshal pasti akan membela Viona. Karena sekarang, Viona yang dianggap diselingkuhi.
"Hah ... kapan aku terlepas darinya?"
__ADS_1
***
Sudah tiga kali dia membaca balasan pesan dari istrinya. Marshal bingung. Apa maksud Viona malah menyuruhnya check in hotel segala? Apa Viona menyindir karena tidak suka? Jika benar begitu, Marshal akan bahagia. Tapi bagaimana jika Viona berkata serius? Marshal tidak bisa menebak maksud dari pesan tersebut.
Dia membenahkan duduknya di sofa. Di kamar itu dia hanya sendiri karena Rio istirahat di kamar yang lain. Merasa kesepian makanya menghubungi Viona, sekaligus ingin mengatakan kebenaran pada istrinya supaya tidak terjadi kesalahpahaman.
Marshal teringat dengan ucapan Rio, makanya dia mengatakan hal itu pada Viona. Dia tidak mau nantinya Viona menganggap dia berbohong. Bilang pergi urusan kerjaan, namun malah bertemu dengan kekasih. Tidak. Marshal benar-benar tidak sengaja bertemu dengan Amanda di kota ini.
"Tidak ada yang tahu dengan perasaan nyonya Viona. Mungkin dia memang tidak suka Tuan berhubungan dengan nona Amanda, tapi dia tidak mengatakannya. Di dunia ini tidak mungkin ada seorang istri yang rela suaminya punya kekasih. Dan, saya rasa nyonya Viona termasuk ke dalam salah satunya. Hanya Tuan saja yang tidak tahu atau memang belum menyadarinya."
Itulah yang dikatakan Rio tadi. Marshal kembali mengetikkan pesan pada istrinya. Dia ingin membuktikan ucapan Rio benar atau tidak. Apakah istrinya itu juga sama seperti wanita lain di luaran sana?
~Apa kamu cemburu jika aku bertemu dengan Amanda di sini? Kamu marah 'kan padaku, makanya malah mengejek seperti itu?
Pesan terkirim. Tidak lama mendapat balasan dari Viona.
~Geer. Siapa juga yang marah. Saya tidak cemburu, Tuan. Sudah jangan mengirim pesan lagi. Tuan perhatikan saja nona Amanda yang cantik itu.
Marshal tersenyum setelah membaca isi pesan. Dipikirnya, Viona marah sampai membalas seperti itu. Perkataan Rio memang benar. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menghubungi istrinya lewat panggilan Vidio.
"Ada apa, Tuan?" Panggilan pertama langsung diterima. Layar ponsel Marshal menampilkan sosok perempuan yang cantik jelita sedang duduk di atas karpet bulu menghadap pada laptop yang diletakkan tepat di pinggiran ranjang. "Nona Amanda mana, Tuan?"
"Berkebun," sahut Viona cuek menjawab pertanyaan Marshal yang malah menghindari pertanyaannya mengenai Amanda. Pandangan Viona tetap fokus pada layar laptop, sedangkan ponsel dia sandarkan di bantal supaya tetap bisa menampilkan wajahnya tanpa mengacuhkan Marshal.
Suaminya itu mengulum senyum. "Berkebun saja kamu tetap cantik, ya."
Viona langsung mengalihkan pandangan pada layar ponsel. Apa suaminya itu buta? Kenapa dia malah menpercayai ucapan Viona? Marshal pasti melihat Viona sedang berada di mana, kan?
"Ra, aku tidak sengaja bertemu Amanda di sini." Viona nampak tidak peduli. Dia sibuk mengetikkan jari di atas Keyboard. "Ra? Kamu tidak mendengarkanku?"
"Dengar." Viona tersenyum ke arah ponsel. "Sebentar, Tuan." Dia sibuk kembali dengan laptopnya.
Marshal terdiam memperhatikan wajah serius yang ditampilkan layar. Viona membolak-balikkan sebuah buku dan kembali fokus mengetik. Terlihat sangat manis. Beberapa kali Viona menghela napas. Pipinya mengembung di saat dia mungkin mendapat kesusahan. Marshal jadi merindukkan istrinya sekarang. Padahal baru sebentar mereka berpisah.
"Honey, kamu sedang apa?"
Deg. Marshal menoleh ke arah pintu. Kekasihnya sudah berada di sana, mengukir senyum dan berjalan mendekat pada Marshal.
__ADS_1
"Tuan? Nona Amanda di sana?"
Mati kutu. Perasaan Marshal semakin tidak karuan, melirik ponsel di tangan dan Amanda bergantian. Diteguknya ludah dengan susah payah. Marshal lupa mematikan panggilan. Dia melirik kembali Amanda yang nampak mematung. Matanya memicing melihat pada Marshal. Amanda pasti mendengarnya.
"Kamu ...."
Marshal langsung mematikan panggilan. Menyimpan ponsel di atas meja. Dia tersenyum canggung pada Amanda yang masih curiga padanya. "Kenapa kamu ke sini? Kamu mengagetkan aku, Manda. Kenapa kamu tiba-tiba masuk?" sarkasnya dengan gelagapan.
Tatapan Amanda semakin tajam. Deru napasnya mulai tidak beraturan. Dia sudah mendengar semuanya dari awal. Sejak tadi dia sudah masuk ke kamar itu saat Marshal baru menghubungi Viona. "Kamu melebihi batas. Mana janji kamu yang tidak akan dekat dengannya?"
Marshal menggeleng dengan cepat. Berdiri dan mendekat pada Amanda. Dia tahu kekasihnya pasti sedang marah sekarang. "Tidak, Manda. Tadi aku hanya menanyakan keadaan rumah padanya."
"Menanyakan keadaan rumah sampai harus memujinya cantik?"
Mata Marshal membulat. Sangat tercengang. Apa Amanda mendengar semuanya? Marshal sangat cemas jika benar begitu. "Manda kamu salah paham. Aku tidak seperti itu. Aku hanya menanyakan keadaan rumah. Itu saja, tidak lebih." Marshal meraih tangan Amanda, namun ditepis oleh kekasihnya.
"Sejak awal aku sudah menyangka akan seperti ini. Aku takut kamu berubah. Dan sekarang sudah berubah karena dia. Mana janji kamu yang tidak akan bersikap baik padanya? Aku tidak melihat hal itu. Kamu ...." Belum selesai berbicara tangis Amanda sudah pecah.
Marshal kelabakan. Panik. Bingung harus menjelaskannya bagaimana. "Manda, aku-"
"Apa?" Amanda memandang nyalang. Air mata terus mengaliri pipinya. "Kamu mau menjelaskan bahwa itu semua tidak benar? Iya?" Marshal menggeleng. Bibirnya terasa kelu untuk berucap. Dia sungguh sangat bingung harus bagaimana. "Telat. Aku sudah melihatnya. Mendengarnya sendiri. Kamu mengkhianati aku, Marshal!"
Dia tetap menggeleng. Menggapai Amanda yang menangis semakin kencang. Dibawanya ke dalam pelukan. Marshal paling tidak bisa melihat wanita menangis seperti itu. Apalagi jika dia penyebabnya. "Bukan, bukan begitu. Kamu salah paham. Aku tidak mengkhianatimu, Manda. Aku hanya-"
"Ceraikan dia sekarang juga!"
Terkejut mendengar ucapan Amanda, pelukan terlepas begitu saja. Jelas dia tidak bisa melakukan hal itu. Pernikahannya dengan Viona bahkan belum satu bulan. Dia tidak mungkin bisa melepaskan istrinya.
Melihat Marshal yang hanya terdiam, Amanda mundur dua langkah menjauhinya. Tangan Amanda sibuk mengusap air mata yang terus menggenang. Senyuman pahit terukir sulit di bibirnya. "Kamu berubah. Kenapa semuanya jadi begini?" Kepala Amanda menggeleng pelan. "Seharusnya dari awal kamu tidak menerima perjodohan itu. Kamu tidak menikahinya. Lihatlah sekarang! Kamu berubah setelah menikah dengannya. Apa kamu mencintainya?"
"Manda, Manda ...," Marshal kembali mendekati Amanda. Mencoba menggapainya meskipun sulit karena Amanda terus menepis tangannya serta berjalan mundur, semakin menjauh. "Aku tidak berubah. Tetap aku yang dulu." Dia berhasil meraih Amanda kembali. Memeluknya erat supaya Amanda tidak mencoba menjauh lagi. "Aku mencintaimu, Manda. Percayalah!"
Amanda tidak berkata apapun. Semakin terisak dalam dekapan Marshal. Tangannya mengepal. Memukul-mukul dada Marshal dengan marah. Dia menyadarinya, memang ada perubahan pada diri Marshal setelah menikah. Kekasihnya itu tidak lagi bisa meluangkan waktu untuknya. Jarang mengajaknya jalan-jalan. Bahkan ditemui pun dia kadang malah terlihat tidak senang.
Marshal menggenggam tangan Amanda hingga pukulannya terhenti. "Jangan begini, aku tidak akan berubah. Tetap akan bersamamu!" Dia mengecup puncak kepala Amanda dengan penuh sayang.
Kekasihnya itu hanya terdiam. Dia sakit hati. Tidak mau kehilangan Marshal karena Viona. Bagaimana pun caranya, dia harus merebut kembali perhatian Marshal hanya tertuju padanya. Marshal hanya untuknya dan akan selalu jadi miliknya.
__ADS_1
Aku akan buat perhitungan pada wanita itu supaya dia menjauh dari Marshal, batin Amanda. Semakin menyurukkan wajah pada dada kekasihnya. Seringaian licik terbit di wajah cantiknya yang masih tergenang oleh sisa air mata.