
Waktu menikmati senja akan segera tiba. Saat ini mereka tengah berada di sebuah sungai besar yang di pinggirannya terdapat banyak pohon sakura. Bunganya sedang bermekaran, terlihat sangat indah dipandang mata.
Kanal Chidorigafuchi menjadi tempat yang mereka tuju saat ini. Marshal menyewa satu perahu untuk dia tumpangi bersama dengan istrinya, menyusuri sungai dengan pemandangan sakura sepanjang perjalanan. Ditambah cahaya senja dan lampu-lampu yang mulai menyala, malah semakin menambah kesan romantis di antara mereka berdua.
Momen demi momen tidak akan pernah terlewatkan. Rio selalu berada di sekitar mereka, memotrait dan mengabadikan di setiap saat. Seperti, ketika Marshal mendayung perahu menyusuri sungai yang panjang di bawah cahaya indah dan pemandangan sakura mekar, di sana juga terdapat Viona yang tersenyum bahagia menyemangatinya dan memberikan kecupan hangat di pipi.
Rio tersenyum senang melihat majikannya. Pemandangan langka yang sangat mengharukan. Viona tidak henti tersenyum, bahkan tidak canggung untuk tertawa saat Marshal menggoda ingin menceburkannya. Mereka terlihat sangat romantis sekali, seperti umumnya pasangan pengantin baru yang dilanda kobaran cinta.
...
anggap saja begini, ya😂😂...
"Chal-"
"Hm?!" Mata Marshal menyipit, terlihat kurang suka dengan panggilan yang bernada tidak lembut.
"Sayang," Viona tertawa, mengulangi panggilannya dengan lebih lembut dan terdengar sangat manis. "aku mau dibuatin sungai kecil ditambahin pohon sakura seperti ini. Gimana?"
Marshal mengernyit bingung. "Bikin di mana? Aku tidak punya lahan luas untuk membuat sungai."
"Di rumah." Ironisnya Viona tersenyum lebar, seolah tidak ada yang salah dengan keinginannya, membuat Marshal melongo, terkejut sendiri dan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya. "Bisa?"
Marshal terdiam, ingin menggeleng-tentu saja tidak bisa. Tapi, ini keinginan istrinya.
__ADS_1
"Gak bisa, ya?" Senyum Viona luntur seketika. "Yaudah, aku mau pohon sakuranya saja. Boleh, kan?"
Baru, senyuman Marshal terlihat. Dia mengangguk tanpa ragu. Jika hanya pohon sakura, mungkin dia bisa mengabulkan. Tapi, untuk sungai ... tidak-tidak. Halaman rumahnya tidak seluas wilayah satu kota, bahkan satu kecamatan pun tidak. Sungat tidak akan bisa dia buat di halaman rumah, terlalu panjang, kecuali hanya sungai kecil yang bisa ditempatkan di sekitar kolam. Mungkin itu bisa diusahakan. Marshal rasa akan cukup.
Marshal terdiam memandangi wajah Viona yang masih menyisakan senyuman di wajahnya. Viona melirik ke samping, menikmati pemandangan dan tangannya terulur ke luar perahu, menyentuh air tenang yang berada di bawah mereka. Dia tersenyum lebih lebar, mengangkat tangan ke atas, melihat sisa air di tangannya.
Bahagia sekali rasanya, jika melihat orang yang kita cintai juga bahagia. Marshal sangat bersyukur kepada Tuhan, dia masih bisa melihat senyuman istrinya. Pemandangan indah malah semakin molek dengan sosok bidadari cantik tersenyum senang di hadapannya.
"Setelah ini, aku mau liat Tokyo Tower, Chal."
Marshal tersadar dari lamunan-mengagumi kecantikan istrinya. Dia mengangguk cepat dan tersenyum. "Apapun yang Nyonya mau, Tuan hanya mengikuti. Percayalah!" Marshal terkekeh saat Viona mencebik tidak suka dengan ucapannya.
"Harusnya pengawal!" ralat Viona, "Bukankah cuma pengawal yang akan mengikuti sang Nyonya?" Tawa Viona lepas, melihat Marshal langsung memejamkan mata sambil menggeram rendah.
"Cie, marah!" ledeknya dengan usil menusuk-nusuk lengan Marshal dengan ujung telunjuk. "Kamu keren kalau kesal," lanjutnya lagi, disertai tawa yang menyebalkan didengar telinga.
Tapi juga, sangat manis dipandang mata.
"Boleh aku yang milih dulu tempat, Sayang?" tanya Marshal ragu-ragu. Viona hanya memandanginya, terlihat tidak paham. "Kita ke restoran dulu, ya. Nanti ke Tokyo Tower. Sudah waktunya makan malam."
Terpaksa Viona mengangguk, meski terlihat sekali tidak setuju. Dia ingin segera melihat Tokyo Tower di malam hari. Tapi, perutnya juga sedikit keroncongan. Dia mulai lapar dan memang butuh makanan.
"Kali ini, jangan menolak untuk makan lagi, ya. Aku sudah tidak punya stok kata untuk merayu."
Viona meninju lengan suaminya dengan sebal. Marshal malah tertawa pelan, berhasil melayangkan sindiran keras.
"Eh, Rio!" Viona menahan lengan asisten suaminya dengan cepat, saat hendak menjauh dari mereka, setelah sampai di dalam restoran. "Makannya sama kita saja!"
__ADS_1
"Tapi, Nyonya ...." Rio terlihat ragu, dia tidak mau. Ini momen mereka, tidak mau mengganggu makan malam romantis kedua majikannya.
"Udah, ayo!"
Rio menurut dengan terpaksa, tidak enak menolak ajakan dari Viona. Meskipun dia malah canggung sendiri berada di antara mereka.
"Harusnya kamu ajak pacar kamu, Rio. Biar sama-sama liburan, kan. Kita bisa double date, romantis kayak gini." Senyuman Viona malah semakin memperburuk perasaan Rio.
Asisten Marshal terlihat gelagapan, mengalihkan fokus ke arah lain kala Marshal juga menyahuti ucapan istrinya. "Aku sudah menawarkan hal itu, Sayang. Tapi, pacar Rio sibuk, sepertinya." Marshal tersenyum usil, melihat Rio yang terlihat salah tingkah. "Padahal aku juga akan memberikan liburan gratis untuk mereka. Tapi, Rio menolak."
"Ih, sayang banget." Viona memandang Rio. "Padahal bagus untuk perkembangan kalian, Rio. Sekalian honeymoon bareng."
Rio menoleh cepat, wajahnya memerah. "Kita belum menikah, Nyonya," lirihnya.
Viona tertawa pelan, menyadari kebodohannya. "Ya, sudah, kita makan saja, ya. Dan berdoa, semoga Rio segera menikah, biar bisa bulan madu bersama." Dia nyengir lebar, mendapati wajah masam asisten suaminya. "Maaf ...." Viona meringis karena Marshal memberikan tatapan penuh peringatan.
Mereka makan dalam suasana yang hangat, melirik sekitar nampak ramai. Restoran tersebut cukup mewah dengan makanan dan desain tempat yang sangat khas dari negeri sakura. Namun, bukan berarti makanan di sana hanya makanan tradisional saja. Di sana juga terdapat berbagai menu yang berasal dari beberapa negara bisa terhidang, tentu saja dengan harga yang berbeda.
Viona memandangi Marshal yang tengah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia tersenyum, entah kenapa, dalam pernglihatannya saat ini Marshal terlihat bersinar ... juga sangat-sangat tampan.
Memang biasanya juga terlihat tampan. Tapi, kali ini semakin terlihat tampan dan menggoda, sampai Viona dengan tidak tahu malunya malah mengecup pipi Marshal tiba-tiba.
Menantu Heru Pratama sangat terkejut. Kunyahannya terhenti, melirik ke samping dengan pandangan masih kaget, bahkan minyak dan bumbu makanan masih blepotan di bibirnya.
Dia tidak kebingungan saat Viona menariknya untuk semakin dekat. Senyuman aneh terlihat diwajah Viona. Marshal mengunyah lagi makanan dan menelannya dengan cepat. Dia penasaran dengan apa yang istrinya akan lakukan setelah ini.
Hal terduga, sama sekali tidak pernah ada dalam benak. Lagi-lagi rasa kagetnya meningkat saat mendengar bisikan dari Viona. Marshal memandang lekat ke arah Viona yang menampilkan senyuman menggoda disertai kedipan mata yang lucu. Dia melirik Rio yang hanya terdiam, fokus dengan makanannya tidak seakan tidak peduli dengan mereka. Atau entah memang pura-pura tidak mempedulikan.
__ADS_1
Lagi, dia melihat Viona, sangat tidak percaya, jika barusan istrinya membisikan kalimat yang ... memang sulit dipercaya.
Viona membisikan, jika dia ingin ... bercinta?